Chapter Text
Manusia yang beruntung adalah manusia yang mengalami satu kali kematian.
.
.
.
Kerajaan Ederland, Tahun ke-5 pemerintahan Raja Alan.
Gemuruh langit terdengar memekakkan telinga. Soobin, late boomer yang sukses menjadi prajurit istana tengah bersiap menyambut musuh.
"Pangeran Yeonjun menuju ke sini seorang diri, kita hanya perlu bertahan dan mengulur waktu hingga gerhana berakhir" ujar sang pemimpin pasukan.
Pegangannya pada pedang menguat ketika melihat sosok tengah berjalan di kegelapan lorong istana. "Kenapa hanya dia sendiri? Apa prajuritnya sudah berhasil dikalahkan oleh pasukan elang?" batin Soobin. "Kalau begitu lebih mudah bagi kami untuk menghabisinya dan menyelamatkan anggota kerajaan"
"Serang dia!"
Dentingan suara pedang yang bertemu terdengar jelas bersamaan dengan teriakan dan rintihan kesakitan. Pasukan yang awalnya berjumlah tiga puluh orang itu tumbang satu-persatu hingga tersisa tiga orang. Soobin terengah sambil menekan luka sayat di bahunya agar darah tak kembali mengucur deras.
"Soobin, kau baik-baik saja?" tanya rekannya.
Dengan susah payah Soobin meneguk ludahnya dan mengangguk. "Dia bukan manusia sembarangan. Caranya menggunakan pedang seakan-akan benda tajam itu adalah bagian anggota tubuhnya"
"Bertahanlah sedikit lagi!"
Soobin mengayunkan pedang dalam genggamannya ke arah sosok alpha yang terbalut dengan pakaian serba hitam, namun serangannya ditangkis dengan mudah hingga pedangnya terlempar entah kemana. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya terasa sangat sakit hingga ia jatuh terduduk.
Sosok itu menyeringai sebelum menghunuskan pedang ke arahnya.
"Soobin!"
"apakah aku akan mati?" Soobin memejamkan matanya. Rasa sakit besi dingin menghunus tubuh yang Soobin nantikan nyatanya tak kunjum terasa membuat Soobin membuka kelopak matanya perlahan.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat lengan rekannya terpotong karena melindunginya.
"S-Soobin, selamatk—"
"Ah, terlalu banyak bicara"
Sosok itu dengan kejam mengayunkan pedangnya dan memenggal kepala prajurit yang menghalau serangannya kepada Soobin.
"Beta sepertimu harusnya lebih tau diri"
Dengan marah, Soobin meraih belati yang tersimpan di pinggangnya dan mengacungkan senjata itu ke hadapan alpha tersebut.
"Anda yang seharusnya lebih tau diri, Yang Mulia!"
Alpha itu tertawa, ia menarik tangan kanan Soobin yang memegang belati dan mematahkannya, membuat laki-laki bersurai pirang itu berteriak kesakitan.
"haah... beraninya orang rendahan sepertimu mengacungkan benda tak berguna itu kepadaku"
Sang Alpha menyeret tubuh kurus soobin ke tengah taman istana. Luka sayat yang berdarah pada lengan Soobin meninggalkan jejak kemerahan di atas rumput yang basah. Dengan kasar ia mencengkram dagu Soobin agar menatap matanya.
"Kerajaan ini pasti begitu miskin hingga mempekerjakan Omega lemah sepertimu" ujarnya.
"Apa maksudmu?" tanya Soobin di sisa-sisa kesadarannya.
Demi tuhan, tubuhnya saat ini terasa sangat panas. Soobin yakin, ia sekarang telah gila karena mendamba sentuhan dingin alpha kejam yang telah membantai seluruh rekannya. Aroma anggur putih memenuhi penciumannya seiring Yeonjun mendekati tubuhnya.
"Ah, jangan bilang kau baru tau secondary gendermu? sayang sekali hidupmu sebagai Omega sangat singkat karena bertemu denganku."
"aku.. seorang Omega??" tanya Soobin dengan suara lemah.
"Aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat menyenangkan, jadi ingatlah baik-baik! yang membunuhmu bukan Yeonjun, tapi Daniel. Orang yang mengantarmu kepada malaikat mau adalah aku, Daniel!" Ujarnya lalu menikam jantung Soobin sambil tertawa, seakan-akan menikmati kematiannya.
Yang Soobin ingat selain rasa sakit tusukan itu adalah gerhana bulan yang sedang berada di puncaknya.
"Pada akhirnya aku tidak bisa menghindari kematian." batinnya untuk kali yang terakhir, sebelum kesadarannya terenggut total.
.
.
.
