Actions

Work Header

My Yellow

Summary:

Menjadi favorit seseorang berarti menjadi segalanya; alasan seseorang 'tuk tersenyum—dan Arjuna, telah menjadi favoritnya sejak lama.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Minggu itu dimulai tanpa tanda apa pun. 

Tak ada perubahan cuaca yang mencolok. Tak ada firasat yang cukup kuat 'tuk membuat siapa pun berhenti sejenak dan bertanya, "Apa yang terjadi?". Segalanya tampak berjalan sebagaimana mestinya, atau setidaknya begitulah yang tampak di permukaan.

Namun, seperti banyak hal yang tampak biasa, sesuatu telah bergeser. Tak nampak terlalu jelas.

Nakula menyadarinya. Bukan sebagai sesuatu yang jelas, melainkan gangguan samar yang sulit 'tuk dijelaskan. Cara Arjuna tertawa dengan orang lain yang sedikit lebih lama dari biasanya. Cara ia menoleh, bukan karena dipanggil, melainkan karena ada suara lain yang lebih menarik perhatiannya. 

Hal-hal kecil. Terlalu kecil 'tuk disebut masalah, terlalu sering 'tuk benar-benar diabaikan.

Ia tak pernah mengatakannya.

Cemburu? Tentu saja.

Apalagi Arjuna termasuk orang yang cukup populer, banyak pria dan wanita yang mengantre 'tuk dapat bersamanya. 

Namun baginya, itu bukanlah sesuatu yang perlu diungkapkan. Ia bukanlah tipe yang akan menginterogasi pasangannya, bukan pula yang akan menuntut penjelasan. Ia hanya mengamati. Menyimpan. Mengendapkan.

Dan entah sejak kapan perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit — bukan sekadar rasa tak suka, melainkan dorongan 'tuk memastikan. Untuk memastikan sejauh mana ia benar-benar berarti baginya.

Itu sebabnya, terbesit sebuah ide gila.

Bukan rencana besar. Bukan pula rencana matang. Hanya sesuatu yang terasa…menarik 'tuk dicoba.

Sederhana saja. Selama satu minggu, ia akan menarik diri. Mengalihkan perhatian. Memberikan ruang yang cukup lebar untuk melihat apakah Arjuna-nya akan mengejarnya —atau justru tak menyadari sama sekali.

Dan untuk membuatnya lebih jelas, ia memilih Yudistira.

Pilihan yang aman,

atau setidaknya seperti itu.


- Hari Pertama - 

Berlalu tanpa banyak perubahan. Tak benar-benar berbeda.

Nakula masih berbicara seperti biasa, hanya saja tak lagi menjadi orang pertama yang menanggapi Arjuna.

Ketika Arjuna memanggil, ia tak langsung menjawab. Ketika Arjuna mendekat, ia selalu menemukan alasan 'tuk berpaling.

Sebaliknya, ia mendekat pada Yudistira.

Percakapan ringan. Segala sentuhan yang tampak tak sengaja. Tawa yang sedikit lebih sering. Tak berlebihan; cukup 'tuk terlihat, tapi tak cukup 'tuk dipertanyakan.

Yudistira menyadarinya.

Tentu saja ia menyadarinya.

Namun ia tak mengatakan apa pun. Hanya sesekali menatap Nakula dengan alis terangkat, seolah bertanya tanpa suara 'Apa lagi yang telah kau lakukan kali ini?'.

Nakula hanya tersenyum tipis. Tak menjawab. 

 

- Hari Kedua - 

Arjuna mulai memperhatikan.

Bukan dalam bentuk pertanyaan langsung, melainkan dalam jeda yang sedikit lebih panjang ketika berbicara. Dalam cara pandangnya yang bertahan lebih lama dari biasanya. Langkah yang sempat terhenti, sebelum akhirnya menuju kearah lain.

Ia belum bertanya. Mungkin merasa belum perlu.

Atau mungkin, belum berani.

Bukan tak menyadari perubahan itu. Ia hanya belum tahu harus menyebutnya apa.

Sesuatu terasa…bergeser. Namun setiap kali ia mencoba menangkapnya, hal itu terasa terlalu samar. Seolah hanya perasaan sesaat yang akan hilang jika diabaikan cukup lama.

Sempat berpikir, mungkin dirinya hanya berlebihan.

Mungkin Nakula hanya terlalu sibuk. Mungkin ia terlalu banyak menafsirkan.

Namun pikiran itu tak benar-benar menenangkan. 

 

- Hari Ketiga - 

"Mas Nakula."

Panggilan itu datang dari belakang. Lembut, seperti biasa.

Nakula mendengarnya. Tentu saja ia mendengarnya.

Namun ia tak menoleh.

Sebagai gantinya, ia melanjutkan percakapan dengan Yudistira; menanggapi sesuatu yang bahkan tak terlalu penting. Tertawa pelan, seolah tak ada yang perlu diperhatikan di luar itu.

Arjuna terdiam.

Langkahnya berhenti, lalu perlahan menjauh tanpa suara.

Yudistira menghela napas kecil.

"Oke. Ini mulai aneh," ujarnya pelan, cukup agar hanya Nakula yang mendengar.

Dirinya tak menjawab. Hanya mengangkat bahu ringan, seolah itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Padahal, jauh di dalam, ia mencatat semuanya.

 

 - Hari Keempat - 

Arjuna mencoba lagi.

"Mas,"

Kali ini lebih dekat. Lebih jelas.

"Aku mau ngomong sebentar."

Nada suara yang tak berubah. Masih sama, tenang; tertata. Namun ada sesuatu di dalamnya yang terasa…berhati-hati.

Nakula menoleh sekilas. Hanya sekilas.

"Bisa nanti?" Jawabnya ringan, singkat.

Sebelum Arjuna sempat mengatakan apapun, dirinya sudah kembali berpaling. Percakapan dengan Yudistira kembali berlanjut, seolah tak pernah ada interupsi.

Arjuna tak memaksa.

Ia hanya mengangguk kecil, meski tak ada yang benar-benar melihatnya.

Dan lagi-lagi, ia pergi.  

 

- Hari Kelima - 

Keheningan makin terasa berat.

Bukan karena tak ada suara, melainkan karena terlalu banyak hal yang tak dikatakan.

Arjuna tak lagi mencoba memulai percakapan. Ia tetap berada di sekitar, tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, tetapi ada jarak yang kini terasa terlalu nyata. Sesuatu yang lebih sulit 'tuk dijangkau.

Nakula melihatnya.

Ia melihat bagaimana Arjuna menahan diri. Bagaimana ia memilih diam, bahkan ketika ada banyak kesempatan 'tuk berbicara. Bagaimana ia mulai menarik diri, sedikit demi sedikit.

Dan untuk pertama kalinya sejak memulai, ada sesuatu yang tak nyaman mengendap di dadanya.

Namun ia tetap melanjutkan.

Hanya dua hari lagi, pikirnya.

 

 - Hari Keenam - 

Segalanya berubah.

Bukan karena sesuatu yang besar. Justru karena sesuatu yang terlalu kecil 'tuk diabaikan.

Nakula berdiri terlalu dekat dengan Yudistira. Percakapan ringan, nyaris tanpa makna. Sebuah candaan yang selalu berakhir dengan tawa pelan, dan tangan Nakula yang tanpa sadar - atau mungkin secara sengaja - menyentuh lengan Yudistira sedikit lebih lama dari seharusnya.

Di sisi lain ruangan, Arjuna melihatnya.

Ia tak bergerak. Mematung.

Seolah tubuhnya memerlukan waktu 'tuk memahami apa yang terjadi.

Lalu, perlahan, langkah itu mendekat.

Tak cepat. Tak tergesa.

Namun, cukup membuat kehadirannya terasa.

Tekanan.

"Mas Nakula."

Kali ini, suaranya terdengar berbeda.

Masih lembut. Namun terdapat getaran yang tak dapat ia sembunyikan.

Nakula menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia benar-benar melihat Arjuna-nya. Terkejut.

Dihadapannya, berdiri Arjuna dengan ekspresi yang selama ini luput dari perhatiannya.

Mata itu.

Tak marah. Hanya…penuh.

Penuh akan sesuatu yang sudah lama ditahan, dan kini diambang batas.

Belum sempat mengatakan apapun ketika Arjuna berdiri di hadapan mereka.

Jaraknya dekat. Terlalu dekat.

Dan…disitulah semuanya runtuh, begitu saja.

Ia sudah mencoba mengabaikannya. Meyakinkan dirinya bahwa semua ini tak berarti apa-apa.

Namun, melihat itu - melihat Nakula yang begitu dekat dengan orang lain, seolah tak ada ruang yang tersisa untuknya.

Sesuatu dalam dirinya menyerah.

Air mata jatuh begitu saja.

Tanpa peringatan.

Seolah tubuhnya tak lagi meminta izin 'tuk menunjukkan apa yang selama ini ia coba sembunyikan.

Yudistira terdiam.

Ia tak pernah melihat Arjuna seperti ini. Tak pernah.

Nakula membeku.

Ia terdiam. Tak pernah menyangka hal ini 'kan terjadi.

"Arjuna-" panggilnya.

Tak ada jawaban.

Arjuna menunduk, seolah berusaha menyembunyikan wajahnya. Namun tak membantu. Air mata terus jatuh, diam-diam, tak berhenti. Seperti bendungan yang telah runtuh.

Dan entah kenapa, itu tampak jauh lebih menyakitkan daripada tangis yang keras.

Nakula melangkah mendekat.

Perlahan.

Seolah setiap gerakan dapat membuat segalanya makin runyam.

"Kenapa, cantiknya mas kula?" tanyanya lembut, hampir menyerupai sebuah bisikan.

Tangan terangkat, ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh pipi Arjuna - menghapus air mata yang belum sempat kering.

Arjuna tak menepisnya.

Ia hanya diam.

Lama.

Hingga akhirnya, suara itu keluar perlahan, terputus.

"…kalau memang mau selesai…aku terima."

Kalimat Sederhana. Rancu karena sesengguk, namun jelas dalam makna.

Nakula terdiam.

Yudistira menoleh cepat, jelas tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Arjuna melanjutkan, meskipun suaranya semakin sulit 'tuk dikendalikan.

"…kalau…mas Nakula sudah…nggak mau lagi…"

Berhenti. Ia menarik napas yang tak pernah benar-benar terasa cukup.

"…aku nggak akan maksa."

Sunyi.

Tak ada yang bersuara.

Karena untuk sesaat, kalimat itu terasa terlalu berat 'tuk diproses.

Nakula mengerjap pelan.

Sekali. Dua kali.

Seolah memastikan bahwa ia tak salah dengar.

Marah? Tentu saja.

Namun amarah itu ditujukan pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya tak memikirkan konsekuensi ini, bahwa Arjuna-nya merasa tersakiti.

Dadanya terasa sempit.

"Kenapa kamu mikir begitu?"

Nada suara yang masih tenang.

Terlalu tenang.

Berbanding terbalik dengan pikirannya.

Arjuna tak menjawab.

Hanya menggigit bibir, berusaha menahan sesuatu yang tak lagi bisa ditahan.

Nakula menghela napas.

Menarik Arjuna tanpa ragu dalam pelukannya.

Kuat.

Tak memberi ruang 'tuk menjauh.

"Dengar," bisiknya pelan, tepat di dekat telinga Arjuna. "Kamu penting, dari dulu."

Tangan bergerak pelan, mengusap punggung Arjuna dengan ritme menenangkan.

"Kalau kamu nggak penting, aku nggak akan repot-repot…melakukan hal bodoh seperti ini."

Arjuna terdiam dalam pelukannya.

Napas yang tak stabil, namun tak lagi berusaha melepaskan diri.

Nakula menutup matanya sejenak. 

Kesalahan itu kini terasa jelas. Terlalu jelas.

"Aku…cemburu," lanjutnya, lebih pelan. "Jadi aku mau lihat…mau tahu…kalau aku melakukan ini, apa kamu bakal nyari aku atau nggak."

Ia tersenyum kecil, meski tau Arjuna tak bisa melihatnya.

"Harusnya aku tahu jawabannya dari awal."

Keheningan kembali menyelimuti, tak lagi menusuk.

Arjuna mengangkat tangannya perlahan, mencengkeram bagian belakang baju pasangannya.

Sebuah isyarat kecil.

"…jangan diulangi lagi," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Nakula mengangguk, meskipun jelas ia tak dapat melihatnya.

"Iya."

Mengeratkan pelukannya, seolah memastikannya 'tuk tak melepaskannya terlalu cepat.

Di sisi lain, Yudistira menghela napas panjang setelah sekian lama.

"Aku beneran cuma jadi figuran ya disini," ujarnya datar.

Arjuna tersenyum tipis di sela sisa tangisnya, disusul dengan tawa pelan Nakula.


Aku milikmu,

seperti laut yang selalu menjadi milik bulan,

seperti bulan yang selalu milik langit.

Dan bahkan jika para bintang yang cemburu hancur berkeping-keping diatas bima sakti,

aku kan melihat swastamita di binar matamu.

 - Mark Anthony


Adakala Nakula mempertanyakan dirinya, tentang bagaimana ia bisa jatuh hati pada Arjuna.

Namun, ia sudah lebih dulu tahu jawabannya.

Karena itu seperti pertanyaan bodoh, mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Seperti pertanyaan tentang, "kenapa langit berwarna biru?" atau "kenapa burung memilih 'tuk terbang?".

Sederhana.

Dirinya jatuh cinta bahkan sebelum jemari sempat bertaut.

Caranya berbicara.

Tentang caranya melihat dunia, 

Tentang bagaimana tiap kata terasa,

Seolah memang tercipta untuknya.

Ia telah mengenal hatinya, jauh sebelum jemari tangan saling menggenggam.

Ia telah mengenalnya, bahkan sebelum raga sempat bertemu.

Ia merasakan kehadirannya,

Bahkan saat ruang diantara mereka masih begitu sunyi.

Tawa keluar sesaat mengingat hal itu. Dirinya bahkan tak lagi ingat mengapa dia cemburu.

Tapi itu tak penting lagi, 'kan?   

Notes:

f/n: 1. Sudut pandang orang ketiga 'Ia, Dirinya' dengan font style italic, merujuk pada Arjuna