Actions

Work Header

sun who lost his warmth

Summary:

ada hal yang lebih menyakitkan bagi Juyeon daripada pengakhiran hubungannya dengan Changmin; melihat Changmin redup kehilangan hangatnya.

Notes:

crossposted from.medium aikaivrse

Work Text:

Hampir semua teman-temannya tidak mengerti mengapa hubungannya dan kekasihnya harus pupus di bulan ke delapan belas mereka merajut kasih. Mereka mengatakan jika dirinya dan kekasihnya terlampau cocok untuk sekiranya berjalan menuju ujung benang merah ㅡdengan kata lain mereka berharap hubungannya masih bergantung di atas benang merah tipis tak kasat mata.

Sejujurnya Ia pun berharap hal yang sama dengan segenap teman-temannya. Berharap kata; mari kita akhiri, tidak akan pernah terlontar dari belah mulut diantara keduanya. Menurutnya, takdir begitu lucu. Sang takdir mempersatukan mereka, namun keadaan justru membuat mereka menyerah untuk satu sama lain. Keadaan yang membuat mereka dengan sangat berat hati melayangkan kata perpisahan yang bertentangan dengan kata hati masing-masing.

Juyeon ingat, hari itu merupakan awal mula musim gugur di tahun keduanya di universitas. Angin berembus cukup kencang sore hari itu, membuatnya mengeratkan mantel sewarna biji kopi untuk menghalau tubuh dari dinginnya angin. Dirinya masuk ke dalam toko roti langganannya diiringi dengan suara lonceng berbunyi di atas pintu masuk.

Senyum selayaknya kucing muncul di permukaan wajahnya begitu netranya menemukan sosok yang ia rindukan selama sepekan lebih tidak bertemu. Kecupan hangat ia berikan pada pucuk kepala lelaki kecil yang mengisi relung hatinya selama lebih dari setengah tahun lamanya. Saling melontarkan senyum satu sama lain sarat akan kerinduan yang mendalam. Satu sapaan; hei, pun cukup menghangatkan hati. Telapak besarnya menangkup tangan yang nampak sempurna digenggamannya, begitu kontras dengan perbedaan ukuran tangan mereka, menyalurkan kehangatan sederhana.

Belasan menit dihabiskan oleh kesunyian yang tidak mencanggungkan. Dalam keterdiaman mereka berbagi afeksi ringan, menyatakan rasa rindu tanpa kata. Hingga gelas berisikan matcha latte dan cappucino hangat milik keduanya bersisa setengah, atmosfir berubah. “Ju, aku lelah.” Kata yang lebih kecil kepadanya dengan sorot mata meredup, menatap tautan tangan mereka dengan sendu.

Lengkungan di wajahnya mendadak hilang melihat kelereng coklat kesukaannya menghilangkan binarnya. Ibu jarinya tak berhenti bergerak memutar memberikan sentuhan halus pada punggung tangan si kecil. “Aku tahu, Minie.” Tentu Ia menyadari kemarau menyelimuti hubungan mereka.

Dua minggu lebih hubungan keduanya menjauhkan diri dari kata baik. Memiliki kesibukan masing-masing yang begitu menyita waktu mereka hingga tidak sempat bertukar sapa secara langsung, membuat keduanya seakan berjalan berlainan arah saling memberikan punggung satu sama lain. Stres masalah tugas kuliah dan pekerjaan sampingan menyebabkan mereka menjadi jauh lebih sensitif dan tidak dapat berpikir jernih hingga hal sekecil badan semut gula pun bisa menjadi letusan amarah.

Can we make this right, Sun?.” Jawaban berupa gelengan pelan dari Changmin untuk pertanyaannya menjadi puncak kehancuran hatinya ㅡatau mungkin keduanya. Kehangatan yang semula menyelimuti seketika sirna, berganti dengan dingin membekukan meski tangan mereka masih enggan melepaskan.

Sun, baginya Changmin adalah matahari, selayaknya bunga secerah sinar dewa ufuk timur yang juga menjadi kecintaan lelaki kecil itu. Matahari seharusnya menghangatkan, namun kini mataharinya kehilangan hangatnya, cahayanya redup seperti mendung di siang hari.

Juyeon menatap kosong tangannya yang menggenggam lembut tangan mungil orang tercintanya. “Jadi, ini akhir benang kita?” Lidahnya pahit sekali begitu melontarkan pertanyaan bagai petir yang akan menyambut turunnya hujan.

Satu anggukan dari Changmin menjadi peresmian pupusnya hubungan mereka saat itu. Sesak terasa kala menyadari jika mereka kini sudah bukan sepasang kekasih, namun perasaan lega tak luput hadir di dalam hati mereka. Lega sebab berhasil melepaskan yang sudah menyakiti.

 


 

Butuh setidaknya empat bulan untuknya melupakan kehadiran sang mantan kekasih. Dua bulan pertama merupakan masa-masa paling berat untuknya. Terbiasa bersama hampir lebih dari dua tahun lamanya, lalu kecanggungan hadir setelah mereka mendeklarasikan akhir hubungan mereka. Kikuk rasanya kala mereka berpapasan di sekitar kampus, tidak berani membuka suara, hanya saling melempar senyuman kecil saja.

Selama dua bulan itu pula pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang sang mantan. Membuatnya tiga kali lipat jauh lebih stres dari sebelumnya. Terlebih lagi berita putusnya hubungan mereka terus diperbincangkan oleh hampir seluruh angkatannya. Dirinya bahkan sampai ditahap mual dengan pertanyaan; kamu benar putus sama juyeon? yang terlontar padanya setidaknya sehari bisa lima kali ia dapatkan.

Memang sih dirinya dan Juyeon jarang sekali terlihat bertengkar ㅡdalam konteks di depan publik, sepertinya hal itu yang menyebabkan ketidakpercayaan mereka akan kandasnya hubungannya dengan Juyeon. Sejujurnya, Ia dan Juyeon sering terlibat perdebatan kecil yang biasanya hanya memakan waktu beberapa jam saja untuk mereka menemukan solusi terbaik bagi keduanya. Dulu, sebelum pikiran jernih mereka berubah menjadi runyam hingga merasa segala sesuatu yang mengganggu sangat menyebalkan.

Tujuh bulan berlalu, semester baru di tahun ketiga pun bermula. Teman-teman dekat mereka bisa menyatakan bahwa keadaan keduanya sama-sama sudah membaik. Changmin maupun Juyeon sudah bisa tersenyum lebar seperti sedia kala dengan hati yang jauh lebih lega. Liburan semester benar-benar menjadi penyelamat hati yang sedang dalam masa penyembuhan.

Meski masih dirundung kecanggungan, Juyeon tetap merasakan kelegaan di dalam hatinya saat melihat tawa lepas dari Changmin. Lesung pipi manis yang selalu terpampang menjadi indikator senyumannya begitu cerah. Ia sadar, sang matahari sudah mendapatkan kembali hangatnya. And he can't feel more grateful than anything.

 


 

“Lo bakal datang Ju?”

Juyeon menoleh ke arah Sangyeon yang melontarkan pertanyaan ambigu kepadanya. Makan siangnya Ia abaikan sesaat, menatap sahabatnya dengan kening berkerut. “Acara tahunan sebelum tahun baru, Ju.” Jelas Sangyeon sebelum Ia membuka mulut menanyakan maksud pertanyaan Sangyeon.

Sumpit besinya Ia letakan di atas tray makan siang yang sudah tandas. “Oh. Gak tau, tergantung keberuntungan gue dapet pasangan atau engga.” Juyeon menjawab tidak terlalu peduli sebelum menegak jus apel kalengan miliknya. Hampir saja ia menyemburkan likuid sewarna teh ke arah Sangyeon jika saja Ia tidak dapat mengontrol diri saat lelaki yang lebih tua darinya itu mengusulkan sesuatu yang cukup gila baginya.

Gak mau nyoba ajak Changmin? Kali aja kalian bisa balikan. Usulan gila Sangyeon terus terngiang di kepalanya. Sepertinya perjuangannya selama tujuh bulan sia-sia karena hanya satu usulan asal dari Sangyeon yang berkaitan dengan Changmin saja sudah membuatnya uring-uringan. Juyeon merutuki dirinya sendiri yang cepat goyah seperti ini.

Kalau boleh jujur, Juyeon tidak sepenuhnya menghilangkan sosok Changmin dari hatinya. Ia masih kerap kali merindukan eksistensi lelaki menggemaskan itu di dalam kesehariannya. Ingin rasanya menuruti usulan Sangyeon, hanya saja Ia tidak terlalu yakin dengan hasil positif yang akan diberikan Changmin.

Juyeon takut akan penolakan. Putus dari Changmin sudah cukup menyiksanya, jika ditambah dengan penolakan dari Changmin, entah apa yang akan Ia lakukan setelahnya. Kembali dekat dengan Changmin seperti awal perkenalan tahun ajaran baru saja Ia sudah sangat bersyukur. Ia tidak ingin merusak hubungan mereka yang sudah kembali biasa saja.

 


 

Changmin melirik sekeliling, bibirnya mengerucut lucu saat melihat setangkai bunga matahari yang masih segar berada di pintu lokernya. Hanya bunga, tanpa pesan sama sekali. Cacat otot di pipinya muncul, tidak terlalu peduli siapa pengirimnya. Dalam hati ia mengucap terima kasih kepada siapapun yang menaruh bunga helian tersebut, sebab ia jadi mendapatkan tambahan mood baik hari ini.

Sudah seminggu lamanya ia mendapatkan kiriman bunga matahari misterius di pintu lokernya. Namun kali ini berbeda, ia menemukan gipsofila tertempel pada sebuah amplop berwarna kuning pudar di pintu lokernya. Tidak ada bunga matahari, hanya sebuah surat dan rangkaian bunga putih kecil itu saja.

Senyumannya menghilang seusai membaca isi surat beramplop kuning itu. Kakinya melangkah tergesa dengan berat, menimbulkan suara hentakan yang cukup ketara untuk beberapa pasang mata yang seketika menaruh perhatian padanya kala melewati lorong-lorong kampus. Amplop cantik itu dilemparkannya ke atas meja yang ditempati sosok lelaki bertopi hitam yang tengah menyantap jajanan berkuah merah dengan kue beras yang kenyal.

Changmin tidak menyangka akan berhadapan lagi dengan lelaki yang sempat mengisi hatinya beberapa bulan yang lalu ini. Dirinya cukup paham kapasitas hatinya saat ini, Ia masih bisa menolerir berhadapan dengannya saat bersama teman-temannya, todak dengan keadaan empat mata seperti ini. “Untuk apa lo ngajak gue jadi pasangan lo?” Sejujurnya Changmin pun kaget dengan intonasi yang Ia gunakan saat ini ㅡyang ia yakini sebagai bentuk pertahanan diri.

Ah, jadi lo nolak ya.. That's okay, it's not that i want to go there so badly sih. Maaf udah lancang ngasih kamu bunga semingguan ini.” Juyeon berkata halus dengan senyuman tipisnya menatap amplop kuning yang sudah lusuh, bahkan gipsofilanya pun hancur. Penolakan Changmin mencuri seluruh atensinya dari dunianya, bahkan ia tak sadar menggunakan dua kata panggilan yang bertolak belakang kepada Changmin.

Netranya menatap bingung saat lelaki bertubuh ramping itu mengambil duduk di bangku yang ada di hadapannya. “Gue nanya alasan lo, bukan nolak.” Tentu saja Juyeon tidak dapat menahan senyuman cerahnya, setidaknya ia memiliki delapan puluh persen presentase positif dari lawan bicaranya. Topi hitamnya Ia lepas agar dapat menatap kelereng coklat hangat yang akan selalu menjadi kesukaannya dengan lebih jelas.

Seven months, Min. That's enough for us to learn about what happened to us that time. To learn how to heal our heart, and of course to learn how we deal with scars.” Suara halus Juyeon mengalun perlahan menjelaskan apa yang dirasakannya selama ini. “Hari itu hatiku jauh lebih hancur melihat kamu kehilangan sinar mataharimu dibandingkan perubahan status kita. Hangat yang hilang dari dirimu, membuat aku juga merasa dingin.” Senyuman cerianya berubah menjadi sendu mengingat mataharinya kehilangan hangatnya pada hari itu.

Tangan besarnya meraih telapak tangan Changmin yang jauh lebih kecil darinya, mengantarkan hangat pada yang terkasih. “And when i see you start to smilling again like theres no wound there, i found my world back, Sun.” Juyeon menyatakan perasaannya diselingi dengan usapan lembut yang biasa Changmin dapatkan dulu. Semu merah jambu menjalar dipipinya, Changmin tidak mungkin bisa berbohong jika hatinya saat ini menghangat mendengarkan Juyeon bercerita.

We can try to fix us, Sun. Itu pun kalau kamu mau, aku sama sekali gak maksa.” tuturnya menyelami netra kecoklatan milik Changmin. Ibu jarinya tidak berhenti memberikan afeksi ringan pada punggung tangan kecil itu, menunggu respon Changmin.

Senyuman lebar terukir cerah di wajah Juyeon mendengar kalimat; I still love you, Ju. For all this time, dari belah bibir Changmin. Meski begitu lirih, namun kalimat manis itu terdengar jelas di rungunya. Changmin semakin bersemu, punggung tangannya dikecupi beberapa kali oleh si pemilik hati yang diiringi kalimat terima kasih yang tak kalah manis dari lelakinya. “And i still madly in love with you, Sun.”

Riuh sorakan di kantin fakultas bahasa menyadarkan keduanya jika mereka sedang menjadi tontonan berpuluh pasang mata. Wajah merah padam keduanya tidak akan pernah terlupa dari ingatan memori mereka. Salah satu memori berarti bagi keduanya.

Juyeon tidak akan lupa untuk berterima kasih kepada Sangyeon yang sudah memberikannya usulan gila untuk memulai kembali lembaran baru bersama Changmin