Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of The HHU Code
Stats:
Published:
2026-05-09
Words:
2,167
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
266

The Tantrum Code

Summary:

what if duta tantrum ketemu profesor tantruman dari HHU Series ini aka Mingyu dapat target baru

Notes:

inspired by post by user @SCOUPYBOO at https://x.com/i/status/2052758989637915047

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Lagi?” tanya Wonwoo dengan nada prihatin dan tepukan lembut di punggung Mingyu. Tidak diikuti kata apalagi kalimat lain, tetapi Mingyu sudah tahu maksud pertanyaannya.

 

“Gimana ya caranya biar mereka itu bisa sepakat…” ucap Mingyu sambil menempelkan pipinya ke meja lalu menghela nafas berat. Dia pusing dan lelah menjadi orang yang terjebak di tengah-tengah pertarungan abad ini. Prof Choi melawan salah satu konsultan bisnis kesehatan yang dipekerjakan oleh Rumah Sakit untuk membantu Trauma Center dalam upaya mereka mendapatkan pendanaan independen.

 

“Dari hari pertama ketemu, sampai hari ini, mereka berdua beranteeeeeem melulu. Mana suaranya sama-sama keras. Budek kupingku sekarang.” keluh Mingyu lagi.

 

Wonwoo yang masih setia menepuk punggungnya, hanya tertawa kecil.

 

Sudah semingguan ini, tim Trauma Center menerima seorang tamu istimewa. Kedatangannya diharapkan mampu membantu Tim Trauma Center agar lebih jago dalam mengatur aspek bisnis dan media relation karena Prof Choi memiliki visi untuk membuka saluran pendanaan independen. Sehingga dibutuhkan tenaga ahli agar ada yang mampu membimbing mereka step by step.

 

Apesnya, sang konsultan dan Prof Choi ternyata bak pinang dibelah dua dalam urusan temperamen. Sama-sama mudah tersulut amarahnya, sama-sama tidak punya filter dalam bertutur kata, dan terutama sama-sama tidak tahu apa itu yang dinamakan sabar. Ada yang tidak sepaham? Langsung saling mengkonfrontasi. Ada yang tidak sejalan? Langsung memaksa eksekusi dengan cara masing-masing. Ada yang tidak selaras? Langsung saling menekan satu sama lain.

 

Prof Choi selalu bersikeras bahwa dialah pemilik kuasa tertinggi di tim ini sehingga dialah yang paling tahu kondisinya. Sementara sang konsultan bersikukuh bahwa dirinya lah sang expert di bidang ini dan pandangan Prof Choi itu kurang luas. Tinggallah Mingyu terjebak di antara mereka berdua. Kadang harus menengahi. Sesekali bertugas menginterpretasi. Seringnya jadi tempat Prof Choi merepet seperti ibu-ibu kehabisan kupon sembako di Pasar Pagi.

 

Hari pertama sang konsultan datang, orang itu dan Prof Choi sudah beradu mulut tentang siapa yang sebaiknya menjadi wajah Trauma Center. Menurut sang konsultan, Mingyu paling ideal karena perawakannya yang tegap tinggi besar dan wajahnya yang tampan. Meskipun dia memberi catatan pada cara berbicara Mingyu yang sering belepotan. Ya bagaimana, saat berkenalan saja dia sudah kepeleset lidah menyebut namanya sebagai Minggu karena terlalu grogi.

 

“Minggu? Wah bagus itu. Nanti kita bisa bikin campaign tentang Trauma Center yang selalu siap 24/7 bahkan di hari Minggu bersama dokter Minggu.” seru sang konsultan saat itu.

 

Prof Choi langsung menyela dan mengoreksi. Menjelaskan bahwa nama tangan kanannya ini Mingyu dan dia tidak bisa menjadi wajah Trauma Center. “Saya tidak mau dia nanti jadi terlalu sibuk dengan urusan media ini. Cari yang lain saja. Saya butuh Mingyu bisa stand by 24/7 dengan saya di lapangan, menangani pasien.”

 

Kalimat ‘saya butuh’ yang keluar dari mulut Prof Choi itu sudah setara dengan pujian dan Mingyu berusaha mati-matian menahan senyum lebar muncul di wajahnya. Tidak ingin terlihat jumawa meski bangga juga karena Prof Choi ternyata menilai kinerjanya sebaik itu.

 

“Lho kenapa? Dokter muda lainnya kan ada? Mereka aja yang suruh stand by 24/7.” sambar sang konsultan.

 

Prof Choi menghela nafas berat, lalu memandang sang konsultan dengan mata yang mulai melebar. Kalau para anggota Tim Trauma Center, pasti sudah menunduk takut karena tahu ini adalah fase paling awal dari ledakan Prof Choi. Tetapi sang konsultan –yang selain belum tahu juga sepertinya punya sifat serupa, malah tenang menyipitkan kedua mata di balik lensa itu.

 

“Masalahnya Mingyu ini yang paling bagus dalam bekerja. Saya tidak mau ketika ada kasus darurat tidak didampingi oleh yang terbaik.”

 

Mingyu sampai harus menggigit bibirnya sekarang agar bisa menahan senyumnya. Apa tadi? Paling bagus dalam bekerja? Terbaik? Prof Choi yang setiap hari memarahinya ternyata bisa juga memujinya terang-terangan seperti ini?

 

“Woo anda egois itu namanya, Prof. Yang bagus-bagus di gatekeep untuk kepentingan sendiri.”

 

Prof Choi menaikkan alisnya, “Gatekeep?”

 

Sang konsultan tertawa mengejek. “Bahasa anak gen-z. Wah gimana to, Prof. Jaman sekarang kalau mau expert di media apalagi media sosial harus mau belajar trend.”

 

“Saya tidak urusan dengan trend dan gen-genan semacam itu. Yang saya tau dan mau tau adalah biar Trauma Center ini bisa punya saluran pendanaan independen. Makanya saya hire anda untuk membantu mewujudkan itu.”

 

“Ya makanya, Prof, ini dokter Mingyu ini jadikan wajah Trauma Center kayak yang saya bilang.” tanggap sang konsultan dengan nada yang mulai naik. “Langkah pertama itu kita harus punya strategi bermedia biar Trauma Center bisa naik di sosmed. Jadi punya business opportunity yang kuat di mata calon investor. Nah, makanya harus ada wajah yang camera dan netizen approved alias ngguanteng seperti dokter Mingyu ini.”

 

“Itu mau jualan gigolo atau gimana kok parameternya wajah?”

 

Mingyu dan semua orang dari Trauma Center yang sudah kenal Prof Choi tahu bahwa itu bukan guyonan. Tetapi sang akuntan sepertinya tidak paham dan malah tertawa terbahak sambil berkomentar, “Loh bisa ngelucu juga ini Prof Choi…”

 

Sejak saat itu Mingyu tahu, dua orang ini akan menjadi mimpi buruknya selama beberapa waktu ke depan.

 

“Emang hari ini berantem apa lagi?” tanya Wonwoo. Tangannya sudah tidak menepuk punggung Mingyu, tetapi berganti mengelus puncak kepalanya. Nyaman Mingyu pejamkan mata. Tubuhnya yang kurang tidur mengapresiasi gesture lembut nurse taksirannya ini.

 

Mingyu buka matanya dan tatap Wonwoo selama beberapa saat. Benar-benar seperti oase di tengah gurun pasir. Teduh menyejukkan pandangan. Membuat semua kepenatan hari ini hilang seketika. Rambut yang sudah mulai panjang, mata rubah yang cantik berisi kerlip di dalamnya, dan sepasang bibir yang tidak pernah lepas dari senyum manis.

 

Ini orang kapan bisa dipacarin, sih… Keluh Mingyu dalam hati.

 

“Klub bola.” terdengar sebuah suara yang familiar. Vernon.

 

Nah ini dia sumber penat Mingyu hari ini, selain dua orang tadi.

 

“Gara-gara lo, ya!” ucap Mingyu pada Vernon dengan sengit. “Udah tau konsultannya fans Liverpool, malah bahas-bahas pertandingan semalem. Kan jadi tantrum tuh orang.”

 

“Emang kenapa?” tanya Wonwoo bergantian memandang Mingyu dan Vernon. “Liverpool kalah?”

 

“Dua tiga, dan lawan MU.” jawab Vernon dengan seringai jahil di wajah.

 

Wonwoo hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara. Memahami konteks sepenuhnya.

 

“Mana Prof Choi juga mendadak tengil banget sok-sokan jadi fans MU garis keras. Sejak kapan dia minat sama bola? Pemain MU yang dia tau juga cuma David Beckham. Itupun karena mereka pernah satu acara amal barengan.” repet Mingyu kesal. Karena apa yang terjadi tadi, dan karena kedatangan Vernon sekarang Wonwoo jadi berhenti mengelus kepalanya. Pujaannya itu sekarang berdiri mengambil minum untuk Vernon. Tidak diminta, sih. Memang nature-nya Wonwoo yang ngemong seperti itu.

 

“Kok, kayak nggak profesional ya tantrum pas jam kerja karena klub bolanya kalah…” tanya Wonwoo sambil meletakkan sebotol air putih untuk Vernon dan sekaleng Americano untuk Mingyu.

 

“Kamu nggak minum?” refleks Mingyu bertanya.  

 

“Minta kamu aja.” jawab Wonwoo enteng. Tidak sadar tiga kata sederhana itu membuat perut Mingyu berat seketika. Seperti membawa satu koloni kupu-kupu yang terbang berputar bersama-sama di sana.

 

“Prof Choi juga kelewatan sih. Mereka adu argumen perkara jumlah konten yang harus diunggah perhari, which is not a matter of life and death juga kan… Tapi counter Prof Choi bawa-bawa kekalahan Liverpool semalem. Pertama nggak nyambung. Kedua ngapain menyiram cuka di atas luka seseorang…”

 

“Masaaa?”

 

“Quote unquote, Ya kayak fans bola aja, kalau menang pertandingan pasti kita bakal banyak post di sosmed buat selebrasi, tapi kalau kalah ya malu lah mau ngepost banyak-banyak.” jelas Vernon dengan ekspresi lucu. “Harus banget pake analogi kayak gitu…”

 

“Emang Prof Choi maunya Trauma Center posting banyak perhari tapi konsultannya maunya posting sedikit?” tanya Wonwoo lagi.

 

Vernon menggeleng, “Itu lucunya. Prof Choi maunya sehari satu aja, tapi konsultannya bilang sehari harus tiga. Satu yang berkaitan dengan administrasi, satu berkaitan dengan kasus atau penanganan pasien yang pernah kita lakukan, satu yang berkaitan dengan info umum di dunia medis.”

 

“Terus kenapa Prof Choi pakai analogi kayak gitu?!” kentara Wonwoo sekarang merasa heran pada tingkah manusia dengan otoritas tertinggi di tim mereka.

 

Mingyu dan Vernon refleks bertukar pandangan lalu sama-sama mengangkat bahu. Mereka sendiri juga bingung, karena akhir-akhir ini rasanya sang konsultan dan profesor mereka itu beradu argumen ya hanya untuk bertengkar saja. Bukan karena alasan substantif apalagi prinsipil. Pokoknya mereka berusaha untuk tidak sependapat satu sama lain.

 

Baru Mingyu membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, seorang junior nurse lari tergopoh masuk ke ruangan dan memanggilnya. Refleks Mingyu berdiri dan bersiap untuk berlari keluar. Pasti ada pasien darurat, batin Mingyu. Tapi dia salah duga, bukan pasien melainkan dua orang yang sejak tadi jadi obyek obrolannya dengan Wonwoo dan Vernon. Mereka bertiga langsung berlari bersama nurse tadi menuju lokasi pertandingan.

 

Dari kejauhan pun sudah terlihat bahwa dua orang itu sedang adu argumen. Baik Prof Choi maupun sang konsultan sama-sama melotot dan saling tunjuk muka dengan telunjuk masing-masing.

 

“Enggak gitu caranya bos! Beda generasi beda approach! Situ namanya bikin perkara sama klien yang punya power besar di sosmed. Siap-siap aja tim anda ini dirujak sama netizen!” sang konsultan berseru sambil memasang wajah mengejek.

 

“Ya tugas anda untuk mitigasi resiko. Ngapain tadi cuma berdiri liatin kejadiannya? Harusnya step in, bantu saya untuk ngomong sama dia.” balas Prof Choi dengan suara yang tidak kalah kerasnya.

 

“Loh anda itu mbayar saya untuk hal lain. Bukan untuk jadi bekingan!”

 

“Ya nanti tinggal saya tambahin bayarannya!”

 

“Kacau ini pola pikirnya. Tidak sesederhana itu. Yang jelas-jelas ada di perjanjian kerja aja anda nggak mau nurut sama saya. Kok yang kayak gini saya disuruh step in. Logikanya dimana?!”

 

“LOGIKA ANDA YANG DIMANA? TAU KALO ADA POTENSI BAHAYA MALAH DIEM AJA?!” Prof Choi sekarang sudah berteriak. Membuat seluruh orang di sekitar mereka jadi menyadari sedang ada tontonan seru di sini.

 

“Prof…” panggil Wonwoo dengan nafas terengah. Tetapi sepertinya tidak terdengar karena tertutup suara sang konsultan yang langsung balas berteriak.

 

“JANGAN MARAH-MARAH ANDA!” sang konsultan balas berteriak sambil tangan kanannya membentuk gesture menembak ke arah Prof Choi.

 

Prof Choi balik menuding sang konsultan dengan tangan kanan sementara tangan kirinya bertolak pinggang. “LAH ELU YANG BIKIN GUE MARAH.”

 

Wonwoo langsung maju ke tengah dua orang itu. Satu tangan memegang dada Prof Choi dan mendorongnya pelan. Sementara satu tangan lainnya ditaruh di dada dan sedikit membungkukkan badan ke arah sang konsultan dengan senyum manis. “Maaf, dokter Tirt*. Saya Wonwoo, nurse senior di sini…”

 

Berhasil. Kalimat perkenalan Wonwoo menyadarkan Prof Choi dari amarahnya. Profesor itu kemudian mundur beberapa langkah dan terlihat berusaha mengatur nafasnya yang tanpa sadar sudah terengah-engah. Sementara sang konsultan juga langsung menempatkan diri dan mengatur ekspresi wajahnya. Ikut menunduk membalas sapaan Wonwoo.

 

“Halo, salam kenal.” nada dan intonasinya langsung berubah drastis. Samar terdengar suara dengusan Vernon di sebelah Mingyu. Atau mungkin dengusan Mingyu sendiri. Entahlah. 

 

“Prof Choi, maaf, dicari sama dokter Joshua unit pediatri. Minta ditelpon balik katanya…” ucap Wonwoo kepada Prof Choi. Sebuah kode di antara tim inti Trauma Center yang selalu digunakan saat mereka harus membebaskan Prof Choi dari orang-orang tidak diinginkan. Kali ini, Wonwoo gunakan untuk memisahkannya dari sang konsultan agar adu mulut mereka tidak berubah menjadi adu jotos.

 

“Oke.” jawab Prof Choi cepat. Dengan sorot mata yang masih belum sepenuhnya reda dari amarah membara, kepala Tim Trauma Center ini berpamitan pada sang konsultan, “Kita lanjutkan nanti lagi…”

 

Sang konsultan sendiri, dengan senyum mengejek yang tiba-tiba muncul lagi di wajahnya, menjawab tenang, “Monggo, dok. Selamat bertugas.”

 

“Dokter Tirt* mungkin mau minum sesuatu?” tanya Wonwoo setelah Prof Choi sudah cukup jauh berjalan. “Mari saya antar ke ruang konsul.”

 

Alih-alih menjawab, sang konsultan malah menatap Wonwoo dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. Seolah menilai. Seakan berminat. Mingyu langsung memasang sikap waspada. Susah amaaat punya gebetan primadona begini…

 

“Kamu kok belum pernah ketemu saya?” tanya sang konsultan setelah beberapa saat.

 

Wonwoo tersenyum manis, sesuatu yang Mingyu pikir tidak perlu dilakukan. “Karena saya sudah beberapa hari shift malam dan sebelumnya cuti juga, dokter. Jadi kita baru ketemu sekarang…”

 

Sang konsultan tersenyum sumringah dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Ngapain, gerutu Mingyu dalam hati. Sudah ngobrol lumayan banyak baru ngajak salaman… Kan aneh… Rasanya Mingyu mulai bisa memahami kenapa Prof Choi tidak suka pada sang konsultan ini.

 

“Ngomong-ngomong, Dokter Mingyu,” ucap sang konsultan sambil memandang ke arah Mingyu, “Kalau situ masih nggak dikasih izin buat jadi wajahnya Tim, nggak papa deh. Ganti nurse Wonwoo ini aja kayaknya. Sama-sama nyenengke di kamera wajahnya. Tur malah lebih cocok ini.”

 

“Ada manis-manisnya ya dok, kayak Le Minerale.” tambah Wonwoo dengan tawa ceria.

 

“Nah betuuul! Tinggi kandungan mineral yang bagus untuk tubuh!” tanggap sang konsultan dengan tawa menggelegar.

 

Mingyu refleks maju. Entah karena apa, tapi dia tahu apapun yang terjadi di depan matanya ini menjengkelkan dan harus segera dihentikan. Tetapi hanya satu langkah dan ada tangan yang langsung dibentangkan ke depan dadanya. Tangan Vernon. 

 

“Itu konsultannya udah nikah dan punya anak. Family man banget. Nggak akan dia aneh-aneh genitin Wonwoo.” bisik Vernon dengan seringai.

 

Mingyu membuka mulut ingin menanggapi tetapi tidak ada kata-kata koheren yang bisa otaknya susun.

 

“Chill.” tambah Vernon lagi.

 

“Gue chill…” sambar Mingyu dengan wajah yang sudah terasa panas membara. Pasti merah padam.

 

“Sejak kapan lo chill kalo ada yang di deket Wonwoo apalagi sampe berani akrab sama dia gitu? Gue kan yang selalu jadi top suspect dan top target kebiasaan cemburu buta lo itu, Kim Mingyu… Jangan coba-coba begoin gue…”

 

Mingyu diam tapi hatinya mencatat. Dia harus bisa meyakinkan Prof Choi agar menyetujui dirinya sebagai wajah tim. Bukan karena dia cemburu buta seperti tuduhan Vernon ini, kok. Sama sekali bukan. (Bukan sesuatu yang perlu diragukan lagi alias emang gitu kenyataannya :)) 

 

Notes:

manifesting sebong Indonesian tour dan jadi tamu podcast-nya dr tirta one day 🤞

Series this work belongs to: