Chapter Text
Seonghyeon as Yasa
Keonho as River
“Nama Yasa Nabiel Reyshiva, panggil gue Yasa, pindahan dari SMA 4.” Perkenalan singkat dari seorang pemuda bertubuh kurus dan tinggi tak lebih dari 170 cm menyita atensi puluhan pasang mata di ruangan itu. Sebuah ruangan dengan papan bertuliskan XII IPA 2 terpasang dengan apik di atas pintu ruangan tersebut.
Puluhan pasang mata di ruang kelas itu nampak menaruh minat dengannya. Terlihat antusias terutama kaum hawa yang terang-terangan bergosip ria dengan teman sebangkunya sambil tersenyum-senyum melihat ke arahnya. Bahkan ada yang terang-terangan menanyakan soal statusnya.
“Yasa udah punya pacar belum?” Tanya seorang gadis cantik yang duduk di kursi nomor 2 dari depan di barisan paling kanan tanpa malu-malu. Tentunya hal itu membuat seisi kelas menyorakinya.
“Yeeee, mulai.. mulai!” Cibir seisi kelas. Gadis itu menanggapi dengan lirikan singkat dan dengusan tanda tak peduli.
Yasa menoleh, memperhatikan gadis tersebut sebelum menjawab pertanyaannya. “Belum.” Jawabnya singkat.
“Mau jadi pacarku gak? Kebetulan aku lagi single loh.” Sahut gadis itu, memberikan pertanyaan kembali.
“Sama gue aja!”
“Gue, gue juga jomblo loh, jangan mau sama Dean.”
Para siswi di kelas itu saling menyahut, berlomba-lomba mencari perhatiannya. Bahkan ada yang adu mulut karena ingin menjadi pacarnya. Memang pesona Yasa tak bisa diragukan lagi, perempuan bahkan laki-laki akan tertarik padanya. Kulit putih, tubuh kurus, dan wajah manisnya yang terkesan cantik untuk ukuran seorang laki-laki mampu menarik perhatian siapapun. Sayangnya mereka sama sekali tak menarik perhatian Yasa.
Guru yang sejak tadi memantau sudah cukup lelah dengan keadaan tersebut sampai dia mengakhiri keributan yang sedang terjadi.
“Sudah, sudah. Jangan ribut. Yasa silahkan kamu duduk di sebelah Gian.” Guru yang sudah cukup berumur itu, Pak Heru namanya, menunjuk seorang cowok yang tingginya kira-kira hampir sama dengannya, duduk di barisan nomor 3 di sebelah kiri.
Yasa mengangguk sekilas, kakinya mengayun, melangkah menuju bangkunya dan duduk di sana. Berkenalan sekilas dengan teman sebangkunya, kemudian mulai memperhatikan Pak Heru, guru Matematika sekaligus wali kelas mereka mengajar.
Ketika pandangannya mengedar ke sekeliling kelas, netranya berhenti di satu titik. Seorang cowok memakai hoodie hitam lengkap dengan kupluknya menutupi kepala pemuda itu. Cowok itu menidurkan kepalanya tanpa beban di meja yang ada di depannya.
Kening Yasa mengerut bingung. Bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa cowok itu memakai hoodie di dalam kelas? Bukannya itu dilarang? Bahkan cowok itu juga nampak tertidur di tengah pelajaran. Kenapa Pak Heru membiarkannya saja?
Senggolan di lengannya menyadarkan Yasa, dia pun berhenti mengamati cowok itu. Mengalihkan pandangannya ke Gian.
“Kenapa?” Tanya Gian. Dia merasakan sejak tadi Yasa tak fokus dengan pelajaran dan menatap ke satu titik. Gian ikut menatap ke titik yang menjadi pusat perhatian Yasa sebelumnya. Cowok berwajah manis itu ber-oh ria setelah melihat apa yang Yasa lihat.
“Oooh, dia.” Dia menatap ke depan, memperhatikan Pak Heru menerangkan materi yang menurutnya susah minta ampun. Demi apapun Gian benci matematika. Tapi dia harus lulus di mata pelajaran ini, makanya dia harus belajar dengan benar.
“Ken—” Belum sempat Yasa mengutarakan isi pikirannya, Gian sudah memotong kalimatnya.
“Bicaranya nanti aja, Pak Heru paling nggak suka ada yang ngobrol pas pelajarannya.”
Yasa bungkam, memilih untuk memperhatikan Pak Heru kembali yang kini tengah memberikan contoh soal di papan tulis sana.
***
Bel istirahat pertama berbunyi satu menit yang lalu. Tanpa banyak pikir murid di kelas baru Yasa langsung tancap gas ke kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan. Beberapa juga masih stay di kelas, berkenalan dengan Yasa ataupun memakan bekal dari rumah, atau bahkan ada yang tak mempedulikan sekitarnya sama sekali, sibuk dengan gawai yang dimainkannya. Cowok yang menjadi pusat perhatian Yasa tadi contohnya.
“Gi—” Yasa belum selesai memanggil nama teman sebangkunya ketika kalimatnya terpotong kembali oleh pemuda di sebelahnya itu.
“Gue tau apa yang mau lo tanyain.” Ujar Gian tanpa menoleh ke Yasa. Tangannya merapikan buku mata pelajaran sebelumnya, memasukkan ke dalam tas. Ketika dia sudah selesai dengan kegiatannya itu, barulah dia menaruh perhatian pada Yasa.
“River.” Satu kata yang keluar dari mulut Gian membuat Yasa bingung. Tak paham dengan apa yang Gian ucapkan.
“Hah?”
“Namanya River. Cowok yang lo perhatiin sejak tadi.” Terang Gian. Dia menunjuk kecil ke arah cowok di pojokan sana, pemuda dengan hoodie hitam yang masih melekat di tubuhnya, yang kini telah berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa kata.
River? Namanya River? Sungai? Netra Yasa terus mengamati sampai pemuda yang katanya bernama River itu hilang dari pandangannya.
“River?” Gumam Yasa.
“Lo pasti heran, kenapa dia pake hoodie di kelas bahkan tidur pas pelajaran dan nggak ada yang memarahinya.” Ujar Gian. Dia mengambil satu buah sandwich dari kotak bekalnya dan memakannya.
“Mau?” Tawarnya pada Yasa. Yasa tentunya menggelengkan kepala. Dia tak lapar. Gian mengedikkan bahunya dan kembali memakan bekalnya.
Yasa masih diam, menunggu kalimat yang hendak Gian ucapkan. Cowok kurus itu masih setia menunggunya, sampai Gian menghabiskan satu potong sandwich barulah dia berbicara.
“Satu hal yang perlu gue ingetin ke lo. Jangan pernah coba-coba bikin masalah sama dia.” Ujar Gian.
“Kenapa?” Tanya Yasa, alisnya hampir menyatu dengan kening yang mengerut. Gian mengabaikannya dan makan sisa bekalnya. Setelah memakan habis sandwich-nya barulah dia menjawab pertanyaan Yasa.
“Dia bahaya, angker. Lo rasain auranya udah kaya setan kan? Hii.” Gian bergidik ngeri.
Bagi Yasa, jawaban Gian belum membuatnya puas. Dia terdiam sambil menatap Gian dengan raut datarnya. Gian menoleh merasakan aura Yasa yang tak enak, mendapati raut itu Gian pun menyengir lebar.
“Hehe, canda kok.”
“Oke, jadi gini. River, dia itu emang bahaya, setiap ada yang coba deketin dia bahkan buat ngajak temenan pun pasti bakal berakhir nggak baik. Keesokannya orang yang coba deketin atau nyari gara-gara sama dia baik cewek ataupun cowok, bakal ngerasa ketakutan, gue nggak tau itu kenapa. Tapi bisa dipastikan River ngelakuin sesuatu sama mereka sih.” Gian nampak berpikir, Yasa tak tahu teman barunya itu memikirkan apa.
“Intinya, lo harus jauh-jauh dari dia.” Ujar Gian. “Ah, iya, gue belum bilang, dia suka pake hoodie hitam, kemanapun, bahkan di kelas pas pelajaran pun dia selalu pake.”
“Bukannya nggak boleh pake hoodie atau jaket di dalem kelas kecuali karena sakit? Dan dia juga tidur pas pelajaran, kenapa tadi Pak Heru diem aja?” Tanya Yasa.
“Itu udah biasa.” Gian melambaikan tangannya, “Guru-guru di sini udah pasrah, berkali-kali River ditegur sama guru, masuk ruang BK, bahkan kepala sekolah ikut turun tangan atas kelakuannya yang seenaknya itu, tapi nggak mempan, juga rumornya sih keluarganya cukup berpengaruh di sekolah ini, makanya dia bisa bebas.”
Yasa mencerna setiap perkataan Gian sampai bahunya ditepuk dan membuatnya sadar. Dia melihat Gian sudah berdiri dari duduknya, entah mau kemana.
“Gue mau keluar, ikut gak? Gue kenalin ke sekolah baru lo ini.” Tawarnya. Kedua alisnya naik turun beberapa kali. Tak mau menolak, Yasa akhirnya ikut dengan Gian berkeliling sekolah barunya.
Gian, pemuda itu tak berhenti mengoceh sejak tadi mengenalkan seluk beluk sekolah, bahkan mereka sudah mengelilingi sekolah hampir 15 menit sampai waktu istirahat berakhir membuat mereka kembali ke kelas mengakhiri pekerjaan Gian sebagai tour guide sekolahnya yang juga sekolah baru Yasa.
***
Sudah seminggu Yasa menjadi murid baru di SMA 2, sudah seminggu pula dia memperhatikan cowok yang selalu memakai hoodie yang kini duduk di bangkunya sambil memakai earphone tanpa peduli keadaan sekitarnya.
Cowok itu, River, benar-benar selalu sendiri, selama seminggu itu tak pernah Yasa melihatnya berinteraksi dengan siswa lainnya. Tidur selama pelajaran dan pergi ketika istirahat, entah kemana perginya. Pernah sekali Yasa mengikutinya di hari ke tiga dia sekolah di sana. Namun, dia kehilangan jejaknya, langkah kaki River yang lebar dan cepat membuatnya tertinggal jauh. Yasa pun menyerah dan kembali ke kelas. Hari esoknya sama, Yasa mengikutinya, dan lagi-lagi Yasa tertinggal.
Yasa tak tahu kenapa dirinya terus memperhatikan pemuda itu, seperti ada sesuatu dalam diri River yang menariknya hingga dia terus menaruh atensi padanya.
Istirahat kedua sudah dimulai. Bisa dilihat, River bangkit dari duduknya dan keluar dari kelas dengan langkah yang lebar. Tubuh tinggi dan besar, serta raut wajah dinginnya yang nampak angker membuat beberapa siswa-siswi yang dia lewati menyingkir begitu saja.
Kesempatan. Yasa segera menyusulnya dan mengikuti dari belakang. Langkahnya sedikit berlari mengejar, tak mau tertinggal seperti sebelum-sebelumnya.
Netranya melihat River berbelok ke arah koridor yang sudah cukup sepi, mengarah ke pekarangan belakang sekolah, seperti yang dikatakan oleh Gian saat pertama kali dia masuk dan mengajaknya keliling.
Ketika dia berbelok, tiba-tiba River sudah menghilang. Yasa berhenti. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Namun, tak ada satupun petunjuk kemana River menghilang.
“Nyari gue?”
Deg
Suara itu berasal dari belakang tubuhnya, jelas sekali, terasa seperti di samping telinganya. Tubuh Yasa menegang. Sedikit merinding saat mendengar suara berat dengan nada rendah itu. Mata kucingnya membulat lebar. Perlahan Yasa berbalik. Menatap horor pada pemuda itu, siapa lagi kalau bukan River.
Netra River yang seperti elang menatapnya tajam, menanti kalimat yang akan diucapkan oleh Yasa. Raut wajahnya masih dingin seperti biasa. Dia mengamati Yasa dari atas sampai bawah, lalu menatap tepat ke dalam netranya kembali.
Seperti ada sesuatu yang menyedotnya ketika menatap netra itu. Yasa terpaku, bagai terhipnotis dengan tatapan pemuda di depannya.
“Kenapa lo ngikutin gue?” Tubuh Yasa tersentak mendengar pertanyaan River yang tiba-tiba keluar dengan nada yang dingin sedingin tatapannya. Terlalu mengintimidasinya.
“Gu-gue... Ng-nggak ngikutin lo.” Tergagap, Yasa merasa gentar dengan pemuda di depannya.
“Oh ya?” Sebuah senyum terlukis di bibir tipis River, bukan senyum yang terkesan ramah. Tapi senyum miring yang membuat Yasa semakin gentar di tempatnya. Apalagi pemuda itu kini sudah memojokkannya ke tempat yang sedikit gelap dan tak akan ada yang melihat mereka ketika ada yang melewatinya.
“Y-ya...” Yasa mulai menenangkan dirinya, bersikap seperti biasanya. Tapi terasa sulit sekali. Entah mengapa.
Senyum di wajah River menghilang digantikan wajah bengisnya. “Gue tahu beberapa kali lo ngikutin gue.” Ujarnya lirih. Netranya mengamati wajah pucat Yasa yang terkejut mendengar kalimatnya. Bisa dia lihat, pemuda manis di depannya berusaha mengontrol ekspresinya agar terlihat tenang.
“Gu-gue nggak, lo.. lo salah liat kayaknya. Itu bukan gue.” Sangkal Yasa. Dia mencoba sedikit mendorong tubuh River yang menekannya ke dinding di belakangnya.
River hanya menatap Yasa selama beberapa detik dan melirik nametag Yasa sebelum beranjak dari sana dan mengatakan sebuah kalimat.
“Jangan ngikutin gue lagi, atau lo bakal tau akibatnya Yasa Nabiel Reyshiva.” Kalimat ancaman itu membuat Yasa sedikit takut. Tapi rasa takutnya kalah dengan rasa penasarannya. Baru saja dia ingin kembali mengikuti River, tapi bunyi dering ponselnya mengharuskannya menunda hal itu.
“Hallo?”
***
Sore itu, hujan turun dengan derasnya. Padahal siang tadi terlihat sangat cerah. Tiba-tiba sorenya bumi diguyur hujan. Memang cuaca sekarang tak bisa diprediksi.
Hujan membuat Yasa terjebak di sekolah, tak bisa pulang ke rumahnya karena dia tak membawa payung. Sedikit ceroboh memang, di saat cuaca tak menentu seperti sekarang ini harusnya dia menyiapkan benda keramat di musim hujan itu yang sewaktu-waktu dibutuhkan seperti sekarang ini.
Yasa mendesah kesal karena hujan nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Dia lelah, apalagi hari ini dia ada pelajaran olahraga. Dia kurang menyukai yang namanya olahraga, bisa dilihat dari tubuhnya yang kurus seperti tak pernah berolahraga. Olahraga pun hanya di sekolah saja ketika jam-nya.
Tak hanya dirinya yang terjebak oleh hujan, beberapa siswa-siswi yang senasib dengannya kini hanya bisa meratapi nasibnya sambil duduk di depan kursi beton yang ada di depan kelas mereka. Yasa tak kenal, lagian juga dia tak mau beramah tamah. Dia tak terlalu menyukainya, lebih nyaman dalam kesendirian.
Yasa pun memutuskan untuk kembali ke dalam kelasnya yang sudah sepi. Hanya ada dirinya dan—
Tunggu. River? Sejak kapan cowok itu ada di sana? Bukannya sudah pergi beberapa waktu lalu?
Yasa berhenti di depan pintu. Dilema. Apakah dia harus masuk, atau keluar kembali. Mengingat di sana hanya ada dia dan River. Namun, karena hawa semakin dingin dan dia ternyata lupa membawa jaketnya, Yasa memutuskan untuk masuk dengan langkah ragu. Duduk di bangku paling depan, tempat duduk Naila, salah satu siswi yang merupakan siswi paling rajin dan paling pintar di kelasnya.
Menit demi menit berlalu, hujan masih belum berhenti. Hari sudah semakin sore. Yasa sedikit takut. Beberapa siswa di depan kelas tadi dengan gagahnya melawan hujan tanpa peduli pakaian serta tasnya basah, mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Semakin sepi, mungkin di sekolah hanya tersisa dirinya dan River.
Sampai setengah jam kemudian hujan pun akhirnya berhenti. Yasa merasa lega. Dia bangkit dari duduknya, netranya tak sengaja menoleh ke arah River.
Yasa tak tahu kenapa pemuda itu masih di sana, menelungkupkan wajahnya diantara lipatan tangannya di meja. Sepertinya tidur. Yasa sebenarnya tak mau peduli, tapi entah dorongan dari mana dia malah melangkahkan kakinya menuju cowok itu berada. Berdiri di sampingnya dan sedikit menunduk.
Tangannya mengambang di udara ketika hendak membangunkan cowok itu dan memberi tahunya bahwa hujan sudah berhenti. Yasa ragu, takut. Setelah berpikir matang-matang akhirnya dia pun menyentuh pundak River. Membangunkannya.
“Hei, bangun. Lo nggak mau pulang?”
Tubuh di hadapannya menggeliat kecil. Yasa pun menjauh. River mengusap kelopak matanya sedikit kasar, dan menatap sekelilingnya dalam diam sampai dia menemukan Yasa berdiri di sampingnya. Menatapnya agak lama sebelum bangkit dan meraih tasnya yang terlihat ringan dan memakai kupluk hoodie-nya. Tanpa pamit, bahkan satu kata pun tak terucap dari bibirnya, River pergi begitu saja meninggalkan Yasa yang cengo di tempatnya sambil melihatnya pergi.
“Seenggaknya bilang makasih kek.” Gerutu Yasa. Dia pun keluar dari kelas dan bertemu dengan penjaga sekolah yang hendak mengunci kelasnya. Yasa menyapa sekilas sebelum berjalan pulang ke rumahnya yang dia tempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya cukup dekat dari sekolah. Lagian sudah hampir malam begini kendaraan umum juga sudah jarang dan membuat Yasa memilih berjalan kaki. Alasan lainnya karena ponselnya mati sehingga tak bisa memesan ojek online.
Yasa sampai di rumah tepat adzan Maghrib. Ibunya menyambut dirinya yang baru pulang dan tentunya mengintrogasinya kenapa dia baru pulang. Yasa menjelaskan alasannya dengan singkat dan langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
“Nabiel, tolong belikan ibu gula. Ibu lagi bikin kue, gulanya habis.” Terdengar suara samar yang memanggilnya dari lantai bawah. Suara ibunya yang memintanya membelikan gula.
Ya. Memang keluarganya memanggilnya Nabiel bukan Yasa. Hanya keluarganya yang memanggilnya seperti itu. Rata-rata temannya di sekolah lama—kalau bisa disebut teman—memanggilnya Yasa, sama seperti dia mengenalkan diri di depan kelas barunya satu bulan yang lalu.
“Iya, Bu.” Yasa bangkit dari tidurannya. Mengambil hoodie abu-abu kesayangannya, lalu memakainya. Yasa pun pergi membelikan apa yang ibunya minta, sekalian jalan-jalan.
Hari sudah gelap, hawa dingin terasa menusuk ke dalam tulang karena hujan sebelumnya. Yasa menyusuri jalan yang sudah dia hapal sejak kepindahannya sebulan yang lalu di daerah itu. Tak terlalu ramai karena termasuk perumahan yang luas dan terkesan sepi. Perumahan elit.
Yasa merasa sedikit beruntung bisa tinggal di sana. Sebelum ibunya menikah lagi dengan pria yang menjadi ayahnya sekarang. Mereka tinggal di kawasan perumahan biasa. Ketika mendengar ibunya mau menikah lagi dengan seorang pria yang merupakan bos di tempat ibunya bekerja, Yasa bereaksi biasa saja. Namun, dalam hati dia merasa sedikit lega. Beban ibunya sedikit terangkat, ibunya tak akan bekerja keras lagi untuk menghidupi mereka sepeninggalan ayah kandungnya.
Yasa selesai dengan belanjanya dan saat dia pulang dari minimarket, netranya melihat sosok itu, sosok cowok yang mencuri perhatiannya. River.
Sejak kejadian waktu itu di koridor sepi itu, Yasa sama sekali tak mengikutinya kembali. Dia menjalani kehidupan sekolahnya dengan damai dan terasa flat seperti biasa. Yasa hanya melihatnya dari tempatnya duduk, mengamatinya tanpa berani untuk mendekat padanya. Baru tadi sore Yasa memberanikan diri untuk bicara padanya, itu saja dia berusaha mati-matian.
Yasa semakin mendekat ke arah River yang duduk dengan posisi aneh di pinggir jalan. Betapa terkejutnya melihat wajah River penuh lebam dan darah mengalir di sekitar pelipisnya, bibirnya juga robek.
“River!” Yasa bergegas menghampiri River. Membantu cowok itu ketika dia hendak berdiri tapi selalu terjatuh.
“Lepas!” Tolak River.
“Gue bantu.”
“Nggak usah, minggir.” River tetap menyingkirkan tangan Yasa yang hendak membantunya. Yasa menyingkir, sedikit merasa sakit hati karena menerima penolakan. Baru satu langkah berjalan, tubuh River limbung dan jatuh kembali ke aspal basah.
“Lihat lo bahkan nggak bisa jalan sama sekali.” Ujar Yasa, mengamit tubuh besar dan jangkung River, memapahnya walaupun mendapat penolakan berkali-kali sampai dia memberi sebuah ancaman.
“Lo mau mati di sini? Kalo iya gue biarin tubuh nggak berdaya lo tergeletak mengenaskan, dan gue rasa sebentar lagi bakal hujan.”
“Atau lo mau gue bantu, ikut ke rumah gue. Jaraknya nggak terlalu jauh dari sini. Pilih mana?”
Entah hilang kemana ketakutan dalam diri Yasa ketika menghadapi River. Nalurinya ingin membantu cowok itu, mengobati lukanya yang terlihat parah.
River yang memang sudah tak berdaya, hanya pasrah di rangkul oleh Yasa menuju rumahnya. Sampai di rumah ibu Yasa nampak panik melihat anaknya membawa seorang pemuda yang terluka. Ibunya menyuruh Yasa untuk mengambilkan P3K dan mengobati River. Setelahnya, ibu Yasa kembali membuat kue.
“Nabiel, suruh temanmu istirahat di kamar kamu, sayang.” Ucap ibunya dari arah dapur.
Yasa berdecak pelan. “Iya, Bu.”
“Ayo.” Yasa mengajak River ke kamarnya. Ketika dia hendak memapahnya, River menolak.
“Gue mau pulang.” Lirihnya. River berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Berjalan meninggalkan rumah itu.
“Lo nggak bisa pulang. Lihat keadaan lo.” Larang Yasa.
“Sampein makasih ke ibu lo.” River melirik sekilas ke Yasa, tak menghiraukan ucapan cowok cantik berlesung pipi itu. Keluar dari rumah Yasa dengan sedikit tertatih. Yasa hanya melihatnya dalam diam sampai ibunya datang dan heran River sudah tak ada di sana.
“Lho, kemana temanmu?”
“Pulang. Dia bilang makasih buat ibu.” Yasa meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya Yasa berpikir, kenapa River bisa babak belur seperti itu. Apa dia habis berkelahi dengan seseorang? Banyak pertanyaan mampir di kepalanya. Tak ada satupun pertanyaannya yang menemukan titik terang, Yasa pun akhirnya memutuskan untuk tidur sampai keesokan harinya.
***
“Yasa!”
Yasa menoleh ketika namanya dipanggil dengan begitu jelas di koridor menuju kelasnya. Netranya melihat Gian setengah berlari menuju arahnya dengan seorang pemuda tinggi dengan wajah setengah bule di sampingnya. Yasa tak mengenalinya.
“Hei... Baru dateng juga lo?” Tanya Gian ketika sudah berada di depan Yasa. Yasa hanya mengangguk singkat sambil melirik ke cowok yang lebih tinggi dari mereka itu di samping Gian. Gian menyadarinya, dia menarik cowok itu, merangkulnya dengan akrab dengan sedikit berjinjit.
“Kenalin, Gemma, cowok gue.” Gian sedikit berbisik ketika mengucapkan kata terakhirnya. Senyumnya lebar, wajah terlihat tampan sekaligus manis secara bersamaan.
Yasa melihat Gian dan Gemma, pemuda itu, secara bergantian. Agak aneh menurutnya kedua pemuda di depannya memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman untuk dua ukuran dua orang cowok. Bukannya apa, Yasa tahu kok, banyak juga pasangan sesama jenis di sekolahnya, selama dia bersekolah di sana lebih dari satu bulan beberapa kali dia melihatnya. Hanya saja, Gian? Yasa pikir Gian pemuda straight yang menyukai perempuan, mungkin karena dia jarang melihat Gian bersama cowok bernama Gemma itu makanya dia sedikit terkejut.
“Gemma.” Gemma mengulurkan tangannya, mengajak Yasa berkenalan.
“Yasa.” Yasa menyunggingkan senyum tipis membalas senyum yang terpatri di bibir Gemma. Tampan.
“Lo kaget ya, gue punya cowok kaya gini.” Gian mencubit pipi Gemma tanpa izin, menimbulkan reaksi penolakan oleh cowok itu.
“Ya... Gitu.” Balas Yasa. Memang dia merasa bingung. Agak canggung sebenarnya.
“Sambil jalan aja deh.” Gian menarik Gemma agar berjalan di sampingnya. Yasa mengikutinya.
“Gemma ini baru selesai pertukaran pelajar ke Inggris. Makanya lo gak pernah lihat.” Terang Gian.
“Kalian udah lama, errr.... pacaran?” Tanya Yasa.
Gian menoleh ke Gemma. “Hampir tiga tahun, sejak gue sekolah di sini.”
Wow. Cukup lama juga hubungan mereka. Senyum merekah di bibir pasangan itu. Yasa bisa melihatnya, mereka benar-benar saling mencintai.
“Gue ke kelas dulu, jangan bandel.” Ucap Gemma pada Gian ketika sampai di depan kelas XII IPA 2, kelas Gian dan Yasa.
“Nggak janji.” Balas Gian yang mendapat usakan di kepala oleh Gemma.
“Duluan, Yas.” Pamitnya ke Yasa. Berjalan menuju kelas yang ternyata ada di samping kelasnya. Gian masuk ke dalam kelas diikuti Yasa di belakangnya.
Yasa mengedar ke sekeliling kelas. Netranya berhenti di titik itu, di sana River sudah duduk di bangkunya, memakai hoodie seperti biasa dengan kepala tenggelam pada lipatan tangannya di meja.
Apa lukanya sudah diobati lagi? Perbannya sudah diganti? Yasa terus memperhatikan sampai tiba-tiba River menoleh padanya. Karena dua bangku dari tempatnya masih kosong, bisa dengan jelas River sedang melihat ke arah dengan tatapan setajam elangnya. Apa dia merasa diperhatikan?
Seketika tatapan mereka beradu. Yasa semakin tertarik untuk melihat ke dalam netra itu, tak bisa dialihkan. River pun masih menatapnya terus menerus sampai beberapa detik kemudian dia memalingkan wajahnya lebih dulu dan kembali menenggelamkan wajahnya selama lima menit, setelahnya dia bangkit dari duduknya dan pergi dari kelas. Pandangan Yasa terus mengikutinya.
Yasa penasaran, kemana perginya River, padahal jam masuk akan berbunyi beberapa menit lagi. Tanpa pikir panjang. Yasa berdiri, setengah berlari ke luar kelas menyusul perginya River. Teriakan Gian yang memanggilnya dia abaikan.
Firasatnya, River pergi ke pekarangan belakang sekolah, seperti waktu itu. Ya walaupun dia gagal mengikuti tapi Yasa tahu pasti River ada di sana.
Sesampainya di sana netra Yasa mengedar mencari sosok River yang tak terlihat. Yasa berjalan semakin jauh melewati alang-alang setinggi pinggangnya. Tempat tersebut tak pernah diurus. Setelah melewati alang-alang ada hamparan rumput dan sebuah pohon besar. Yasa bisa melihatnya, River. Cowok itu ada di balik pohon itu, duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sana. Yasa dengan ragu menghampirinya.
“Lo jadi orang ngeyel banget ya?” Suara yang Yasa pastikan berasal dari River, membuatnya berhenti di tempat, tepat di belakang River.
“Ekhm... Lo di sini ternyata.” Ucap Yasa. Dia memberanikan diri mendekati River. Tepat di samping River, Yasa berdiri. Dia merasa canggung dan sedikit takut.
Entah keberanian dari mana, Yasa ikut mendudukkan dirinya di samping River. Tanpa ragu sama sekali.
“Ngapain lo duduk?” Pertanyaan dingin itu menghentikan sejenak niat Yasa untuk duduk. Namun, Yasa mengabaikannya dan memilih duduk kembali di samping River.
“Lo sering ke sini?” Yasa bertanya. Netranya melihat pemandangan di depan sana yang menurutnya tak menarik sama sekali. Hanya ada dinding pembatas sekolah yang usang dan sudah tercoret-coret dan rumput-rumput liar.
Yasa menoleh ke River, melihat cowok itu diam saja sambil memejamkan matanya. Yasa bisa melihat jelas luka lebam di wajah tampan cowok itu. Dia mendekat ke River saat dia tahu cowok itu nampaknya sedang tidur, dilihat dari caranya bernapas.
Wajah tampan River seperti menariknya untuk semakin mendekat. Dilihat dari sedekat ini ternyata memang River benar-benar tampan, sangat. Hidung mancung, pipi tirus, bibir penuh dan alis tebalnya, semuanya nampak sempurna. Yeah, walaupun ada beberapa lebam di wajah itu, tak mengurangi kadar ketampanannya.
Yasa tak tahu dorongan dari mana yang membuatnya menyentuh wajah itu, tepat di luka robek di ujung bibir River. Pasti sakit. Tangannya sudah terangkat untuk menyentuhnya dan betapa terkejutnya ketika ada tangan lain yang menahannya dan detik itu pula netra River terbuka lebar dan menatapnya tajam, bagaikan laser.
“Lo ngapain?” Tanyanya dengan nada kelewat dingin. Bulu kuduk Yasa berdiri mendengarnya. Dia menegang di tempat dengan tangan di udara dicekal oleh River.
“Gu-gue... Aaakh, lepas.” Tangan Yasa dicengkeram kuat, rasanya sakit sekali, pasti akan menimbulkan bekas kemerahan. Dia berusaha melepaskan cengkraman River, dan benar saja ketika terlepas warna kemerahan muncul. Yasa mengusapnya. Sakit.
Tak sampai situ saja. River kini sudah memojokkannya ke pohon di belakangnya. Mencengkram kuat rahangnya dengan tangan besarnya. Yasa terkejut bukan main. Rasanya sakit. Dia berusaha memberontak agar terlepas dari cengkeraman River.
“Gue udah peringatin lo, jangan ngikutin gue. Tapi sepertinya lo bebal banget ya.” Ucap River, bibirnya tersenyum miring. Bukannya apa, entah kenapa di mata Yasa, senyum itu malah membuat River terkesan lebih... tampan. Tolong sadarkan Yasa saat ini bahwa dirinya sedang dalam bahaya, bukannya malah terpesona.
“Gu-gue, tolong... Lepas-in.” Ucap Yasa, dia sulit untuk berbicara.
“Ri—ver.” Panggil Yasa dengan susah. Kakinya mencoba bergerak, namun River juga menindihnya.
“Lo mau gue lepasin, huh?” Bibir River menyeringai kembali. Netranya mengamati dengan rinci wajah cowok cantik di depannya. Sampai dia melihat di titik itu, bibir Yasa yang merah merekah. Bibir atasnya yang tipis dan bibir bawahnya yang berisi. Tanpa sadar dia meneguk ludahnya.
Seketika dia tersadar, menatap netra Yasa yang sudah agak berair. “Gue peringatin, sekali lagi lo ngikutin gue, ganggu gue. Lo nggak akan bisa hidup tenang.”
River menyentak kepala Yasa ke belakang sedikit keras. Kemudian dia bangkit dan menjauh dari sana sambil memasang kupluk hoodie-nya. Meninggalkan Yasa yang merasa pusing dan kesakitan.
“Brengsek.” Gumam Yasa. Dia berdiri sekuat tenaga dan berjalan sedikit tertatih ke UKS. Berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kalau kembali ke kelas dia sudah telat dan malah mendapat hukuman. Jadi dia putuskan untuk ke UKS saja.
***
Ancaman River hari itu tak membuat Yasa menyerah begitu saja. Cowok cantik berlesung pipi itu masih saja mengikuti perginya cowok tinggi ber-hoodie itu. Bahkan saat pulang sekolah. Beberapa kali Yasa mengikutinya. Namun, lagi-lagi karena jalannya yang sangat cepat, Yasa pun tertinggal dan akhirnya berbelok ke arah jalan rumahnya yang sudah dia hapal.
Yasa tak tahu, kenapa dia segencar ini untuk mendekati River. Apa dia menyukainya? Atau karena apa? Yasa pun tak tahu. Dia selalu merasakan adanya dorongan untuk mendekati River.
Pagi ini Yasa datang ke sekolah seperti biasa. Ada yang berbeda. Senyumnya sedikit mengembang ketika beberapa teman sekelas menyapanya. Biasanya dia hanya mengangguk sekilas lalu pergi begitu saja.
Yasa sedang senang. Iya. Semalam dia menemukan sesuatu itu, alasan kenapa dia gencar mendekati River. Dia ingin berteman dengan cowok itu. Ya, Yasa pikir seperti itu.
Yasa mendekati River yang kebetulan sudah duduk di tempatnya. Sendirian. Duduk di samping River tanpa izin dan menatapnya lama. Setelahnya, dia mengambil kotak bekalnya dan mengulurkannya ke River yang masih menelungkupkan wajahnya. Yasa menyentuh pundaknya lembut, takut-takut River akan melakukan suatu hal padanya seperti hari itu di pekarangan belakang.
“River.” Panggil Yasa.
River mengangkat wajahnya. Menoleh sekilas ke arah sang pemanggil. Netranya menemukan Yasa duduk manis di sebelahnya.
“Lo pasti belum sarapan kan? Gue bawain sarapan buat lo.” Yasa menyodorkan kotak bekalnya pada River.
River menatap aneh ke arah Yasa dan kotak bekal itu bergantian. Kemudian kotak bekal itu terhempas begitu saja ke lantai, memuntahkan isinya hingga berceceran di sana. Yasa terkejut, begitu pun beberapa siswa-siswi lain yang sudah datang, termasuk Gian yang baru masuk ke dalam kelas.
“Pergi.” Desis River dengan nada dinginnya seperti biasa. Wajahnya kembali dia tenggelamkan di balik lipatan tangannya.
Yasa diam sejenak melihat River, terkejut dengan perlakuan cowok itu. Sudah dia perkirakan hal ini pasti akan terjadi. Yasa berdiri, mengambil kotak bekal dan membersihkan lantai yang kotor.
Perlakuan River padanya itu tak membuat Yasa gentar. Keesokan harinya dan seterusnya Yasa selalu membawakan bekal untuk River. Dan penolakan demi penolakan selalu dia dapatkan, dengan kejam dan sadis. Pernah sampai River hampir melayangkan kursi padanya. Namun, perbuatannya terhenti ketika ketua kelas menahannya. Ya, hanya ketua kelas yang sedikit berani menghentikan River.
Seperti biasa, River pergi ke pekarangan belakang sekolah. Yasa tentunya mengikutinya. Padahal sudah dilarang berulang kali oleh Gian yang sampai sekarang tak tahu menahu maksud dari perilaku Yasa mendekati River.
Yasa melewati koridor sepi akses untuk ke pekarangan, melewati ruangan-ruangan kosong tak berpenghuni. Ketika dia melewati sebuah toilet, tiba-tiba ada yang menariknya, membekap mulutnya. Menguncinya bersama orang itu di dalam toilet tersebut.
“Ternyata lo emang bebal banget ya.” Bisik orang itu di samping telinganya. Posisinya dia berada di belakang Yasa. Yasa tentu tahu pemilik suara itu. River.
“Setelah ini hidup lo nggak akan tenang.” River mendorongnya ke tembok, membuat kepalanya terantuk dan Yasa merasa sedikit pening. Dia memegangi kepalanya.
Berikutnya, River sudah berada di depannya lagi dan sebuah hantaman mengenai perutnya sampai Yasa terbatuk dan tubuh membungkuk memegangi perutnya. Sakit.
Tak hanya itu saja, kepalanya juga terhantam bogeman mentah dari River. Semakin pening dan sakit. Itu yang dirasakan oleh Yasa. Pukulan terakhir melayang di rahang Yasa, mengenai bibirnya dan terlihat robek dengan darah yang keluar.
Yasa limbung. Jatuh ke lantai yang kotor dengan memegangi perutnya yang masih sakit. Dia melihat River berjongkok di depannya dan mencengkram rahangnya lumayan kuat, menimbulkan gelenyar rasa sakit yang teramat.
“Ini terakhir kali gue ingetin, jangan ganggu gue. Atau, lo bakal dapet yang lebih dari ini.” River melepaskan cengkeramannya. Berdiri dan melangkah keluar dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara Yasa yang mengudara.
“Gue cuma mau berteman sama lo.” Ucap Yasa dengan susah payah. “Gue lihat lo selalu sendiri dan gue rasa lo butuh seorang teman.”
“Apa gue salah?” Tanya Yasa lirih.
River terdiam di tempatnya selama beberapa menit sebelum membalasnya. “Ya, lo salah. Lo nggak bisa berteman dengan gue. Nggak akan pernah bisa.” River diam kembali. “Cabut niat lo itu, dan cari orang lain buat berteman dengan lo.” River pergi begitu saja tanpa melihat Yasa, meninggalkan pemuda manis itu dalam kesendirian dan kesakitan di dalam toilet tak terpakai itu.
***
Keesokan harinya Yasa tak masuk sekolah. Dia baru masuk tiga hari kemudian. Sampai di rumah kala itu ibunya bertanya-tanya padanya ketika melihat anaknya itu babak belur. Yasa menjawabnya kalau itu hanya sebuah kesalahpahaman dan berlalu begitu saja ke kamarnya setelah mengambil P3K.
Gian dan pacarnya, Gemma, bertanya-tanya kenapa Yasa tak masuk sekolah, dan saat melihat bekas luka di wajah Yasa, Gian paham.
“Siapa yang ngelakuin ini ke lo? Biar gue hajar balik tuh orang.” Ujar Gian dengan berapi-api, masalahnya ini teman sebangkunya yang terluka. Sebagai teman barunya dia seharusnya membantu ketika Yasa dalam kesulitan terutama di sekolah.
“Gue nggak papa. Kalian tenang aja.” Yasa duduk di bangkunya dengan tenang ketika Gian tak mengoceh kembali karena guru sudah masuk dan memulai pelajaran.
Yasa melirik sekilas ke arah River, mungkin hanya perasaannya saja tadi River sempat melihat ke arahnya. Yasa kembali melihat ke depan, kebetulan Pak Heru yang sedang mengajar. Jadi, dia harus fokus apalagi nilainya saat ulangan harian kemarin turun. Dia harus belajar lagi.
Pulangnya Yasa berjalan kaki seperti biasa, tapi hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Rintik hujan yang semakin lebat dan jarak rumah yang masih cukup jauh, ditambah dia tak membawa payung membuatnya harus meneduh secepatnya.
Yasa berlari ke arah ruko yang terlihat sepi. Berdiri di sana sendirian sambil mengusap lengannya karena merasa kedinginan. Jarak pandangnya minim karena hujan yang terlalu lebat sampai dia melihat seorang pengendara motor berhenti di ruko tempatnya meneduh.
Yasa memalingkan wajah, dia sedikit takut sebenarnya karena hanya ada dia sendirian di sana dan hari sudah hampir gelap. Pasti saat dia pulang nanti ibunya akan menceramahinya karena tak membawa payung lagi, apalagi dia baru sembuh.
Namun, ketika orang itu menuju ke arahnya, Yasa merasa tak asing. Benar saja, saat melihatnya membuka helm. Wajah River terlihat jelas. Bisa Yasa lihat raut terkejut cowok itu sekilas sebelum kembali lagi dengan raut datar dan dinginnya.
Yasa merasakan River mendekat ke arahnya, berdiri di sampingnya dengan jarak yang lumayan. Bisa Yasa lihat, River melepaskan hoodie basahnya dan kemeja sekolahnya sekaligus membuat tubuhnya hanya berbalut kaos putih tanpa lengan yang sedikit basah. River memeras hoodie-nya membuat air berjatuhan mengalir dari hoodie itu. Yasa terpana, melihat tubuh bagian atas River yang terlihat atletis dengan kulit tan-nya.
Yasa tersadar dan segera memalingkan wajahnya kembali. Wajahnya terasa panas, sepertinya memerah. Yasa tak tahu kenapa dirinya seperti ini. Yasa memang tak menyangkal kalau orientasi seksualnya menyimpang, dia bisa suka laki-laki ataupun perempuan. Sebut saja dia biseksual.
Hari beranjak malam, hujan belum berhenti sama sekali, masih deras seperti sebelumnya. Yasa merutuk dalam hatinya kenapa hujan tak mau berhenti. Dia harus pulang. Ingin menerobos tapi dia takut setelah pulang hujan-hujanan dia akan demam. Tubuhnya begitu rentan. Di sisi lain, dia sangat canggung berada di situasi seperti ini dengan River yang masih berdiri dan menganggapnya seolah tak ada.
Sesekali Yasa akan melirik ke arah River yang sedang merokok sambil berjongkok tak jauh darinya. Asap mengepul dari bibirnya. Baru pernah Yasa melihat River merokok selama hampir dua bulan dia mengamati cowok itu.
Hujan berhenti sejam kemudian dan hari sudah gelap. Yasa lelah, ingin segera pulang ke rumah. Makanya dia berlalu begitu saja tanpa berbicara sama sekali pada River yang masih setia jongkok sambil merokok di depan ruko tutup itu.
Yasa setengah berjalan menuju rumahnya ketika sebuah motor berhenti di sampingnya.
“Naik.”
Suara itu. Yasa terheran-heran, terkejut setengah mati. Ini beneran River? River menawarinya tumpangan? Apa dia sedang bermimpi? River yang beberapa hari lalu menghajarnya kini duduk di atas motornya besarnya itu menyuruhnya naik ke boncengannya?
“Cepet.”
Yasa masih tertegun sampai River menariknya dan membuatnya sadar. Yasa langsung naik ke boncengan motor River dengan canggung. Setelahnya River menancap gas, mengantarkannya pulang ke rumah. Apa ini mimpi? River mengantarkannya pulang. Kalau memang mimpi, jangan bangunkan Yasa.
Keduanya sampai di depan rumah Yasa. Setelah Yasa turun dari boncengan River, cowok itu berlalu begitu saja tanpa mendengar ucapan terima kasih yang baru saja ingin Yasa lontarkan. Biarpun kesal, tapi Yasa merasa ada setitik rasa senang di dalam hatinya. Apakah ini sebuah pertanda kalau Yasa harus mendekati River kembali? Yasa harap iya. Dia pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan senangnya. Besok dia harus bangun pagi dan membuatkan bekal seperti beberapa waktu lalu untuk River. Memulai pendekatan kembali sebagai seorang teman. Ya, teman.
