Actions

Work Header

Hide and Seek

Summary:

The parts of myself I try to hide from others...

Notes:

Enjoy :)

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Diam-diam, seorang Miya Atsumu yang kelihatannya gentleman dan terkadang menyebalkan, nyatanya memiliki kebiasaan lain yang tidak seorang pun tahu. 

Sering kali, teman satu timnya terheran-heran karena pemuda dengan surai emas itu selalu menolak memakai hari liburnya untuk pulang ke Hyogo. Miya Osamu-sang adik-sering mengontak bukan hanya satu orang, tetapi hampir seluruh orang tim kakaknya untuk menanyakan kabar Atsumu. Pun, saat ditanya langsung olehnya, Atsumu selalu menghindar dengan ribuan alasan yang anehnya sangat masuk akal dan masih bisa diterima. 

Tiga hari ke depan, tim MSBY mendapatkan jatah libur istirahat karena baru saja berhasil memenangkan match dengan Schweiden Adlers, rival kandung MSBY. Dengan pengumuman libur itu, tentunya semua tim bersorak senang dan sebagian bahkan sudah ada yang mulai berkemas mempersiapkan diri untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. 

Tetapi lagi dan lagi tidak dengan Miya Atsumu. Shugo Meian, kapten tim voli dari Jackals itu, sudah mengingatkan Atsumu untuk meluangkan waktunya untuk beristirahat di rumah setiap kali mereka berpapasan langsung. Namun, jawaban yang didapat Meian selalu sama.

"Ah, tidak apa-apa, Kapten, aku kan juga bisa beristirahat di dorm." Meian sudah cukup bersabar dan sungguh tidak memahami Miya Atsumu yang ini.

Akhir-akhir ini, Atsumu terlihat lebih pendiam dari biasanya dan ini bukan hanya Meian yang menyadarinya. Bahkan Bokuto dan Hinata, duo idiot itu, menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Atsumu. 

Meian, yang khawatir, apalagi dengan Osamu yang sering menghubunginya untuk membujuk Atsumu pulang, akhirnya meminta Sakusa untuk tetap tinggal di dorm. Karena, hanya Sakusa yang tidak perlu melalui perjalanan panjang untuk sampai ke rumahnya. Sehingga, Meian memintanya untuk mengawasi Atsumu di dorm sementara yang lainnya pulang. Dengan sedikit berat hati, Sakusa mengiyakannya.

Sore menjelang malam, dorm sudah sepi sepenuhnya. Saat mengantar teman-temannya, Atsumu terlihat sangat baik. Wajahnya bersinar, ceria, celotehan anehnya masih membuat Inunaki memukulnya, diikuti oleh suara tawa dari yang lainnya kala melihat lagi Atsumu yang kembali menyebalkan. Sehingga ketika semuanya sudah pergi, ada rasa lega di hati mereka untuk meninggalkan Atsumu sendirian di dorm. Apalagi dengan Sakusa yang nanti akan kembali ke sana. 

Ketika Atsumu kembali ke kamarnya, ia tersenyum sangat lebar. Setumpuk kotak yang masih tersegel rapi dibuka dengan tidak sabar. Hampir satu bulan penuh ia menahan diri untuk tidak membuka kotak tersebut. Mata Atsumu berbinar, mengangkat satu set pakaian yang sangat jauh dari pakaian yang biasanya ia kenakan sehari-hari. 

Ia berdiri di depan cermin, bersama sedikit polesan lip tint berwarna peach dan eyeliner tipis yang membuat garis matanya tampak lebih lembut. Jemarinya merapikan helaian wig berwarna ash blonde yang jatuh melewati bahu, lalu menarik napas pelan sambil menatap pantulannya sendiri.

Cantik.

Atsumu terkekeh kecil saat kata itu muncul begitu saja di kepalanya.

Inner knit putih dengan potongan crop dan square neck itu memperlihatkan garis lehernya dengan manis, sementara cardigan rajut oversized yang dihiasi detail bunga matahari membuat penampilannya terlihat jauh lebih lembut dibanding biasanya. High-waist jeans biru muda yang ia kenakan membentuk siluet tubuhnya dengan pas, memberi kesan santai namun sedikit feminin.

Sangat berbeda dari sosok Miya Atsumu yang dikenal banyak orang di lapangan, yaitu berisik, percaya diri, dan selalu penuh energi. Di depan cermin ini, ia terlihat lebih….

Lebih bebas.

Atsumu memutar tubuhnya perlahan, memperhatikan bagaimana helaian rambut panjang itu bergerak mengikuti langkahnya. Senyum kecil tak kunjung hilang dari wajahnya. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan setiap kali ia berhasil tampil seperti ini. Seolah untuk beberapa saat, ia tidak perlu menjadi setter andalan MSBY atau sosok yang selalu dituntut sempurna.

Ia hanya menjadi dirinya sendiri.

Tangannya meraih ponsel di atas meja, sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil foto melalui pantulan cermin. Setelah melihat hasilnya, mata cokelatnya berbinar senang.

"Wah… lucu juga, ya," gumamnya pelan sambil tertawa kecil. 

Ponselnya menampilkan waktu pukul 08.15pm. Atsumu baru teringat bahwa sejak tadi siang dirinya belum makan. Atsumu kembali memperhatikan dirinya di cermin, membuat keputusan gila untuk keluar makan malam dengan pakaian yang menempel di tubuhnya. 

"Yaudah deh, ngga akan ada yang ngenalin juga," ujarnya pada diri sendiri. Dengan begitu, Atsumu menarik satu tas selempang kecil dan juga sneakers nyaman untuk ia kenakan. 

Atsumu keluar dari dorm dengan percaya diri, bersenandung kecil dengan tubuh yang sedikit ia goyangkan ke kanan dan kiri. Mengunci pintu dengan aman dan mengecek berulang kali ponselnya untuk memastikan ojolnya sudah datang. Tanpa tahu, dari kejauhan, Sakusa yang baru saja kembali dari rumahnya melihat itu semua dengan tatapan aneh. 

"Miya bawa cewek ke dorm?" Mungkin akibat gelapnya malam, Sakusa tidak bisa melihat dengan jelas bahwa wanita itu sebenarnya adalah Atsumu. 

Ring Ring Ring

"Halo, iya pak sebentar ini saya turun." Atsumu menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tubuhnya kehilangan keseimbangan tepat saat kakinya berpijak di anak tangga terakhir. Dalam satu detik singkat, semuanya terasa lambat. Jemarinya refleks mencoba mencari pegangan, namun hanya udara kosong yang tersentuh.

Bruk.

Atsumu jatuh tersungkur. Rasa sakit menjalar cepat dari bahu hingga pinggang, membuat napasnya tercekat. Membuat kepalanya sedikit pusing, sementara lutut dan telapak tangannya terasa perih akibat bergesekan dengan tanah.

Ia meringis pelan, berusaha menahan sakit sambil tetap diam beberapa saat di dasar tangga, mencoba mengembalikan napas yang kacau. Sementara ponselnya kembali berbunyi, menampilkan panggilan dari seorang driver yang dipesannya.

"Aduh, gimana ini," gumamnya pelan. 

Tanpa disadari, seseorang sudah berdiri di depannya dan tanpa permisi mengangkat telepon itu untuk membatalkannya. Terdengar dari seberang sana suara lelaki tua mengumpat kesal. 

"HEH LO-" Atsumu hendak protes kepada siapa pun yang seenaknya merebut dan mengacaukan rencana makan malamnya. Namun, bukan umpatan yang keluar, Atsumu malah dibuat membeku. Ia tahu siapa, tidak. Bahkan, dirinya sangat mengenalinya dengan baik. 

"O-Omi? Hmp." Buru-buru Atsumu menutup mulutnya. 

"Miya?"

"…"

"Heh…"

Sakusa menyeringai di kegelapan, memperhatikan bagaimana Atsumu diam membeku, menekuk wajahnya ke bawah ditutupi oleh juntaian rambutnya. Mereka masih saling diam, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut mereka. Atsumu masih mengumpati dirinya sendiri di dalam kepala, merutuki kebodohannya yang sangat bodoh. Sementara Sakusa masih betah memperhatikan penampilan Atsumu dari kepala hingga kaki, terus berulang. Hingga, ia melihat sesuatu mengalir dari lengan yang lebih tua, pun didengarnya suara perut seseorang yang kini masih dengan nyaman duduk di atas tanah. 

"Haah, ayo sini gue bantu berdiri." Atsumu menggeleng, masih mempertahankan kebisuannya.

Sakusa menarik Atsumu begitu saja, membawanya ke punggungnya. "Naik," perintah Sakusa mutlak. Sedangkan Atsumu masih tetap diam, tidak mau menolehkan kepala sama sekali. "Naik sekarang atau lo gue gendong di depan?" Kata Sakusa final. Dengan begitu, Atsumu naik ke punggung Sakusa yang lebar. 

Sakusa dengan mudah membawa Atsumu ke dalam mobil. Menurunkannya dengan hati-hati di kursi penumpang, memastikan tubuh lelaki itu tidak kembali terbentur apa pun. 

Atsumu meringis pelan ketika punggungnya menyentuh sandaran kursi. Masih menahan nyeri akibat jatuh dari tangga tadi. Rambut palsu yang dikenakannya sedikit berantakan, beberapa helai menutupi wajahnya yang pucat.

Sakusa menghela napas pendek.

Tanpa banyak bicara, ia meraih seatbelt dan memasangkannya untuk Atsumu dengan gerakan hati-hati. Jemarinya sempat menyibakkan rambut pirang itu dari wajah Atsumu, memperlihatkan ekspresi lelaki tersebut yang terlihat terkejut, malu, sekaligus kesakitan.

"Masih sadar?" tanya Sakusa datar, meski nada suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Atsumu mendecakkan lidah pelan. "Kalau nggak sadar, gue nggak bakal jawab, bodoh…" Jawabannya lemah, tapi cukup membuat Sakusa merasa sedikit lega.

Pria itu menutup pintu mobil pelan sebelum berjalan ke sisi pengemudi. Namun, sebelum menyalakan mesin, matanya sempat melirik Atsumu sekali lagi cardigan dengan aksen bunga matahari yang sedikit kusut, dan wajah Atsumu yang masih setengah menahan malu karena ketahuan memakai pakaian seperti wanita.

Sakusa memalingkan wajah lebih dulu sambil berdeham kecil.

"…cocok"

"Huh?"

"Ngga, coba siniin tangannya"

"A-apa?"

Sakusa meraih tangan Atsumu dan membawanya ke pangkuannya. Terlihat darah sudah mengering dan kotor di sana-sini. Dengan telaten, Sakusa membersihkan tangan yang ternyata lebih kecil dari miliknya. Di sisi lain, Atsumu berdebar hebat dan wajahnya merona padam. Sakusa bukannya tidak sadar itu, hanya saja dirinya juga sama, gugup. Entah kenapa penampilan Atsumu kali ini sangat cocok sekali dengannya.

Notes:

Thank You.