Actions

Work Header

Kopi dangdut

Summary:

Aamon minta restu, si bapak malah minta cucu

Work Text:

Bapak menyesap kopi hitam panas di cangkirnya, matanya mendelik sekilas pada pemuda berseragam PNS yang duduk di teras rumahnya.

“Kowe yakin ta, Le? Arep nikahi anak lanangku?” Bapak bertanya, menurunkan cangkir kopinya kembali ke atas lepek.

“Nggih, Pak. Saya yakin,” jawab Aamon mantap, jakunnya bergerak naik turun, mencoba menghilangkan perasaan gugup yang ia rasakan.

Keheningan datang selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Suasana di antara keduanya hanya ditemani oleh suara kicauan burung hias milik sang Bapak.

“Nek aku njaluk cucu akeh, yakin siap?”

Waduh.

Aamon menahan napasnya, tidak tahu jawaban apa yang sepatutnya ia berikan pada pertanyaan yang diberikan oleh Bapak. Pun, Aamon tidak bisa selamanya membiarkan pertanyaan Bapak tidak dijawab.

“Kalau masalah itu, Pak, saya ngikut Mas Natan saja,” balas Aamon, sembari mengubah posisi duduknya.

“Ojo terus-terusan nurut Natan, ‘kan kowe kepala keluargane. Eh, apa kowe loro kabeh, yo?” jawab Bapak, menggaruk dagunya sebab kebingungan.

Aamon tertawa kikuk. Ingin rasanya ia berteriak dan memanggil Natan yang saat ini sedang berada di dapur; memberikan kesempatan antara dirinya dengan sang calon mertua untuk saling mengenal—atau seharusnya seperti itu.

“Intine,” Bapak kembali berbicara, “aku ngarep kowe serius karo anakku.”

Aamon mengangguk mantap. “Nggih, Pak. Kalau perlu Aamon sujud di kaki Bapak, biar—”

Bapak menyela cepat, “Aih, kowe iki. Wes, wes. Aku mung pengen kowe serius… lan nduwe akeh cucu saka kowe loro.”

. . .

“Gimana ngobrolnya sama Bapak?”

“Lemes, Mas.”

Natan tertawa kecil, garis-garis halus di wajahnya tertarik. “Bapak enggak ngancam kamu, ‘kan?”

Aamon menggelengkan kepala. “Enggak,” jawabnya. “Malah lebih parah, dia minta cucu. Mana mintanya banyak lagi.”

Natan kembali tertawa, tak kuasa menahan ekspresi ketika mendengar apa yang calon suaminya baru ucapkan.

Dengusan Aamon keluarkan manakala dirinya membaringkan tubuh di atas kasur. Saat ini, keduanya sedang beristirahat di kamar Natan—hanya berdua. Benar-benar berdua, sebab Bapak meninggalkan rumah beberapa menit yang lalu begitu obrolannya dengan Aamon selesai.

“Mas?” Aamon memanggil, matanya yang tadi tertutup terbuka perlahan untuk melihat Natan yang beranjak bangkit dari kasur.

“Mhm?” Natan menyahuti, tidak menoleh.

“Kalau… Bapak emang mau cucu banyak, aku siap kok.”

Natan menghentikan langkahnya. Perlahan, sangat perlahan, menolehkan kepalanya ke arah Aamon yang kini sedang tersenyum.

Oh, sial.

Natan yakin rencana Bapaknya itu sudah mulai berjalan.