Work Text:
Semi sedang menulis sebuah lagu, lagu tentang kisah cintanya yang tidak akan pernah diterima dengan tangan terbuka oleh dunia. Cinta yang akan selalu dianggap dosa dan nafsu belaka oleh orang – orang bermoral. Semi selalu membayangkan bagaimana jika ia pergi ke sebuah sudut di bumi bersama sang kekasih dan hanya hidup berdua dengan tenang dan damai. Namun, bumi ini bulat kan? jadi tak memilki sudut yang bisa semi tempati berdua saja. Bersikap realistis, bahwa hidup butuh uang dan uang… menggandakan cinta dan ketenangan karena pada akhirnya ia dan kekasihnya butuh uang untuk hidup di kota yang apa apa serba mahal.
Berprofesi sebagai musisi, semi harus siap jika seluruh mata mengawasi gerak geriknya, menguliti kehidupan dan kompas moralnya. Sebagai musisi, sebagai publik figure, semi nyaris harus selalu sempurna jika tetap ingin berada di dunia musik. Tidak boleh bercelah, tidak boleh salah. Semi tau segala konsekuensinya jika ia mengungkapkan pada para fansnya siapa kekasih hati yang selalu menjadi inspirasi dari semua lagunya. Oleh karena itu, ia memilih untuk diam dan menyembunyikan. Belahan jiwanya pun tak jauh berbeda dengannya, seorang dokter dengan nama yang cukup bersih, cukup terkenal, dan mentereng karirnya. Dokter kerap kali dianggap malaikat, dan tentu saja malaikat harus suci dan tak bernafsu bukan…
Mereka, Semi dan Shirabu kerap kali menguatkan satu sama lain dalam diam. Namun, dalam kesunyian itu mereka ingin meneriakkan pada semua orang bahwa mereka saling mencintai, saling menyayangi dan saling menguatkan. Tapi jika mereka berteriak maka dunia akan segera menghakimi dan mereka berdua akan sama sama menjadi tersangka atas kejahatan moral dan hancur bersamaan.
Semi yang kerap kali digosipkan menjalin hubungan dengan musisi perempuan yang kerap kali menjadi partener duetnya, terkadang membuat shirabu sedikit lelah dan merasa iri. Kemudian sehirabu akan merasa bahwa ia telah menjadi penghalang bagi karir semi dan kehidupannya… perasaan bersalah, rendah diri dan menjadi penghambat satu sama lain ini membuat hubungan mereka menjadi sedikit keruh, seperti air putih yang ditetesi sebuah tinta hitam. Cinta yang awalnya terasa menyenangkan dan membahagiakan itu lama kelamaan terasa seperti duri dalam tenggorkoan, menyakitkan.
Setahun belakangan ini semi mulai merasa shirabu menjaga jarak, kerap kali mengambil shift yang bertepatan dengan jam jam semi berada di rumah. Dan semi amat sangat sadar dengan hal itu. Semi pun merasa mungkin shirabu jengah berhubungan dengannya, setiap gerak gerik yang dilakukannya terus diawasi oleh fans dan portal berita gosip receh yang menunggu kejatuhan karirnya. Berita kencan palsu, gerak yang dibatasi, terkadang membuat semi tidak bisa leluasa berkencan dan berjalan jalan di luar dengan shirabu. semetara itu semi juga paling tahu bahwa shirabu suka sekali jika mereka menghabiskan waktu bersama di taman sambil shirabu membaca buku dan semi bermain gitar, seperti masa awal awal mereka menjalin hubungan.
Segala isi pikiran semi dan kediaman shirabu membuatnya merasa stress dan sesak, ia ingin kembali seperti dulu… namun, ia juga tidak bisa jika harus meninggalkan musik dan panggung. Mungkin ini karma karena semi terlalu serakah, menginginkan shirabu dan musik disaat yang bersamaan.
Malam itu dengan khusus semi meminta shirabu untuk mendengarkan lagu yang baru saja ia rampungkan.
“and we both now know our love won’t life a thousand lifes times
No were not gonna make it till the end”
Menit menit setelah lagu itu berhenti dinyanyikan hanya ada keheningan, keduanya seolah sepakat dalam diam, bahwa esok pagi setelah membuka mata… hubungan yang terjalin selama 10 tahun ini harus berakhir, karena mereka tidak bisa mempertahankan karir dan cinta mereka secara bersamaan. Mereka harus mengorbankan salah satunya… Dan diatas bumi yang tak bersudut ini mereka memilih untuk membuang cinta yang telah dipupuk bersama ini…
