Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-28
Words:
2,782
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
36
Bookmarks:
5
Hits:
213

Teman Hidup

Summary:

Kalau kata Tulus sih,

"Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku,
Berdua kita hadapi dunia,
Kau milikku, ku milikmu.
Kita satukan tuju,
Bersama arungi derasnya waktu."

Kayaknya lagu ini memang diciptakan untuk mereka, ya?
soalnya sudah 10 tahun berjalan bareng tapi statusnya masih teman hidup, bukan pasangan hidup. damn.

Work Text:

Yudistira menatap ponselnya yang menampilkan chat grup discord PANDAVVA.

Arjuna terlihat tidak tertarik menimbrung dalam berdiskusi perihal agenda grup mingguan. Padahal ia selaku ketua, harusnya perlu lebih aktif menanggapi ide-ide yang sedan ditaruhkan.

Tumben, pikirnya.

Tidak biasanya Arjuna mengetik cuek dan typo seperti itu. Apakah dia sedang sakit atau mabok? Ah, sepertinya poin pertama lebih masuk akal.

Yudistira beralih ke chat pribadi untuk menanyakan kondisi Arjuna saat ini dan memastikan bahwa temannya baik-baik saja.


Yudistira Yogendra

junaaaaa

jun

juna

Arjuna Arkana

Apa

Yudistira Yogendra

kau dmn? sakit kah?

Arjuna Arkana

Engga, knp?

Yudistira Yogendra

boong jir, sakit ya?

Arjuna Arkana

Bawel ah


Yeh anying. 

Yudistira langsung menekan ikon telepon, kelamaan kalau menunggu respon lewat chat.

 

"Hmmm?" suara deheman yang didengar Yudistira saat teleponnya diangkat sang empu.

"Sakit gak?" pertanyaan ini ia ulang lagi.

"Heem,"

"Coba ngomong." suruh Yudistira.

"Ngomong apa, Yudis..."

Nahkan. Dari suaranya aja Yudistira sudah bisa menilai kalau Arjuna sedang dalam kondisi yang jauh dari kata baik. Mungkin tenggorokannya terganggu.

"Flu, ya? demam juga kan pasti?"

Arjuna hanya diam, tidak merespon.

"Gegara tadi malam kau hujan-hujanan kali."

"Heem kayaknya,"

"Aya ada? dia tau gak kamu sakit?"

"Gatau tuh, belum pulang anaknya." jawab Arjuna.

"Yaudah aku ke sana. Kau istirahat dulu aja."

"Jangan," ucap Arjuna tiba-tiba menghalangi diselingi batuk keras di akhir.

"Kenapa?"

"Jangan ngerep-," sambungan telepon itu diputus secara sepihak. Banyak omong kau Jun.

 

Setelah Yudistira berpamitan di grup chat, ia buru-buru mengambil jaket dan kunci motor untuk langsung tancap gas ke rumah Arjuna malam ini.

Angin malam saat ini menerpa tubuhnya kencang, sepertinya sebentar lagi akan hujan deras. Cuaca seperti ini paling enak makan Indomie, apalagi kalau direbus pakai telur 2 dan cabai rawit dipotong-potong kecil. Beuh mantep.

Niatnya Yudistira mau beli Indomie aja buat makan dia dan Arjuna nanti, tapi kasihan nanti Arjuna malah semakin serak suaranya dan bikin tenggorokannya lebih terganggu. Lalu, Yudistira putuskan untuk membeli bubur ayam agar pemulihan Arjuna terbantu.

Sekitaran 10 menit ia mencari tukang bubur ayam, akhirnya dapat juga. Yudistira membeli 2 porsi untuk Arjuna dan Aya. Kalau Yudistira sih tetap bakal mempertahankan mie Indomie kebanggaan warga Indonesia itu.

 

Ting!

Arjuna Arkana 

Lama

 

Yudistira terkekeh membacanya. Tadi dilarang untuk datang, tapi malah ditungguin kehadirannya.

 

Yudistira Yogendra

iya bntr gantengggg

Arjuna Arkana 

Ok tiati

Yudistira Yogendra

okey, love younya mana?

Yudistira semakin tertawa karena last chat darinya hanya dibaca oleh Arjuna.

 

Yudistira kembali melanjutkan perjalanannya.

Semakin dingin saja udaranya. Ia menyesal kenapa tidak pakai celana panjang agar tidak terlalu kedinginan seperti ini.

Dari kejauhan ia tidak melihat tanda-tanda kendaraan yang Aya pakai, kalau begitu berarti Aya memang belum pulang. Tuh anak ke mana dah? jam segini belum pulang.

Benar saja, kondisi rumahnya sangat sepi setelah ia masuk.

Layaknya rumah sendiri, Yudistira melangkah ke dapur. Ia langsung membuat mie Indomienya itu. Mungkin lebih baik jika ia menyiapkan makan malamnya terlebih dahulu, biar nanti dapat menyantapnya bersama Arjuna.

 "Assalamualaikum,"

 "Waalaikumsalam."

"Loh kok ada Yudis? Ngapain kamu?" tanya Aya setelah menghampiri dirinya yang berkutat di dapur.

"Eh wangi banget bjir, sapa yang bikin mie?" Seseorang muncul dari belakang punggung Aya, "Lah bang Yudis." itu Naia, pacarnya Aya.

"Ke abangmu lah, lagi sakit dia." respon Yudistira.

"Loh, iyakah? Yaudah nanti saya ke atas,"

"Aku beliin kau bubur tuh, tapi cuman 1. Gatau Naia dateng juga."

"Aman ae bang, kita mah dah dinner fancy fancy," jawab Naia sambil merangkul pundak pacarnya.

"Mana ada fancy, orang cuman makan di pecel lele," cibir Aya

"LOHHH??? as long as i'm with you it's fancy, baby." ucap Naia sambil menaikan alisnya menunjukkan silly face.

"Halah, banyak omong." jengah Yudistira, dua manusia berkepribadian tolak belakang seperti ini kenapa bisa bersatu sih? "Dah awas, aku mau ke atas dulu."

"Buburnya aku makan ae bang nanti malem."

"Iya gih." 

Yudistira sudah di depan pintu kamar Arjuna. Biasanya sih di jam segini dari luar kamar terdengar suara keyboard dan klik mouse sebab yang punyanya sibuk bermain game. Namun, saat ini sunyi sekali.

Yudistira buka pintunya, langsung dihadapkan Arjuna yang sedang berbaring dan menatap lemas ke atap.

"Jun," panggilnya.
Arjuna menoleh pelan ke sumber suara, mengedipkan matanya pelan dan bibir yang memaut tanpa disadari. "Berisik," kata Arjuna.

Yudistira terkekeh, "si dukun tuh." Yudistira menghampiri Arjuna dan langsung mengecek kondisi temannya.

Yudistira mengulurkan tangannya ke dahi Arjuna, "panas, udah cek suhu?"

Arjuna mengangguk, "tadi 39°"

"Astaga, sampai kejang gak?" Tangannya masih sibuk ditempelkan ke bagian sekitaran leher dan wajah Arjuna.

Arjuna menggeleng.

"Terus gimana sekarang rasanya?" tanya Yudistira.

"Aman, kedinginan aja. HACHI." 

Langsung Yudistira mengambil remot ac untuk dimatikan. "Udah tau alergi kedinginan juga, kenapa gak dimatiin acnya?" omel Yudistira.

"Malas ambilnya, jauh." Yudistira hanya berdecak mendengarnya.

"Yaudah bangun dulu, kita makan," kata Yudistira seraya membantu Arjuna bangun untuk duduk, "lemes banget gak? Mau disuapin?"

"Aman, bisa sendiri."

Yudistira mengangguk, tangannya dengan sigap menyiapkan bubur yang sudah dibeli, ia tuangkan ke mangkok lalu diberi sendok. "Ini kuahnya sama sambel ama kecap,"

"Kok lo mie?"

"Lah, orang sehat mah bebas. Kau mah gak boleh."

Arjuna bersin lagi, "tapi mau,"

Yudistira menghembuskan nafasnya kasar, "yaudah nanti nyobain, makan itu dulu."

Arjuna menyantap makannya dengan perlahan, "gak ada rasanya."

"Kau gak pake sambel atau kecap ya gak kerasa. Pake aja lah."

"Pakein,"

"Manja kali," cibir Yudistira tapi tetap melakukannya. "Nih," disodorkan kembali mangkoknya ke depan Arjuna.

Yudistira kemudian berdiri keluar kamar, lalu dari koridor kamar atas yang dapat dilihat lantai bawah, ia berteriak, "Aya, bawa coolfever ya"

Mendengar itu, Aya keluar dari kamarnya. "Apa? Bawa apa?"

"Coolfever,"

"Oh, coolfever. Gada, nanti nitip Naia aja."

"Naia ke mana?"

"Lagi ke warung."

Setelah membalas dengan jempolan, Yudistira kembali masuk ke kamar.

Arjuna menatapnya melas. "Apa?" tanyanya.

Arjuna menyendokkan makanannya malas, ternyata ia belum cukup sanggup untuk sekedar makan, "Pusing."

"Yaudah tak suapin,"

"Gak mau, gak enak."

"Yaudah tak racikkin lagi,"

"Gak mau, gak nafsu."

"Yaudah tak buka baju,"

"Stress kali." Arjuna memutarkan bola matanya, yang bener-bener aja, Dis!

Yudistira hanya terkekeh mendengarnya, kalau lagi sehat Arjuna emosi saja sudah menggemaskan apalagi kalau sakit seperti ini.

"Harus tetep makan, lah. Habis berapa suap tadi?" Tanya Yudistira, "udah masuk tiga suap."

"Terus itu sisanya gimana?"

Arjuna pautkan bibirnya, "Maunya mie itu." Emang dari tadi si merah ngincer mie buatan Yudistira yang tampaknya ngegodain dia dari tadi. Eh bentar, ngincer mie atau ngincer Yudistiranya nih? kan dua-duanya sama-sama menggoda. 

Yudistira menghembuskan nafas kasar, lupa bahwa pria dihadapannya ini juga sama keras kepalanya, "Yowes, berdua. Tapi aku yang suapin."

Si merah mah ngangguk aja, yang penting bisa nyobain makanan seksi itu (Indomie).

Yudistira memajukkan duduknya, harusnya sih gak perlu sedeket itu perihal menyuapi sampai dua lutut menempel, bahkan sedikitnya lipatan kaki yudis di atas paha Arjuna. Deket banget kayak mau yang iya-iya.

"Kedeketan gak sih?" Arjuna tuh sebenernya sadar kalau ini emang bagian akal-akalan si ijo yang nyengir di depannya ini.

"Biarin, muhrim ini." Kata Yudistira, dibalas jengah oleh Arjuna. 

Yudistira memberikan satu botol air putih ke hadapannya, "minum dulu,"

"Ada sedotan gak?"

"Gak ada, dikenyot aja."

"Jorok, orang disedot bahasanya."

"Heh, kenyot dan sedot itu beda. Kalau kenyot itu nyedot dengan elegan, kalau sedot-"

"Beda, Yudis. Kalau kenyot nyotnyot, kalau sedot slurrp."

"Gini loh, bahasa kenyot aku dan sedot aku kan beda tuh feelnya."

"Astaga, gak usah kau analogikan kayak gitu-"

"WEETTTTT" Pintu terbuka menampilkan Naia yang kebingungan, "Apaan ini kenyot-sedot-kenyot-sedot? Kalian sedang enak-enak kah?"

Mereka berdua terkejut, padahal gak lagi ngapa-ngapain tapi kayak habis ke gap melakukan aksi tidak bermoral gini ya. Apalagi yang ngegap seorang Naia.

"Mana ada," selak Arjuna.

"Itu posisinya juga lagi enak tuh." Emang si dukun ini terlahir dan tercipta memiliki mulut yang ceplas-ceplos, ya? sekurang ajar ini.

Naia memasuki kamar Arjuna diikuti dengan Aya yang sudah berganti baju santainya.

"Kau juga enak-enak terus." jawab Yudistira, "Jun, adikmu ini living together bareng dukun." adu si ijo. Soalnya sepenglihatan dia selama ini, si dukun gak pernah tuh absen di rumah itu setiap Yudistira main ke Arjuna. Pasti ada aja presensi Naia di dalam rumahnya, entah diusir apa dijual seorang Naia ini makanya numpang di rumah pacarnya. Mana tidur berdua. Hadah dasar lesbi jahat.

"Kita living together bertiga, bang. Kamu mau join ya ayo, kita open member."

"Open member, open member. Ini rumah gue." Naia yang mendengar itu cengengesan aja.

"Itu kenapa gak dimakan buburnya kak Juna?" Tanya Aya.

"Gak tau, dia maunya mieku. Gak nafsu sama bubur katanya."

"Yaelah bang. Bang juned tuh mau tukar ludah itu sama kamu. Kamu kan pasti tiup-tiup itu mienya atau disaring dulu suhunya di mulutnya bang Yudis baru disuapin, makanya itu akal-akalan bang Juned. Ya kan, bang?"

Arjuna melotot mendengarnya, "Kurang ajar kau, mana ada kek gitu."

Yudistira dan Aya hanya tertawa menanggapinya.

"Mana sini Nai coolfevernya,"

"Nih, bang." Naia mengulurkan benda itu ke Yudistira.

Yudistira mengambilnya, lalu memakaikan ke Arjuna. Tangannya dengan telaten mendorong juntaian poni Arjuna ke belakang, lalu menempelkan coolfever di jidatnya.

Arjuna yang sedang dilayani itu, terdiam bersemu sendiri di tempatnya. Harusnya biasa aja gak sih? Bahkan mereka berdua terbiasa melakukan hal romantis lainnya. Tapi kenapa saat ini dadanya berdesir senang?

"Bang Juned jangan gugup gitu," kata Naia

"Diem, Nai. Gue tonjok lu."

Naia ketawa kencang mendengarnya, "Jangan mancing terus ih, kasihan kak Junanya lagi pusing itu." ucap Aya.

"Dengerin tuh pacar lu."

Yudistira menyendokkan mienya ke arah Arjuna, langsung disambut minat oleh laki-laki itu. Kalau sudah ada Naia, Yudistira merasa energinya keserap di dukun itu semua, jadi malas untuk menanggapi. Paling respon sesekali atau tertawa saja.

"Liat tuh sayang, cocok jadi mami papi,"

Yudistira terkejut, refleks ia menoleh "Siapa maksudmu mami itu?"

"Ya kau lah bang, kau gak sadar diri kah? Seseksi ini tampilannya, telaten nyuapin dan ngurusin orang sakit loh. Tapi yaa sayang aja malah masuk ke kandang singa."

"Naia ih."

"Mana ada aku seksi."

"BANG YA TUHAN, kau ini SEKSI, CENTIL, CANTIK, GEMES, CIMIT, PUTIH, TUH PAHAMU MULUS, GAK LECET, ORI IBOX, BERGARANSI, PEMAKAIAN PRIBADI-"

"Heh, Parah banget." ujar Aya sambil cubit dikit lengan pacarnya.

"Kau kira aku barang marketplace fb?" Tangannya tetap telaten dan pelan-pelan menyuapi Arjuna. Padahal kalau pakai pace makan dia, dari awal masuk ke kamar Arjuna mienya sudah habis. Namun, apalah daya menyuapi orang sakit tuh kesabaran perlu tinggi. "Parah Jun, aku dilecehkan sama si dukun. Pemakaian pribadi kata dia, takut banget."

"Kurang ajar emang, liat aja nanti."

"Aw aw aw takutnyooo papi marah."
Naia menggoda Arjuna yang langsung dibales jari tengah.

"Ya, nanti minta tolong bawain obat ya."

"Oke, Yudis. Kak Juna aku besok mau izin pergi ya ke Bandung."

"Kakakmu lagi sakit gini malah pergi."

"Udah janji soalnya, Kakak."

"Janji sama siapa?"
Naia denger itu langsung menaikkan alisnya, refleks senyum roblox "jeh, use ask banget bang."

"Sama Naia lah, Kak."

"Anyinglah, tertempel terus kamu sama dia Dek. Jauh-jauh ah, takut ketularan ilmu gak bener."

"Parah kali kau bang, aku ini pemandu jalan yang benar. Aku bahkan tau arah jalan tol cipali."

"Ya lurus doang itu anjing."

Arjuna memijit keningnya, memang paling bener dia jangan dipertemukan dengan dukun gak beres ini.

"Udah, Nai. Berisik, Nai. Kasihan Junanya." Yudistira menengahi keributan gak jelas mereka.

"Kak Juna mau aku ambilin atau beliin apa? Aku ngantuk banget mau tidur soalnya."

"Gak usah, tidur aja Dek."

"Tidur aja, Ya. Nanti kalau ada apa-apa biar aku tanganin."

"Duhhhh enaknya punya pacar serbabisa."

"MAKSUDMU AKU GAK SERBABISA??"

"Nahloh,"

Arjuna tertawa puas, "mampus."

"Gak gitu loh beb-"

"Dih bebeb, alay amat" ujar Arjuna.

"Diem bang. Aku cuman godain mereka berdua itu htsan gak jelas, kan kasihan-"

"Huft Iya iya deh, aku mah emang cuman bisanya minta bantuan ke kamu. Aku mah gak bisa apa-apa." Aya langsung cemberut dan berdiri, lalu pergi menutup pintu kamar abangnya dengan kencang.

"EH GAK GITU BEB!" Teriak Naia sambil menyusul pacarnya yang langsung lari ke kamar.

"JANGAN LUPA OBAT JUNA."

 

"Hadeh, bocah."

Yudistira hanya terkekeh meresponnya, dan secara tiba-tiba "Kamu ganteng deh Jun, kalau rambutnya berantakan gini." ungkapnya sambil memainkan rambut Arjuna agar lebih berantakan.

"Baru ngeh?" Tanya juna dengan senyuman miring, meremehkan.

"Ngeh lah, kan kamu selalu ganteng."

Kicep. Arjuna sama sekali gak menyangka jawaban dari Yudistira. Sekalimat ini kenapa bisa bikin Arjuna kicep deg-degan gak karuan. Dipuji sih udah biasa, bahkan muak karena pujian yang orang-orang layangkan adalah fakta. Meskipun rata-rata memujinya dilebih-lebihkan, eh, sebentar, gak deh. Kan Arjuna emang lebih dari rata-rata.

Arjuna menatap obsidian hijau jernih itu, sangat sempurna. Pantesan semua orang suka Yudistira, sekali pandang aja langsung dipelet dengan matanya. Kalau diminta untuk memuji ciptaan Tuhan, pasti Arjuna akan lebih dulu memuji mata Yudistira. Cantik.

"Jun, hey. Pusing kah? Kok diem?"

Arjuna mengerjap tersadar, "eh, loh, enggak."

"Kok diem sih? Jangan-jangan salting dibilang ganteng?"

"Dih, mana ada. Kan emang ganteng."

Yudistira terkekeh geli di tempatnya, tangannya sibuk merapihkan bekas makan mereka berdua.

"Paha lo dingin amat,"

Sang empu mendadak kaget pasalnya secara tiba-tiba Arjuna menyentuh pahanya yang terpampang jelas. Karena manusia memiliki arus listrik di dalam tubuhnya, makanya suhu panas di tangan Arjuna menghantarkan getaran aneh pada pahanya.

"Tangan kamu ituloh yang panas,"

"Enggak, ini emang dingin. Gerimis di luar?" Tangannya Arjuna ternyata bukan sekadar menyentuh, kini berganti meraba halus bikin merinding Yudistira.

Eh kata gue stop deh, Jun. Yudistira bukan ngerasa geli atau sensitif, hanya saja aneh dirasanya dan mungkin sedikit bawa perasaan(?) Siapa sih yang gak baper diraba halus dan ditatap sedalam ini sama Arjuna? Dadanya deg-degan, tapi lebih takut bakal diapa-apain sih.

Yudistira hanya mampu menggeleng dan agak menunduk sedikit.

"Mau ganti pake celana panjang?"

"Gak usah, gapapa."

"Nginep 'kan?"

Sudah jam setengah 11, meskipun mungkin jalanan masih ramai tetapi rasanya agak jauh kalau harus pulang. Lagipula besok juga tidak ada jadwal stream pagi, jadi lebih baik nginep aja. Oh satu lagi...dan juga,

"Kalau pulang, emang kamu bolehin?"

Arjuna dengan tegas menggeleng, "tidur sini aja, ngeri udah malem." Halah, bilang aja ini mah akal-akalan Arjuna biar ada yang bisa dimintain tolong kalau butuh bantuan nanti. "Aku 'kan cowok juga, ngapain ngeri."

"Guenya yang gak mau lo pulang, Yudis."


Selepas membereskan bekas makan dan menyiapkan kasur agar lebih nyaman, Yudistira memberikan 2 tablet obat pereda panas kepada Arjuna. Lalu, si merah dengan cekatan meminumnya.

"Dah yuk bobo," ucap Yudistira.

"Kau yang di ujung dekat tembok aja,"

"Memang aku mau yang di sana hehe,"

Arjuna menatapnya malas, "mau ganti celana gak?" tanyanya.

Lagian Yudistira kenapa pakai celana yang ukurannya sependek itu sih? Gak takut masuk angin memangnya?

"Enggak mau ah, udah nyaman ini. Lagian kamu juga enak nanti bisa elus-elus aku."

"Mulutnya," Yudistira hanya tertawa kencang meresponnya.

Keduanya kemudian merebahkan badannya masing-masing di atas kasur, Yudistira langsung memosisikan tubuhnya menghadap Arjuna yang sedang menatap langit-langit kamarnya.

"Aku boleh peluk gak?" tanya Yudistira.

Soalnya Arjuna cuman punya satu guling, sedangkan Yudistira kalau tidur harus diapit dua guling, buat dipeluk dan di belakang tubuhnya. Biar seolah-olah ada dua objek yang mengapit tubuhnya. wait it's weird but okey

Walaupun Arjuna keliatan ogah-ogahan menerimanya, namun uluran tangan ke bawah kepala Yudistira sudah cukup menjadi jawaban.

Tangannya meraih kepala Yudistira untuk didekatkan ke arah dadanya, sedangkan Yudistira dengan senang hati menggapai perut atas Arjuna. Kelima jari Arjuna mengelus pelan rambut halus Yudistira, mencoba keloni laki-laki itu.

Gambar Story PIN Ilustrasi: Cr. pinterest

Kaki Yudistira mulai naik ke atas pinggang Arjuna mencoba mengurung pergerakan si merah. Pahanya semakin terekspos sebab celana pendeknya semakin naik.

"Wanginya enak." Yudistira dengan sikap agresifnya, ia menghirup aroma yang ada di leher Arjuna.

"Iya, sabun baru. Eh, kau nanti tertular besok pagi kalau meluk gini."

"Gapapa biar aku libur stream,"

Arjuna tertawa pelan, "capek ya, sayang?"

Dih, sayang-sayang.

Yudistira dengan refleks merengutkan bibirnya, "he'em,"

"Yaudah bobo,"

"Kamu gak kedinginan? Katanya pahaku dingin tadi,"

"Gapapa, aman aja" tangan kanan Arjuna mulai mengelus kaki Yudistira yang tertengger di atas pinggangnya.

"Awas sange,"

"Heh, jaga mulutmu." Yudistira tertawa, kan cuman mengingatkan.

tapi, benar saja, tangannya Arjuna mulai perlahan mengelus paha halus Yudistira.

"Sekalian coba puk-puk pantat aku nih." ucap Yudistira sambil membawa tangan temannya itu ke atas bokongnya.

"inimah lu yang sange."

Yudistira tertawa, "dikit doang."

Arjuna terkekeh, "stt udah gak boleh gak boleh, ayo bobo."

 

Jadi, ya, gitu deh. Kalau ditanya status mereka itu apa? Rumit jawabannya. Kalau dibilang temen tapi agaknya kejauhan, kalau dibilang pacaran tapi gak ada yang ngungkapin perasaannya satu sama lain, dan kalau dibilang sahabat juga rasanya terlalu diromance-romance kan.

Rumit memang.

Lalu, seterusnya mereka akan terus seperti itu?

Iya, kalau dua-duanya memang nyaman di situasi seperti itu. Mungkin mereka pikir, mau ada atau tidak ada status pun, keduanya akan bersikap begini. 

Tetap saling mencari, tetap saling peduli, meski sama-sama pura-pura tidak sedang menunggu sesuatu yang lebih.

Salah, mungkin. Karena tidak ada ikatan yang jelas.

Tapi ya, namanya anak muda, kadang lebih berani merasa daripada memastikan.

Namanya juga budak cinta tolol, yang tahu risikonya, tapi tetap saja dijalani.

Dan mungkin, pada akhirnya, mereka tidak benar-benar butuh jawaban.

Cukup saling ada di antara kemungkinan yang sengaja tidak diselesaikan.

 

Bila di depan nanti,
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita,
Jangan cepat menyerah.
Kau punya aku, ku punya kamu selamanya akan begitu.