Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-09
Words:
3,789
Chapters:
1/1
Comments:
11
Kudos:
74
Bookmarks:
7
Hits:
948

Sunday Cravings

Summary:

Three weeks apart officially triggered Juhoon's clingy mode. Now he's refusing to let go, asking for random kisses, and constantly burying his face in Martin’s chest. Here's just a little glimpse into their lazy Sunday together, and Martin being hopelessly whipped over it (of course!).

WARNING: This is super cringe!

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

2:17.

Angka-angka itu berbaris kaku di layar ponsel Martin. Ia tidak berniat beralih menatap jendela yang basah oleh hujan, atau langit-langit kamar yang semembosankan kertas ujian kosong. Matanya hanya butuh satu validasi: Oh, sekarang sudah lewat tengah hari. 2:17 PM. Hari Minggu.

 

Di luar, hujan masih turun deras. Martin mengunci layar ponselnya, meletakkannya asal ke atas nakas, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke sisi kiri.

 

Tepat di sampingnya, Juhoon sedang terlelap; meringkuk menghadapnya. Satu tangan terselip rapi di bawah ujung bantal, sementara tangan satunya terkulai santai di antara ruang sempit yang memisahkan tubuh mereka.

 

Duh, kok bisa selucu ini, sih? batin Martin. Namun sedetik kemudian, ia sadar kata "lucu" adalah sebuah penyederhanaan yang menghina. Lebih tepatnya begini: tingkat keimutan Juhoon saat ini sudah berada di level yang mengancam stabilitas emosi Martin, dan seharusnya memiliki regulasi ketat. Semacam undang-undang. Pasal Satu: Dilarang terlihat menggemaskan tanpa memberikan peringatan dini.

 

Rambut Juhoon jatuh menutupi dahi, helai-helainya mencuat tidak beraturan—seperti benang wol yang gagal dirajut menjadi baju hangat. Efek samping dari keputusannya melewatkan jadwal keramas hari ini.

 

Martin mengangkat tangannya pelan. Membiarkan punggung jarinya menyisir helai rambut itu ke samping dengan penuh hati-hati.

Juhoon tidak terbangun. Ia hanya bergerak sedikit, mencari posisi yang lebih hangat, lalu mengeluarkan suara lenguhan pendek—mnh—sebelum napasnya kembali teratur.

 

Martin menghela napas pelan. Sebuah senyum tipis, nyaris tak kentara, tercetak di bibirnya.

Hujan di luar mulai mereda, menyisakan ketukan gerimis di kaca jendela.

 

Sebenarnya, sebelum Juhoon tertidur tadi, mereka berdua sedang menonton Chungking Express. Ya, untuk Juhoon, ini sudah terhitung keempat kalinya ia menonton film favoritnya itu. Martin bahkan sudah hafal di luar kepala urutan komentar pacarnya: pertama tentang pencahayaan yang tampak sepi, kedua soal blocking, dan ketiga tentang bagaimana Christopher Doyle memegang kamera layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta sekaligus menahan rindu.

 

“Bebe notice nggak tadi? Kameranya ikut gemetar?” tanya Juhoon waktu itu.

“Oh, part yang itu disengaja, ya? Kirain gara-gara Doyle kebanyakan ngopi atau emang udah waktunya makan tapi nggak dikasih break sama Wong Kar-wai,” respons Martin asal, tangannya sibuk menarik selimut untuk menutupi kaki mereka berdua.

 

Juhoon mendengus, lalu memukul perut Martin pelan dengan punggung tangannya. “Kamu nggak romantis banget, sih.”

 

Dipikir-pikir, kurang romantis apa coba si Martin ini? Ia sudah tiga kali menonton film yang sama. Semuanya dilakukan bersama Juhoon. Semuanya ditonton karena Juhoon. Dan Martin tidak pernah menyesal satu kali pun—yang penting, di sebelahnya ada Juhoon.

 

Lamunan Martin terputus saat sosok di depannya mulai bergerak. Juhoon menggeliat pelan, merentangkan kakinya di bawah selimut sebelum akhirnya kembali meringkuk. Bulu matanya bergetar halus. Kelopak matanya terbuka pelan, mengerjap beberapa kali sampai kabut tidurnya menguap dan presensi Martin tertangkap jelas di pandangannya.

 

Juhoon hanya menatap diam selama tiga detik, seolah memastikan Martin benar-benar ada di sana, lalu ia memejamkan mata lagi sambil menghela napas panjang.

 

“Bebe,” sapa Martin pelan. “Udah bangun?”

“Eung,” gumam Juhoon. Suaranya serak dan berat. Tangannya bergerak naik, bersiap mengucek matanya kuat-kuat.

 

Dengan sigap, Martin menangkap pergelangan tangan itu di udara, lalu menuntunnya turun. “Jangan dikucek,” bisiknya. Ibu jarinya mengelus pelan nadi di pergelangan tangan Juhoon. “Nanti matanya merah kalau dikucek terus.”

 

Juhoon tidak menjawab, tapi ujung hidungnya berkerut lucu. Bukannya bangun, cowok itu malah memajukan wajahnya, menyuruk buta ke ceruk leher Martin. Pipinya menggesek kaus katun Martin beberapa kali, mencari spot paling nyaman.

 

Martin menahan senyum. Ia menggeser bahunya agar Juhoon bisa mendapat ruang yang pas, lalu melingkarkan lengan melewati punggung pacarnya itu. Ditariknya tubuh Juhoon sedikit lebih dekat, sebelum ia menundukkan kepala dan menempelkan dagunya di atas puncak rambut Juhoon yang berantakan.

 

Martin menghirup napas dalam-dalam. Hidungnya menangkap perpaduan aroma yang sangat ia rindukan: wangi softener dari serat sprei, beradu dengan aroma alami tubuh Juhoon yang manis dan bersih. Wanginya tidak mencolok, hanya terasa hangat, seperti selimut yang baru diangkat dari jemuran di bawah matahari sore.

 

“Jam berapa sekarang, Bebe...?” Juhoon akhirnya bersuara. Serak khas orang yang baru saja didepak dari alam mimpi.

“Setengah tiga kayaknya,” balas Martin santai.

“Masih hujan, ya?”

“Hm.”

“Kayaknya baru ketiduran sebentar... ternyata udah sejam lebih, ya,” keluh Juhoon pelan.

 

Martin tersenyum. Telapak tangannya mulai bergerak mengusap punggung Juhoon—naik-turun yang menenangkan, seirama dengan rintik gerimis di luar sana. “Mimpi apa, sih? Betah banget tidurnya,” goda Martin.

 

Sebagai jawaban, Juhoon hanya tertawa kecil. Ia mengeratkan pelukannya, merengkuh pinggang Martin seolah cowok itu adalah satu-satunya sumber panas di tengah cuaca yang dingin.

 

“Duh, ditanya malah ketawa doang.” Martin makin gemas. Jemarinya yang bebas beralih ke tengkuk Juhoon, membelai rambut pendek di sana dengan ujung kuku. “Kayaknya bagus banget mimpinya tadi. Bagi-bagi, dong. Biar aku juga ikut happy.”

 

Juhoon memundurkan sedikit badannya, hanya cukup agar matanya bisa bertubrukan langsung dengan tatapan Martin. “Aku mimpi kita nikah,” ucapnya tiba-tiba.

Alis Martin terangkat naik. “Nikah?”

Juhoon mengangguk pelan. “Nikahnya di Yvoire. Bebe tahu nggak itu di mana?”

 

Martin mencoba memutar peta dunia di kepalanya selama sedetik, lalu langsung menyerah. “Nggak,” kekehnya. “Baru denger. Kayak gimana tempatnya?”

 

“Itu di Perancis. Desa tua gitu, kayak medieval village,” jelas Juhoon, nada suaranya perlahan naik karena antusias. “Desanya ada di tepi Lake Geneva. Bangunan-bangunannya dari batu bata tua, terus jalanannya sempit.” Juhoon memberi jeda dramatis, matanya berbinar. “Oh! Sama ada bunga wisteria ungu yang gelantungan dari tiap balkon.”

 

Juhoon melepaskan satu tangannya dari pinggang Martin, menjulurkannya ke udara dan membentuk kotak imajiner dengan jari-jarinya—membingkai sebuah adegan film di kepalanya.

 

“Terus, cahayanya lagi golden hour. Sinar mataharinya mantul ke danau, jadi tembok-tembok desanya berubah warna jadi... aduh, gimana jelasinnya ke kamu, ya? Kayak warna emas tapi tone-nya hangat. Terus di sana tuh sepi banget, Bebe. Cuma ada suara air sama angin.”

 

Martin memperhatikan gestur tangan itu, lalu memindahkan fokusnya sepenuhnya pada binar di mata Juhoon.

 

“Detail banget, ya,” gumam Martin. Ia tidak tahan lagi. Ditariknya tubuh Juhoon lebih rapat. “Mimpinya pakai riset lokasi segala, ya? Sampai ke detail bunga-bunganya.”

 

Ada rasa gemas yang membuncah dan sulit Martin sembunyikan. Menurutnya, Juhoon itu terlalu berharga untuk dibiarkan bangun dan menghadapi dunia yang bising. Harusnya Juhoon selamanya berlindung saja di balik selimut hangat ini bersamanya.

 

“Terus,” bisik Martin, sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Juhoon lebih jelas, “di mimpi itu, kita pakai baju apa?”

“Pakai jas broken white," jawab Juhoon pelan. “Berdirinya di balkon yang menghadap ke danau. Terus... kamu senyum pas pasangin cincinnya di jari aku, Bebe.”

 

Tawa rendah lolos dari dada Martin. “Oke, aku tambahin detailnya juga, ya.” Jemarinya bergerak perlahan, menyusuri garis rahang Juhoon dengan gerakan kelewat lembut. “Jas broken white, aku setuju. Tapi sepatunya jangan yang kaku, dong. Aku mau pakai Docmart hitam, terus Bebe pakai Converse yang solnya tebal banget itu.”

 

“Hah? Masa nikah aku pakai Converse?”

 

Sudut bibir Martin terangkat sebelah. Tatapannya turun, terpaku pada bibir Juhoon selama beberapa detik, sebelum ibu jarinya naik mengusap sudut bibir bawah pacarnya itu dengan hati-hati.

 

“Iya, biar tinggi kamu nambah beberapa senti,” bisik Martin dengan nada usil. “Ini demi kesehatan, Bebe. Biar lehernya nggak pegal waktu sesi ciumannya nanti.”

 

Tawa Juhoon seketika pecah—renyah dan lepas—bersamaan dengan semburat merah muda yang mendadak menyerbu pipinya. Ia buru-buru menyurukkan wajahnya kembali ke leher Martin, mencari tempat persembunyian paling aman. “Sombong banget! Mentang-mentang lebih tinggi. Bboooo~

 

Martin tertawa puas menanggapi sorakan ejekan itu.

Tawa Juhoon perlahan mereda, digantikan oleh nada bicara yang mendadak jadi lebih serius. “Terus, ya,” lanjutnya pelan, “nanti kita cari pendeta lokal di sana buat langsung kasih pemberkatan. Di sana kan... bisa, Bebe. Maksud aku, bisa benar-benar sah dan sakral.”

 

Martin terdiam. Ah, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini—tentang pengakuan yang belum bisa mereka dapatkan di sini. Martin ingin segera menghalau awan mendung itu, menarik Juhoon kembali dari pikiran beratnya ke atas kasur mereka yang hangat.

 

“Repot amat cari pendeta lokal. Nanti kalau dia ngomong pakai bahasa Perancis, Bebe malah bingung jawab oui oui doang,” sahut Martin dengan nada datar yang terlampau meyakinkan. “Minta tolong Kak James aja.”

 

Juhoon mendongak dari ceruk leher Martin, keningnya berkerut bingung. “Kak James?”

 

“Iya.” Martin mengangguk mantap. “Dia kan anak gereja banget dari kecil. Nongkrongnya di gereja mulu, terus dari zaman bina iman anak tuh dia udah jadi spesialis yang mimpin doa. Jam terbangnya tinggi, Bebe. Percaya, deh.”

 

Juhoon mengerjap, membayangkan wajah kakak Martin—yang biasanya hanya ia lihat mondar-mandir memakai kaus oblong sambil main game—tiba-tiba harus memakai kemeja rapi dan memberkati pernikahan mereka di pinggir danau Geneva. Detik berikutnya, tawa kecil tak tertahankan lolos dari bibir Juhoon.

“Nggak jelas banget,” gumam Juhoon di sela tawanya.

 

Mendengar tawa itu kembali, Martin merasa jadi lebih ringan. Ia meraih tangan Juhoon, membawanya ke bibir, lalu mengecup buku-buku jari itu satu per satu dengan pelan. Sebuah ritual kecil untuk merayakan kembalinya binar Juhoon.

 

Juhoon memperhatikan gerakan bibir Martin dengan senyum yang menolak luntur. Namun saat kecupan ketiga baru saja mendarat, Juhoon menarik tangannya pelan, menghentikan ritual itu.

 

“Udah,” bisik Juhoon pelan. Senyumnya tertahan di ujung bibir.

Martin menatapnya, alisnya bertaut heran. “Udah?”

 

“Iya, udah,” jawab Juhoon mantap. Ia memajukan badannya dan kembali menubruk pelukan Martin. “Sekarang mau dipeluk aja.”

 

Martin terkekeh pelan. Tangannya otomatis mendekap punggung Juhoon, menyambut sepenuh hati beban tubuh yang bersandar padanya.

 

“Tumben, ya,” bisik Martin, menempelkan bibirnya di puncak kepala Juhoon sekilas. “Hari ini clingy banget, Bebe.”

 

“Ya wajar, lah,” gumam Juhoon merajuk. “Kita kan baru ketemu lagi setelah satu bulan lebih.”

 

Martin mengernyit. Di dalam kepalanya, ia secara otomatis menghitung mundur kalender. “Satu bulan? Lebih?”

 

“Iya.” Juhoon mengangguk tegas di dadanya. “Kan Bebe pergi overseas program kemarin. Orang lagi semester break malah ambil kelas, ke Tokyo pula... nggak ngajak-ngajak.”

 

Sambil mengomel dengan nada merengek, Juhoon mulai mengubah posisinya. Ia tidak lagi puas hanya tidur menyamping bersisian. Pelan tapi pasti, Juhoon menggeser seluruh berat tubuhnya, naik ke atas tubuh Martin, dan menjadikan dada serta perut cowok itu sebagai kasurnya.

 

Kini Martin telentang sepenuhnya, sementara Juhoon bersarang nyaman di atasnya—menempel rapat seolah ia adalah stiker dengan perekat kuat.

 

“Ya kan mau diajak juga, Bebe lagi internship. Lagian, kemarin itu tiga minggu programnya. Dua puluh hari deh, kayaknya," koreksi Martin halus. Ibu jarinya kembali mengabsen pergelangan tangan Juhoon yang kini terkulai di bahunya. “Sabtu kan aku udah ambil flight paling pagi biar cepet. Malamnya kita juga langsung ketemu.”

 

Juhoon menggeleng kuat-kuat—membuat rambut awut-awutannya menggesek leher Martin, memicu rasa geli. Ia mengeluarkan gumaman “euumm~” yang panjang dan sarat akan protes, menolak mentah-mentah logika waktu milik Martin.

 

Juhoon mendongak sedikit dari posisinya yang menelungkup. Ada kilat manja sekaligus usil di matanya. “Masa, sih? Perasaan lebih lama bangeeeet.”

 

“Haha, iya tau, Bebe... Mau aku tunjukin jadwal kelas sama tiketnya?”

 

Juhoon kembali menjatuhkan wajahnya ke dada Martin, menyembunyikan pipinya di serat kain kaus pacarnya sambil menghela napas panjang yang terdengar sedikit menyayat.

 

“Ya tetep aja,” gumam Juhoon, suaranya teredam, sedikit bergetar. “Aku ngerasanya emang lama banget, kok. Sedih deh, ternyata cuma aku doang yang ngerasa kangen kayak gitu...”

 

Mati.

Kalimat merajuk itu, getar suaranya, dan cara Juhoon menyurukkan wajahnya—kombinasi mematikan yang sukses mengacaukan Martin siang itu.

 

Dengan satu gerakan, Martin memutar posisi mereka. Ia mendorong bahu Juhoon, membalik keadaan hingga kini Juhoon yang telentang di atas kasur, sementara Martin mengurungnya dari atas.

 

“Duh, kamu kok bisa se-gemas ini, sih?” desah Martin tidak habis pikir, wajahnya menggantung hanya beberapa inci di atas wajah Juhoon yang kini tampak kaget sekaligus merona hebat. “Bebe, kamu sadar nggak sih kalau kamu tuh lucu banget?”

 

“Enggak,” bantah Juhoon, memaksakan suara tegas. “Aku nggak lucu, ya! Nggak ada anak CompSci yang bisa lucu atau gemas!”

 

Martin tertawa renyah, kepalanya menggeleng pelan. “Ada, kok. Satu. Namanya Juhoon.”

 

“Nooo! Aku nggak lucu!” Juhoon menggelengkan kepalanya kuat-kuat ke kiri dan kanan, membuat rambutnya semakin berantakan menyapu bantal.

 

“Lucu,” tembak Martin telak, matanya mengunci pergerakan mata Juhoon. “Lucu banget. Gemas. Rambutnya juga lucu.”

“Enggak!”

“Lucu, kok. Kalau kamu lagi lari-lari nyamperin aku di kampus, rambutnya bisa kayak terbang-terbang gitu.”

 

Tanpa permisi, Martin menunduk dan mengecup puncak kepala Juhoon yang berantakan itu. Juhoon langsung terkekeh geli, senyum senangnya tidak bisa disembunyikan lagi. Ia mencoba menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan, tapi Martin lebih dulu menangkap pergelangannya dan menyingkirkannya.

 

Fokus Martin turun sejengkal. “Terus ya, dahi kamu juga lucu.”

 

Juhoon mendengus di sela tawanya. “Ih, apaan? Mana ada dahi dibilang lucu?”

 

“Ada,” sahut Martin penuh keyakinan. “Kamu,” telunjuk Martin mengetuk pelan kening Juhoon, “kalau lagi dikasih makanan enak, langsung mengkerut-kerut lucu gitu.”

 

Setelah itu, Martin mendaratkan satu ciuman lembut, sedikit lebih lama, tepat di kening Juhoon. Kali ini tawa Juhoon benar-benar lepas, matanya menyipit sampai menyisakan garis melengkung yang cantik.

 

“Hidungnya juga lucu,” bisik Martin. Jarak mereka semakin menipis.

“Apaan lagi, sih, Bebe? Hidung kok lucu? Kamu aneh, ya? Masih jetlag pasti.” Juhoon memutar bola matanya jenaka, meski dadanya naik-turun menahan tawa.

 

“Lucu tau,” gumam Martin, lalu mendaratkan bibirnya di pangkal hidung Juhoon—tepat di antara kedua matanya. “Kalau lagi bad mood, hidungnya suka gerak-gerak sendiri kayak kelinci.”

 

Juhoon menyerah. Ia hanya tersipu, membiarkan Martin memberikan semua afeksinya di siang menjelang sore itu.

 

“Terus pipinya,” lanjut Martin, telunjuknya kini mencolek pipi kanan Juhoon. “Ini juga lucu. Kenyal banget, kayak mochi.”

 

Juhoon baru saja membuka mulut, bersiap memprotes perumpamaan mochi itu, namun kalimatnya tertelan paksa karena Martin sudah lebih dulu menyerang pipi kanannya dengan ciuman panjang. Juhoon lagi-lagi hanya bisa menggeliat geli dan tertawa. Rasanya perutnya dipenuhi ribuan kupu-kupu.

 

Martin mengangkat kepalanya sedikit untuk mengagumi hasil karyanya: wajah Juhoon yang memerah dari ujung dahi hingga ke leher. Sangat cantik.

Tapi di luar dugaan, Juhoon menatapnya dengan pendar mata yang mendadak berubah usil. Napasnya sedikit tersengal saat ia bertanya dengan nada kelewat polos, “Pipi kiri aku lucu juga nggak, Bebe?”

 

Martin membeku selama dua detik. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dada Martin rasanya sesak dihantam gelombang gemas yang meluap-luap. Kok bisa dia seberuntung ini punya pacar semenggemaskan Juhoon?

 

“Jelas lucu, dong,” bisik Martin. “Lucu banget sampai rasanya pengen aku gigit terus.”

 

Tanpa ampun, Martin menukik turun dan mencium pipi kiri Juhoon berulang kali, menciptakan bunyi kecupan-kecupan keras yang membuat Juhoon tertawa kegelian.

 

Puas dengan pipi kiri, tangan Martin bergerak menangkup kedua pipi Juhoon dengan ibu jari dan telunjuknya. Ia memencetnya pelan, memaksa bibir Juhoon mengerucut maju. Lalu, Martin mendaratkan satu kecupan singkat tepat di bibir mengerucut itu.

Cup. Bunyinya renyah, sekilas saja, sebelum ditarik mundur.

 

Bahkan sebelum Juhoon sanggup memproses ciuman kilat barusan, Martin sudah melepaskan tangannya dan beringsut duduk. Ia meraih ponselnya dari nakas, mendadak teringat satu hal penting.

 

“Kamu nggak lapar?” tanya Martin, ibu jarinya mulai mengusap layar. “Kita belum makan siang lho, Bebe. Ini udah sore.”

 

Juhoon ikut bangun dan duduk bersila tepat di hadapan Martin. Bukannya merespons antusias, kepalanya malah menggeleng lesu. “Belum.”

 

Martin menatapnya heran dari balik layar ponsel. “Kok belum? Ini udah mau jam tiga. Mau order apa? Ayam?”

 

Bukannya menjawab dengan menu makanan, Juhoon justru mengulurkan tangannya. Jemarinya meraih pergelangan tangan Martin yang memegang ponsel, menurunkannya perlahan hingga layar ponsel itu bersandar di paha Martin. Mata Juhoon menatap lurus, memancarkan kabut kebutuhan yang teramat jelas.

 

“Bebe,” panggil Juhoon pelan, nyaris seperti embusan napas. “Can I get a proper kiss?

 

Martin terdiam selama tiga detik, membiarkan otaknya memproses permohonan yang terdengar impulsif itu. Saat ia akhirnya tersadar, senyum usil khasnya perlahan mengembang.

 

“Lho, kan barusan udah?” balas Martin santai.

Kening Juhoon langsung berkerut. Hidungnya benar-benar bergerak sendiri sekarang—persis seperti kelinci kesal yang Martin deskripsikan tadi. “Mau lagi.”

 

“Oh, mau lagi?” Martin pura-pura menarik napas panjang dan menghembuskannya, bertingkah dramatis seolah sedang bersiap mengemban tugas negara. Ia mencondongkan badan, lalu dengan sengaja mengecup pipi kanan Juhoon dengan bunyi decakan keras.

 

Juhoon berdecak kesal, kedua tangannya terangkat mendorong pelan bahu lebar Martin. “Not there.

 

“Oh, bukan di situ?” Martin makin gencar di atas angin. “Oke, oke.”

 

Kali ini Martin memiringkan kepalanya, sengaja meleset dari bibir, dan mendaratkan ciumannya di perpotongan leher Juhoon. Singkat, basah, dan sukses membuat Juhoon merinding hebat hingga bahunya terangkat merespons sentuhan itu.

 

Not there either, Bebe!” protes Juhoon frustrasi, nyaris merengek.

 

Martin mati-matian menggigit bibir bagian dalamnya untuk menahan tawa sampai perutnya kaku. Ia menundukkan pandangannya, lalu ujung jemarinya bergerak iseng—mengait pelan karet pinggang celana rumahan Juhoon dan menariknya sedikit.

 

“Oh...” bisik Martin. Nada suaranya mendadak turun, berat, dan memancing. “Jadi maunya di-kiss down there, ya? Ya dilepas— ”

 

“ON THE LIPS! Ih, freak banget, sih, kamu!” seru Juhoon dengan volume yang naik setengah oktaf. Ia refleks memukul lengan Martin kencang karena malu yang bercampur aduk dengan rasa gemas yang memuncak. Wajah hingga ke telinganya kini seratus persen merah padam. “Dasar mesum!”

 

Martin melepaskan kaitannya pada celana Juhoon dan tertawa meledak, tubuhnya sampai ambruk ke belakang saking tak kuatnya menghadapi ekspresi marah-marah lucu pacarnya. “Aduh, ampun—”

“Udah ah, sini!” Juhoon rupanya sudah kehabisan sisa kesabarannya hari ini. Ia tidak peduli meskipun Martin masih sibuk menertawakannya.

 

Merangkak cepat memangkas jarak, Juhoon langsung menangkup kedua sisi wajah Martin dengan tangannya. Ia mengunci pergerakan Martin, memastikan tidak ada lagi celah untuk kabur atau melontarkan lelucon. Dan sebelum Martin sempat menyuarakan kata "lucu" untuk kesekian kalinya, Juhoon menabrakkan bibirnya.

 

Sisa tawa Martin menguap tak bersisa tepat saat bibir mereka bertubrukan.

Ciuman itu awalnya terasa sedikit kikuk dan terburu-buru, sebagian besar karena posisi Juhoon yang mencondongkan badan sambil merangkak—posisi yang pasti akan membuat punggungnya kram jika dibiarkan terlalu lama.

 

Sadar akan hal itu, kedua tangan Martin otomatis bergerak. Telapak tangannya meluncur bebas melewati pinggang Juhoon. Ia menepuk pantat pacarnya itu dua kali dengan gerakan pelan—sebuah kode non-verbal yang sudah sangat dipahami oleh Juhoon.

 

Paham maksud tepukan itu, Juhoon memutus ciuman mereka sejenak dengan napas sedikit tersengal. Tanpa perlu dipandu, ia beringsut maju, membebaskan lututnya dari beban, dan mengubah posisinya menjadi straddling. Juhoon duduk mengangkang nyaman tepat di atas pangkuan Martin, kedua tungkainya melingkar hangat mengapit pinggang Martin, merapatkan dada mereka hingga nyaris tidak ada jarak yang tersisa.

 

Setelah posisi mereka menemukan titik ternyaman, Martin mengambil alih kendali sepenuhnya.

Ia meraih pergelangan tangan Juhoon yang masih menempel di pipinya, lalu menuntun kedua lengan itu untuk melingkar di lehernya. Gantian telapak tangan Martin yang kini naik menangkup rahang Juhoon. Ibu jarinya bergerak sangat lembut, mengusap tulang pipi Juhoon yang terasa hangat.

 

Dari usapan lembut itu, Martin perlahan memangkas sisa milimeter terakhir di antara mereka. Ciuman yang awalnya ia mulai dengan sapuan-sapuan ringan—sebuah reward atas keberanian dan inisiatif Juhoon—kini perlahan memanas.

 

Di tengah ritme napas yang mulai memburu, Martin kembali memfokuskan ciumannya pada bibir bawah pacarnya itu. Martin menyesapnya sedikit lebih lama, lalu menariknya dengan lembut sebelum kembali melumatnya dalam-dalam.

 

Juhoon meresponnya dengan merintih tertahan. Suaranya teredam sepenuhnya, tertelan oleh pautan bibir mereka yang semakin basah. Kakinya yang melingkar mengapit pinggang Martin mengerat kuat tanpa sadar.

 

Merespons lenguhan itu, tangan Martin tetap tidak membiarkan Juhoon bernapas lega. Tangan kanannya yang berada di pipi Juhoon mulai merayap turun. Jari-jarinya dengan berani menyusup ke balik ujung kaus, menyentuh langsung kulit punggung bagian bawah Juhoon yang terasa sangat halus.

 

Ciuman itu semakin berantakan. Suara decakan bibir sesekali beradu dengan napas yang mulai patah-patah membelah keheningan kamar. Salah satu tangan Juhoon yang melingkar di leher Martin tergelincir merosot ke bahu. Jemarinya meremas kuat serat kaus pacarnya, mencari pelampiasan atas rasa kewalahan yang membanjiri dadanya.

 

Tiga minggu.

Atau menurut perhitungan presisi Martin sih ya dua puluh hari tanpa tatap muka, tanpa sentuhan, tanpa aroma familier yang menenangkan ini. Rasa lapar yang ditahan sekian lama kini meledak menuntut kompensasi.

 

Di tengah sesi itu, Martin memutus pautan bibir mereka sekejap. Napasnya terengah menerpa wajah Juhoon saat ia berbisik parau, “I miss you too, Juhoon. So much. Nggak cuma Bebe kok yang ngerasa kayak gitu...”

 

Martin baru saja membuka mulut untuk kembali menyerang bibir basah di hadapannya, namun Juhoon lebih dulu menubruknya. Juhoon menabrakkan kembali bibir mereka dengan agresivitas yang mengejutkan, menyegel bisikan rindu dan keputusasaan Martin ke dalam ciuman yang sepuluh kali lebih berantakan.

Keduanya benar-benar tenggelam.

 

Tepat di puncak suhu ruangan yang mendidih itu, sebuah suara gemuruh yang sangat menjatuhkan harga diri memecah keheningan yang tersisa.

 

Kruyuuukk...

 

Bunyinya panjang, bising, dan berasal tepat dari area perut mereka yang saling menekan erat.

Gerakan melumat Martin seketika terhenti seolah ada yang menekan tombol pause. Ia menarik wajahnya mundur tiga sentimeter, mengerjap menatap Juhoon dengan dada yang masih naik-turun memburu pasokan oksigen.

 

 

Jeda diam menyelimuti mereka selama dua detik penuh, sebelum sebuah senyum miring yang menyebalkan tercetak pelan di wajah Martin.

“Perut siapa tuh yang bunyi?” ledek Martin santai, padahal suaranya masih serak sisa ciuman.

 

Mata Juhoon melebar panik. “Huh... perut aku, Bebe... lapar.”

 

Martin tidak mampu lagi menahan tawa renyahnya. Tangannya terangkat, mengacak rambut belakang Juhoon dengan level gemas yang sudah menembus batas. “Perasaan tadi ada yang bilang belum lapar, deh. Katanya mau dicium aja. Siapa, ya, yang bilang gitu tadi?”

 

“Aaaa!” Juhoon merengek keras, wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena salah tingkah. Ia buru-buru melepaskan kaitan kakinya dari pinggang Martin dan beringsut turun dari pangkuan cowok itu secepat kilat. Ia mendarat di sisi ranjang, duduk bersila sambil merapikan kausnya yang tersingkap berantakan. “Ayo pesen makan sekarang, Bebe!”

 

Martin masih terpingkal melihat perubahan drastis pacarnya. Ia meraih kembali ponsel yang tadi sempat diabaikan. “Mau makan apa?”

 

“Ayo makan Five Guys, mau nggak?” tawar Juhoon, matanya kembali berbinar.

 

Martin menyodorkan ponselnya ke Juhoon. “Boleh. Pesan aja.”

 

Hanya butuh sepersekon, ibu jari Juhoon untuk mulai menari lincah scrolling layar aplikasi online delivery. Namun belum genap sepuluh detik, ia sudah menoleh lagi ke arah Martin. “Bebe mau burger yang apa?”

 

“Samain aja kayak pesanan Bebe,” jawab Martin tanpa beban. Lalu, merosotkan tubuhnya, kembali mengambil posisi rebahan telentang dengan nyaman di atas kasur.

 

Beberapa menit kemudian, Juhoon selesai melakukan pesanan dan meletakkan ponsel Martin kembali ke atas meja.

 

Begitu ia menoleh dan mendapati Martin yang tampak terlalu nyaman di sisi kasurnya, Juhoon jadi ikut merosot turun menyusul. Ia menarik selimut tebal yang sempat tersingkir, memastikan kain itu menutupi bahunya, lalu menjatuhkan kepalanya pas di atas dada kiri Martin.

 

Persis seperti anak kucing manja yang mencari tempat paling hangat di musim hujan.

 

Martin mendengus geli. Lengannya melingkar apik merengkuh pinggang Juhoon, disusul telapak tangannya yang menepuk-nepuk punggung Juhoon dengan tempo lambat layaknya meninabobokan bayi.

 

“Udah pesennya?” tanya Martin di sela usapannya.

“Udah,” gumam Juhoon, suaranya teredam karena wajahnya mendusel di dada Martin. “Kata aplikasinya sekitar setengah jam lagi sampenya. Nanti Bebe yang turun ambil ke lobi, ya?”

 

“Iya, aku yang turun. Bebe tunggu di kamar aja,” jawab Martin.

 

Juhoon tersenyum puas, matanya perlahan terpejam nyaman. Tangannya yang menganggur merayap iseng, mencubit pelan perut pacarnya dari balik kaus. “Aku mau lanjut tidur sebentar. Kamu jangan ikut ketiduran lho.”

 

Jemari Martin beralih menyisir lembut rambut Juhoon. “Iyaaa, Tuan Muda,” godanya dengan nada yang sengaja dilebih-lebihkan. “Nanti hamba bangunkan kalau hidangannya sudah siap disajikan di atas ranjang.”

 

Satu kekehan ringan kembali lolos dari bibir Juhoon, getarannya terasa menyenangkan di dada Martin. “Makasi ya Bebe,” ucap Juhoon.

Di luar sana, gerimis rupanya masih setia turun rintik-rintik. Terbungkus dalam pelukan Martin yang hangat, dengan selimut tebal yang melindungi dari udara dingin, detak jantung konstan pacarnya sebagai musik latar, dan bayangan burger lezat yang sedang melaju menuju lobi apartemen... Juhoon menghela napas panjang yang sangat melegakan.

 

Sebuah senyum tipis di bibirnya.

What a perfect Sunday.



Notes:

Taking a 3-day break from studying and doing my assignments, terus pengen aja nulis marhoon smart student becoming stupidly in love :3

Thank you so much for reading ya! <3