Actions

Work Header

The Last Train

Summary:

Ketika dua orang Strangers dipertemukan di suatu gerbong kereta terakhir di malam itu.

Notes:

Cerita ini pernah dipublikasikan author di platform lain dengan pairing yang berbeda. Jadi kalau ada yang nemu cerita yang sama diplatform lain YA ITU MEMANG SATU AUTHOR YAH 😆

Additional notes:

Disini author tidak akan menjelaskan secara detail latar pekerjaan mereka ataupun bagian lainnya. Dan mohon maaf jika ada salah penyebutan atau deskripsi karena author bukan expert dalam bidang tersebut.

Work Text:

Lima tahun bekerja di perusahaan e-commerce cukup membuat Wonwoo merasa bosan dengan rutinitasnya setiap hari. Berangkat pukul 9 pagi pulang larut malam. Kalau Wonwoo beruntung, dia bisa pulang jam 8-9 malam. Tapi lebih seringnya, Wonwoo bisa lembur sampai jam 11 malam. Belum lagi jarak kantor dengan apartemennya yang jika ditempuh dengan kendaraan pribadi jika tidak macet saja sudah menghabiskan waktu 1 jam lebih. Kalau macet? Jangan ditanya, Wonwoo bisa menghabiskan waktu 2 jam lebih di perjalanan. Maka dari itu dia lebih sering memilih naik Subway, kereta bawah tanah yang memiliki jarak tempuh dari kosan ke kantornya hanya 30 menit. Hanya kalau kepepet saja dia akan menggunakan kendaraan pribadinya.

Lelah? Tentu saja. Sudah berkutat dengan pekerjaan hampir setengah harinya dan dia juga harus menghadapi hiruk pikuk stasiun tiap pagi. Apalagi kalau dia lembur, Wonwoo selalu berpacu dengan jam keberangkatan kereta terakhir yaitu jam 11 malam. Kalau Wonwoo ketinggalan kereta terakhir, berarti Wonwoo harus naik taksi yang memakan ongkos seperempat jatah makan siangnya selama seminggu. Wonwoo sempat mencari hunian dekat gedung kantornya, namun harganya cukup mahal. Bukan dia pelit atau tidak mampu, gajinya sebagai budak korporat lebih dari cukup terlebih lagi jabatan dia sebagai leader team marketing. Namun dia memilih menabungkan uangnya untuk membeli rumah dan tabungan masa depannya. Lagipula apartemennya yang sekarang sangat nyaman dan Wonwoo cukup dekat dengan beberapa tetangganya yang meskipun tinggal di apartemen, mereka selalu bersosialisasi dengan tetangga satu lantai tersebut.

10:55 PM S District

Wonwoo melangkahkan kakinya hampir berlari karena 5 menit lagi kereta terakhir akan tiba dan dia tidak mau ketinggalan kereta tersebut. Tepat pukul sebelas kurang tiga menit kakinya menapaki peron tempat biasa dia menunggu kereta. Wonwoo lalu bersandar di tembok peron sejenak untuk mengatur nafasnya. Tidak berapa lama kereta yang dia tunggu datang. Dia menengokkan kepalanya dengan tujuan untuk melihat kedatangan kereta tersebut namun dia malah melihat sosok laki-laki lain yang sedang bersender di pilar peron. Menunggu kereta terakhir yang sama dengan Wonwoo.

“Dia lagi.” Gumamnya

Kereta berhenti tepat di hadapan Wonwoo, menunggu sejenak hingga pintu kereta berhasil terbuka sempurna dan dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke gerbong kereta yang kosong. Dia mendudukkan dirinya di bangku terdekat dari pintu masuk gerbong. Dia sandarkan kepalanya di jendela kereta, dan memejamkan matanya sejenak. Hari ini dia lembur karena kantornya akan membuat sebuah event besar tiga minggu lagi, dan divisi marketing harus menyiapkan campaign untuk event tersebut. Dengan notabene dia adalah leader dari divisinya, dia dan beberapa anggota divisinya terpaksa harus lembur untuk mematangkan konsep yang nantinya akan dipakai dan konsep itu harus selesai malam ini juga. Diskusi cukup alot sehingga menyebabkan Wonwoo hampir ketinggalan kereta. Namun, akhirnya mereka menemukan konsep yang akan dipakai dan besok mereka akan mempresentasikannya dihadapan divisi lain.

Sepuluh menit berlalu, Wonwoo yang berusaha untuk tidur sebentar gagal karena otaknya terus berjalan dan memikirkan presentasi esok. Dia membuka matanya dan berdecak perlahan sebelum akhirnya mengusap wajahnya. Matanya mulai iseng melihat sekeliling isi gerbong dan pada saat dia menengok ke arah kiri, dia melihat sosok lelaki tersebut yang ternyata satu gerbong dengan dia namun duduk sedikit berjauhan. Katakanlah dia stalker, karena Wonwoo sudah mengawasi pria itu selama tujuh bulan. Ya, selama tujuh bulan setiap Wonoo naik kereta terakhir dia selalu melihat pria tersebut.

Jumlah orang yang naik kereta terakhir dari stasiun yang sama dengan Wonwoo paling banyak hanya 6 orang, dan salah satunya adalah lelaki tersebut. Postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan dibawah pencahayaan gerbong kereta membuat Wonwoo dengan mudah mengingatnya. Namun Wonwoo tidak pernah sekalipun mengajaknya berbicara, atau sengaja duduk disampingnya. Paling mereka hanya duduk berhadapan namun lelaki itu sepertinya tidak peduli dengan kehadiran Wonwoo. Telinganya selalu tersumbat dengan airpods dan matanya selalu terpejam ketika sudah berhasil duduk di dalam gerbong. Lehernya tidak terkalung lanyard id perusahaan seperti yang dikenakan Wonwoo. Tapi yang dia tahu, tempat lelaki itu bekerja pasti masih berdekatan dengan kantornya. Dan Wonwoo juga hafal, bahwa lelaki ini turun di stasiun terakhir tujuan kereta ini, karena dia turun di satu stasiun sebelum stasiun terakhir dan lelaki tersebut belum juga turun. Jadi Wonwoo berasumsi bahwa lelaki tersebut pasti turun di stasiun terakhir.

Dua puluh menit kemudian, kereta tersebut berhenti di stasiun tujuan Wonwoo dan dia bergegas untuk turun. Jarak stasiun dengan apartemennya hanya memakan waktu lima menit. Sebelum naik ke apartemennya, Wonwoo mampir sebentar di minimarket yang terletak di depan apartemennya untuk membeli makan malam. Sebenarnya dia sudah makan karena setiap lembur kantornya pasti memberikan makan malam juga, namun perutnya sedikit lapar dan dia berniat untuk membeli makanan kecil sebelum kembali ke apartemennya.

“Selamat datang. Eh, Mas Wonwoo! Lembur lagi, Mas?” Sapa Dino, penjaga minimarket yang Wonwoo kenal.

“Iyanih, biasalah. Jaga sendiri lagi, Lo?” Tanya Wonwoo sambil tangannya mengambil onigiri dan satu roti serta satu kotak susu untuk sarapannya besok pagi.

“Iya, Mas, si Kwannie suaminya sakit. Jadi dia gabisa shift malam dulu. Totalnya jadi 25 ribu ya, Mas.”

“Ya ampun. Titip salam ya buat Kwannie, semoga suaminya cepat sembuh. Ini uangnya. Kembaliannya buat lo beli susu. Jaga kesehatan juga lo ya.” Jawab Wonwoo sambil menyodorkan uang lima puluh ribu lalu mengambil belanjaannya dan bergegas pergi ke apartemennya.

“Makasih, Mas Wonwoo! Mas juga jaga kesehatan ya!” Teriak Dino sebelum Wonwoo menutup pintu minimarketnya.

1:00 PM @ L E-commerce office

Pagi berlalu seperti biasa. Wonwoo berangkat pukul sembilan pagi menggunakan kereta dan tiba tiga puluh menit kemudian. Presentasi divisi marketing juga sudah dilakukan dan semua kepala divisi dan juga Pak Na, manager mereka juga setuju dengan konsep yang ditawarkan divisi marketing. Namun divisi social media dan divisi perlengkapan mau mengajak divisi marketing untuk rapat hari ini untuk mematangkan konsep mereka sehingga Wonwoo kembali harus lembur. Beruntungnya meskipun dia tetap menaiki kereta terakhir, Wonwoo tidak harus berlari mengejar waktu sebelum malam sebelumnya.

10:50 PM @ S District Station

Dia dapat berjalan santai menuju stasiun sambil menikmati udara malam. Tidak berapa lama, Wonwoo sudah sampai di peron, kereta terakhir akan tiba dalam sepuluh menit. Dia mendudukkan dirinya di bangku yang ada di peron. Kepalanya bergerak menengok sekeliling yang ternyata malam ini ada tujuh orang yang sedang menunggu kereta terakhir, termasuk dia dan lelaki itu. Tampilannya malam ini sedikit berbeda, lelaki itu masih mengenakan jas namun kancing depannya dia biarkan terbuka dan tidak adanya airpods yang menempel di telinganya.

Sungguh, Wonwoo penasaran, apakah sosok itu sadar jika mereka selalu menaiki kereta terakhir yang sama selama tujuh bulan seperti dirinya? Atau tidak sama sekali?. Wonwoo ingin mengajak lelaki itu berkenalan, dengan tujuan kalau dia pulang malam dengan kereta terakhir, dia setidaknya memiliki teman berbicara selama perjalanan. Namun, Wonwoo takut dicap sebagai stalker atau pria creepy karena sembarang mengajak orang berkenalan. Selang sepuluh menit, kereta terakhir itu tiba. Wonwoo dengan sengaja memilih gerbong yang sama dengan lelaki itu, dan duduk di hadapannya pada saat di dalam kereta. Selama lima menit perjalanan, Wonwoo pura-pura tertidur namun otaknya terus berfikir untuk nekat mengajak lelaki dihadapannya berkenalan. Wonwoo membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata di dalam gerbong itu hanya terdapat mereka berdua saja. Wonwoo menghela nafas sebelum meyakinkan dirinya untuk mengajak berbicara lelaki dihadapannya.

“Hmm, Hai? Mas, sorry kalo terkesan creepy atau gimana. Tapi kita sering satu kereta terakhir kayak gini. Mas kerja di District S juga, kah?” Tanya Wonwoo sedikit takut dan berdebar.

Lima menit setelah Wonwoo melontarkan pertanyaan tersebut pria itu masih memejamkan matanya. Entah tertidur beneran atau tidak mau menjawab pertanyaan Wonwoo. Wonwoo hendak bersiap untuk pindah gerbong karena malu sebelum suara bariton memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Iya, saya kerja di Distrik S juga. Maaf, saya sedikit ngantuk dan, hmm… Iya, saya tau kalau kita sering satu kereta terakhir ini.” Jawab lelaki itu akhirnya.

Wonwoo terpaku. Matanya dan mata lelaki di depannya saling berpandangan. Dia baru sadar bahwa mata lelaki itu sangat indah. Bola matanya coklat muda dengan pancaran terang. Sorot matanya tajam dan dalam, namun Wonwoo dapat melihat keteduhan dan pandangan seperti ‘puppy eyes’ yang tersirat dari lelaki itu.

“Oh gitu. Maaf ya, Mas, ganggu. Tidur lagi aja, Mas, kalau ngantuk. Saya pindah duduk aja takut ganggu” Jawab Wonwoo sedikit tidak enak.

“Gak usah pindah. Kamu kerja di L E-commerce ya? Maaf, saya tahu dari lanyard yang kamu pakai” Tanya lelaki itu.

Wonwoo menundukkan matanya sejenak melihat lanyard yang tergantung di lehernya sebelum menjawab pertanyaan lelaki itu. “Iya, Mas. Kalo Mas sendiri di gedung apa kerjanya?”

“Saya di Gedung Z. Seberang gedung kamu persis. Oh iya, nama saya Mingyu, kalo kamu?” Tanya Mingyu sambil berpindah posisi duduk disamping Wonwoo.

“Nama saya Wonwoo, Mas. Ya ampun deket ya ternyata. Tapi saya kok ga pernah liat Mas kalo mau ke stasiun ya? Saya selalu lihat Mas kalau udah di peron aja. Eh maaf, Mas, bukan maksud saya nguntit Mas atau gimana, saya suka merhatiin ada berapa orang yang naik kereta terakhir juga terus ngecek mereka napak apa gak. Dan yang paling sering saya lihat ya, Mas Mingyu.”

Mingyu tertawa mendengar jawaban Wonwoo. Sungguh, lelaki di sampingnya ini ternyata sangat lucu. Mingyu sebenarnya sering mencuri pandang juga selama ini dengan pria menggemaskan disampingnya dan menurut pandangan Mingyu, pria disampingnya ini memiliki visual yang menggemaskan. Seperti kucing yang menggunakan kacamata. Namun dia tidak menyangka bahwa aslinya dia lebih menggemaskan dari yang dia kira.

“Haha, terus kamu udah yakin saya napak kan? Yah, mungkin kamu nya gak sadar atau emang saya yang kecepetan juga ke stasiun. Soalnya, saya juga gak pernah liat kamu di luar stasiun, sih. By the way, gak usah panggil mas apa. Panggil nama aja, saya gak setua itu kok.”

“Udah kebiasaan manggil orang yang ga dikenal pake mas atau mbak. Gapapa kan ya, Mas Mingyu?” Tanya Wonwoo hati-hati.

“Yaudah gapapa, senyamannya kamu aja. Anyway, kamu emang selalu pulang malam kayak gini, Wonwoo?”

“Biasanya kalo lembur aja, sih, Mas. Tapi dari lima hari kerja, tiga atau 4 hari kerjanya lembur terus haha. Kalo Mas? Eh, maaf, Mas. Mas, kerja di kantor apa kalo aku boleh tahu?”

“Saya kerja di Firma Hukum. Hari ini ada kasus berat jadinya lembur juga. Sama Wonwoo, saya juga gitu sampe saya mau tidur dikantor aja biar ga usah bolak balik pulang malem besoknya udah berangkat lagi.” Gerutu Mingyu

“Pantesan.” Gumamnya kecil.

“Hah, pantes kenapa?” Tanyanya heran.

“Pantes mas masih pake jas gitu. Oh, iya, Mas, turunnya di stasiun terakhir kan ya? Soalnya, kalau kita satu gerbong dan saya mau turun, Mas masih belum turun juga dan setelah stasiun saya itu ya stasiun terakhir?”

“Iya, bener rumah saya dekat stasiun terakhir. Kamu kenapa naik kereta terus kalo lembur?” Tanya Mingyu.

“Kalau naik kendaraan pribadi bisa ngabisin sejam lebih di perjalanan apalagi kalo macet. Bisa habis dua jam lebih di jalan. Astaga, itu kayak durasi tiap aku rapat, Mas. Kalau naik kereta ini kan tinggal duduk aja. Tiga puluh menitan udah sampe gak pake macet. Kayak udah empat tahunan lebih aku naik kereta udah nyaman gitu. Kalo Mas sendiri gimana?”

“Hmm… Saya pernah kecelakaan sepuluh bulan lalu. Gak parah sih, saya juga udah sembuh sebulan kemudian. Tapi saya kayak gimana ya, takut untuk nyetir sendiri malam-malam. Pernah nyoba buat nyetir malam-malam lagi tiga bulan setelah saya sembuh tapi ternyata saya tiba-tiba kena serangan panik. Saya sampai harus nelfon teman saya buat jemput saya karena saya gabisa lanjut nyetir. Dari situ saya makin males kalau nyetir malem-malem sendirian, mending naik kereta atau taksi. Sorry, saya jadi curhat gini ke kamu.”

Wonwoo mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu Mingyu sebelum menjawab. ”Gapapa. Sorry to hear that, Mas. Maaf juga kalau aku lancang nanya. Oh iya, Mas kan kerja di law firm, suka dapet kasus berat kayak gini terus apa gimana?”

“Gak sih macem-macem kasusnya. Tapi ya, saya seneng aja bisa bantu orang gitu.”

“Kenapa suka bantu orang?” Wonwoo kembali bertanya.

“Kenapa ya? Kayak saya mikir seenggaknya saya hidup tuh berguna buat orang lain dan juga gak nyusahin orang aja gitu?”

Jawaban dari Mingyu membuat Wonwoo terdiam. Dia berpikir apakah niat awalnya mengajak berkenalan lelaki ini untuk mencari teman di kereta, malah membuat dia ingin mengetahui lebih dalam tentang sosok tersebut.

“Kalau kamu kerja dibagian apa Won? Kayaknya seru ya kerja di L E-commerce?” Tanya Mingyu menyadarkan Wonwoo dari lamunannya.

“Jadi team marketing, Mas. Ya seru sih, tapi kalo ada event gede atau event tanggal kembar tuh mumet juga. Makanya sering banget nih lembur biar dirumah ga kepikiran kerjaan juga. Mas suka belanja di L E-commerce?”

“Ya sering apalagi kalo tanggal kembar. Sedih saya sering banget ga dapet flash sale gadget. Bantuin, dong, Wonwoo.” Pinta Mingyu bercanda

“Haha, yah, Mas, mana bisa orang saya divisi marketing? Lagian ya, Mas, karyawan itu ga boleh ikut flash sale juga. Mana bisa itu saya bantu Mas, ada-ada aja.” Jawaban Wonwoo membuat keduanya tertawa.

Obrolan mereka berlanjut diselingi tawa yang memenuhi gerbong kosong kereta terakhir itu. Keduanya menyadari kesamaan mereka akan beberapa hal terutama sebenarnya mereka takut jika di gerbong kereta sendirian. Orang lain yang melihat mereka pasti akan menyangka bahwa mereka sudah kenal lama, padahal baru malem ini mereka resmi berkenalan. Tidak terasa kereta hampir mencapai stasiun tujuan Wonwoo yang memaksanya untuk turun dan berpamitan dengan Mingyu.

“Ini Stasiun aku, Mas. Aku pamit, ya. Jadi, besok-besok kalau ketemu di stasiun, jangan sungkan nyapa ya!” Pamit Wonwoo.

“Haha siap! Hati-hati ya Wonwoo”

“Oh iya, Mas Mingyu, ngomongnya jangan pake saya. Pake aku kamu aja atau lo gue juga boleh? Kesannya aku lagi ngomong sama bos di kantor haha. Selamat malam, Mas Mingyu” Ujar Wonwoo sebelum pintu kereta terbuka sempurna.

Wonwoo melangkahkan kakinya menuju apartemennya dengan berat hati. Sebenarnya Wonwoo sangat senang akhirnya bisa kenalan dengan Mingyu, sosok asing yang selalu dia temui di stasiun yang membuatnya penasaran sekali. Tapi, Wonwoo merasa tidak puas karena cuma bisa ngobrol dengan Mingyu selama 30 menit. Padahal mereka baru berbicara tadi, tapi entah kenapa, Wonwoo ingin mengenal Mingyu lebih jauh.

Kakinya baru saja menginjakkan trotoar di luar pintu stasiun ketika dari arah belakang ada suara familiar yang memanggil namanya.

“WON! WONWOO! TUNGGU!” Panggil Mingyu sambil setengah berlari mengejar Wonwo.

Melihat Mingyu menyusulnya sedikit membuat Wonwoo panik. “Loh mas Mingyu?! Ngapain mas? Kan udah gak ada kereta lagi, kamu mau pulang naik apa?” Tanyanya dengan nada panik.

“Nomor kamu”

“Hah?” Tanya Wonwoo bingung. Sedikit membuat Mingyu gemas

“Nomor kamu berapa? Saya… eh, aku lupa minta nomor kamu tadi di kereta.” Tanya Mingyu sambil menyodorkan ponselnya.

“Astaga, Mas. Kan bisa pas nanti kita ketemu lagi daripada kamu lari nyusulin aku?Lagian kita juga saling tahu kerja dimana loh. Nih, udah aku save nomor aku.” Wonwoo mengembalikan ponsel Mingyu yang sudah ada nomor ponselnya.

“Terus, Mas sekarang gimana pulangnya? Kereta terakhir kan tadi.” Tanya Wonwoo sedikit panik

“Naik taksi. Aku bisa pesan taksi sekarang” Jawab Mingyu sambil membuka aplikasi taksi online di ponselnya.

“Gak, gak, jangan, aduh aku anterin Mas Mingyu aja deh. Ayo, Mas, kamu tunggu di minimarket situ dulu ya, aku keatas ambil kunci mobil. Staff minimarketnya juga kenal aku dengan baik. Mas ngobrol dulu aja ama dia bentar.” Cerocos Wonwoo sambil menarik pergelangan tangan Mingui ke arah minimarket yang ada di depan apartemennya. Sementara Mingyu dari tadi sudah tersenyum melihat Wonwoo menarik tangannya sambil terus menggerutu karena keimpulsifannya yang mengejar Wonwoo dan menyebabkan dirinya ketinggalan kereta terakhir.

Dan tanpa mereka sadari, pertemuan mereka malam itu menjadi awal yang mengubah hidup keduanya.