Chapter Text
Pagi di TK Hip-Hop cerah seperti biasa.
Ohyul berdiri di depan gerbang dengan kemejanya yang rapi. Senyum ramahnya sudah terpatri sejak tadi menyambut para orang tua dan murid. Ohyul sangat suka pagi yang damai seperti ini. Melihat anak-anak dengan bersemangat berlarian masuk ke dalam TK dengan tas karakter di punggung mereka.
"Selamat pagi, Martin~"
"SELAMAT PAGI GURU OHYUL!"
Ohyul terkekeh. Martin, salah satu murid kelasnya seperti biasa selalu penuh energi di pagi hari. Menjawab sapaan dengan volume yang cukup untuk di dengar satu kelurahan.
Beberapa anak lagi masuk satu per satu dengan rapi.
Sampai satu sosok berhenti di depan gerbang.
Pria itu tinggi, mengenakan setelan kantor yang sangat rapi, dan bahu lebar itu yang entah kenapa terlihat lebih lebar karena ada satu bocah kecil yang bersandar di sana. Di tangannya yang lain, ia menggengam jemari anak yang lebih besar dari anak yang digendongnya.
Ohyul berkedip.
Wah.
Buset.
Ganteng banget?
"Selamat pagi," sapa pria itu saat sudah berdiri tepat di hadapan Ohyul. Suaranya rendah dan tenang. "Ini hari pertama Woojin dan Louis disini," lanjutnya bergantian memperkenalkan kedua anaknya yang masih terlihat malu-malu.
Ohyul mengerjapkan mata berusaha untuk tetap seprofesional mungkin. "Ah, iya. Selamat pagi juga, pak. Saya Ohyul, salah satu pengajar di sini."
Kemudian Ohyul berjongkok dan menyamakan tingginya dengan anak pria itu. "Halo, Woojin dan Louis~ Salam kenal, yaa."
Yang disapa hanya mengangguk malu dan semakin bersembunyi di balik kaki papanya.
Pria itu kemudian menurukan anak yang digendongannya, lalu membungkuk sedikit ke arah Ohyul. "Saya Ryul dan mohon bantuannya untuk hari ini, Guru Ohyul."
"E-eh, iya Pak Ryul. Saya juga mohon bantuannya," jawab Ohyul sedikit kagok sambil membalas bungkukan itu dengan gerakan yang cepat.
Ryul tersenyum tipis. Jenis senyum yang dapat membuat dunia Ohyul sedikit berguncang.
Waduh.
Pria itu lalu pergi berpamitan setelah sebelumnya mencium pipi mbul kedua anaknya bergantian. "Papa pergi kerja dulu, ya. Dadahh."
Kedua anak kecil itu membalas dengan lambau=ian kecil, meski raut wajahnya masih enggan untuk di tinggal.
Begitu mobil hitam itu melaju pergi, Ohyul masih terpaku di tempatnya. Menatap aspal jalanan di depannya dengan tatapan kosong.
Puk!
"Heh, bengong aja." Mbak Yuna, salah satu teman kerja Ohyul menyenggol lenganya dengan sedikit agak kuat. "Ituloh, adek-adeknya ngeliatin kamu bingung. Masuk ke dalam sana."
"Eh, eh. Iya, mbak. Ayo, ayo Woojin ama Louis ikutin Guru Ohyul, yaa."
Di dalam kelas Ohyul, suasana sudah mulai ramai. Ohyul mengajak anak-anak untuk mengenal bentuk-bentuk geometri pagi itu.
Ohyul sudah membagikan kertas dan krayon ke masing-masing meja. Anak-anak duduk lesehan di karpet hijau. Mengelilingi meja bundar yang masing-masing diisi oleh tiga sampai empat anak.
“Nah, hari ini kita akan belajar menggambar bentuk, ya. Yang ini namanya persegi, yang ini lingkaran, dan yang ini segitiga,” ujar Ohyul sembari memberikan contoh di papan tulis kecil.
Setelah selesai memberikan contoh, Ohyul berjalan-jalan di sekitar kelas. Memperhatikan bagaimana gambar anak muridnya satu per satu. Ada yang menggambar lingkaran seperti bentuk telur. Menggambar persegi sudah hampir menyerupai jajar genjang dan lainnya.
“Guru Ohyul! Lingkarannya Martin mencong-mencong!” seru Martin memperlihatkan hasil gambarnya yang tidak sejalan dengan semangatnya.
Ohyul langsung menghampiri Martin dan berjongkok di sebelahnya. “Haha, pelan-pelan aja gambarnya, Martin. Sini, sini. Guru Ohyul bantu, yaa.”
Begitulah suasana kelasnya. Ramai, sedikit riuh, tapi hangat.
Di sisi lain, Woojin, si anak baru duduk dengan krayon merah di tangannya. Menatap gambar persegi yang sudah tercipta di kertasnya. Tapi, kok tidak mirip dengan contoh di papan tulis, ya?
Anak itu terlihat sedikit gelisah, namun ia tidak besuara, meminta tolong ataupun mengeluh. Dari sudut matanya, beberapa kali Ohyul menangkap Woojin yang merlirik ke arahnya. Hanya sebentar dan langsung buru-buru menunduk lagi saat Ohyul menoleh balik.
Ohyul sadar akan hal itu. Enam tahun ia habiskan untuk mengajar di TK dan di daycare menjadikannya peka terhadap tingkah laku anak-anak. Salah satunya adalah membedakan anak yang tidak bisa dan tidak berani untuk meminta.
Woojin termasuk yang kedua.
Jadi, Ohyul menyelesaikan dulu urusannya di meja Martin lalu kemudian berjalan ke arah meja pojok. Ia duduk di samping Woojin dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Ia bertanya dengan lembut.
“Woojin, ada yang mau guru Ohyul bantu?”
Si kecil terkesiap. Tangannya kemudian mengangkat kertas gambarnya yang berisi coretan berbentuk persegi yang sudut-sudutnya masih berantakan. “Woojin… tidak bisa gambar perseginya, guru Ohyul…”
“Okay-okay, guru Ohyul bantu, ya…” katanya pelan. Ia dengan hati-hati membimbing tangan mungil Woojin di atas kertas. “Tarik garisnya ke bawah… terus ke samping. Pelan-pelan aja, sayangg.”
Dengan instruksi penuh perhatian dari gurunya, akhirnya bentuk persegi itu jadi. Mata Woojin berbinar senang melihat hasil kerjanya. Ada rasa bangga yang muncul di wajahnya. “Terima kasih, Guru Ohyul. Gambar persegi Woojin jadi bagus!”
“Yippiee! Woojin keren banget! Ayoo, lanjut gambar bentuk lingkarannya!”
“Iya, guru Ohyul!”
Hati Ohyul rasanya menghangat. Melihat si kecil yang tadinya terlihat cautious kini lebih bersemangat mengerjakan tugas yang diberikan.
Jam makan siang tiba.
Anak-anak TK yang tersisa karena memang sekalian dititipkan di daycare ikut bergabung dengan adik-adik kecil yang lain. Di dalam ruangan yang lumayan luas itu meja-meja kecil sudah ditata rapi. Makanan juga sudah dihidangkan dengan nasi, lauk, dan tentu saja dengan sayur yang porsinya sudah disesuaikan dengan perut kecil mereka.
Ohyul berkeliling bersama guru yang lainnya. Memastikan semua anak sudah mulai makan dengan tertib.
Tapi, di tengah riuh suara denting peralatan makan itu, Ohyul tanpa sadar mencari keberadaan dua anak yang baru masuk tadi pagi.
Woojin duduk di sebelah adiknya dan sudah makan dengan tenang. Sedangkan Louis, si adik hanya sibuk memandangi piring di hadapannya dengan mata bulat yang sudah berkaca-kaca.
Sebelum Ohyul sempat bergerak, ia menangkap lagi dari sudut matanya bahwa Woojin kini meliriknya lagi. Buru-buru menunduk saat hampir ketahuan. Lalu melirik lagi. Ekspresinya kelihatan gelisah.
Wah, ada yang salah, nih.
Ia langsung berjalan ke arah meja keduanya dan duduk jongkok di sisi Woojin. “Woojin? Kenapa, sayang?”
Si sulung itu mendongak menatap Ohyul. Matanya terlihat ragu, tapi ia mau bicara.
“Dede Louis…” bisiknya pelan.
“Iya, dedenya kenapa, Woojin?”
“Di piring dede ada wortel guru Ohyul. Dede tidak suka wortel. Jadinya dede tidak mau makan.” Woojin menunduk sebentar. “Kalau dede tidak makan, nanti dede lapar…”
Ohyul kemudian berdiri dan mengusap rambut halus Woojin dengan lembut. “Makasih sudah bilang ke Guru Ohyul ya, Woojin.” Lalu, ia menambahkan, “Woojin baik banget sudah mau jagain dedenya.”
Pipi Woojin sedikit merah. Ia tidak menjawab, tapi lengkung di bibirnya tidak bisa berbohong.
Ohyul kemudian bergeser ke sisi Louis. Bocah tiga tahun itu mendongak dengan mata yang sedikit waspada, namun Ohyul sudah lebih dulu tersenyum.
“Louis tidak suka wortel ya, sayang?”
Louis mengangguk pelan mendengar pertanyaan itu.
“Kalau Guru Ohyul ganti wortelnya, Louis mau makan?”
Anggukan kecil menjadi jawaban. Dengan segera Ohyul membawa piring itu ke dapur dan mengganti wortel dengan buncis yang lebih banyak.
Louis memandangi piring barunya, sudah tidak ada lagi yang berwarna oranye mengambang di supnya. Namun, mimik wajah si kecil tampak masih tidak yakin.
Jadi, Ohyul mengambil posisi duduk di depan meja Louis dan mengambil sendok di mejanya. “Louis mau guru Ohyul suap?”
Hening sebentar.
“…b-boyyehh??” tanyanya ragu-ragu dengan suara memelas.
Ya Tuhan, GEMAS SEKALI!
“Boleh dong, sayangg~” Ohyul segera menyendok kecil nasi dan suwiran ayam di sendok kecil itu. “Ayo, buka mulutnya kapten Louis! Nguungg, pesawat datangg!”
Louis langsung cengar-cengir dan membuka mulutnya penuh semangat. Pipinya menggembung bulat mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Di sebelahnya, Woojin ikut terkikik pelan melihat tingkah menggemaskan adiknya.
Sore itu, Ohyul yang berdiri di dekat gerbang menjadi sebuah pemandangan yang menggemaskan. Pasalnya, Louis berada di gendongannya bersandar manja pada bahunya. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Woojin.
Ketiganya sedang menunggu Ryul, orang tua Woojin dan Louis untuk menjemput mereka.
Tepat pukul empat sore, mobil hitam yang familiar berhenti tepat di depan gerbang. Mata Woojin langsung berbinar saat melihat papanya turun dari mobil. Hanya mengenakan kemeja dengan lengan yang digulung sampai atas dan tanpa dasi.
“PAPAH!”
Tangan kecil itu melepas pelan genggaman Ohyul dan langsung menghambur menabrak paha papanya dengan sekuat tenaga.
Ryul refleks menopang kepala Woojin dengan telapak tangannya. “Hei, hei. Pelan-pelan.”
Tapi, Woojin terlalu bersemangat melihat kehadiran papanya. “Pah! Pah! Woojin sudah bisa gambar bentuk persegi! Sama lingkaran! Sama segitiga juga, pah! Tadi, Woojin dibantu sama guru Ohyul gambarnya!”
Ryul terkekeh dan mengusap pelan kepala anaknya. Sejenak tatapannya beralih ke Ohyul yang setengah mati berusaha menahan kegemasan. “Pintar sekali anak papah. Sudah bilang terima kasih ke gurunya, 'kan?”
“Sudah, pah!” jawab Woojin mantap dan penuh semangat.
Louis yang ada di gendongan Ohyul, mulai meronta kecil minta diturunkan saat mendengar suara papanya. “Uyu Oyul. Uwi mau te papah. (Guru Ohyul. Louis mau ke papah.)”
“Eh, iya iya.”
Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, Louis langsung berlari ke arah Ryul. Langkahnya khas balita, cepat, canggung, seolah-olah akan jatuh yang ajaibnya malah tidak jatuh.
“Papah!” Louis menabrak kaki papanya dengan keras. Seperti abangnya.
"Aduh,” ringis Ryul pelan. Ia dengan sigap mengangkat anak bungsunya itu dan membawanya ke dalam gendongan. ‘”Iya, iya. Papah di sini.”
“Papah! Adi Uwi mam-nya abish! Uwi dicuapin Uyu Oyul! (Tadi Louis mam-nya habis. Louis disuapin guru Ohyul),” celoteh Louis dengan kosakata seadanya dan masih terdengar cadel.
“Oh iya?” Ryul membesarkan matanya pura-pura takjub. “Pinter sekali anak papah mam-nya habiss,” puji Ryul sambil mengecup pipi anaknya.
“Iyaaa!” Louis mengangguk heboh, pipi mbul-nya menggembung bangga.
Ryul kemudian menoleh ke arah Ohyul. “Terima kasih untuk hari ini, Pak Ohyul. Sepertinya anak-anak saya banyak merepotkan anda.”
Ohyul yang sedari tadi hanya bisa membatin, ‘LUCU BANGET, YA TUHAN! LUCU BANGET!’ langsung tersentak kaget. Ia buru-buru mengatur ekspresi wajahnya dan memberikan senyum profesionalnya.
“Ah, tidak kok, pak,” Ohyul menggeleng cepat. “Woojin sama Louis anak baik, kok.”
Lalu, setelah obrolan ringan tentang administrasi daycare selesai, Ryul pun berpamitan. Saat ketiganya sudah di dalam mobil dan mesin menyala, kaca jendela belakang perlahan turun.
Memperlihatkan dua kepala krucil yang muncul bersamaan. Melambaikan tangan dengan heboh pada Ohyul.
“Dadaaahh, Guru Ohyul!”
“Adaaaahhh, uyu Oyul!!”
Ohyul membalas lambaian tangan mungil itu sampai mobil hitam tersebut hilang di ujung jalan.
Puk!
“Senyum-senyum sendiri mulu, Yul.” Mbak Yuna muncul entah dari mana. “Naksir, ya? Ama bapaknya?”
Mendengar itu Ohyul sontak balik membalas pelan pukulan ringan di lengan Mbak Yuna. “Apa, sih Mbak. Aneh-aneh aja, lho. Pak Ryul udah beristri-lah. Anaknya pada embul-embul gitu.”
Mbak Yuna hanya tertawa. “Emang kamu lihat ada cincin di jarinya?”
Lho? Heh?
