Actions

Work Header

Biarkan Air Itu Sendiri Yang Menjadi Saksi Kehidupan Bina, Ya?

Summary:

Hanya tentang Bina yang menanyakan hal-hal tak wajar di pantai selatan, tapi mengapa sesuatu terasa aneh dan sesak bagi Naya? Temui mereka berdua di narasi yang asing ini.

Notes:

Maaf kalau kaku atau salah kata, aku baru memijat beberapa jariku akhir-akhir ini. Mungkin kamu bisa memberiku beberapa kata sayang di kolom, ya?

Work Text:

"Hei, kamu pikir, apa dunia di lautan itu benar-benar ada?" Ucap Bina sembari menggores pahanya dengan kuku yang tajam. Naya hanya diam melihatnya, sudah biasa.

"Sesuai kepercayaanmu saja," jawab Naya santai, dia menoleh ke arah Bina, memandangi betapa cantik 'teman' nya itu.

"Kalau aku tak percaya apapun?" Tanya Bina lagi. Bina juga menoleh ke arah Naya untuk memastikan apakah Naya akan menjawab pertanyaannya.

"Memangnya kenapa? Kamu mau pergi ke dalam jikalau ada dunia di bawah sana?" Jawab Naya. Sebenarnya, Naya sudah tau ini akan mengarah ke beberapa hal yang tidak enak, tapi dia tetap melanjutkan sambil berdoa.

Berdoa untuk teman yang sedang ia pandang ini tidak benar-benar pergi ke dalam Palung Mariana. "Iya," angguk Bina pelan.

"Kamu bakal sedih nggak, kalau kehilangan diriku?" Pertanyaan kesekian kali Bina tentang hal ini. Jawaban Naya selalu sama, "Sedih." Bina hanya tersenyum. Naya yakin didalam senyuman tersebut terdapat beberapa pikiran untuk bunuh diri. Naya YAKIN bahwa dipikiran Bina sekarang hanyalah untuk menenggelamkan dirinya. Ini sebabnya Naya tidak mau mengajak ke pantai.

"Na, kamu nggak bener-bener pengen kesitu, percaya sama aku."

"Aku udah lama mikirin ini, Na."

"Tapi aku nggak bisa kehilangan kamu!" Nada Naya naik satu oktaf, nafasnya cepat.

"Biarin aku, Na." Naya tidak pernah akan bisa membiarkan temannya tutup usia di depan dirinya sendiri, di depan mata kakinya sendiri, dia tidak pernah membayangkan seberapa sakitnya kehilangan temannya.

"Nggak akan," mata Naya berkaca, air-air di dalam matanya sudah memberontak keluar. Tapi, Naya terus berkedip cepat agar air matanya tidak turun semudah itu.

"Bodoh amat, aslinya aku nggak peduli kamu sedih," ucap Bina, Bina mulai berdiri dan melangkah mendekati laut meskipun tersandung oleh batu.

"Bina, kamu bakal nyesel."

"Aku nggak pernah nyesel, Na." Potong Bina dingin.

"Sampai Jumpa, kunjungi aku jika kamu rindu."

Bina menjatuhkan dirinya ke dalam air, dia bahkan tidak mencoba untuk bergerak sama sekali di dalam air, dia tidak peduli kalau sekarang paru-parunya sudah dipenuhi dengan air laut yang bercampur dengan berbagai bakteri yang bahkan ia tak tahu namanya.

Naya yang melihat itu tidak langsung bereaksi, dia hanya mendekati titik itu perlahan.... Lalu mulai menjatuhkan dirinya sendiri di titik yang sama. Pikiran terakhir Naya, kalau panggilan kita sama, kita juga harus meninggal di tanggal yang sama.

Naya membuka matanya sedikit di lautan yang dalam itu, meskipun nafasnya sudah mulai hilang, dirinya rela agar bisa melihat Bina yang sudah menutup matanya dan membiru. Naya mulai mendekat pada diri Bina, satu persatu langkah terasa sangat berat baginya yang sudah sekarat. Naya sampai di depan Bina. Naya mengelus pipi Bina... Dan mengecup kecil bibir Bina yang biru. Setelah kecupan, Naya mengucapkan dengan bahasa bibirnya, "aku sayang kamu, Na."

Tujuh hari kemudian, berita heboh menunjukkan dua pria yang tenggelam dikawasan pantai selatan. Naya tidak terlalu memikirkan itu sebelum ia menutup kedua matanya, karena setelah nyawanya hilang... Dia hanya menikmati tujuh menit keindahan Bina.