Actions

Work Header

Too Little Too Late - Sadewa Sagara

Summary:

Malam itu, Sadewa merasa kebingungan. Ini kali pertama dirinya mengalami perasaan aneh yang mengganjal di hatinya, untuk menenangkan dirinya dia sengaja memilih untuk menghabiskan waktu di bar yang lokasinya jauh dari bar miliknya, Di Antara. Namun takdir berkata lain, dia bertemu dengan temannya yang sedang bekerja di bar itu. Mungkin tidak ada salahnya jika dia menuangkan sedikit apa yang terjadi kepada temannya itu.

Notes:

Hallo guys, ini fanfic pertamaku untuk fandom ini. Selamat menikmati.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sadewa duduk di bangku bar, memegang segelas minuman tanpa ada niat untuk meminumnya. Membiarkan es batu mencair dan mengubah rasa minuman itu. Persis membiarkan hatinya untuk merubah perasaan terlalu dalam yang sudah tertanam.

 

“Kenapa mas?” tanya seorang bartender di depan Sadewa. Sadewa sengaja memilih untuk mengunjungi bar lain agar tidak ada yang mengenalnya. Namun nasib sial terus mengikuti, ia lupa kalau bartender wanita di sini adalah seorang kenalan yang baru saja jadi karyawan.

 

Sigh

 

Terdengar helaan nafas dari Sadewa yang tidak seperti biasanya, membuat bartender wanita itu bingung melihat kelakuan temannya ini.

 

“Aku nanya loh, butuhnya jawaban bukan helaan nafas cuy.” Wanita itu sebut saja Kaerin, menatap malas ke arah Sadewa. Sadewa tetap tidak menjawab namun menunjukkan raut muka pahit diikuti helaan nafas panjang, membuat Kaerin semakin bingung.

 

“Eh, lu kalo ada masalah ngomong bukan hah huh sana sini.” Sadewa menatap kesal ke arah Kaerin yang mulai mengomel, kenapa hidupnya sial sekali bulan ini.

 

“Tidak ada.”

 

Kaerin menunggu lanjutan dari Sadewa namun pria di depannya itu tidak melanjutkan kalimatnya.

 

“Hadeh~ au ah, suka-suka kaulah, Mas Dew. Ganggu orang lagi part-time wae kamu mah.” Kaerin menggelengkan kepalanya dan melenggang pergi untuk membersihkan meja.

 

Sadewa memperhatikan temannya itu melakukan kegiatan yang sama dia lakukan di barnya, “Di Antara”. Rasanya aneh bagi Sadewa untuk memiliki sudut pandang sebagai pelanggan di sebuah bar. Aneh….terlalu aneh, sama seperti perasaan di hatinya saat itu, aneh.

 

Kaerin kembali ke arah Sadewa, kali ini dia tidak kembali ke belakang konter bar namun duduk di samping Sadewa. Sadewa tidak menghiraukannya dan kembali fokus menatap gelas yang tidak tersentuh itu.

 

“Kenapa?” Kali ini Kaerin bertanya dengan nada tegas, berharap Sadewa mau menjawab.

 

“Kamu kenapa duduk? Nanti dimarahin bos kamu.” Sadewa bukannya menjawab namun balik bertanya.

 

“Hm? Kamu gak fokus banget malam ini ya. Kan aku udah bilang aku cuman Part-time di sini dan tempat ini punya sepupuku, jadi cuman bantu-bantu doang.” Kaerin menjawab dengan santai, tetap menunggu Sadewa menjawab pertanyaannya.

 

Sadewa memperhatikan raut wajah Kaerin, si krisis identitas karena ganti-ganti logat daerah setiap berbicara dan tidak peka terhadap hubungan romantis sendiri. Namun peka jika menyangkut teman-temannya.

 

“Menurutmu, apakah effort saya kurang?” Sadewa memulai dengan suara yang halus, jika saja bar tersebut ramai, sudah pasti telinga budeg Kaerin tidak akan mampu menangkap perkataan Sadewa.

 

“Effort apa dulu ini? Ke hobi? Kerjaan? Atau ke….Dia?” Kata terakhir Kaerin agak menusuk bagi Sadewa, dirinya heran dan merasa aneh kenapa bisa seperti itu. Ia hanya mengangguk atas pertanyaan Kaerin itu.

 

“Hadeh, kukira kamu gak akan kek begini pas tau si Doi nikah. Soalnya pas kamu dikasih undangan ama beliau, mukanya datar-datar wae. Tak kirain kamu gak ada masalah, ternyata masih terpincut.” Kali ini Kaerin menghela nafas melihat kelakuan Sadewa. Temannya ini terlalu menyimpan semuanya sendiri.

 

Kaerin melanjutkan saat melihat Sadewa tidak ada berniat menjawab ocehan dirinya. “Kalau Nakul di sini udah pasti kamu dikatai bodoh ama dia.”

 

Sadewa dapat membayangkan kembarannya itu dan suara julidnya jika melihat dia berperilaku begini, dia akui, dia saat ini berperilaku tidak jelas namun perasaan aneh itu terus datang menghampiri bak oksigen yang tidak mungkin bisa dia hindari.

 

“Itu salah satu alasan saya di sini, Nakula belum mengetahui tempat ini.” Sadewa tertawa ringan mengingat Nakula yang terus bertanya tentang tempat Part-time Kaerin.

 

“Aku mah juga ogah kasih tahu, nanti mengacau pula dia kat sini. No…no ya.”

 

Sadewa mengangguk, kembarannya itu sangat suka sekali mengganggu teman-temannya saat dia bosan setelah selesai bekerja. Sadewa agak merasa stabil setelah dia bercanda dengan Kaerin dan mungkin tidak apa jika dia jujur sedikit untuk malam ini.

 

“Saya bingung, Kaerin. Kenapa semua yang saya lakukan seperti tidak ada hasil?”

 

Kaerin memperhatikan wajah Sadewa sebelum menjawab.

 

“Too Little Too Late.”

 

Sadewa tersentak mendengar kalimat itu, ungkapan itu terlalu sesuai untuk keadaannya saat ini.

 

“Kamu pasti merasa segala usaha yang kamu berikan terlalu sedikit ke dia dan terlalu lambat kan?”

 

Sadewa mengangguk mendengar itu, tidak mampu mengeluarkan suara untuk menyetujui kalimat itu. Kaerin melanjutkan tanpa peduli apakah Sadewa ingin bicara atau tidak.

 

“Sadewa. Berhentilah memikirkan kalau apa yang kamu lakukan itu terlalu sedikit ataupun lambat. Gak ada yang salah ataupun benar di sini. Kamu mungkin tidak ingin memberatkan dia dengan perasaanmu namun dia mungkin sudah terlalu lama menunggu bahkan mungkin sebelum kamu, dia sudah menunggu. Jadi gak, kamu gak Too Little Too Late.”

 

“Tapi Kaerin, aku memang lambat.”

 

“Terus? Kamu mau ngapain? Hm? Bergerak cepat gitu? Iya? Terus kamu biarkan dirimu mengikuti cara orang lain.”

 

“Kalau saya begitu dia pasti gak akan diambil sama orang lain, Kaerin.”

 

“Betul, alasan kamu lumayan betul. Tapi kamu sendiri gimana? Bukannya kamu tipe orang yang menghargai mendekat dengan pelan dan saling mengenal? Jadi kamu mau membuang prinsipmu gitu?”

 

Sadewa terdiam mendengar perkataan Kaerin yang aneh didengar saat ini. Jika dia lebih cepat dalam bergerak sudah pasti wanita yang dia cintai tidak akan bersama pria lain, benarkan?

 

“Dew, aku tahu apa yang kau pikirkan tapi kurasa itu tidak benar. Kamu tau gak, aku suka dengan kamu dalam menjalani hubungan. Kamu cuman jatuh cinta sama orang yang salah saat ini sama dengan dia yang sudah menemukan orang yang tepat. Kita gak bisa berbuat apa-apa buat takdir Dew. Aku akui sebagai wanita caramu mendekati dia itu sudah benar namun wanita itu beda dengan aku, beda dengan kamu. Tapi itu bukan salah kamu atau dia. Kalian memang dari awal gak cocok, Dew”

 

Sadewa menggelengkan kepalanya, “Gak Kaerin, aku aja yang salah di sini.”

 

“Lama-lama gua timpuk juga pala lu dengan gas LPG, jangan salahin dirimu sendiri gini. Adanya kalimat “Wrong person, right time” karena hal itu bisa terjadi di kehidupan kita dan dirimu sedang mengalaminya saat ini. Kamu sama dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama dan itu bukan salah siapa-siapa. Wanita itu tidak salah untuk jatuh cinta ke pria lain, kamu juga gak salah untuk jatuh cinta ke dia. Perasaan itu ambigu, Dew, gak ada yang tahu kapan datang dan pergi. Semua mengalir begitu saja layaknya sungai.”

 

Sadewa tetap diam dan memperhatikan Kaerin yang memulai sesi khutbah malam ini.

 

“Ingat, Sadewa. Kamu tidak bersalah untuk memiliki perasaan yang begini namun kamu juga tidak bisa memaksa dia memiliki perasaan sama seperti dirimu. Setiap orang hanya bisa mengendalikan perasaannya sendiri, mau kamu lakukan dengan cepat pun belum tentu dia menerima kamu. Intinya kacamata eh…. Maksudku, intinya semua tergantung individu masing-masing. Perasaanmu saat ini itu mungkin patah hati dan aku gak akan memaksamu untuk bangkit secepatnya tapi aku larang kamu untuk terpuruk selamanya,”

 

Mendengar Kaerin tiba-tiba terlihat sedikit bijak lumayan membuat dirinya merasa lega? Tenang? Entahlah, hanya saja kalimat yang Kaerin katakan agak membantu dirinya sedikit.

 

“Ingat ya kawan, masih ada hari esok dan tidak masalah untuk kamu merasa begini. Namun aku berharap, Sadewa Sagara, temanku, panutanku, kamu janganlah terpuruk terus dalam perasaan itu dan mulailah bangkit Kembali. Ingat kamu masih punya Nakula, kembaran kamu. Dan anak-anak PANDAVVA, ada Arjuna, Bima, dan Yudis yang juga siap untuk selalu di sisimu. Lalu juga ada aku yang siap untuk menimpuk kamu dengan gas LPG.” Kaerin mengakhiri khotbahnya dengan bercanda dan tahu kalau Sadewa akan menangkap apa maksud dirinya itu.

 

“Tumben kau bijaksana kek begini? Padahal menjalin hubungan saja tidak pernah.” Sadewa mengejek Kaerin namun dirinya agak berterima kasih karena temannya ini mau memberi nasihat begitu.

 

“Heleh, masih belum nemu aku yang sesuai selera. Do’ain aja lah ya aku dapatnya first try langsung berhasil.”

 

“Iya, saya doakan kamu dapat yang terbaik di first try.” Sadewa mengaminkan kalimat Kaerin walau tahu wanita itu masih belum menginginkan hubungan romantis untuk saat ini.

 

Kaerin menepuk bahu Sadewa lalu melanjutkan aktivitas sebagai bartender, Sadewa hanya tertawa pelan melihat kelakuan temannya, mungkin tidak masalah untuk dirinya merasa seperti ini malam ini. Tapi dia masih punya hari esok yang harus dia lalui dan bukankah lebih bagus dia menjalani hari dengan perasaan tenang dibandingkan dengan perasaan kacau?

 

Malam ini tidak ada jawaban pasti tentang masalah tersebut, karena memang jawaban akhir harus dari pemilik perasaan, Sadewa. Dialah yang paling memiliki kendali untuk merelakan perasaan tersebut. Orang di sekitarnya hanya bisa memberi nasihat ataupun semangat. Sadewa tersenyum lembut dan bangkit untuk pulang ke rumah. Perasaanya memang belum tertata tapi dia akan mulai mencoba untuk menatanya Kembali.

 

“Bye, Dewa. Gua tunggu lu dengan kabar baik.” Kaerin berkata saat Sadewa keluar pintu bar dan Sadewa tidak berbalik hanya melambaikan tangannya.

 

Malam itu, diakhiri dengan seorang pria yang sedang berkutat dan menata perasaannya.

 

Usaha itu tidak pernah sia-sia, seperti yang temannya bilang.



Notes:

Terima kasih sudah membaca ceritanya, mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata.

Series this work belongs to: