Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-25
Words:
1,400
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
18
Bookmarks:
1
Hits:
300

Hidangan yang Hilang dari Meja Makan

Summary:

"Menghidangkan sup tahu telur itu cara mama menyampaikan cintanya, Janu, dan menikmatinya adalah cara ayah menyambut cinta tersebut."

Notes:

myung jaehyun - ayah
park sungho - mama
kim woonhak - janu

Work Text:

Kepada Janu, ayah pernah bercerita, bahwa dulu sekali, sewaktu Janu belum lahir—bukan, bahkan jauh sebelum itu, sewaktu ayah dan mamanya belum saling kenal, ayah tidak punya makanan kesukaan, ayah bahkan tidak terlalu suka makan. Namun, kemudian, ayah bertemu seorang perempuan yang akhirnya menjadi mamanya, dan sup tahu telur buatan mama perlahan jadi menu yang paling disukai ayah.

Saking sukanya pada sup tahu telur, sampai hari ini, setidaknya akan selalu ada salah satu pagi dalam seminggu di mana menu tersebut akan tersaji di atas meja makan keluarga Janu.

Ayah sungguh konsisten soal seleranya, sedangkan Janu hanya sempat menyukai sup tahu telur beberapa saat sebelum merasa muak.

Bagaimana Janu tidak muak. 

Berdasarkan cerita nenek, dulu, ayah benar-benar makan sup tahu telur seakan-akan itu adalah makanan pokoknya. Artinya, bukan hanya satu hari dalam seminggu, melainkan tiga kali dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu dan disantap selama berbulan-bulan. Janu yang hanya seorang bocah kecil mungil mau tidak mau jadi ikut menyantap hidangan tersebut setiap hari.

Janu bahkan baru sadar bahwa makanan pokok mereka adalah nasi sewaktu ia mulai masuk sekolah dasar ketika melihat kotak bekal teman-temannya semuanya terisi oleh nasi. Janu sebenarnya juga makan nasi di rumahnya, tetapi tidak sesering ia makan sup tahu telur, jadi yang ia pikir selingan itu adalah nasi, bukan sup tahu telur.

Waktu TK Janu tidak begitu sadar soal nasi karena tidak terlalu peduli. Janu hanya berpikir ia senang bisa bermain dengan teman-temannya setiap akan berangkat ke sekolah.

"Aku mau muntah makan ini," ungkap Janu di umur 4 tahun.

Janu tidak ingat cerita ini. Ini kenangan yang diulang hanya lewat lisan oleh nenek. 

Janu mengatakannya sambil menangis tersedu-sedu setelah memuntahkan sesendok kuah sup saat sedang makan malam bersama di meja makan. 

Saat diceritakan soal kejadian tersebut Janu hanya bisa meringis sekaligus tertawa. Ia sudah paham sedikit tentang pentingnya sup tahu telur bagi ayah sewaktu kisah tersebut diceritakan padanya.

Dan ayah baru mau mencoba makan dengan menu lainnya setelah mama datang dan mengomel habis-habisan. Ayah bahkan tidak berhenti ketika anaknya muak hingga memuntahkan makanan tersebut di depan matanya. Ayah hanya mau menurut pada mama. Mungkin karena mama menyeramkan saat mengomel, Janu juga tidak tahu.

Mama mengomel setiap hari, kata nenek, hingga ayah mau tidak mau perlahan belajar mengubah kebiasaan tersebut dan mulai membiasakan diri dengan berbagai variasi menu lain selain sup tahu telur. Ayah bahkan sempat benar-benar berhenti makan sup tahu telur sampai beberapa tahun lamanya.

Hingga suatu hari, ketika Janu baru pulang di hari kesepuluh ia mulai bersekolah di sekolah dasar, dengan bau matahari dan rasa penasarannya ia datangi ayah yang tengah serius menghadapi pekerjaannya di ruang tengah.

"Kenapa kita tidak pernah makan sup tahu telur lagi ya, Ayah?"

Meskipun muak, tentu saja Janu penasaran tentang alasan mengapa hidangan yang sebelumnya selalu hadir mendadak jadi tidak pernah terlihat lagi. Meski sudah tidak begitu suka, Janu baru sadar kalau rasanya aneh tidak melihat sup tahu telur di atas meja.

Ayah yang sedang memandang serius ke arah laptop seketika berhenti mengetik dan segera mengalihkan perhatiannya pada Janu.

Dengan riang Janu mendekati ayah sembari menanti jawaban, tetapi ayah justru hanya memandanginya tanpa mengatakan apa-apa, cukup lama hingga Janu mulai kebingungan.

Dahi ayah mengerut dengan mata masih lekat padanya, jadi Janu mulai berpikir bahwa ada yang salah dengan pertanyaannya barusan sehingga ia perlahan membawa langkahnya untuk mundur kembali. Janu berniat untuk kabur.

Namun, sebelum niat itu terlaksana dan tanpa disangka-sangka oleh Janu sama sekali, ayah tiba-tiba menarik Janu masuk ke dalam pelukan. Ayah menjatuhkan kedua lututnya ke lantai untuk berlutut dan memeluk tubuh Janu dengan erat.

Kali ini Janu semakin bingung. Janu bisa mendengar napas ayah yang memberat, tak lama kemudian bahu Janu basah. Lantas, meski tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, Janu mulai menangis saat mendengar tangis kecil ayah.

"Janu, maaf. Maaf, udah bikin Janu makan sup tahu telur setiap hari." 

Entah apa yang salah mengenai itu sampai buat ayah menangis meminta maaf.

"Maaf ayah nangis. Maaf."

Kalau yang ini Janu rasa ia sedikit mengerti. 

Orang dewasa seharusnya tidak menangis lagi. Mereka sudah tahu banyak hal, sudah punya banyak uang, harusnya sudah bisa mengatasi segalanya. 

Menangis hanya dilakukan oleh anak kecil, karena mereka tidak tahu apa-apa dan butuh banyak bantuan. Kalau sudah dewasa, menangis harusnya tidak dibutuhkan lagi.

Dan meski Janu tahu ayah sudah tidak boleh menangis, tak ada yang dapat ia lakukan untuk menghentikan tangisan ayah sehingga Janu pun mulai menangis lebih kencang di pelukan ayah.

Ayah tidak menjawab pertanyaannya di awal, tidak juga menjelaskan alasannya menangis, yang jelas hati Janu terluka karena tangisan mereka, dan bekas luka itulah yang terus menancapkan memori tersebut di dalam otak Janu.

Tengah malamnya, sewaktu Janu berjalan dengan langkah terseret menuju ke toilet yang ada di dapur, lampu kecil dapur yang cahayanya remang-remang masih menyala.

Masih ada ayah yang tengah duduk menghadap meja makan di sana. Ayah mengangkat dan menyeruput isi dari sebuah mangkuk yang sudah lama tak pernah Janu lihat: mangkuk sup tahu telur milik ayah.

Dengan langkah masih diseret dan hati yang berat, Janu lantas memutar arah tujuannya menuju meja makan. Hati Janu berat, sebab mulai kehilangan rasa kagum pada ayah yang selama ini dianggapnya sebagai sosok orang dewasa yang hebat.

"Janu? Kenapa belum tidur, Nak?" Ayah meraih bahu Janu lalu menariknya ke dalam pangkuan.

Janu melamun, menatap kosong pada mangkuk ayah yang sudah habis isinya, matanya masih mengantuk sehingga ia tidak merespon pertanyaan barusan.

"Ayah kenapa tadi menangis?" tanya Janu begitu menjatuhkan punggungnya untuk bersandar ke dada ayah.

Lengan ayah melingkar melingkupi seluruh tubuh Janu. Ia letakkan dagunya di atas kepala Janu, lalu menggoyang tubuh mereka pelan ke kanan dan ke kiri.

"Janu tadi juga nangis. Kenapa?"

Janu diam sejenak memikirkan jawaban. "Tidak tahu."

Ayah tertawa kecil. "Sedih?"

Anggukan kecil Janu berikan, lalu kemudian ia merengek, “tidak tahu…."

"Hatinya sakit, ya?" tanya ayah sembari mengelus dada Janu.

Janu mengangguk. "Soalnya ayah menangis."

Ayah tertawa lagi, kali ini disusul usakan gemas di rambut Janu. "Janu nangis karena hatinya sakit. Sakit soalnya sedih denger ayah nangis, ya?"

"Iya kali,” sahut Janu ragu-ragu.

"Maafin ayah ya, udah buat hatinya Janu sedih. Hati ayah tadi juga sakit, soalnya sedih, makanya ayah nangis dikit."

Mendengar jawaban tersebut, Janu bergerak gelisah untuk mendangak ingin melihat ayah. Ia penasaran sekaligus khawatir. "Kenapa? Ayah ‘kan sudah besar."

"Kalo udah besar juga masih bisa sedih tau, Jan, jadinya masih bisa nangis," jelas ayah sembari memutar tubuh Janu supaya duduk menghadapanya.

"Memangnya ga apa-apa, Ayah? Ayah kan banyak duitnya. Mengapa menangis?"

Kali ini ayah spontan tergelak nyaring sampai Janu terkejut. Disembunyikan wajahnya di kepala Janu agar suara tawanya teredam.

"Amin, ya, anakku. Semoga ayah selalu banyak duitnya supaya Janu bisa jajan bakpao terus.”

Janu tersenyum senang, kantuknya hilang membayangkan kamarnya bergelimang bakpao isi kacang merah.

"Janu seneng ya makan bakpao?"

Tentu Janu segera mengangguk kencang.

"Seneng ga kalo ayah beliin bakpao yang banyak?"

"Senang sekali!"

"Kalo Janu punya bakpao yang banyak sekali, tapi ayah harus pergi yang jauh sekali gapapa?"

Janu merengut tidak senang. "Tidak boleh, Ayah!"

"Sedih, ya?"

Janu mengangguk.

"Walaupun bakpaonya banyak Janu tetep sedih?"

"Iya, sedih. Ayah jangan pergi," rengek Janu, menarik-narik kaos belel ayahnya.

"Ayah juga begitu. Walaupun duitnya kata Janu banyak, tapi tetep bisa sedih kayak Janu."

Meski belum sepenuhnya paham, Janu mulai tertarik pada apa yang ayahnya bicarakan.

"Kita boleh ketawa kalo lagi senang, jadi kita juga boleh nangis kalo lagi sedih.”

“Orang sudah besar juga boleh menangis?”

“Boleh, Janu. Janu kalo udah besar dan lagi sedih juga boleh nangis.”

"Terus mengapa ayah tadi menangis dan bersedih?"

Ayah lantas menatap Janu lama, ragu untuk menjawab, lalu kemudian tersenyum. “Rindu mama, Nak.”

Janu sedikit lega, rupanya ayah hanya rindu mama. Janu pikir ada masalah yang sangat besar. Ia tidak mengerti mengapa ayah sampai bersedih dan menangis. Mereka masih sering mengunjungi mama. 

“Ya sudah kalau begitu,” kata Janu, tangannya terulur ingin meraih kepala ayah untuk diusap—sama seperti yang biasa ayah lakukan padanya, meski tidak sampai sehingga lengan ayah yang akhirnya ia usap. “Nanti Janu akan temani ayah untuk bertemu mama, ya, Ayah.”

Senyum lebar tersungging di bibir ayah sebelum ia peluk kencang tubuh Janu hingga Janu mengerang protes. “Terima kasih, ya, Janu.”

Di dalam pelukan ayah, Janu ditimang ke kiri dan ke kanan, diusap kepalanya hingga kelopak matanya kembali berat dan sulit untuk tetap terbuka.

“Ayah?”

Timangan ayah berhenti.

“Ayah mengapa suka sekali sup tahu telur?”

Lalu, Janu ditimang kembali hingga hampir terlelap sambil dikecup-kecup sayang pelipisnya.

"Menghidangkan sup tahu telur itu cara mama menyampaikan cintanya, dan menikmatinya adalah cara ayah menyambut cinta tersebut, Janu."