Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-10
Words:
2,031
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
73
Bookmarks:
2
Hits:
1,352

Just Another Regret

Summary:

Seonghyeon mulai menyadari bahwa meskipun kini ada orang lain yang mencintainya dengan tulus, hatinya masih belum benar-benar bisa melepaskan Keonho.

Notes:

welcome to my 1st work.. (awkward) pls be nice to me huhuhhuvd. btw this work inspired by Dirty Little Secret (a not so) BUT hope you like it!

Work Text:

Lorong lantai tiga kos begitu sunyi siang itu—sampai suara langkah Eom Seonghyeon terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri.
Lampu kuning redup di ujung koridor berkedip pelan, memantulkan bayangannya yang tampak lebih lelah dari biasanya.

Fuck college.

Di depan pintu bernomor—hah… angka 95? Kos ini cuma punya dua belas kamar lho—langkahnya berhenti.

Kamar itu.

Kamar yang dua bulan lalu menjadi saksi bagaimana semuanya hancur dengan cara yang harusnya tak boleh terjadi.

Tangannya masih dingin ketika terangkat setengah, nyaris mengetuk, namun urung. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesak yang tidak benar-benar bisa dinamai penyesalan, namun terlalu sakit untuk disebut sekadar rindu.

Dan seperti manusia bodoh pada umumnya, pikirannya kembali mundur pada malam itu. Pada suara Ahn Keonho yang gemetar menahan marah.

“I said enough.”

Keonho berdiri di hadapannya dengan napas berantakan. Matanya merah, penuh air yang mati-matian ditahan agar tidak jatuh. Jemarinya mencengkram lengan hoodie miliknya sendiri erat-erat, seolah kalau tidak begitu tubuhnya akan runtuh saat itu juga.

“Can you please stop bringing up the past every single time we meet?” suaranya pecah perlahan, “aku capek.”

Seonghyeon masih ingat bagaimana tenggorokannya terasa tercekat mendengar kalimat itu.

“We’re over. Don’t you understand?”

Hening.

Kamar itu terasa terlalu sempit untuk menampung dua hati yang sama-sama belum selesai.

“There’s someone out there who loves you so much… so much that you chose to leave me with nothing but pain,” napasnya bergetar. “—dan kamu malah berdiri di depan aku sambil ngomong hal-hal kayak gini tuh buat apa... What am I to you?” Bibir Keonho mulai bergetar.

Seonghyeon diam. Dan sialnya, justru diam itu yang membuat semuanya semakin buruk.

“Aku bukan orang yang bisa kamu tinggal…” suara Keonho mengecil, nyaris patah, “terus kamu datengin lagi sesuka hati pas akhirnya kamu sadar akan kehilangan.”

Mata mereka bertemu.

Dan di detik itu juga, Seonghyeon sadar satu hal paling menyedihkan.

Keonho masih mencintainya.

“You always come back and ruin everything all over again, I hate y—”

Mph.

Kalimat itu tak pernah selesai, karena Seonghyeon terlalu egois untuk membiarkannya usai.

Tangannya menarik tengkuk Keonho kasar, membungkam semua amarah itu dengan ciuman penuh putus asa. Bukan ciuman lembut. Bukan ciuman penuh rindu seperti yang selama ini ia bayangkan. Melainkan ciuman yang lahir dari obsesi, takut kehilangan, dan cinta yang datang terlambat.

Keonho langsung memberontak. Tangannya mendorong dada Seonghyeon kuat-kuat, namun lelaki itu justru memperdalam ciuman tersebut, mencengkeram rahangnya pelan namun memaksa. Seolah kalau ia melepaskan sekarang, Keonho akan benar-benar pergi.

“I love you,” bisiknya di sela napas mereka yang berantakan.

"I love you so fucking much it makes me sick,” ia tertawa lemah, “more than him. More than anybody else.

Dahinya menempel pada dahi Keonho. Entah kenapa Keonho langsung membeku. Dan Seonghyeon—bodohnya—menganggap itu sebagai harapan.

“Sekarang aku sadar…” suaranya terdengar nyaris gila, “I- I just realized, I’ve been looking for you in other people this whole time.”

“No…”

“I know you still love me,” Tubuh Keonho langsung menegang. Tatapan itu berubah bingung. “Aku tau kamu masih suka upload foto kita di fake account kamu.”

Napas Keonho tercekat, wajahnya perlahan kehilangan warna.

“…what?”

“Akun yang username-nya tanggal kita adopt Mochi.”

That damn cat.

“Aku lihat semuanya.”

Langkah Seonghyeon mendekat lagi.

“Foto tangan aku waktu nyetir, hoodie abu-abu aku yang masih kamu pake buat tidur. Did you really think I wouldn’t recognize it?”

Stopstopstop-

“I know your love for me is still there,” Seonghyeon menunjuk dada laki-laki Februari di hadapannya, “it’s still burns as deeply as mine does, even if you keep trying to hide it.”

”Seonghyeon, stop.” Untuk pertama kalinya malam itu—raut wajah Keonho berubah menjadi takut.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Takut.

Seonghyeon, don’t make me scared of you…

Tatapannya gemetar saat menatap lelaki di depannya, seolah baru sadar bahwa cinta Seonghyeon sudah berubah menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk disentuh dengan aman, seperti sebuah obsesi.

“You’re creepy as fuck…”

Bisikan lirih itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun.

Bugh.

Tinju Keonho mendarat tepat di bibirnya. Tubuh itu mundur satu langkah. Dan ironisnya, bahkan setelah melihat ketakutan di mata lelaki yang paling ia cintai, Seonghyeon masih ingin mendekat.

Masih ingin memeluknya.

Masih ingin mendengar Keonho bilang kalau semuanya belum benar-benar selesai.

Namun Keonho pergi meninggalkannya sendirian di lorong sunyi bersama darah di sudut bibir dan penyesalan yang datang terlalu terlambat.

Fuckfuckfuck.
What did I do to him?

Namun malam ini semesta seperti sengaja mempermainkannya.

Di atas ranjang, tubuh Ahn Keonho meringkuk di balik selimut Lightning McQueen kesayangannya. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar. Dan entah kenapa, melihatnya seperti itu selalu membuat hati Seonghyeon runtuh tanpa sisa.

“Hyeon,” James terlihat ragu sebentar. “-you sure?”

Seonghyeon mengerti maksud tatapan itu. Mereka tahu semuanya.

Tentang hubungan mereka yang hancur dua bulan terakhir.

Tentang bagaimana Keonho tiba-tiba berhenti menyebut nama Seonghyeon dalam tongkrongan.

Tentang bagaimana Seonghyeon mendadak lebih sering pulang larut malam—atau bahkan tidak pulang ke kamar kosnya karena tengah menghabiskan hari bersama Juhoon.

Namun anehnya, Keonho tetap tidak pernah membiarkan siapa pun membenci Seonghyeon. Alih-alih menjelekkan nama Seonghyeon di tongkrongan, ia memilih menjawab pertanyaan, lo diselingkuhin? dengan, emang udah bukan masanya aja, sambil tertawa ringan. Dan justru itu yang membuat rasa bersalah Seonghyeon semakin besar.

“It's fine,” jawabnya lirih.

James menghela napas kecil, “Ini urusan kalau gak penting banget, gue gak bakal ninggalin kalian berdua, sumpah,”

“Gapapa.”

Karena nyatanya, kalau tentang Ahn Keonho, hati Eom Seonghyeon selalu kalah.

Setelah James pergi, kamar kembali sunyi. Dan Seonghyeon mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.

Kalau saja tadi siang ia tidak membalas chat dari James di grup kos dengan kalimat, gue free bang, mungkin sekarang ia sedang berpura-pura sibuk di tempat lain.

James
Jangan lo
@Martin free? Si bocil demam tinggi. Gue mau ada rapat habis ini.

Martin
Gue kelas sampe sore banggg

You
Gue otw

James tidak dapat berkutik setelahnya.

Gosh, why am I here…?

Seonghyeon sadar, harusnya ia menghindari Keonho, bahkan menghindari rasa yang belum selesai.

Perlahan ia melangkah masuk. Dekorasi Lightning McQueen langsung menyambut matanya. Stiker mobil merah memenuhi dinding, sprei bergambar mobil balap terlihat kusut di bawah tubuh Keonho, bahkan gantungan kecil angka 95 masih tergantung miring di dekat meja belajar.

Angka 95 di depan pintu tadi… ternyata angka favorit Keonho dari kartun mobil balap kesayangannya, ya?

Lucu.

Sangat Ahn Keonho.

Dan sialnya, semua hal kecil tentang lelaki itu selalu berhasil membuat Seonghyeon jatuh cinta lebih dalam.

“Emangnya boleh dekorasi kamar kos kayak gini?”

Keonho yang sedang menempel stiker waktu itu langsung membusungkan dada bangga.

“Aku udah sogok ibu kos pakai matras poundfit dari Mama," ucapnya dengan cengiran lebar khasnya.

“Hah...?”

“Iya. Mama beli mahal banget.”

Seonghyeon terkekeh pelan saat itu, lalu mencubit hidung mancung milik Keonho gemas.

“Dasar anak kecil licik.”

Dan lelaki itu hanya tertawa lebar. Cerah sekali sampai rasanya seluruh kamar ikut hidup karenanya.

Namun sekarang tidak ada tawa itu. Yang ada hanyalah tubuh kecil yang menggigil di balik selimut.

"Abang..." suara serak itu langsung membuat Seonghyeon mendekat cepat. Keonho masih memejamkan mata.

“Tolong telepon Mama…”

Ada isakan kecil terselip di sela napasnya. Dan dada Seonghyeon langsung terasa nyeri. Ia hafal ini. Keonho memang selalu jadi lebih manja saat sakit. Selalu memanggil mamanya, dan selalu menangis diam-diam karena tubuhnya terasa terlalu lemah.

Tangannya menyentuh dahi itu hati-hati.

Panas.

Terlalu panas.

“Keonho, hey…” bisiknya lirih.

Tubuh di atas ranjang kembali menggigil. Dan entah kenapa, sesuatu di dalam kepala Seonghyeon tiba-tiba mengingat artikel yang pernah ia baca.

Tentang skin to skin.

Tentang bagaimana kehangatan tubuh manusia bisa membantu tubuh lainnya merasa nyaman.

Bodoh memang.

Karena teori itu dibuat untuk bayi, bukan untuk mantan kekasih yang hatinya sudah ia rusak sendiri.

Namun sore ini logikanya kalah telak oleh rasa khawatir. Perlahan ia melepas jaket denimnya, disusul kaos hitam Deftones yang ia dapat dari hasil thrifting bersama Keonho dulu.

Bahkan banyak hal tentang Ahn Keonho yang masih menyelimuti Eom Seonghyeon hingga saat ini.

Keonho mengerang pelan saat Seonghyeon membantu melepas kaos yang basah oleh keringat dari tubuhnya.

“Hng…”

“Shh… bentar ya.” Suaranya terdengar terlalu lembut untuk seseorang yang katanya harus pergi.

Setelah hanya menyisakan celana pada tubuh mereka masing-masing, Seonghyeon masuk ke balik selimut dan menarik tubuh Keonho perlahan ke dalam pelukannya hingga dada mereka bersatu.

Hangat.

Tubuh Keonho panas seperti bara kecil yang hampir padam. Sementara tubuh Seonghyeon terasa stabil dan menenangkan. Dan yang paling menyedihkan, tubuh itu masih mengingatnya. Keonho tanpa sadar langsung mendekat. Kepalanya jatuh tepat di ceruk leher Seonghyeon, napas panasnya menyapu kulit di sana pelan-pelan.

Seonghyeon hampir hancur karenanya. Tangannya mengusap punggung Keonho perlahan, naik, turun, lembut sekali. Seolah sedang menjaga sesuatu paling rapuh di dunia.

“I’m here…” bisiknya lirih di antara rambut lembut nan lebat itu.

Detak jantung Seonghyeon terdengar stabil di telinga Keonho. Seperti lagu pengantar tidur.

Dan perlahan tubuh yang semula menggigil itu mulai tenang. Karena benar kata artikel itu—kehangatan seseorang memang bisa membuat rasa sakit terasa sedikit lebih ringan.

Keonho menghela napas kecil. Jemarinya tanpa sadar mencengkram sisi pinggang Seonghyeon lemah.

“Mama…”

Seonghyeon menunduk, mengecup dahi panas itu lama sekali. Sore itu terasa terlalu salah untuk diketahui siapa pun.

Tentang bagaimana mereka masih saling mencari di saat semuanya seharusnya selesai.

Tentang bagaimana Keonho tertidur nyaman di atas tubuhnya, menjadikan tubuh yang lebih tua bak termoregulator alami.

Tentang bagaimana Seonghyeon diam-diam berharap waktu berhenti tepat di detik ini saja.

Karena kalau dunia tahu—maka sore lembut penuh kehangatan ini hanya akan berubah menjadi dosa lain yang harus disesali kemudian hari.

Dan Seonghyeon sudah terlalu penuh oleh penyesalan

.
.
.

Beberapa waktu kemudian, panas di tubuh Keonho perlahan mulai turun. Kerutan kecil di dahinya menghilang sedikit demi sedikit, sementara napas yang tadi terasa berat kini berubah lebih tenang di dalam pelukan itu. Tubuhnya yang semula sepanas bara kecil perlahan kembali hangat dengan cara yang normal—tidak lagi menggigil, tidak lagi gemetar seperti hendak runtuh.

Dan selama itu pula, Seonghyeon tidak berhenti menatapnya.

Lama sekali.

Seolah wajah tertidur milik laki-laki itu adalah sesuatu yang tak akan pernah cukup ia lihat meski diberi waktu seumur hidup.

He used to kiss those eyes.

He used to kiss that nose.

He used to kiss that lips.

Then he kissed him like it was the only thing he still knew how to do.

Cantik. Selalu cantik.

And maybe that's the problem. Because Eom Seonghyeon still hasn’t learned the art of loving him less.

Ketika Keonho akhirnya membuka mata, hujan di luar rupanya sudah berhenti sejak lama. Lampu kamar menyala redup dengan warna kekuningan yang hangat, sementara aroma bubur memenuhi udara sempit kamar kost itu seperti sesuatu yang diam-diam menenangkan.

Pintu terbuka perlahan. Seonghyeon masuk sambil membawa nampan kecil berisi semangkuk bubur dan beberapa obat. Begitu mata mereka bertemu, Keonho nampak terkejut.

“Seonghyeon… sejak kapan?”

Pertanyaan itu menggantung begitu saja di udara. Namun Seonghyeon hanya menggeleng kecil, meletakkan nampan di meja samping ranjang dengan gerakan pelan seolah takut membuat suasana pecah terlalu cepat.

“Dimakan dulu," suaranya rendah. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa jam lalu hampir hancur di lorong lantai tiga.

“Bisa sendiri, kan? Atau mau disuapin?”

Keonho buru-buru menggeleng. Terlalu cepat, malah.

Wajah pucatnya masih terlihat sedikit linglung—entah karena baru bangun tidur, atau karena tubuhnya samar-samar masih mengingat suatu kehangatan yang mendekapnya tadi, entah apa itu.

“Kalau butuh apa-apa, panggil aja. Aku di luar.”

Diamnya Keonho terdengar seperti mengiyakan. Maka Seonghyeon memilih pergi sebelum dirinya sendiri kembali melakukan sesuatu yang bodoh.

Di luar kamar itu, tangannya mengusap wajahnya kasar

Tiga puluh menit lalu ia memeluk mantannya setengah telanjang di atas ranjang.

Tiga puluh menit lalu ia merasa damai hanya karena laki-laki itu tertidur nyaman di dadanya.

You are the only one that needs to know.

Kemudian ponselnya bergetar. Nama Hoon ♡ muncul di layar.

Kelasku selesai 15 menit lagi. Kamu udah sampai kah?

Dada Seonghyeon langsung terasa berat oleh rasa bersalah yang datang terlalu cepat.

So sorry, sayang. Aku jemput pas kamu di Margo aja ya? Aku masih ada urusan.

Dan seperti biasa, Juhoon tetap terlalu baik untuk seseorang seperti dirinya.

Dw, take your time, Hyeon. Habisin lunch box dari aku loh!

Seonghyeon menatap lunch box di sebelahnya cukup lama. He's the cruelest person alive.

Karena di saat ada seseorang yang mencintainya dengan cara paling tulus dan paling sehat, ia justru sibuk menjaga mantan kekasihnya sambil diam-diam berharap pelukan tadi bukan yang terakhir.

Poor Juhoon.

Barangkali memang menyedihkan mencintai seseorang seperti Eom Seonghyeon—seseorang yang tubuhnya sudah pergi jauh, tetapi hatinya masih tertinggal di masa lalu.