Actions

Work Header

The Last Embrace

Summary:

Musim semi membawa cerita tiap insan. Jika itu kamu kisah apa yang akan kamu pilih?

Notes:

Well, so i'm back again, i really love this Mother and Child relationship.
A little spoiler and OOC.
Kuzunoha is Seimei's mother and always will be.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ayah Seimei, Abe Masuki meninggal saat usianya hendak beranjak menuju angka sembilan, sementara ibunya meninggalkan dirinya saat Seimei hadir ke dunia. Seimei tidak berkesempatan bertemu pandang dengan sang ibu, tetapi kata sang ayah saat ia lahir ibunya tersenyum bahagia dan dengan tangannya sendiri memeluk bayinya dengan erat hingga ajal datang untuk menjemput. Sang ibu meninggal dalam keadaan memeluk erat bayi Seimei.

Kematian yang datang mengajarkan anak itu bagaimana dunianya berubah sedikit demi sedikit setelah kehilangan dan bagaimana kematian itu meninggalkan luka yang sulit untuk mengering. Anak itu sedikit demi sedikit belajar mengenai rasa kehilangan yang tiba-tiba menghampiri. Meskipun tak pernah bertemu pandang dengan sang bunda, Seimei memiliki sosok pengganti yang ia anggap sebagai bundanya sendiri, yang dengan senyum ceria membuka tangan dengan lebar untuk memeluk Seimei saat anak itu kembali ke rumah.

Semuanya terjadi saat ia berumur tujuh tahun, ayahnya adalah seorang pria yang bekerja memburu pelaku kejahatan, begitulah katanya pada Seimei. Suatu ketika saat ayahnya kembali rumah, ia tidak kembali sendirian. Ia kembali bersama seorang wanita cantik yang ia perkenalkan kepada Seimei sebagai ibu baru untuknya, pengganti sang bunda yang telah tiada.

Nama ibu baru itu Kuzunoha. Wanita dengan paras keibuan yang selalu menyunggingkan senyum manis tiap kali matanya bersua dengan mata kecil Seimei.

Menerima kehadiran ibu baru awalnya terasa sulit bagi Seimei kecil. Ia takut ibu baru itu memakai “topeng” yang digunakan untuk mengelabui dirinya dan ayahnya, apalagi “komporan” dari teman-teman di sekolah semakin membuat Seimei takut. Apalagi si cebol Douman yang seringkali berkata bahwa ibu tiri itu sangat galak dan akan memukuli Seimei jika dirinya melakukan kesalahan. Bagaimana Seimei tidak ketar-ketir coba?

Akan tetapi, ibu baru ini berbeda. Ia memeluk tubuh Seimei dengan hangat, bertanya dengan antusias hari-hari Seimei di sekolah, memasak makanan yang enak, tidak memukuli atau berteriak saat Seimei melakukan kesalahan, dan selalu membelai dengan hangat kepala Seimei saat tidur—sebuah kebiasaan yang selalu dinikmati anak itu.

Ibu baru itu mencintai Seimei seperti anaknya sendiri, seakan-akan dialah yang melahirkan anak itu dari rahimnya.

Masuki sang ayah pernah mengaku pada Seimei bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada wanita itu, dan berharap bisa menghabiskan waktu seumur hidup bersama. Seimei tidak tahu jatuh cinta yang ayahnya rasakan itu apakah sama dengan jatuh cinta yang ayahnya gembor-gemborkan selama ini saat bersama ibunya. Akan tetapi saat melihat sang ayah yang terlihat bahagia bersama ibu baru, Seimei ikut merasakan perasaan jatuh cinta yang ayahnya sedang rasakan.

 Namun, kebahagiaan itu seperti bunga dandelion rapuh yang benih-benihnya berhamburan di udara setelah ditiup oleh angin. Pada akhir bulan maret ketika bunga sakura bermekaran dengan indah, sang ayah dinyatakan menghilang entah kemana.

Seminggu kemudian rekan sejawat ayahnya datang berkunjung ke rumah dan Seimei pun menyadari bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali ke rumah. Tubuhnya ditemukan di dekat sungai, membusuk memeluk tanah dengan luka tembak menembus dada.

Kehilangan menghampiri kembali, tapi wanita itu tidak lari, malah ia bertahan di sisi anak itu sebagai orang tua tunggal. Peristiwa itu makin mempererat ikatan ibu dan anak itu, keduanya tetap melanjutkan hidup tanpa kehadiran Masuki.

Mari kita beralih pada si kecil yang sedang melangkahkan kaki berirama menaiki tangga apartemen. Anak itu tidak sabar untuk pulang ke rumah, tidak sabar untuk menceritakan hal-hal yang ia lalui di sekolah. Seimei senang bagaimana bibir Kuzunoha terangat ke atas dengan mata menyipit seperti bulan sabit yang sering ia lihat di balkon apartemen mereka.

Kakinya yang pendek berusaha melangkahi dua anak tangga sekaligus, walaupun agak sulit tapi pikirnya dengan begitu ia bisa sampai lebih cepat di unjung tangga yang paling puncak. Setelah bersusah payah menaiki banyak anak tangga dan melewati dua unit lain Seimei tiba di depan pintu unit apartemen mereka. Kakinya berjinjit kecil dan tangannya berusaha menggapai gagang pintu.

“Aku pulang!” seru anak itu.

“Selamat datang Doujimaru!” Suara sang ibu mengalun dari dalam rumah.

Seimei duduk di tepian lantai yang tinggi, membiarkan kakinya tetap di lantai bawah saat ia sibuk melepas sepatunya. Randoserunya dan topi kuning atau tsugaku-boshi sudah ia lepaskan terlebih dahulu. Kemudian Seimei bangkit berdiri lalu ia letakan sepatunya pada area penyimpanan sepatu atau getabako.

Selesai dengan semuanya ia berbalik badan, namun sang bunda sudah berdiri di belakang dengan senyum manis apik di wajah. Sang bunda mengenakan apron putih yang sudah usang, karena sudah dipakai berulang kali untuk memasak.

“Kemarilah, Ibu merindukanmu.” Kedua tangannya terbuka lebar.

Seimei bergegas untuk memeluk rumahnya.

Seimei benamkan wajahnya pada perut sang bunda dan berat badannya bertumpu pada tubuh wanita itu. Kuzunoha yang melihat anaknya bertingkah seperti itu lalu membungkukan sedikit tubuhnya dan memeluk anak semata wayangnya itu.

“Oh tidak, apa yang terjadi Doujimaru? Apakah ada yang menganggumu lagi di sekolah?

Anak itu menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sang bunda.

“Ayo bereskan tas dan topimu. Ibu masak makanan kesukaanmu, loh,” bujuk Kuzunoha agar Seimei mau beranjak membereskan barang-barangnya di lantai.

Anak itu menurut, tetapi terlihat sedikit enggan melakukannya. Dilihat dari bagaimana langkah kakinya yang sempoyongan, namun ia ambil tas dan topinya lalu sedikit bergegas meraih tangan sang bunda. Ia raih tangan sang bunda yang terasa sedikit dingin.

Ditolehkannya kepalanya ke atas dan dilihatnya wajah sang bunda yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

Apakah Ibu sakit? Batin Seimei saat merasakan remasan jari-jari sang bunda.

“Ibu sakit ya? Tangan ibu sedikit dingin loh.”

Tubuh Kuzunoha menegang sesaat.

“Ibu tidak apa, mungkin hanya sedikit kelelahan.”

“Ibu jangan memaksakan diri, aku hanya punya ibu.” Anak itu menunduk memandangi lantai unit tempat mereka tinggal.

Kalau saja ayahnya masih hidup, mungkin rumah ini akan terasa lebih hangat.

“Anak Ibu sudah bertambah dewasa rupanya.” Kuzunoha bersimpuh di depan Seimei. Ibu satu anak itu mengelus kepala anak di depannya. Bibir wanita itu bergetar dengan mata sedikit berkaca-kaca.

Ibu mencintaimu.

“Ibu baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan, dengan sedikit istirahat Ibu akan sehat kembali kok!” ujar Kuzunoha lagi.

Cerialah.

“Lagipula Ibu sangat ingin sekali mendengarkan ceritamu di sekolah tadi.”

“Kamu mau menceritakannya pada ibu bukan?” Langkah cerdas dari Kuzunoha yang berhasil mengembalikan mood anak itu.

“Ibu tahu tidak? Tadi Suzaku tercebur ke kolam renang sekolah dan…..” Anak itu berceloteh dengan riang.

Keduanya beranjak menuju meja makan. Sebenarnya sang bunda baru selesai memasak saat Seimei kembali tadi. Di meja makan Kuzunoha hanya memperhatikan Seimei yang sedang makan. Saat ditawari untuk makan bersama, bundanya menolak. Kata sang bunda ia belum lapar dan lebih senang memperhatikan Seimei yang sedang makan.

Tidak biasanya sih ibunya menolak ajakan makan bersama.

Selesai makan anak itu mandi dan mengerjakan tugas sekolahnya. Waktu bergulir dengan cepat dan sekarang pukul 21.00. Seimei sudah terkantuk-kantuk di meja makan, sesekali ia menguap lebar.

“Sudah mengantuk, ya? Habiskan susumu sedikit lagi, lalu langsung sikat gigi. Jangan sampai tertidur di meja makan, nanti lehermu sakit.”

Seimei mengangguk-angguk lemah, ia habiskan sisa susu yang tersisa lalu ia langkahkan kaki ke kamar mandi melaksanakan perintah sang ibu.

Setelah selesai ia masuk ke kamar untuk tidur, sang bunda sudah berbaring miring di futon sebelahnya. Namun, anak itu punya rencana lain, ia selipkan tubuh mungilnya di sela-sela tubuh sang bunda. Matanya perlahan-lahan mengerjap-ngerjap ingin segera menjemput bunga tidur, tapi suara sang bunda menginterupsi.

“Doujimaru sayangnya ibu akan tetap selamanya bersama ibu kan?”

Kedua mata indah sang bunda menelisik meminta jawaban.

“Iya, aku akan selamanya bersama dengan Ibu.”

“Jika ibu pergi apakah Doujimaru akan pergi juga?”

“Kemanapun ibu pergi aku akan pergi, aku hanya punya ibu.”

“Anak kesayangan ibu, meskipun kamu tidak lahir dari rahimku, tapi ibumu ini sangat mencintaimu. Ibu sangat bahagia sekali menjadi Ibu bagi Doujimaru.” Mata Kuzunoha mulai sedikit berkaca-kaca.

Berikutnya tangan kecil Seimei yang mengusap pelan mata sang bunda yang sebentar lagi akan menitikan air mata.

“Jika diberikan kesempatan sekali lagi….”

Bibir Kuzunoha sedikit bergetar.

“Di kehidupan selanjutnya nanti, lahirlah kembali menjadi anak ibu.”

Seimei memeluk erat-erat tubuh sang bunda. Ia sangat mencintai sang bunda. Jika suatu saat ajal menjemput, Seimei ingin habiskan hari bersama sang bunda.

Berikutnya lantunan merdu dari sang bunda mengalun memasuki gendang telinga Seimei. Melodi yang selalu menjadi pengantar Seimei kecil ke alam mimpi. Usapan hangat sang bunda menambah kadar kantuk yang makin kentara dan kecupan di pucuk kepala dari sang Bunda yang menghangatkan hati.

***

KYOTO- Kepolisian Prefektur Kyoto berhasil mengidentifikasi dua jasad Ibu dan Anak yang mengguncang kawasan N, pada Selasa (23/3) pagi. Seorang Ibu Rumah Tangga (K) sekaligus Ibu tunggal yang tinggal bersama sang anak (S) yang berusia 10 tahun ditemukan tewas di apartemen kediaman mereka. Ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban yang menjadi bukti adanya tindak kekerasan pada para korban.

Pihak berwenang menyatakan tidak ada tanda-tanda perampokan, karena tidak ada barang berharga milik korban yang dicuri dari kediaman korban. Pihak berwenang menduga motif pembunuhan adalah dendam pribadi.

Kepolisian akan berusaha keras mengusut tuntas kasus tewasnya Ibu dan Anak di kawasan N. 

***

 

 

Notes:

Futon: Kasur lantai tradisional Jepang yang bisa dilipat dan disimpan setelah dipakai.
​Randoseru: Tas ransel yang kokoh, wajib digunakan oleh anak sekolah dasar (SD) di Jepang.
​Tsugaku-boshi: Topi sekolah (biasanya warna kuning) agar anak-anak mudah terlihat oleh pengendara jalan.
​Getabako: Lemari atau rak sepatu yang terletak di area pintu masuk rumah