Work Text:
Pyre
; /ˈpī(ə)r/
noun: pyre; plural noun: pyres
a heap of combustible material, especially one for burning a corpse as part of a funeral ceremony ; tumpukan kayu pembakaran jenazah
Domic L Miller, sebagai orang yang sangat rasional selalu tahu bahwa orang yang ia cintai tidak akan tinggal jika diberi pilihan. Maka dari itu sedari awal, ia tidak pernah memberi Ashley pilihan.
Di tempat yang hangat ini—di atas sebuah ranjang yang terlalu mahal untuk sebuah kamar yang rasanya seperti sel—Ashley terkulai lemah dengan wajah pucat dan mata yang cekung. Nafasnya pendek, seperti seseorang yang sedang dikejar sesuatu.
Di tubuhnya, terpasang berbagai alat yang membantunya tetap bernafas, memperpanjang usia, memperpanjang penderitaannya.
Dan di sampingnya, sama seperti hari-hari lainnya, Dominic duduk di kursi dekat ranjang, memandangi leher yang terlihat rapuh di balik selimut. Pria itu masih sama: rapi, tenang, dan masih terlalu tampan untuk ukuran seseorang yang telah menghancurkan hidup orang lain. Bahkan saat wajahnya pucat, ia tetap terlihat seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau.
Kondisi ini sudah berlangsung sekitar enam bulan lamanya.. Ya, sedari awal kondisi Ashley memang tidak pernah bagus, semenjak mutasinya dari seorang Gamma menjadi Omega, ia sudah tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Hanya mampu menggerakkan sebagian tubuhnya, itupun tidak sempurna.
Namun kali ini, tepat selama seminggu terakhir ini, kondisinya semakin dan semakin memburuk. Ditambah lagi ia menunjukan reaksi intoleransi terhadap cairan serta obat yang masuk ke tubuhnya.
Setiap kali sebuah obat disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya, tubuhnya bereaksi seperti sedang diserang. Kulitnya memerah, napasnya sesak, dan jari-jarinya gemetar. Seolah-olah tubuhnya menolak untuk hidup… sama kerasnya seperti dirinya yang menolak pria yang memaksanya bertahan.
Sebenarnya, secara teori memang mustahil untuk mempertahankan hidup seorang Gamma yang telah bermutasi. Tidak ada satupun dokter yang mampu memulihkan pasien seperti ini.
Sudah merupakan keajaiban bahwa Ashley, yang telah melewati berbagai hal yang membuatnya berada di posisi antara hidup dan mati, selalu kembali hidup-hidup.
Ah.. Apakah kali ini juga aku akan kembali hidup? Kapan semua ini akan berakhir? Sambil menatap langit-langit dengan pandangannya yang mulai kabur, Ashley bergumam dalam hatinya.
Pukul berapa sekarang? Sudah berapa lama ini? Ia sudah lupa dan berhenti menghitung hari sejak kapan ia dibawa ke sini. Yang ia ingat hanya satu hal: pintu itu tidak pernah terbuka dari sisi dalam.
Ia melirik ke sampingnya. Ah, bajingan itu masih disini. Lagipula, apa yang aku harapkan? Dia sepertinya tidak akan pernah meninggalkanku.
Kesetiaan seorang pria adalah hal manis yang paling didambakan setiap orang. Namun berbeda dengan Ashley, tidak ada yang manis dari ‘kesetiaan’ seorang Dominic. Justru hal itu terasa sangat mencekik sampai terasa memuakkan.
Dahulu sekali, Ashley sering berharap, “Mungkin satu atau dua bulan lagi dia akan bosan denganku.” Lalu ketika waktu yang ia perkirakan itu meleset, ia akan kembali berharap “Mungkin satu tahun?” Dan terus berulang seperti itu sampai suatu hari dirinya menyadari bahwa tidak akan pernah ada akhir dari obsesi Dominic.
Ya, benar saja, sampai berpuluh tahun lamanya pun, sampai hari ini, obsesi iblis itu tetap ada. Malah rasanya, obsesi itu tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu.
Hanya beberapa detik kemudian dari perenungannya, Ashley merasa dirinya sangat mengantuk, ia hampir memejamkan matanya sampai sebuah suara tajam sampai ke telinganya,
“Jangan pejamkan matamu.” Dominic tidak melewatkan sedikitpun pergerakan yang terjadi pada tubuh Ashley.
Sudut wajah Ashley terangkat sedikit, membentuk senyuman yang, meskipun sarat akan ejekan, tapi tetap sangat indah dan cukup untuk membuat si hati iblis itu kembali jatuh dalam pesonanya.
Kemudian ia mendengus kecil, tapi suaranya berubah menjadi batuk. Ada rasa logam di lidahnya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan ketika ia melihat darah di sana, matanya tidak lagi terkejut.
Dominic yang biasanya tak menunjukkan reaksi apapun melihat adegan ini, kini bertindak sebaliknya. Tubuhnya refeks terangkat dari tempat duduknya dan wajahnya sepenuhnya pucat.
Karena ia tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan sang kekasih hati yang sangat dipujanya itu. Ia sangat tahu bahwa, seseorang di depannya ini tengah sekarat.
Meskipun, jauh di dalam lubuk yang orang sebut hati itu, dirinya mati-matian menyangkal kenyataan di depannya. Ia mati-matian menolak fakta bahwa Juliet-nya, akan segera tiada.
Jauh dari perlakuan kasar yang biasanya, ia membersihkan darah di sekitar mulut Ashley menggunakan kain selembut sutra dengan hati-hati.
Napasnya tidak lagi teratur. Kadang panjang, kadang pendek, kadang berhenti beberapa detik—membuat ruangan itu terasa seperti menahan napas bersamanya.
Dominic sudah duduk di tepi ranjang entah sejak kapan. Tangannya menggenggam tangan lemah Juliet-nya yang dingin, menggenggamnya dengan kuat, berharap dengan tekanan itu ia bisa memaksa darah dan kehidupan tetap mengalir.
“Kau akan tetap hidup.” Kalimat itu terasa seperti sebuah perintah mutlak. Namun siapa Dominic Miller itu berhak menentukan?
Di dalam kamar ini, kematian sedang mengetuk—dan untuk pertama kalinya, pria itu tidak punya kunci.
Berpuluh tahun aku memohon dan meminta. Apakah saat ini akhirnya kau datang menjemputku?
Aku sudah menunggumu selama ini, aku sudah sangat mendambakan momen ini—kematian.
Akhirnya aku bisa mengakhiri tiga dekade penuh derita ini.
Akhirnya.. kebebasanku…!
Dominic Miller pernah bersumpah tidak akan memohon. Tapi malam itu, dia menggenggam pergelangan tangan Omega di sampingnya itu seolah-olah itu satu-satunya alasan dia masih hidup.
“Jangan,” bisiknya. Suaranya pecah. “Jangan pergi.”
Tidak ada jawaban.
Bulu mata lelaki itu bergetar sedikit, seperti seseorang yang sedang mencoba bangun dari mimpi buruk yang terlalu berat. Matanya terbuka setengah, kosong, tetapi masih cukup sadar untuk melihat wajah di atasnya.
Bibirnya bergerak.
Dominic membungkuk cepat, hampir menempelkan telinganya ke mulut yang sudah tidak sanggup bersuara.
“K-Kau… Kalah. Aku akan pergi… dan kali ini… kau tak bisa menghentikanku.” Suaranya terputus-putus nyaris tidak terdengar. Tapi makna dari keseluruhan kalimat itu berhasil ditangkap.
Meskipun begitu ucapnya, sayangnya, Ashley tak akan pernah bisa lepas dari pria yang bernama Dominic itu.
Medekatkan dirinya wajah lesu lelaki itu, ia berkata “Kau akan tetap bersamaku. Kau milikku.” Dominic memeluk erat tubuh lemah Juliet-nya.
Meskipun pendengarannya sudah tak begitu tajam, Juliet dapat menangkap dengan jelas bisikan lirih selanjutnya yang diucapkan pria yang sangat ia benci.
“Aku mencintaimu… Ashley Juliet Dawson, aku sangat mencintaimu… Jangan tinggalkan aku…”
Suaranya sangat parau, bahkan hampir menghilang karena tercekik rasa sakit yang ia rasakan di lehernya. Konon, Alpha Dominan tidak bisa merasakan emosi apapun, begitupun dengan Dominic—seharusnya begitu. Seumur hidupnya ia dikenal sebagai makhluk tak berperasaan yang mampu melakukan kekejaman dengan wajah tersenyum tanpa empati sedikitpun.
Namun entah kenapa, setiap detik saat ini, rasanya… sangat, sangat menyakitkan untuknya.
“Aku akan ikut,” katanya lirih, seperti janji pada orang mati. “Kemanapun kau pergi, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kau akan selalu menjadi milikku, selalu.”
Lelaki itu tidak menjawab.
Tidak, Ashley tidak perlu menjawab. Karena beberapa detik kemudian, napas terakhir itu keluar dengan begitu pelan, begitu halus… seperti desahan yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.
Tidak ada suara dramatis.
Tidak ada kata perpisahan.
Hanya kesunyian yang tiba-tiba merambah menjadi terlalu besar.
Dominic tetap diam, menatap wajah itu lama sekali, seolah berharap dada itu akan naik lagi, seolah berharap dunia akan berubah pikiran.
Tapi ranjang itu tidak bergerak. Ruangan itu tidak bergerak. Dan tubuh di depannya… tidak lagi menjadi miliknya.
Tangannya gemetar ketika menyentuh pipi lelaki itu. “Bangun,” katanya pelan.
Tidak ada jawaban.
“Bangun.” Suara itu mulai patah.
“Ha ha…” Ia tertawa kecil, tapi tawanya terdengar seperti orang yang tenggelam. Ia menekan tangan itu ke bibirnya, mencium berulang kali, seperti orang gila yang mencoba menghidupkan sesuatu dengan ciuman.
Detik berikutnya, Dominic meraih ponselnya. Layar menyala, memperlihatkan daftar ruangan dan tombol-tombol yang selama ini ia gunakan untuk mengendalikan seluruh mansion: pintu utama, sistem alarm, kamera pengawas, suhu ruangan, lampu, bahkan kompor di dapur.
Jarinya bergerak, dan dengan satu sentuhan, sistem timer dari kompor induksi yang terletak di dampur telah menyala.
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada api yang langsung muncul. Hanya perubahan kecil di layar ponselnya—ikon kompor yang berubah warna, angka timer yang mulai berjalan mundur.
3 menit… 2…
Ia meletakkan ponsel itu kembali di meja, lalu kembali memeluk tubuh di sampingnya lebih erat, seperti orang yang takut kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.
Di dapur, pemanas induksi mulai bekerja. Panas naik perlahan, tanpa tergesa. Minyak dalam wajan yang sejak dulu siapkan mulai memanas, berkilau, bergetar kecil seperti permukaan air yang sedang mendidih.
Tidak ada siapa pun di sana untuk mematikan. Tidak ada siapa pun yang peduli. Karena di rumah besar ini, hanya ada mereka berdua.
Di balik dinding-dinding mahal, kabel-kabel listrik berdenyut seperti urat nadi. Ventilasi berbisik pelan. Mansion itu hidup… sampai ia mulai membunuh dirinya sendiri.
Pria itu menutup mata, menempelkan pipinya ke rambut yang dingin.
“Juliet…” katanya sekali lagi, seperti doa terakhir yang tak ada gunanya. “Aku mencintaimu.”
Di luar, malam menekan kaca jendela seperti bayangan besar yang ingin masuk.
Timer di ponsel berbunyi pelan. Satu bunyi kecil. Pip.
Lalu di kejauhan—di bawah lantai, di ujung lorong, jauh dari kamar itu—terdengar suara yang lebih pelan lagi.
Crack.
Seperti sesuatu yang patah.
Minyak yang terlalu panas akhirnya menemukan ujungnya. Api kecil menjilat udara, menyambar tisu dapur yang tergeletak terlalu dekat. Api itu tidak besar. Tidak langsung menjadi neraka. Ia hanya… lahir.
Tapi api tidak pernah lahir untuk tetap kecil.
Ia merambat cepat. Tirai panjang yang mahal di dekat dapur menangkapnya seperti tangan yang ingin ikut terbakar. Kain itu menyala, jatuh, menyebarkan bara ke lantai kayu.
Dalam hitungan detik, mansion itu mulai menghembuskan napas yang berbeda.
Dan di sisi lain mansion yang mulai terbakar itu, Dominic mengusap rambut yang kusut kekasihnya dengan ujung jari, lembut—terlalu lembut untuk tangan yang pernah mengunci pintu, menahan pergelangan, mematahkan kaki, memerkosa dan memaksa seseorang tinggal.
“Aku mencintaimu, Juliet-ku.” Mengeluarkan kalimat itu dengan nada suara paling tulus dan halus namun tetap sarat akan tekanan obsesif, Dominic mencium lembut bibir orang yang telah merenggut seluruh hidupnya itu. Dan entah sadar atau tidak, setetes air mengalir dari sudut matanya, turun hingga membasahi pipi Ashley.
Hingga kobaran api sampai di kamar tempat keduanya berada. Dominic tetap dengan teguh memeluk erat orang yang paling ia cintai seumur hidupnya. Tanpa gentar, sekalipun dikelilingi panas api yang berkobar.
Dan begitulah. Sampai akhir hayatnya, bahkan setelah kematiannya, Ashley Juliet Dawson tidak pernah sekalipun lepas dari Dominic.
