Actions

Work Header

Locked Door

Summary:

Seonghyeon’s love for Keonho was bigger than all of it.

Notes:

I fully support, care about, and love all the members, and how I show that is none of your business. So if this kind of story makes you uncomfortable, feel free to leave. If you're okay with the tags, enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Lampu apartemen Seonghyeon dan Keonho tidak pernah sangat terang. Hanya lampu lantai di dekat sofa yang menyala, memantulkan cahaya hangat ke dinding beton abu-abu dan rak buku yang berantakan. Dari jendela besar, lampu kota terlihat seperti bintang-bintang yang berkelip.

Malam itu sunyi. Hanya suara televisi yang terdengar tanpa benar-benar ditonton. Udara di dalam terasa tegang, terlalu hening untuk dua orang yang jelas sedang tidak dalam kondisi pikiran yang baik-baik saja.

Seonghyeon duduk di sofa. Kakinya terbuka lebar, punggungnya bersandar malas, satu tangan memegang ponsel yang sejak lima menit lalu tidak pernah ia turunkan. Ibu jarinya terus menggulir layar, entah melihat apa.

“Aku kan udah pernah bilang,” suara Seonghyeon terdengar. “Kalau ada apa-apa ngomong ke aku dulu. Aku nggak mau denger dari orang lain.”

Keonho berdiri beberapa langkah di depan Seonghyeon dengan wajah kesal bercampur putus asa. Ia sudah mencoba menjelaskan berkali-kali. Tidak ada yang berhasil.

Keonho sadar akan kebodohannya. Tadi sore wastafel kamar mandi jurusan Teknik Informatika penuh dengan darah segar dari hidungnya. Ia pikir semuanya akan aman karena ia sudah menaruh papan toilet sedang diperbaiki, tapi ternyata nasib sial memang sedang mengejarnya.

Martin datang tergesa-gesa tanpa peduli pada papan peringatan di depan pintu. Ia pikir tidak mungkin semua bilik rusak, sebenarnya ia malas jika harus berjalan ke toilet lain. Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat Keonho berdiri di depan wastafel dengan hidung bersimbah darah.

Yang lebih sial untuk Keonho adalah, Martin itu salah satu teman dekat Seonghyeon. Jadi jelas kalau sekarang Seonghyeon tahu semuanya.

“Dengerin aku dulu, sayang...”

“Jangan.” Seonghyeon memotong tanpa menoleh. “Jangan pake nada kayak gitu.”

Keonho bingung. Seonghyeon jarang marah seperti ini. Biasanya ia banyak bicara daripada memilih diam. Keonho mengacak rambutnya frustrasi, mencoba memikirkan sesuatu apa pun yang bisa membuat Seonghyeon berhenti marah. Namun kepalanya kosong. Benar-benar kosong.

Akhirnya ia berjalan mendekat.

“Oke...” katanya pelan. “Maaf aku salah.”

Tidak ada jawaban.

Seonghyeon tiba-tiba berdiri. Ia hanya mengambil gelas kopinya di meja televisi, lalu kembali duduk di sofa dengan posisi yang sama.

Gila. Seonghyeon benar-benar bertingkah seolah Keonho tidak ada di ruangan itu.

Keonho menatapnya tidak percaya. Akhirnya ia menghela napas berat, melangkah lebih dekat. Dan tanpa banyak pikir, Keonho duduk di pangkuan Seonghyeon.

Seonghyeon membeku. Jarinya berhenti menggulir layar ponsel.

Lutut Keonho tertekuk di samping paha Seonghyeon, tangannya refleks memegang bahu lelaki itu agar tidak jatuh. Keonho sendiri terlihat sama terkejutnya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Jarak mereka sekarang terlalu dekat. Namun Keonho berpura-pura terlihat tenang.

Beberapa detik berlalu sebelum layar ponsel Seonghyeon akhirnya mati. Ia mengangkat pandangan. Tatapannya tajam.

“Turun.”

Keonho menggeleng cepat. “Nggak.”

Mereka saling menatap dalam diam. Seonghyeon tidak menyentuhnya, tapi tangannya sudah berhenti di sisi pinggang Keonho, seolah menahan diri agar tidak benar-benar memindahkannya. Seonghyeon masih marah, itu terlihat sangat jelas dari cara rahangnya yang menegang dan alisnya yang menukik tajam. 

“Kalau aku turun sekarang,” katanya pelan, “kamu tetep marah.”

Seonghyeon tidak menyangkal, itu berarti Keonho benar. 

Keonho ragu sebentar. Lalu, sebelum keberaniannya habis, Keonho mencium Seonghyeon lebih dulu. Hanya kecupan singkat. Seonghyeon benar-benar tidak bergerak selama beberapa detik penuh. Keonho mundur sedikit, wajahnya merah.

“Maaf,” gumamnya.

Itu seharusnya cukup, seharusnya. Namun sesuatu di mata Seonghyeon justru berubah.

Tangannya naik ke dagu Keonho dan mencengkeram dengan kuat. “Kamu pikir,” suaranya turun semakin rendah, “kayak gitu cara minta maaf yang bagus?”

Keonho menatap balik. Dari jarak sedekat ini, Seonghyeon dapat melihat mata Keonho yang mulai berair, dan hidungnya yang memerah. Cengeng dan cantik di waktu yang bersamaan.

Keonho belum sempat menjawab, lalu ciuman itu datang, tidak ada lembut-lembutnya. Kasar. Dan tidak memberi Keonho waktu untuk bernapas dengan benar, seolah seluruh amarah dan rasa khawatir Seonghyeon tumpah di sana.

Ponsel yang tadi ada di tangan Seonghyeon sudah jatuh ke sofa tanpa diperhatikan. Gelas kopi di lantai nyaris tersenggol oleh kakinya.

Keonho mencengkeram kaos Seonghyeon agar tidak kehilangan keseimbangan. Karena Seonghyeon tidak hanya mencium, ia menarik tubuh Keonho agar semakin dekat. 

Air mata Keonho mulai turun saat Seonghyeon menggigit bibir bawahnya dengan keras, itu berdarah tapi Seonghyeon terus melanjutkan semuanya. Ego mereka bertarung di setiap detik ciuman itu.

Nafas Keonho mulai tercekat, sebelum ia mati di tempat ini karena Seonghyeon menyerangnya bagai hewan buas yang kelaparan, maka ia dorong dada Seonghyeon karena kehabisan napas.

“Bangsat...” umpatan itu keluar pelan dari mulut Seonghyeon saat ia sadar ciumannya dihentikan.

Keonho masih duduk di pangkuan Seonghyeon dengan mata basah, bibir memerah dan napas yang tersendat. Tapi bukan, bukan itu yang membuat kepala Seonghyeon semakin pusing.

Tatapan Keonho.

Keonho menatapnya seolah ia adalah anjing yang kehausan selama tiga hari. Binar mata itu sebenarnya penuh permohonan, tapi tadi malah menyingkirkannya dengan keras.

Seonghyeon mengembuskan napas panjang. Lalu ia mengangkat tubuh Keonho perlahan dan memindahkannya agar duduk di sofa. Tangannya mengusap sudut bibir Keonho dengan lembut kali ini.

Persetan dengan egonya, persetan dengan leher jenjang Keonho yang belum Seonghyeon lumat, persetan dengan semuanya. Seonghyeon hanya ingin memberi pelajaran pada kekasih keras kepalanya itu.

Seonghyeon berdiri lalu berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa pun lagi, meninggalkan Keonho yang menatapnya dengan wajah tak percaya.

Brak.

Pintu kamar tertutup dengan keras, Keonho buru-buru bangkit dari sofa. Ia mencoba membuka kenop pintu.

Terkunci. 

“Seonghyeon, buka pintunya!”

Tidak ada jawaban. Keonho langsung menggedor pintu baja itu berkali-kali dengan panik.

“Sayaangg, maafin aku...” Keonho meninggikan suara sebisa mungkin.

Diamnya Seonghyeon seperti ini sangat menakutkan untuk Keonho.

“Maaf... maafin aku,” Keonho menempelkan telinganya ke pintu, berharap mendengar langkah kaki atau apa pun.

“Sean,” suaranya mulai melemah. “Jangan dikunci dong...”

Ia mengetuk lagi, kali ini pelan.

Please...”

Tetap tidak ada suara.

Keonho menggigit bibirnya sendiri. Dadanya mulai sesak marena ia memang sudah mulai sakit dari kemarin.

“Seonghyeon...” suara Keonho makin kecil. “Aku pusing...”

Masih hening.

Keonho akhirnya duduk di lantai depan pintu kamar. Lututnya ditekuk ke dada, lalu ia menyandarkan kepala ke pintu.

“Aku tuh cuma nggak mau kamu cerewetin aku...” gumamnya lirih. “Soalnya dari kemarin laprakku belum selesai.”

“Jangan marah lama-lama dong...”

Beberapa menit berlalu. Mata Keonho mulai panas. Ia sudah diam dan berhenti menggedor-gedor. Dari dalam kamar terdengar suara langkah kaki samar. Keonho langsung mendongak cepat.

“Sean?”

Tidak ada jawaban lagi. Dan entah kenapa itu malah bikin Keonho semakin cemberut.

“Aku nggak bermaksud nyembunyiin apa-apa tau.” Keonho mengusap matanya kasar, terus-terusan ia bicara, tak peduli akan terdengar sampai ke dalam atau tidak.

Klik.

Kenop pintu akhirnya bergerak. Pintu kamar terbuka saat Seonghyeon akhirnya mengalah.

“Sayang—”

“Kenapa duduk di situ?” Potong Seonghyeon cepat.

“Ya terus aku harus ke mana...” rengeknya kecil, “Aku pengen masuk.”

Seonghyeon menghela napas berat. “Berdiri.”

“Aku capek...” suara Keonho mulai pecah. “Kepalaku sakit.”

Seonghyeon paling lemah kalau Keonho mulai bicara pakai nada selembut itu. Tapi ia tetap mendecak pelan. Emosinya belum benar-benar hilang setelah mengingat Martin menelepon dengan panik karena menemukan Keonho mimisan di toilet kampus. Pacarnya sakit. Dan Keonho tidak meminta tolong kepadanya. Seonghyeon benci perasaan itu.

Seonghyeon melangkah mendekat. Refleks, kaki Keonho langsung melingkar di pinggang Seonghyeon saat tubuhnya diangkat.

“IH!”

“Diem.”

Seonghyeon menopang paha Keonho kuat-kuat, sementara Keonho otomatis memeluk leher Seonghyeon karena terkejut. Keonho persis seperti koala menempel di batang pohon.

Dan sialnya, ini nyaman. Keonho suka.

“Aku bisa jalan sendiri tau...” gumamnya malu sambil menyembunyikan wajah di leher Seonghyeon.

Pintu kamar dibiarkan terbuka dengan kaki Seonghyeon, lalu pelan-pelan ia membawa Keonho masuk ke dalam. Lampu kamar mati. Hanya lampu tidur di samping ranjang yang menyala kekuningan, membentuk bayangan lembut di wajah mereka. Hujan tipis entah sejak kapan mulai turun di luar jendela.

“Aku berat nggak?” gumam Keonho pelan.

“Berisik.”

“Itu iya apa nggak?”

Seonghyeon diam sebentar sebelum akhirnya bergumam lirih, “Aku tuh takut.”

Keonho mengangkat kepalanya sekarang.

“Apa?”

“Takut kalau suatu hari kamu kenapa-kenapa terus aku nggak tau apa-apa.”

Keonho menggesek hidungnya ke leher Seonghyeon seperti anak kucing. “Maaf ya...”

Pelan-pelan Seonghyeon menurunkan Keonho ke atas kasur. Lembutnya perlakuan Seonghyeon selalu menjadi alasan terbesar mengapa Keonho yang terkenal sembrono dalam bicara maupun bertindak itu berani jatuh cinta.

Tangan Keonho menarik ujung baju Seonghyeon pelan hingga langkah lelaki itu tertahan.

“Kenapa?”

Keonho mendongak, matanya masih sedikit basah di bawah cahaya lampu tidur.

“Can we cuddle?”

“But you're sick. What if I catch it?”

“Please...?”

Seonghyeon menatapnya lama. Lalu perlahan jemarinya naik, merapikan rambut Keonho yang berantakan di dahi. Sentuhannya hangat, sangat hati-hati. Sesuatu yang tadi memenuhi pikirannya runtuh begitu saja. Hilang sudah akal sehatnya. Karena pada akhirnya, amarah Seonghyeon mungkin belum benar-benar mereda. Rasa khawatirnya juga belum hilang sepenuhnya. Tapi rasa sayangnya pada Keonho jauh lebih besar dari itu semua.

Notes:

AKU BOSEN KEBANGUN MALEM-MALEM