Work Text:
Masa depan. Naia sudah berkali-kali memikirkan tentang itu, tak jarang juga ia berfikir sesuatu yang aneh akan terjadi. Walau dibekali dengan ilmu dari setiap buku sihir, ia kerap membutuhkan waktu lebih untuk sekedar membaca ramalan bahkan milik kliennya sendiri. Garis gelap yang menghiasi kantung matanya menjadi sebuah bukti bisu atas kerja kerasnya.
Helaan nafas berat dilepaskan oleh sang puan. Ia menatap kelima kartu yang ia ambil dengan tatapan sendu—untuk kali ini saja, Naia berharap kalau ia bisa pura-pura tidak paham akan arti dari setiap kartu-kartu ini. Sang puan menyibakkan rambut depannya ke samping, menyeka keringat yang muncul di keningnya-ia sudah memutuskan destinasinya di malam hari ini. Bar Di Antara.
—
“Jadi, gimana?” tanya Naia sekali lagi, kali ini ia mendesak sebuah jawaban daripada sebelumnya. Suasana bar yang tidak begitu ramai, atau bahkan tergolong sepi berhasil membuat suara Naia terdengar lebih jelas daripada biasanya—walau biasanya sang pemilik tau kebiasaan berteriak Naia begitu melangkahkan kaki ke Di Antara.
Pria berkulit tan itu masih sibuk merapihkan gelas martini yang selesai ia lap dan ditata rapi di atas meja panjang. Walau diiringi lantunan musik jazz yang menenangkan, Naia sempat membeku mendengar suara dentingan gelas yang bertabrakan. Ia khawatir akan respon yang akan dilontarkan oleh Sadewa.
“Ya.. saya ga percaya yang kayak gituan.” Naia mengangkat kepalanya ke atas, keningnya berkerut seolah kecewa; namun kenapa?
“Masa depan itu rahasia buat semua orang, dan saya nggak begitu percaya dengan ramalan. Not that I don't respect your job, dear.” Naia hampir dibuat meleleh atau mungkin naik pitam. Sialan. Masalah sebesar ini dan sang kekasih sempat-sempatnya merayu. Melihat rona merah yang mulai merambat di pipi sang puan, Sadewa tertawa kecil. Sebelum kembali memasang tampang serius,”Masa depan saya itu di tangan saya sendiri. Jadi selama masih ada waktu untuk hidup—”
Ah, benar. Fokus Naia!
BRAK!
“whoa-” Hening. Naia menggebrak meja bar, beruntungnya after hours telah berakhir; tidak ada mata yang memandang atau gelas yang terluka di cerita ini.
“Naia..” Sang puan membenci dirinya karena bertingkah seperti ini, tapi Sadewa harus mendengar dari sisinya dulu.
“Ini masalah serius! Semua klien saya kalau dapet kartu ini selalu berakhir buruk Sadewa!” Sadewa menghela nafas pelan, mungkin berusaha untuk tetap tenang.
“Naia.” panggilnya dengan sedikit pelan. Wanita berkebaya itu sekali lagi terbeku, kali ini manik sang puan akhirnya bertemu dengan manik sang tuan. Walau hanya sekilas, Naia melihat kening sadewa berkerut, lamatnya sedikit cemberut—pandangan yang langka dari bartender Di Antara yang Naia kenal.
“Finally you look at me.. And my God, kamu udah berapa hari ga tidur?” tanya Sadewa cemas, tangannya meraih pipi sang kekasih. Pupil mata melebar, hanya sesaat; cukup untuk menghindari tatapan khawatir Sadewa. Kehangatan tangannya memberikan sedikit kenyamanan yang tak ingin ia akui.
Naia terkekeh kecil, nyalinya menciut untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Ia tau kalau Sadewa tidak akan menyukai jawabannya.
“Darling.. talk to me. Honestly, what's all of this?”
“Stop flirting mu itu, Dewa, ga mempan sama dukun hebat seperti watashi ini~"
"Buruan, Naia." desak Sadewa pelan, "Kemarin, aku… nyoba buat baca masa depan, biasanya aku ngga pernah nyoba.”
Tak..
Segelas teh hangat sukses mendarat di depan Naia. Sadewa sekarang melipat tangannya, memperhatikan dan mendengarkan cerita sang puan dengan seksama.
“Ada lima kartu yang aku ambil, buat ngecek situasi aja buat kalian, aku ngga ada niatan untuk baca banyak.. Pertama ada the tower; sesuatu di masa lalu yang terungkap itu bawa sesuatu sekarang, perubahan yang terjadi di masa sekarang.” Sadewa kemudian keluar dari meja bartendingnya, menempatkan dirinya di sebelah Naia. Tangannya ikut membawa satu gelas minuman berada di tangannya; Naia tidak perlu bertanya untuk tahu itu adalah alkohol.
“Kurangin minum gituan dew, aku aduin kembaran mu itu loh!”
“Nakula lagi di luar kota, sama ini kopi kocak!” Balas Sadewa dengan nada tinggi, tidak mengira kalau Naia akan berganti topik. “Udah buruan ceritanya, saya udah invest ke cerita kamu loh tadi.” cerocos Sadewa sebelum menyesap kopinya pelan.
“Jadi.. ada sesuatu yang besar, signifikan dan cepat. Kedua itu three swords...” Lidah sang puan terasa kelu, “Sesuatu yang buruk bakalan terjadi, mungkin dalam hitungan minggu. Ketiga, ada reversed high priestess, di masa depan itu; ada sesuatu yang bikin kalian ragu, ada ketidakseimbangan diantara kalian..”
“Keseimbangan?” tanyanya pelan.
“Sesuatu yang terjadi itu bakalan bikin kalian ragu untuk bergerak. Saran saya buat percaya sama insting kamu, atau akan terjadi penghianatan-”
TAK
Sadewa menjauhkan gelasnya dari bibirnya, “Whoa whoa, betrayals? Really?”
“The future holds many possibilities, ‘kay? Ini saya boleh selesaiin yapping saya gak?” Senyuman tipis usil Sadewa kembali menghiasi wajahnya. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, layaknya seorang penjahat ketika seorang polisi menangkapnya.
“Ke empat, kalian harus fokus buat tujuan kalian, ambisi kalian. Kalian beruntung dapet arcana Chariot. Kelima.. Sun arcana kalian harus hilangkan negativity kalian, sesuatu yang negatif bakalan bawa kalian makin ke ujung jurang..”
“Boleh ga saya misalnya narik satu kartu? A simple yes or no question aja, bisa ga?”
Naia membulatkan matanya, ia tidak menyangka kalau Sadewa akan tertarik dengan tarot. “Huh? Y-ya bisa aja sih cuman–”
“Yaudah, besok. I'll pay you a visit.”
“Ih? Situ kok ngatur sih?”
Ah, Naia yang biasa sudah kembali.
