Work Text:
Laporan profiling kriminal warisan seniornya—Jimmy Jitaraphol—yang sekarang berpangkat deputi superintenden menyisipkan satu detail unik; lebih dekat kepada nubuat ketimbang analisis perilaku.
Lazimnya ia terpanggil oleh gelora puncak purnama, ketika cerlangnya sanggup merangkum warna permukaan telaga.
Junior ingat persis atasan mereka kala itu mencoret kalimat tersebut dengan spidol merah, berujung perdebatan melelahkan yang ditutup detensi sebab Jimmy bersikeras menolak menghapuskannya dari fail digital. Siapa pun yang membacanya sepakat bahwa Jimmy memaksudkannya demikian tanpa intensi nyeleneh. Seisi kantor tahu persis jatuh bangunnya selama tiga tahun sebelum memutuskan mundur demi mengejar quality time bersama biduan cantik dari salah satu grup musik. Detail yang dituangkan Jimmy melalui kalimat puitis dalam laporan profiling itu tampil paling mencolok, sangat menyita perhatian, terlebih pada versi cetak yang dicoret dengan spidol merah. Seakan memiliki daya tarik magis yang membekas dalam ingatan, terutama bagi Junior, satu-satunya penerima tongkat estafet perburuan pencuri permata paling nyentrik hampir satu dasawarsa terakhir: Angsa Putih.
Junior telah lama memiliki firasat. Ia imani kalimat puitis dalam laporan milik Jimmy menyimpan nubuat. Setiap purnama menapaki puncak, Junior betah mempertanyakan apakah ia cukup beruntung menjumpai Si Angsa Putih yang konon memantulkan kecantikan bulan dalam balutan busana necis seputih awan?
Barangkali ia perlu mengucapkan terima kasih atas konspirasi semesta yang melibatkan instansi serta keluarga Von Trautmann. Nomor satu tentulah dialamatkan kepada atasannya—Great Sapol—atas tanda tangannya di atas surat tugas. Urutan kedua jatuh kepada Tuan Putri, kepala keluarga merangkap inisiator eksibisi koleksi perhiasan antik dari abad kedelapan belas milik salah satu wangsa asal Prussia itu.
Laporan profiling Jimmy mencatatkannya dengan presisi. Angsa Putih hanya menyukai permata langka bernilai historis tinggi. Dan malam ini, dalam ruang koleksi tanpa penerangan dan CCTV, hanya mengandalkan sensor inframerah yang terhubung dengan sistem alarm, bayangan putih itu melenggang cantik seperti angsa. Kalung, gelang, dan tiara milik keluarga Von Trautmann menempati ruang koleksi di lantai tiga. Jauh tak tersentuh, sampai bayangan itu hinggap di jendela seolah diterbangkan sayap-sayap tidak terlihat, menggarap sudut dengan gerinda tangan. Sendirian. Sudut jendela dipotong cermat, hati-hati, dan efisien. Dalam hitungan kurang dari lima menit, akses menuju ruang koleksi terbuka lebar.
Namun demikian, aliran listrik yang mendadak putus menyadarkan Junior tentang eksistensi tangan lain. Entah di mana, itu tidak penting sekarang. Bagi Junior, bayangan putih di balik jendela bernilai lebih besar dari total rubi, zamrud, dan safir penghias koleksi perhiasan Von Trautmann. Maka Junior menyeruak dari balik patung Dewa Apollo, menyongsong sosok putih licin seperti belut yang meluncur anggun dari balik jendela.
Junior tidak berperan sebagai wirawan yang tampil atas nama tugas dan tanggung jawab. Ia menyambut tamu tak diundang itu dengan semangat yang tidak dijumpainya dalam kasus-kasus terdahulu. Lewat gestur paling feral, murni mengandalkan insting dan bahasa otot, Junior menyambutnya atas nama gairah. Bak perjamuan musim kawin yang lumrah terjadi di bawah limpahan sasikirana, pergumulan berlangsung dalam ruang temaram. Adu kekuatan otot dilakoni demi mengunci pergerakan lawan. Saling menjegal, tindih-menindih, bergulingan di lantai persis dua pejantan birahi. Junior kerahkan hasil gemblengan tangan-tangan dingin instruktur di institusinya, menjauhkan kedua tangan halus itu dari kotak-kotak kaca berisi perhiasan langka. Nyala gairah membakar setiap inci kulit. Ia temukan kembali alasannya memilih profesi ini. Predator dalam jiwanya mengaum gembira dipicu nafsu menundukkan mangsa. Dalam konteks profesi ia bukan sekadar pemburu. Junior mengimani jiwanya terbagi dua sejak resmi dilantik, satu mewujud seniman yang menikmati perlawanan target dan satu lainnya berdiri sebagai pemangsa yang mengincar ketidakberdayaan target.
Khusus untuk malam ini Junior menyadari ada yang berbeda, ketika topeng Phantom of The Opera terenggut dari sosok di bawah kungkungannya, memperlihatkan seraut wajah molek sepucat purnama itu sendiri. Dipahat dari garis kecantikan tegas, merangkum bentuk wajah proporsional, hidung dan dagu menawan dengan bingkai bernama angkuh. Menyuguhkan impresi intimidatif dan hampir tidak masuk akal, bahkan di bawah pencahayaan tunggal dari purnama.
Angsa Putih terlihat tidak nyata dengan rambut berantakan dan napas terengah, alasan Junior hampir lupa cara berkedip. Kemeja putihnya mulai kusut. Harness tampak susah payah menahan dada yang berisi. Titik keringat menyembul dari pori-pori kulit yang mengambil warna alabaster. Di bawah sorot sasikirana, wajah molek Angsa Putih menawarkan daya tarik magis, mengunci Junior sebaik cekalan sang polisi tampan di kedua pergelangan tangan.
“Junior, benar?” Angsa Putih menyeringai, mempertegas garis kecantikan yang lazim ditemukan dalam tradisi lisan dan lembar-lembar manuskrip.
Suaranya ringan, tidak seberapa merdu tetapi paten tidak sumbang. Menyapa Junior santai layaknya teman lama.
Junior mengerjap. Takjub. “Kamu tahu namaku?”
Senyum Angsa Putih menguntum. Binar di matanya berubah jenaka.
“Tentu. Junior, junior Jimmy."
Suara itu lirih, mendayu.
"Kamu mau tahu kenapa Jimmy tidak pernah berhasil menangkapku selama ini?”
Alis Junior berkedut didesak penasaran dan waspada. Ia putuskan mengikuti alur permainan Si Cantik sembari mempelajari medan. Mulai dari raut wajah, sorot mata hingga intonasi. Sialnya itu pun tidak mudah. Pengalaman tiga tahun di lapangan dirasakannya menuju muspra. Wajah Si Cantik telanjur mewujud ujian terberat, rawan memecah konsentrasi.
Giliran Angsa Putih mengerjapkan mata. Menggoda.
“Karena dia sama sepertimu. Menatapku seperti ini, lalu lupa diri.”
Cekalan Junior menguat, bersambut kekehan halus dari Angsa Putih.
“Mark,” Angsa Putih berbisik. “Jimmy pernah memanggilku dengan nama itu. Di atas tempat tidur."
Junior mencelang, nyaris tersedak ludahnya sendiri.
