Actions

Work Header

dari mata turun ke hati

Summary:

ushijima wakatoshi. cakep sih, pintar juga. tapi kalau soal cinta... ah, begonya keluar!

sebetulnya, bukan kali pertama wakatoshi bertemu dengan tendou satori. mereka satu angkatan di sekolah, tapi jarang berinteraksi. tapi, waktu pertama kali interaksi sama satori, kok, jantungnya jadi loncat indah, ya?! duh, kenapa, nih?!

Notes:

assalamualaikum wr wb wahai pembaca-pembaca sekalian.

akhirnya fic pertama di tahun 2026 lahir juga. kali ini fanficnya bukan yang serius banget. yang light-hearted karena author-nya lagi kangen masa SMA. 2014 dan udah SMA... ketauan banget umurnya.

kota mangunwijaya di sini bukan kota betulan. dia fiktif, tapi tetap bertempat di indonesia. kenapa begitu? karena kita punya free will :P

okay lol happy reading and i hope you guys enjoy it!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kota Mangunwijaya, 2014 

 

"wakatoshi! catnya udah dateng nih. bawain ke anak dekor, dong!” 

"oke!" wakatoshi membentuk gestur salut untuk tooru sebelum beranjak dari lingkaran panitia yang lagi asyik nongkrong di depan aula sekolah. cowok itu bergegas ke tempat parkir menghampiri mobil HRV merah. hajime sudah membuka pintu bagasi bersama tetsurou. puluhan kaleng cat ada di sana. 

"gila. udah kayak mau ngecat satu sekolah aja," komentar wakatoshi sambil tertawa. "lo nggak dikira bapak-bapak muda yang mau renovasi rumah kan, hajime?"

hajime ikut tertawa. "mungkin kalau gue sama tooru yang ke depo bangunan udah dikira berkeluarga kali ya." 

"sialan," wakatoshi terkekeh, mengambil tiga kaleng cat dari bagasi. cat-cat ini adalah bahan untuk panitia dekorasi membuat background pensi. sudah dari tahun ke tahun, melukis background adalah proker divisi dekorasi selain membuat banner dan sebagainya. katanya supaya suasananya lebih hidup daripada hanya mencetak banner. 

"ru! catnya taruh mana nih?" seru wakatoshi. tooru lantas menoleh. 

"sebentar, kayaknya tadi ada anak dekorㅡoh! satori!" 

cowok berambut merah yang tadi berjongkok sambil mengusap kepala kucing liar mendongak. "ada apa, tooru?" tanya satori, beranjak dari duduknya untuk menghampiri tooru. 

"itu, tolong arahkan wakatoshi sama anak perkap yang lain, dia tanya catnya mau taruh di mana." 

"oh," satori manggut-manggut. sepasang mata merah delimanya dialihkan pada wakatoshi kemudian tersenyum ramah. "ayo ikut aku," ujarnya, melangkah lebih dulu untuk memimpin. 

di belakangnya, wakatoshi dan beberapa anak perkap berjalan mengikuti. 

"ruang kerja anak dekor ada di aula lama, jadi kalau ada apa-apa, temui kami di sana," terang satori. "teman-teman! catnya sudah datang!" ia berseru begitu sampai di aula yang sudah dipenuhi anak-anak divisi dekorasi. berbalik, diambilnya tiga kaleng cat dari tangan wakatoshi. "terima kasih, ya, wakatoshi," katanya ramah. 

setiap hal memiliki alasan mengapa hal itu ada. termasuk yang abstrak seperti perasaan sekalipun. termasuk jantung yang berdebar dan pipi yang memanas sekalipun. 

wakatoshi sedang mengalaminya sekarang. 

 


 

tendou satori sebenarnya cowok yang biasa saja. bukan cowok yang masuk dalam lingkaran siswa populer, bukan juga jagoan sekolah langganan lomba. dia cowok yang sederhana dan ramah. meskipun mereka satu angkatan, bukan berarti wakatoshi sering berinteraksi dengan satori. hanya beberapa kali saja, salah satunya di ruang OSIS ketika satori sedang mengobrol asyik dengan anggota OSIS kelas 1.

semalam, wakatoshi iseng cek instagram satori. isi postingannya dipenuhi dengan resensi buku, fotografi benda (kebanyakan makanan dan minuman di menu-menu kafe dan restoran), beberapa potret satori seorang diri atau bersama keluarga dan teman-temannya. 

dari informasi yang wakatoshi dapatkan: satori adalah tunggal di keluarganya. selalu berangkat pagi dan pulang dijemput papanya. sangat suka warna ungu, band Hivi!, Vierra, Raisa...  

"satori anaknya baik, kok," kata tooru. "dia juga sedang nggak dekat sama cowok lain, kalo lo butuh informasi tambahan." 

wakatoshi menatap cowok di depannya dengan kening dikerutkan. 

"jangan kira gue nggak ngerti, wakatoshi," kata tooru lagi, senyumnya menunjukkan kemenangan, "lo tertarik kan, sama satori?" 

wakatoshi ingin berkilah namun tooru menggelengkan kepala. "kebiasaan lo ya buat denial," sela tooru, "gas terus aja kali, mana tau satori bisa luluh kalo sama lo." 

"hah? kalo sama gue?" 

"satori itu, saking supelnya dia, semua dianggap teman, jadi susah ditaklukkan hatinya," kata tooru memberitahu. "lo kenal eita? semi eita. kenal dong, pasti.” 

wakatoshi mengangguk. tidak ada yang tidak kenal eita. si cakep jago gitar sekaligus anggota band sekolah. salah satu pentolan IPS... dan teman sekelas satori di IPS 1. 

“eita yang begitu aja kena friendzone telak sama satori,” wajah tooru serius. 

wakatoshi garuk-garuk kepala. kayaknya nggak bakal gampang deh. 

"pokoknya, kalo lo beneran tertarik sama satori, langsung ambil start. begitu-begitu banyak juga yang naksir dia. mungkin lo bisa nawarin boncengan, nganterin dia les. tempat lesnya nggakjauh dari rumah lo kok." 

maka, wakatoshi menuruti saran sahabatnya tentang ambil start lebih cepat. wakatoshi harap aksinya nggak berlebihan untuk sekadar PDKT. 

"anak dekor gimana?" tanya wakatoshi, melongokkan kepala masuk ke aula lama, "progressnya sampe mana?" 

"masih ngelukis gerbang," seseorang menyeletuk, "belum sampai 40% ini mah." 

"oh," wakatoshi manggut-manggut. sebagai anak acara, wakatoshi juga perlu menanyakan progress pengerjaan background dari anggota divisi dekorasi. 

mata wakatoshi diedarkan ke seluruh aula lama, mencari sosok satori. langsung ketemu di pojok aula, sedang asyik melukis papan triplek berbentuk atap kastil bersama anak dekorasi yang lain. 

duh, ngedeketinnya gimana coba? 

wakatoshi bingung, garuk-garuk kepala. sebenarnya sekarang sudah waktunya untuk pulang. sudah jam 10 malam. wakatoshi lihat beberapa panitia sudah pulang, tapi satori malah masih betah melukis. 

terus kalau dia aja nggak pulang-pulang begini, gimana mau nawarin boncengan? 

"sudah jam 10 malam satori, kamu nggak pulang?" 

wakatoshi bersyukur dan berterima kasih pada shinsuke yang muncul di sebelahnya, melongokkan kepala untuk mengintip. 

"aku mau pulang sama aran. ayo bareng kami. papamu lagi nggak bisa anter-jemput, kan?" ajak shinsuke. 

"kalian duluan aja," satori menoleh sebentar sebelum fokus melukis lagi. "nanti aku pulang sendiri kok. ada gojek, aman aja." 

jangan bilang kalau wakatoshi tidak tahan untuk tidak menawarkan boncengan, tapi bisa aneh jadinya kalau tiba-tiba saja wakatoshi menceletuk. lagipula mereka belum kenal secara resmi; satori tahu namanya juga karena diminta tooru untuk menemani wakatoshi ke ruang kerja panitia dekorasi. 

"eeeh jangan pulang sendiri. bahaya!" cegah shinsuke. "akhir-akhir ini situasinya nggak baik buat pulang sendirian. kamu nggak ingat orang gila pelaku pelecehan di jalan deket warung pojok masih belum ketemu?" 

seketika gerakan melukis satori berhenti. dia menoleh panik pada shinsuke. "kok kamu malah nakut-nakutin sih?!" 

"aku bicara fakta, satori sayang," shinsuke menghela napas panjang. "pokoknya, kamu harus cari barengan buat pulang, ya. wakatoshi misalnya." 

wakatoshi melotot kaget. apa katanya? 

wajah satori tampak ragu. wajar kalau ragu, walaupun mereka sama-sama panitia pentas seni sekolah, tapi satori nggak betul-betul kenal wakatoshi, begitu juga sebaliknya. satori anak IPS, wakatoshi anak IPA. sudah beda program, lorong kelas juga berbeda pula. 

"udah, nggak apa-apa. toh, sesama panitia juga kan?" shinsuke tersenyum, melirik sebentar pada lelaki tegap di sebelahnya. "sangar-sangar begini wakatoshi baik banget lho. rumah wakatoshi juga nggak jauh dari daerah rumahmu, kok." 

wakatoshi hampir pingsan rasanya. kepalanya mendadak pening. ia tahu arti senyum shinsuke yang tadi. 

gue tahu lo naksir dia, wakatoshi. 

kadang, wakatoshi berharap ia bisa punya indera keenam. eh, betul ya indera keenam? atau jangan-jangan, shinsuke bisa membaca pikirannya?! 

"sudah, ya. wakatoshi, pokoknya gue titipin satori ke lo. jangan sampai sahabat kesayangan gue kena gores satu milimeter pun," shinsuke menepuk-nepuk pundak wakatoshi, tersenyum penuh arti sebelum berlari menghampiri pacarnya yang sudah menunggu. 

wakatoshi memejamkan mata sambil menghela napas. 

 


 

walaupun jadinya canggung dan aneh, pada akhirnya wakatoshi tetap mengantar satori pulang. 

sambil mengendarai motornya membelah jalanan kota di malam hari, wakatoshi berpikir topik apa yang bisa dia bicarakan dengan satori. hitung-hitung berkenalan dengan resmi, sambil cari alasan supaya bisa menahan kantuk. 

"ummm, satori," wakatoshi memanggil, agak keras karena helmnya adalah helm full face. "setelah lampu merah di dekat supermarket, aku harus belok ke mana?" 

setengah menit, satori tidak menjawab. wakatoshi menaikkan alis, keningnya berkerut bingung. ia merasa joknya masih berat, kok. kenapa satori tidak menjawab pertanyaannya? 

"satori?" 

tuk. tuk. 

suara helm mereka yang bertabrakanlah yang menjawab pertanyaan wakatoshi. 

takut ada apa-apa, apalagi setelah diancam shinsuke untuk tidak membuat lecet sahabat cantiknya, wakatoshi menepikan sepeda motor di tepi jalan. ia menoleh dan hampir tergelak melihat satori terkantuk-kantuk sambil berpegangan pada tali ranselnya. ya ampun, lucu. 

"satori, kalau kamu mengantuk, pegang jaketku erat-erat," kata wakatoshi. 

"eh?" satori merespons kecil, kebingungan. jelas sekali kalau cowok ini sudah hampir sampai di alam mimpi kalau tidak dibangunkan wakatoshi. 

wakatoshi tersenyum. kedua tangannya menarik tangan satori untuk memeluk pinggangnya. bukan apa-apa, tapi ini demi kebaikan satori meskipun tidak baik untuk kesehatan jantung wakatoshi. 

pemuda itu kembali melajukan sepeda motornya dengan satori yang tertidur di punggungnya. 

 


 

"kemarin shinsuke bilang ke gue kalau satori pulang dianterin lo. lo berhasil nganterin satori pulang dengan selamat kan? tanpa lecet sedikitpun?" 

wakatoshi ditodong pertanyaan lengkap dengan pena yang disorongkan ke depan hidungnya tepat ketika ia hendak masuk ke kelas. siapa lagi pelakunya kalau bukan tooru. "yap, gak ada lecet satu milimeter pun." 

"lo juga gak cari-cari kesempatan ke dia, kan?" 

"hah? kesempatan gimana?" 

"ya misalnya nyuruh dia meluk lo, kek, atau lo ngerem mendadak, kek." 

kalau dia tidur dan diambang bahaya, bukan kesempatan kan namanya? "nggak. semua beres. dia aman," wakatoshi mengacungkan jempol. “bisa tanya langsung ke anaknya kalaunggak percaya.” 

tooru tersenyum puas. "bagus. and you owe some thanks to me," katanya. "kalau gue nggak suruh shinsuke nggak suruh satori buat pulang sama lo, lo nggak bakal kenal sama dia." 

wakatoshi memutar bola matanya malas. meskipun kedengarannya songong, tapi yang tooru bilang juga benar. pulang bareng kemarin jadi alasan wakatoshi untuk bisa memulai percakapan dengan satori lagi, tapi untuk urusan pacaran, wakatoshi super duper payah. nggak seperti hajime yang sat-set-sat-set kalau sudah menemukan seseorang yang menarik hatinya (out of all student at school, hajime berani naksir tooru si bintang taekwondo). 

“terus?” tooru merecet lagi. 

“terus apanya?” wakatoshi mengernyitkan kening tidak mengerti. 

“ya terus gimana, lo sama satori!” si cowok berambut cokelat berseru tidak sabar. lemot amat jadi laki! eh, dia juga laki, sih. tapi wakatoshi bego banget soal cinta! “nggak ada kelanjutan apa, gitu? tukeran nomor atau username akun Instagram lah, minimal.” 

ditanyai begitu, wakatoshi garuk-garuk pipi. sebenarnya dia bertemu dengan papa satori kemarin malam. wajar, namanya juga orang tua, ingin tahu wujud manusia yang mengantar pulang anak tunggalnya. tapi… masa wakatoshi kasih tahu tooru juga? bisa jadi bahan cengcengan sampai lulus sekolah! “ya… tukeran akun Instagram, sih. nomor ponsel terlalu pribadi, ru.” 

tooru tepuk dahi. rasanya belum puas mengomel, tapi ya sudahlah. urusan selanjutnya biar wakatoshi sendiri yang mengatur. 

"nanti sore ada rapat koordinasi antar divisi. semua anak acara wajib ikut," kata tooru, kembali ke mode ketuplak acara pentas seni sekolah. wakatoshi mengangguk sambil mengacungkan jempol. dadanya berdesir tipis-tipis. satori koordinator divisi dekorasi, jadi cowok itu sudah pasti ikut rapat.  

sore harinya, selepas sholat ashar, wakatoshi datang lebih awal dari biasanya. alasannya simpel: dia nggak mau ketinggalan duduk di posisi yang strategis supaya bisa melihat satori. siapa tahu tatap-tatapan mata, terus saling lempar senyum, terus… eh. malah jadi ngehalu. 

"wah, kesambet apa lo? jarang-jarang dateng awal," hajime berkomentar sambil menyeringai iseng. pemuda itu sudah duduk di pojok ruangan. laptop terbuka di hadapannya. "ada angin apa?" 

"nggak ada," wakatoshi menjawab singkat, memilih duduk di sisi kanan lingkaran, menempel ke tembok. posisi yang sempurna, pikirnya. satu per satu anggota panitia mulai berdatangan. wakatoshi pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal matanya terus melirik ke arah pintu. 

dan akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba: satori masuk ke ruang OSIS bersama koordinator divisi humas dan sponsorship, tetsurou dan morisuke. 

satori hari ini pakai sweater warna ungu pastel di atas seragam sekolahnya. rambut merahnya di-styling comma hair. eh, buset, cantik banget, wakatoshi jerit-jerit dalam hati. karena duduk di dekat kipas angin lantai, harum parfum satori yang fresh-fruity tersebar sampai ke hidung wakatoshi. bukan main berdebar jantung wakatoshi dibuatnya, padahal parfum ini juga yang dipakai satori kemarin. 

"satori! yuk sini, duduk sebelah aku," shinsuke melambai dari barisan depan. 

satori tersenyum dan berjalan ke arah shinsuke. sesaat, matanya bertemu dengan mata wakatoshi. cowok itu memberikan senyum kecil, senyum ramah yang biasa dia berikan ke semua orang sebelum duduk di samping shinsuke. 

wakatoshi merasa jantungnya melompat. cuma senyuman doang, wakatoshi. santai. 

rapat dimulai dengan koordinasi tiap divisi, melaporkan hasil kerja mereka seminggu ini, dipimpin oleh tooru. sesekali, wakatoshi mencuri pandang ke arah satori yang sedang serius menulis sesuatu di buku catatannya. 

"oke, untuk divisi dekorasi, progress background sudah sampai mana?" tanya tooru. 

satori langsung berhenti mencatat, membuka beberapa lembar dalam catatan barunya, lalu duduk tegak menjelaskan. "untuk background gerbang sudah sekitar 65% dan kami target minggu depan bisa selesai, sekurang-kurangnya 90%. banner dan properti lainnya juga sudah on progress." 

suara satori agak cempreng, masih ada kesan kekanak-kanakan dalam nadanya. super gemas. wakatoshi hampir lupa kalau dia seharusnya mendengarkan isi laporan satori, bukan malah terpesona dengan cara cowok itu bicara. 

"oke, sip! kalau butuh bantuan tambahan, langsung bilang ke divisi perlengkapan ya," kata tooru. satori mengangguk dan duduk kembali. 

rapat berlanjut dengan divisi lain. wakatoshi mencoba fokus, tapi pikirannya terus melayang. dia ingat bagaimana semalam satori tertidur di punggungnya. bagaimana cowok itu memeluk pinggangnya erat-erat tanpa sadar. bagaimana— 

"wakatoshi? woi, wakatoshi!" 

wakatoshi tersentak. semua mata mengarah padanya. 

"lo dengerin nggak sih?" tanya tooru. 

"eh, iya... dengerin kok.” 

"kalau gitu, coba ulangi yang baru aja gue bilang." 

wakatoshi membeku. hajime di sebelahnya berbisik pelan, "rundown acara harus diserahin minggu depan." 

"rundown acara... harus diserahin minggu depan," wakatoshi mengulang dengan nada tidak yakin. 

tooru memutar bola matanya. "iya, bener. tapi lo melamun dari tadi, wakatoshi. fokus dong." 

beberapa orang tertawa kecil. wakatoshi menunduk, malu. tapi saat dia mengangkat kepala, dia menangkap satori yang juga tertawa. sekarang, wakatoshi bisa lihat lesung pipi kumis kucing di bawah matanya. duh Gusti Pangeran, cantik benar makhluk ciptaanmu yang satu ini! karena tawa itu juga, entah kenapa, rasa malu wakatoshi langsung menguap. digantikan dengan perasaan hangat yang aneh. satori tertawa karena dia.  

setelah rapat selesai, wakatoshi berniat langsung pulang. tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara yang sudah mulai familiar di telinga. 

"wakatoshi!" 

wakatoshi menoleh. satori berlari kecil menghampirinya. 

"iya?" wakatoshi berusaha terdengar santai meskipun jantungnya sudah berdebar tidak karuan. 

"makasih ya, kemarin udah nganterin aku pulang," kata satori sambil tersenyum. pipinya sedikit merona. "maaf aku malah ketiduran. pasti ngerepotin." 

"nggak kok, santai aja," wakatoshi tersenyum. "lagi capek banget ya kemarin?" 

satori mengangguk. "iya, dari pagi udah mulai ngelukis. soalnya deadlinenya makin deket." 

"kalau gitu jangan maksain diri. kesehatan penting juga." 

satori terlihat sedikit terkejut dengan perhatian wakatoshi, tapi kemudian dia tersenyum lagi. "iya, makasih ya. eh... kalau nanti ada waktu lagi dan aku pulang malem, boleh nggak aku minta tolong lagi?" 

wakatoshi hampir teriak kegirangan, tapi dia tahan. nggak mungkin dong, dia jingkrak-jingkrak di depan malaikat cantik ini. stay cool, wakatoshi. stay cool. 

"boleh banget. kapanpun. santai aja," katanya, berusaha terdengar casual. 

"makasih, wakatoshi! kamu baik banget," satori tersenyum manis sebelum berbalik dan berlari kecil menyusul teman-temannya. shinsuke, tooru, dan morisuke langsung heboh mengelilinginya. pipi satori dicubit, bahunya dirangkul, lengannya ditarik-tarik saking gemasnya. dari sini, dari tempatnya berdiri, wakatoshi bisa lihat pipi satori merekah merah. malu-malu satori menoleh ke balik bahunya, mata mereka saling bertatapan sekali lagi. 

wakatoshi tersenyum, tangannya terangkat melambaikan sampai jumpa. 

jatuh cinta memang indah, ya. 

Notes:

comments and kudos are very appreciated!

Series this work belongs to: