Actions

Work Header

i'm not joking

Summary:

"I love you, and I'm not joking."

Notes:

Bagian dari AU ini di Twitter!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sungho bangun pagi itu dengan perasaan tergesa-gesa—di mimpinya semalam, dia adalah seekor rusa yang sedang dikejar-kejar anjing pemburu. Ketika dia akhirnya bangun, itu bukan karena alarm jam 5 pagi yang ia pasang semalam, tetapi karena akhirnya anjing itu berhasil menangkapnya dan menanam taring-taringnya yang tajam itu di tungkai Sungho.

Pemandangan yang menyambutnya agak asing pada beberapa detik pertama. Pagi ini dia tidak terbangun di kamar apartment mewah Jaehyun di Ithaca itu. Tetapi dia masih bangun di kamar Jaehyun. His childhood bedroom to be exact.

In his equally luxurious home.

Ketika ia menoleh ke samping, Sungho menemukan Jaehyun yang masih tertidur nyenyak—meskipun selimut yang semalam masih menutupi mereka berdua sekarang sudah ditarik sepenuhnya oleh Sungho untuk digunakan buat dirinya sendiri tanpa sadar dalam tidurnya.

Sekarang hari Kamis.

Biasanya tiap Kamis, orang-orang akan menemukan Sungho mengajar kelas Principles of Biochemistry, Individualized Instruction untuk mahasiswa sarjana. Atau di laboratorium milik Dr. Stokes, menimbang tikus-tikus laboratoriumnya itu (atau di hari yang buruk, bisa jadi dia sedang membedah salah satu mencit yang malang itu). Atau di kantor kandidat PhD-nya Dr. Keith, entah tertawa atau menangis di hadapan Myung Jaehyun (pemilik ruangan) (yang ia bagi bersama 3 orang post-graduate students lainnya).

Tetapi hari ini, Sungho tidak sedang berada di lahan kampus Cornell. Bahkan tidak juga di Ithaca. Hari ini Sungho di Manhattan. Di jantung New York City—which by extension, jantungnya Amerika Serikat.

Dan dia disini karena dia akan menikah.

Sungho orang akademik. Kata menikah itu sebenarnya tidak ada di kamusnya. Mungkin lebih tepatnya belum, menurutnya kegiatan itu baru bakal ia mulai pikirkan ketika umurnya sudah dekat 40. Either that, atau ya… tidak sama sekali. Tapi ternyata disini dia sekarang, belum saja menyentuh 28, and about to marry someone he's not even in love with.

Well, "tidak cinta" mungkin frasa yang terlalu kasar—karena Jaehyun adalah orang yang sangat berharga bagi Sungho. Sungho menyayangi temannya itu. Tapi kita semua paham lah, cinta seperti apa yang dibutuhkan untuk benar-benar menikahi seseorang. Sedangkan Sungho tidak merasakan itu. At least he thinks he doesn't. Tidak saat ini.

"Jae," panggil Sungho lirih, suaranya masih serak karena baru bangun. Dia berdeham sekali, berharap kalau itu akan menyelesaikan masalahnya. "Jaehyun."

That sounds better.

Dia memerhatikan Jaehyun menggeliat dalam tidurnya, sebelum akhirnya ia membuka mata. Sekilas, mata itu mengingatkan Sungho oleh anjing yang mengejarnya dalam mimpi barusan.

Sungho bergidik. Kenapa mimpinya di hari-hari sebelum peristiwa penting selalu aneh-aneh sih? Dulu sebelum tawaran melanjutkan program PhD-nya di Cornell masuk, Sungho bermimpi dia jatuh dari naga terbang. Sebelum Sungho lahir, ibunya pernah menceritakan kalau taemong-nya saat hamil Sungho adalah tentang seekor serigala yang menerjang pohon apel keras sekali sampai buahnya berjatuhan dan menggelinding ke sungai terdekat—dimana serigala itu malah ikut berlari-lari mengejar apelnya sampai ke hilir. Entah artinya apa. Sampai kedua orangtuanya berpulang pun, mereka tidak pernah menemukan tafsiran yang masuk akal.

Selagi Sungho melamun, ternyata Jaehyun sudah sepenuhnya bangun dan ikut terduduk di kasur. Dia mengusap-usap wajahnya berapa kali. "Jam berapa ini?" tanyanya dengan suara beratnya. Ketika Sungho baru mulai tinggal bersama Jaehyun, suara baru bangunnya itu bisa membuat isi perut Sungho memberontak seakan ada ribuan kupu-kupu yang mencari jalan keluar. Tetapi seiring berjalannya waktu, suara itu menjadi normal—menjadi bagian dari rutinitasnya. Minggu lalu, ketika Jaehyun sedang mengikuti conference di Cambridge dan Sungho bangun tanpa mendengar suaranya, dia malah meriang. Which he didn't tell Jaehyun about.

"Bentar lagi jam 5," jawab Sungho seadanya—yang dikonfirmasi oleh alarm ponselnya yang tiba-tiba menggelegar. "Now it's actually 5."

Jaehyun menyipitkan matanya—kesulitan melihat tanpa kacamatanya itu. Tiba-tiba dia tertawa ketika sudah puas memandangi penampilan berantakan Sungho.

"Apaan sih?"

Yang ditanya menggeleng cepat. "Bukan apa-apa," ujarnya sambil beranjak turun dari kasur, membawa hangat badannya bersamanya. Lalu Jaehyun membuka tirai jendela, menunjukkan pemandangan Manhattan dini hari. Kalau Sungho memicing sedikit, dia bisa melihat Central Park dari sini meskipun matahari belum sepenuhnya naik.

Jaehyun menyenderkan badannya ke kusen jendela, menghadap ke Sungho dengan tampang sama berantakannya itu. Sungho harus mengigatkan diri kalau orang itu cuma Jaehyun. Teman dekatnya sejak minggu orientasi di Cornell. Teman dekat yang ia dapatkan karena kecerobohannya menumpahkan wine di cardigan mahal Jaehyun karena ia terlalu bersemangat karena makanan gratis yang dihidangkan di perjamuan mahasiswa.

"Happy wedding day."

Okay, mungkin tidak apa Sungho membiarkan jantungnya berdebar untuk hari ini saja.


Sungho menggaruk tengkuknya yang terasa gatal karena jas yang dikenakannya masih baru dan rasanya aneh di kulitnya. Dia sedang duduk di salah satu kursi kosong di lorong City Hall itu, dengan Eomma di sampingnya. Beliau terlihat sumringah, tangan Sungho tidak sekali pun ia lepas sejak mereka berangkat dari rumah hingga saat ini—duduk menunggu giliran Jaehyun dan Sungho mendaftarkan pernikahan mereka di salah satu loket pendaftaran.

How mundane, pikir Sungho saat itu. Rasanya seperti akan memperbaharui kartu izin mengemudi. Mungkin ada benarnya kata Eomma tentang pentingnya mengadakan sebuah perayaan yang pantas.

"Eomma!"

Sungho dan ibu Jaehyun menoleh ke sumber suara. Woonhak baru saja tiba. Mereka sempat berpikir kalau adik Jaehyun tidak akan bisa datang. Sedari kemarin ia terlalu sibuk mempersiapkan sebuah pertunjukkan musikal yang merupakan project sekolahnya—maklum, mahasiswa Juilliard.

"Woonhak! Hampir aja kamu telat!" seru Eomma, makin sumringah.

Ada perasaan mengganjal di perut Sungho. Perasaan bersalah? Tapi bercampur rasa girang? Seakan rasa sedihnya karena berbohong ke keluarga Jaehyun ini dilapisi rasa bahagia karena dia akan menjadi bagian dari keluarga mereka.

Setelah hampir satu dekade dia hanya punya diri sendiri dan beberapa teman yang datang dan pergi.

Ketika Eomma bangkit untuk memeluk Woonhak, Sungho merasakan tangan Jaehyun menyentuh pundaknya. Hampir seperti insting, tangan Sungho meraih tangan tersebut dengan tangannya sendiri. Jemarinya mengalungkan diri diantara jemari Jaehyun yang agak basah karena keringat. Sungho terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri sampai dia lupa kalau ini pernikahan Jaehyun juga.

"Siap gak, sweetheart?" tanya Jaehyun dengan sebuah senyum. Kata sweetheart yang biasanya keluar dari mulutnya dengan kesan condescending terdengar lebih netral kali ini. Nada bicaranya juga penuh senda gurau, tetapi Sungho berpikir kalau dia juga menyembunyikan sebuah kesedihan dibalik senyumnya itu. Mungkin karena alasan yang sama dengan Sungho.

"Fucking no," jawab Sungho setelah yakin kalau Eomma diluar jarak pendengaran.

Kalimat itu membawa tawa tulus keluar dari bibir Jaehyun. "Fucking same."

Sungho sudah tahu kalau proses mendaftarkan pernikahan di City Hall itu cepat—itulah alasan ia memilih untuk menikah disini—tetapi dia tidak berpikir akan secepat itu. Mereka hanya perlu berdiri di depan sebuah loket dan berbincang basa-basi sebentar dengan clerk yang bertugas (wanita yang ramah, dia tidak berhenti-hentinya memuji penampilan Sungho, dan berterima kasih kepada mereka berdua karena rela melaksanakan studi hingga doktoral, "Someone has to do it for the rest of us, right?!") sebelum akhirnya mengisi beberapa formulir dan tanda tangan.

Ketika Eomma maju untuk menandatangani bagiannya sebagai saksi, Sungho menangkap Jaehyun mengusap kelopak matanya sebelum tetes air mata yang mulai membendung itu bisa terjatuh. Seketika dada Sungho mencelos.

God, is this wrong? Am I being selfish? Am I—

Sebelum dia bisa selesai dengan runtutan pikiran self-loathing-nya itu, Eomma sudah terlebih dulu berpaling untuk memeluknya.

This time, Jaehyun was wiping Sungho's tears.


"… Park Sungho, do you promise to love, honor, and cherish Myung Jaehyun for as long as you both shall live?"

Gawat.

Sungho merasakan napasnya tercekat. Kalimat pendek itu seakan tertahan di kerongkongannya, menolak untuk keluar. Keringat mengucur dari tengkuknya padahal ruangan itu dingin dengan AC yang menyala dalam mode full blast.

Sungho familiar perasaan ini. Ini teman lamanya. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali perasaan ini mengunjunginya.

Namun tiba-tiba, genggaman tangan Jaehyun melembut. Ibu jarinya membuat gestur lingkaran-lingkaran kecil di punggung tangan Sungho. Memanggilnya kembali ke momen sekarang.

"I do," ujar Sungho begitu matanya bertemu dengan milik Jaehyun.

Cincin di tangan Sungho tiba-tiba terasa begitu berat. Tangannya tidak bisa berhenti bergetar ketika ia memasangkan cincin itu ke jari manis Jaehyun dengan penuh kehati-hatian atas perintah officiant pernikahan mereka.

Jaehyun juga gugup ketika beberapa detik yang lalu harus melakukan hal yang sama ke Sungho, namun dia tidak memakan waktu selama ini. Sungho ingin bersembunyi di bawah kolong subway! Dia merasa sangat ditelanjangi—perasaannya, ketakutannya, rasa bersalahnya seakan bisa dilihat semua orang di ruangan itu.

Tapi entah kekuatan dari mana yang berhasil Sungho kumpulkan untuk akhirnya berhasil memasangkan cincin itu ke jari manis Jaehyun.

Namun, seketika ada kelegaan yang menyeruak di dalam dirinya saat ia melihat cincin emas putih itu bersarang di tempat seharusnya. Mirroring the one he has on his own hand.

"…by the powers vested in me by the State of New York. I now pronounce you married. You may kiss—"

Sungho bahkan tidak menunggu hingga petugas pernikahan itu selesai bicara sebelum dia yang lebih dulu menarik kerah Jaehyun untuk menutup jarak di antara mereka. Sesuatu di dalam diri Sungho seakan bersorak memberitahunya kalau semakin dekat ia dengan Jaehyun sekarang, semakin ia akan merasa waras.

Sebelum menutup matanya sepenuhnya, Sungho mendapati Jaehyun yang membelalak karena aksinya itu. Namun ketika bibir mereka bertemu, seluruh otot yang tadinya tegang di bahu Jaehyun langsung melunak. Sungho akhirnya paham apa yang dimaksud orang-orang ketika mereka bilang "melted into the kiss" karena sekarang Sungho merasa semua tulangnya ikut jadi agar-agar.

Sungho would've tried to prolong the kiss kalau dia tidak dikagetkan tepuk tangan dari saksi-saksi mereka di ruangan.

Dia menarik diri, namun Jaehyun menahannya di tempat, menyatukan dahi mereka agar Sungho menatap langsung di kedua netranya.

"Park Sungho," panggilnya dengan bisikan kecil—hanya mereka yang bisa mendengarnya. "I love you,

 

and I'm not joking."

 

Notes:

You can say hi to me di Tello!