Work Text:
Riuh tepukan tangan mengakhiri semuanya.
Masing-masing orang saling membungkukkan badan, mengapresiasi kerja keras yang seharian berkecamuk dalam ruang latihan. Para instruktur berbenah, meninggalkan segerombolan yang masih menyisa, termasuk staf dan gadis-gadis yang jadi bintang agensi.
Agak menengah, di sana Yoon Seoyeon sedang berbicara kepada kamera. Sebuah kegiatan paling akrab untuk orang-orang seperti mereka terlepas dari bagaimana kondisinya. Hampir semua tertangkap, direkam menjadi kenangan maupun demi sekadar memenuhi jadwal konten sebagaimana mestinya.
Satu, dua member lain biasanya mendekat. Turut berbagi cerita atau sebatas memberikan rangkulan hingga kecupan di pipi—terkadang tak sungguh-sungguh, terkadang editor harus menyensor adegannya.
Hal selaras juga terjadi di sudut lain. Tak terekspos. Hanya untuk keduanya atau beberapa yang memerhatikan, tak terkecuali Seoah. Awalnya jadi orang pertama menemani Park Sohyun di sana, untuk bertukar canda, atentif terhadap satu sama lainnya, dan kemudian Zhou Xinyu datang menengahi.
"Mau langsung pulang?" tanya Xinyu manakala tangannya menjamah pinggang Sohyun dari belakang. Gestur posesif yang membuat anggota termuda beranjak, menghargai kedekatan kakak-kakaknya.
Sepasang iris perempuan penyandang jabatan S14 itu menilik setiap pergerakan dari cermin di depan. Kamera masih jauh dan giliran Hyerin mengambil alih dengan jenaka ekspresinya ketika digoda oleh member lain.
"Aku di sini dulu. Ada beberapa detail gerakan yang masih terasa kaku buatku." Jemarinya menginginkan sela-sela tangan Xinyu untuk bertautan.
"Hm, okay." Xinyu makin landai. Memercayakan seluruh tubuhnya yang lelah pada Park Sohyun. Menghirup aroma familiar ceruk leher si ambisius.
"Aku temenin."
Kepalanya bersandar pada bahu si perempuan China. "No, kamu pulang duluan gapapa. Satu harian ini kita latihan terus. Muka cantik kamu tuh, keliatan banget capeknya."
Senyuman mereka mengembang selaras, menjadi pelipur atas penat yang perlahan-lahan kehilangan maknanya. Kaca membentang di sepanjang tembok ruangan menjadi perantara dari mata yang saling mengincar.
"Gapapa, selagi bareng kamu."
Sohyun menggeleng. "Enggak. Aku ga mau menerima gombalan receh."
"Nanti bisa dibandingin, dan capeknya tetap lebih keliatan di kamu," lanjut Xinyu. "Soalnya kemana-mana muka kamu sama aja. Dingin, judes."
Mati-matian menahan kekehan, lidahnya menekan sisi rongga. Kedua bola mata berputar jengah mengutarakan kekesalan yang lemah. Karena mau semenyebalkan apapun Zhou Xinyu terdengar, Park Sohyun tak pernah kecewa—entah sudah terbiasa atau memang terlanjur sayang saja.
"Hhh, pulang sana," ketus Sohyun tanpa menyembunyikan keterhiburannya.
"Ga kedengeran."
"Pulang duluan."
"Hah? Mau ditemenin?"
S15 memburu tepian wajah Sohyun yang terus berpaling.
"Hm? kok, diem aja?"
Lengan Xinyu mengerat pada perempuan dalam pelukan. Nada suaranya merendah begitu hendak memanggil.
"Cantikku."
Park Sohyun terpejam.
"Baby."
Bibir bawahnya ia gigit.
"Sayang."
Detik berikutnya terasa paradoksal. Sohyun memberontak, tetapi kakinya lunglai untuk mempertahankan pijakan. Genggaman Xinyu di pergelangannya membuat usaha pelarian berjalan sulit, dan hal tersebut menarik perhatian kamerawan. Sebuah keributan yang menggemaskan.
Nien yang menenteng tas terkesiap mendapati situasi kejar-kejaran menginterupsi langkahnya.
"Hari ini kita latihan keras, guys. Sohyun aja sampai pingsan," ujar Xinyu saat lensa membidiknya. Tangannya melepas Sohyun yang enggan bangun—atau semu merah di pipinya akan ketahuan.
"Aku udah bilang itu," Yooyeon menyaut dari kejauhan.
"Oh, yaudah. Pokoknya semoga weibeu suka sama penampilan kita nanti."
"Itu juga udah."
"Terserah aku, sih—"
Rekaman selesai. Ditutup dengan: The next episode will be continued tomorrow.
