Chapter Text
Jarum jam dinding baru saja melewati angka empat pagi ketika Yuji menyerah pada usahanya untuk kembali terlelap.
Keheningan kamar terasa begitu kontras dengan debaran halus yang terus menggelitik ulu hatinya — sensasi yang mirip dengan kepakan sayap kupu-kupu yang terjebak di dalam perut. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang masih diselimuti remang, menyadari bahwa berpura-pura tidur hanya akan menjadi kesia-siaan yang melelahkan.
Pikirannya sudah melompat jauh ke Jakarta. Bayangan tentang panggung megah, tata lampu yang menyilaukan, dan melodi dari girl group kesukaannya seolah menari-nari di balik kelopak mata. Ada rasa gugup yang manis, jenis kegelisahan yang biasanya hanya muncul sebelum sesuatu yang besar terjadi.
Yuji bangkit dari tempat tidur. Setelah membiarkan aliran air dingin membasuh sisa kantuknya, ia kembali berjongkok di depan ransel. Ini adalah kali ketiga ia memastikan segalanya berada di tempat yang benar. Ia mengusap permukaan kemeja yang terlipat tanpa cela, memeriksa letak pengisi daya ponsel, dan terakhir, menyentuh bungkusan tebal di bagian tengah tas. Tiga lapis kaus kaki membungkus lightstick kesayangannya — sebuah tindakan protektif yang mungkin terlihat berlebihan, namun terasa sangat perlu baginya.
Aroma nasi goreng yang gurih mulai merayap naik dari lantai bawah, memanggilnya untuk segera turun. Di dapur, ia menemukan Sukuna tengah berdiri membelakangi pintu. Bahu kakaknya tampak tegang, dan meski Yuji tidak bisa melihat wajahnya, ia tahu persis ada sepasang alis yang sedang bertaut tajam di sana.
Yuji menarik kursi kayu di meja makan dengan suara decit pelan. Tanpa sepatah kata, Sukuna berjalan mendekati meja makan dan mendorong sebuah piring ke arahnya. Di atasnya, nasi goreng dengan telur mata sapi yang pinggirannya garing kecokelatan masih mengepulkan uap. Di sampingnya, secangkir teh manis berdiri dengan asap tipis yang menari-nari — terlihat terlalu panas untuk segera diminum.
“Makan,” gumam Sukuna singkat, akhirnya ikut duduk di hadapannya. Wajah kakaknya tampak sedikit lebih kusut dari biasanya, tanda bahwa pria itu pun melewati malam tanpa tidur yang nyenyak, meski harga dirinya pasti akan menolak keras untuk mengakuinya.
Keheningan menyelimuti meja makan, hanya diselingi denting sendok yang beradu dengan piring. Yuji baru saja hendak menyuap potongan telurnya yang kelima ketika suara berat Sukuna memecah udara.
“Jangan taruh ranselmu di lantai gerbong. Kotor.”
Yuji mendongak, menangkap tatapan hazel gelap kakaknya yang tampak sangat serius. Ia hanya bisa mengangguk pelan. “Iya, Mas.”
“Screenshot tiket dariku udah kamu simpen?” tanya Sukuna lagi, matanya tak lepas dari piring Yuji. “Kalau udah dicetak, jangan disimpen di tas kabin. Nanti kamu ribet nyarinya.”
“Nanti aku simpen di tas selempang. Bagian kantong depan, aman,” jawab Yuji sabar.
“Kalau nanti ada orang yang sok akrab atau ngajak ngobrol nggak jelas — “
“Mas,” potong Yuji lembut, meletakkan sendoknya sejenak. Ia menatap kakaknya dengan senyum tipis yang tertahan. “Aku bukan anak kecil lagi. Aku udah dua puluh dua tahun, lho.”
Sukuna mendengus, sebuah cibiran kecil menghiasi sudut bibirnya. “Dua puluh dua tahun, tapi pesen tiket kereta aja masih harus minta tolong masnya.”
Yuji tertegun, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Argumen kakaknya kali ini telak menghantam telinganya. Ia hanya bisa mendesah pasrah, memilih untuk kembali menekuni sarapannya demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di pipinya.
Cahaya Stasiun Gubeng pada pukul setengah enam pagi seolah memiliki dunianya sendiri. Pendar lampu peron memantul di atas rel yang masih basah oleh embun, menciptakan suasana yang jauh lebih tenang sekaligus asing dibanding hiruk-pikuk siang hari. Udara pagi itu menusuk kulit lebih tajam dari yang Yuji bayangkan, membuatnya merapatkan jaket.
Yuji mengamati sekelilingnya dengan saksama. Ada seorang bapak yang menyeret koper dengan permukaan penuh goresan — saksi bisu perjalanan yang tak terhitung jumlahnya. Di sudut lain, seorang ibu tampak mendekap balitanya yang tertidur lelap di bahu. Yuji sempat terpaku, bertanya-tanya dalam hati bagaimana punggung mungil itu mampu menahan beban seberat itu tanpa mengeluh. Observasi-observasi kecil itu mendadak terasa lebih bermakna pagi ini.
Berdiri di tepi peron, sebuah kesadaran menghantamnya pelan: ini adalah kali pertama ia akan menempuh perjalanan ke Jakarta benar-benar sendirian. Tidak ada wajah familier yang akan duduk di kursi sebelah. Ada desiran hangat yang memenuhi dadanya, namun terselip sedikit rasa gentar yang membuat jemarinya meremas tali ransel lebih erat.
“Nobara udah chat kamu?”
Suara berat Sukuna memecah lamunan Yuji. Kakaknya berdiri di sampingnya dengan kedua tangan tersembunyi di saku celana, pandangannya lurus menatap kejauhan rel yang seolah tak berujung.
“Udah dari kemarin. Dia bilang bakal stand by di hotel sekitar jam lima sore. Abis itu kami mau cari makan dulu buat tenaga konser besok,” jawab Yuji, mencoba memberikan nada paling meyakinkan yang ia punya. “Mas tenang aja.”
“Aku tenang,” balas Sukuna datar. Namun, Yuji tahu kakaknya berbohong. Ada ketegangan samar di bahu pria itu yang tidak bisa disembunyikan hanya dengan kata-kata.
“Lagian ada Nobara yang nemenin — “
“Nobara itu perempuan,” potong Sukuna cepat.
Yuji mengerjap. “Maksudnya?”
“Nobara itu perempuan,” ulang Sukuna. “Masa aku minta tolong ke dia buat jemput kamu pas udah nyampe Jakarta nanti.”
Sukuna akhirnya menoleh, menatap Yuji dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku udah minta tolong ke orang lain buat nemenin kamu dari stasiun ke hotel. Keluarga Fushiguro, kamu tau, nggak? Yang rumahnya di ujung komplek itu. Denger-denger, anak laki-laki bungsunya kerja di KAI, penempatan Jakarta. Namanya Megumi.”
Nama itu berdengung di telinga Yuji. Ia mengingatnya samar-samar dari percakapan antar-tetangga yang lewat di ruang tamu rumahnya. “Kerja jadi apa?”
“Nggak tau,” Sukuna mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Yang penting ada orang yang bisa jagain kamu sampe ke hotel. Kontaknya aku kirim kalo udah dapet dari ibunya.”
Sebelum Yuji sempat menggali lebih jauh, suara penyiar stasiun bergema, mengumumkan keberangkatan kereta yang sudah mulai merayap masuk ke peron. Pada detik itu, Sukuna melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi. Tangan besarnya mendarat di puncak kepala Yuji, memberikan tepukan pelan yang terasa hangat sekaligus asing.
“Jaga diri baik-baik,” pesannya singkat.
Tanpa menunggu balasan, Sukuna berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar, tetap menyembunyikan tangannya di saku tanpa menoleh lagi. Yuji mematung selama beberapa saat, merasakan sisa kehangatan dari tepukan itu di kepalanya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mantap menaiki tangga kereta.
Gerbong tiga kelas eksekutif itu terasa jauh lebih lengang dan luas dari yang Yuji bayangkan. Ia melangkah menyusuri lorong berlapis karpet hingga menemukan nomor kursinya di dekat jendela. Di sampingnya, satu kursi dibiarkan melompong — hasil dari sifat protektif Sukuna yang bersikeras memesan dua tiket sekaligus agar adiknya tidak perlu bergesekan bahu dengan orang asing.
Setelah bersusah payah mendorong ransel beratnya ke kabin atas, Yuji menjatuhkan diri ke kursi empuknya. Ia menarik sebuah kantong plastik dari dalam tas selempang. Di atas tutup kotak bekalnya, selembar kertas catatan kecil tertempel dengan selotip bening. Tulisan di sana besar, tajam, dan kaku — khas tulisan tangan seseorang yang lebih sering memegang pisau dapur daripada pena.
Dimakan pas di kereta. Gak usah nunggu laper. Terus jangan lupa minum. Lightstick-nya dijaga baik-baik. Aku gak mau beliin yang baru kalo rusak. — S
Yuji merasakan sudut bibirnya berkedut naik. Ia bisa membayangkan wajah datar Sukuna saat menulis baris terakhir itu. Dengan gerakan pelan, ia melepas kertas tersebut, melipatnya dengan rapi, lalu menyelipkannya ke dalam saku kemeja, tepat di atas dadanya. Rasanya seperti membawa jimat kecil yang hangat.
Pukul enam lewat sebelas menit, suara peluit terdengar nyaring dari ujung peron. Kereta itu mulai merayap, meninggalkan stasiun Surabaya yang perlahan menyusut di balik kaca. Yuji menempelkan dahinya pada permukaan jendela yang dingin, memperhatikan bagaimana pemandangan gedung-gedung beton mulai berganti menjadi hamparan sawah hijau yang memanjakan mata.
Ponselnya bergetar di pangkuan. Sebuah pesan dari Nobara muncul. “Yuji, kereta kamu udah jalan belum?”
“Baru aja jalan. Masih ada sepuluh jam lagi,” balasnya singkat, lalu kembali melemparkan pandangan ke luar.
Waktu seolah melambat di atas rel. Saat kereta melaju di antara Solo dan Klaten, Yuji memutuskan untuk membuka bekalnya. Aroma ayam goreng yang gurih dan wangi daun pisang seketika memenuhi rongga hidungnya. Di pojok kotak, ia menemukan sebungkus kecil kerupuk — detail kecil yang selalu diingat Sukuna karena tahu adiknya akan merajuk jika makan tanpa tekstur renyah.
Di kejauhan, siluet Gunung Lawu berdiri tegak, puncaknya tersembunyi di balik selimut awan tipis. Yuji mengeluarkan ponselnya, mengambil foto pemandangan itu, dan mengirimkannya pada kakaknya tanpa sepatah kata pun.
Beberapa jam berlalu. Kereta mulai melambat saat memasuki wilayah Yogyakarta ketika sebuah balasan masuk.
Sukuna: bagus.
Hanya lima huruf, dingin dan singkat. Namun, Yuji tidak bisa menahan senyum tipis yang terpantul di kaca jendela. Ia menyandarkan punggungnya dalam-dalam, membiarkan goyangan halus gerbong dan suara gesekan rel menenangkan pikirannya.
Kecepatan kereta perlahan meluruh. Di balik jendela, kepadatan bangunan mulai merapat, lalu sebuah papan nama stasiun besar melintas cepat dalam tangkapan mata Yuji: YOGYAKARTA.
Pengumuman dari pengeras suara gerbong mengonfirmasi pemberhentian selama dua puluh menit. Yuji langsung duduk tegak, melirik kantong plastik bekalnya yang sudah kosong. Waktu yang cukup untuk menghirup udara luar sebentar.
Peron Yogyakarta ternyata terasa lebih hangat dari yang ia duga. Di bawah naungan atap stasiun, Yuji sempat membeli sekotak bakpia dari seorang ibu yang tersenyum ramah, sebungkus onigiri dari minimarket terdekat, satu cup es kopi susu berukuran kecil, serta sebotol air mineral dingin. Ia berdiri bersandar di dekat pilar besar, menyesap udara kota itu yang terasa sedikit berbeda — lebih sejuk dari Surabaya, dengan aroma samar tanah basah meski langit sedang cerah-cerahnya.
Getaran di saku celananya membuyarkan lamunan. Kali ini bukan Nobara, melainkan kakaknya.
Sukuna: ini kontaknya megumi
Sukuna: dapet dari ibunya. hubungin sendiri ya
Sukuna: dia yang anterin kamu dari gambir ke hotel
Menyusul setelahnya adalah sebuah kontak dengan nama yang sudah diketik rapi oleh Sukuna: Megumi (anak Bu Fushiguro). Yuji menatap layar ponselnya sejenak, lalu dengan jemari yang bergerak hati-hati, ia membuka ruang obrolan baru.
Yuji: halo, saya yuji itadori. maaf ganggu. saya dapet kontaknya dari mas sukuna. katanya mas megumi yang bakal anterin saya dari gambir ke hotel nanti? makasih banyak ya sebelumnya
Pesan terkirim. Yuji segera memasukkan ponselnya kembali, tak ingin terlihat seperti orang yang terlalu berharap pada balasan cepat. Pandangannya kemudian berkelana ke ujung peron, jauh ke arah lokomotif di kepala rangkaian kereta. Ada kesibukan kecil di sana.
Dari jarak sejauh ini, ia hanya bisa melihat sosok-sosok berseragam yang sedang melakukan pergantian tugas. Perhatiannya sempat tertambat pada satu sosok yang baru saja menaiki tangga kabin masinis. Orang itu sempat berbalik sekejap sebelum masuk ke dalam. Yuji hanya bisa menangkap garis bahu yang tegap dan profil samping wajah dengan rambut gelap yang berantakan tertiup angin, sebelum pintu lokomotif tertutup rapat.
Sebuah getaran kembali terasa. Balasan masuk.
Megumi (anak Bu Fushiguro): Iya. Nanti ketemu di peron Gambir.
Singkat, padat, tanpa bumbu emoji atau basa-basi. Yuji sempat terpaku dua detik membaca balasan itu sebelum jempolnya kembali mengetik.
Yuji: oke siap! kira-kira saya nyampe sekitar jam 6 sorean. nanti saya kabarin kalau udah deket
Tidak ada balasan lagi. Yuji menghela napas pendek, memasukkan sisa bakpianya ke dalam plastik, dan melangkah kembali menuju gerbong tiga saat kereta mulai bersiap melanjutkan perjalanan.
Waktu bergulir bersama pemandangan Jawa yang terus berganti wajah. Sawah-sawah yang menghijau mulai bersalin rupa menjadi deretan pabrik besar yang kaku. Yuji duduk bersandar dengan onigiri di pangkuan, menikmati kursi eksekutifnya yang sedikit bergoyang akibat laju kereta.
Saat jam digital di ponselnya menunjukkan angka lima sore, sebuah pesan dari Nobara masuk, memecah keheningan.
Nobara: YUJI! km udh deket gambir blm?
Nobara: aku br nyampe di hotel. beuh capek bgt mana macet pula. tp kamarnya baguuus gila
Nobara: udh mandi. udh unpack barang jg. skrg lg rebahan cantik di kasur
Nobara: km dpt kamar di lt brp? aku dpt di lantai 9
Yuji mendengus geli, rasa iri kecil terbit di hatinya membayangkan kasur hotel.
Yuji: ih araaa aku msh di kereta. nangisss
Yuji: bentar lg mo nyampe kayaknya
Nobara: wkwkw oke! kabarin aja kalo udh nyampe gambir ya
Yuji meletakkan ponselnya dan menatap keluar. Langit sore mulai berubah warna: oranye tipis menyapu cakrawala, bercampur dengan biru tua yang semakin pekat. Jakarta sudah berada di depan mata. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi mulai mengepung jalur kereta, jalan layang yang bertingkat-tingkat tampak ruwet di bawah sinar senja yang berat oleh polusi.
Pukul 17.41, Yuji kembali membuka kontaknya. Ia mengirim pesan pada orang yang akan menjemputnya nanti.
Yuji: halo mas, ini yuji. kereta saya udh masuk wilayah jakarta. kira-kira setengah jam lg nyampe gambir
Lalu, Yuji mematikan layar ponselnya. Ia merasakan debaran aneh yang kembali menggelitik ulu hatinya — kali ini bukan karena girl group idolanya, melainkan karena kota besar yang asing ini dan janji temu yang menanti di ujung peron.
Ia memejamkan mata, menyandarkan kepala pada kursi, dan membiarkan beberapa menit terakhir perjalanan membawanya masuk ke jantung ibu kota.
