Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-12
Completed:
2026-06-03
Words:
4,306
Chapters:
2/2
Comments:
22
Kudos:
244
Bookmarks:
16
Hits:
2,379

Taste Like Chicken Soup

Summary:

Seonghyeon as Senada Bait Al Ghiffari
Keonho as Kaito Rei Araki

Dari pertemanan masa kecil yang sederhana dan penuh kepolosan, mereka tumbuh bersama melewati tahun-tahun yang terus berganti hingga akhirnya menemukan tempat pulang dalam diri satu sama lain.

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Komplek tempat Senada tumbuh selalu ramai. Setiap sore, suara anak-anak yang berlarian memenuhi jalanan, bersahut-sahutan dengan panggilan para ibu dari teras rumah agar mereka segera pulang dan mandi. Menjelang magrib, suara mangkuk tukang bakso yang dipukul berirama hampir tak pernah absen mengisi udara.

Sena hafal semuanya. Ia hafal rumah mana yang memiliki pohon mangga paling rindang untuk dipanjat diam-diam, siapa yang paling sering dimarahi satpam karena bermain bola terlalu dekat dengan pos jaga, sampai siapa yang diam-diam memelihara anak kucing di pos ronda.

Rasanya, ia mengenal seluruh penghuni komplek itu.

Sampai suatu hari ia menyadari ada satu rumah yang nyaris tak pernah memperlihatkan penghuninya keluar.

Rumah besar bercat putih di ujung blok.

Pagarnya tinggi. Tirainya hampir selalu tertutup. Halamannya terlalu rapi hingga tampak seperti rumah dalam brosur perumahan. Sesekali hanya terlihat sebuah mobil hitam mengilap keluar-masuk, dengan seorang laki-laki berseragam yang selalu sigap membukakan pintu.

“Ami,” tanya Sena suatu malam sambil tengkurap di lantai ruang tamu dan mewarnai gambar matahari dengan krayon biru, “yang tinggal di rumah besar itu siapa?”

Ami yang sedang melipat pakaian menoleh sekilas.

“Namanya Tante Sarah. Anaknya seumuran kamu tau bang.”

“Tapi kok nggak pernah main?”

“Dia sering sakit, Bang. Kasihan, ya? Jadi jangan berisik kalau lewat sana.”

Namun kepala Sena kecil lebih penuh oleh petualangan daripada rasa penasaran. Nama itu pun lewat begitu saja tanpa sempat menetap dalam ingatannya.

Sampai hari pertama masuk sekolah dasar.

Pagi itu, halaman sekolah dasar dipenuhi tangis anak-anak yang belum rela berpisah dengan orang tuanya. Ada yang menangis sambil memeluk kaki sang mama erat-erat, ada yang berdiri di depan gerbang dengan wajah enggan, bahkan ada pula yang sudah terlanjur ketakutan sampai meminta pulang.

Di tengah keramaian itu, Senada justru sibuk berkeliling menyapa siapa saja yang ditemuinya, seolah-olah sekolah itu adalah komplek tempat ia tinggal.

Dasi merahnya miring ke samping, rambutnya sedikit berantakan karena tadi sempat balapan lari dengan anak lain sebelum bel masuk berbunyi, dan mulutnya tak berhenti mengoceh sejak turun dari motor Abi.

Lalu pandangannya jatuh pada seorang anak laki-laki kecil yang berdiri di barisan paling belakang.

Kecil sekali. Tas di punggungnya bahkan terlihat hampir sebesar tubuhnya sendiri. Kulitnya putih pucat, rambut hitamnya tersisir rapi seolah sudah dirapikan berkali-kali pagi itu, sementara bibirnya sedikit tertarik ke bawah yang mengingatkan Sena pada anak bebek yang kehujanan.

Tanpa berpikir panjang, Sena langsung menghampirinya.

“Kamu mirip bebek kalau manyun terus!”

Anak itu sontak menundukkan kepala lebih dalam.

Bukannya berhenti, Sena justru semakin penasaran. Ia maju beberapa langkah lagi untuk mengintip wajahnya lebih jelas. Namun anak itu malah menoleh pelan ke belakang. Di sana berdiri seorang perempuan cantik beberapa meter jauhnya. Senyumnya lebar, sementara ponsel di tangannya terangkat dengan posisi miring. Lampu flash-nya bahkan masih menyala meski matahari pagi sudah cukup terang.

“Ohhh...” Sena menunjuk polos. “Itu mama kamu, ya?”

Anak kecil itu mengangguk pelan.

“Mama takut kamu nangis?”

“Kaito... tidak nangis," jawabannya lirih, disertai logat asing yang masih begitu kental.

Sena langsung membulatkan mata.

Cara ngomongnya lucu banget!

Dan entah bagaimana, setelah percakapan singkat itu, mereka malah berjalan beriringan menuju kelas. Duduk sebangku pula. Sena bahkan tidak perlu repot memperkenalkan diri atau bertanya nama. Name tag yang terpasang rapi di dada anak itu sudah menjawab semuanya.

Kaito Rei Araki.

Diam-diam Sena membacanya berulang kali.

Wah... kayak nama karakter anime!

Sementara itu, Kaito duduk dengan kedua tangan rapi di atas paha. Punggungnya tegak, sikapnya sopan sekali untuk anak seusianya. Ia lebih sering menunduk daripada menatap orang lain, bahkan nyaris tidak melirik Sena yang sedari tadi terus memperhatikannya dengan rasa penasaran yang semakin besar.

Tanpa mereka sadari, pagi sederhana di hari pertama sekolah itu menjadi awal dari sesuatu yang akan bertahan jauh lebih lama daripada yang bisa dibayangkan oleh dua anak kecil tersebut.

Kaito memang sedikit berbeda dari anak-anak lain.

Bahasa Indonesianya belum terlalu lancar saat itu. Sejak lahir, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Jepang bersama papanya. Namun setelah perceraian kedua orang tuanya, mamanya memutuskan kembali ke Indonesia dan membesarkan putra semata wayangnya seorang diri di sini.

Papanya orang Jepang asli. Karena itu, nama Kaito Rei Araki selalu terdengar begitu keren di telinga Sena kecil—seperti nama tokoh utama dalam serial anime yang sering muncul di televisi setiap Minggu pagi.

Meski hidup tanpa mantan suaminya, Sarah tetap mampu memberikan kehidupan yang layak bagi putranya. Rumah besar itu masih berdiri megah, mobil-mobil masih terparkir rapi di garasi, dan segala kebutuhan Kaito selalu terpenuhi. Namun untuk mempertahankan semuanya, Sarah harus bekerja hampir setiap hari hingga larut malam.

Maka Kaito tumbuh di antara jadwal rapat, dering telepon kantor, dan janji-janji yang selalu terdengar sama di layar ponsel.

"Mama sebentar lagi pulang ya, sayang."

Lalu suara kecil di seberang panggilan video akan menjawab dengan polos, "mama not lying to Kai?"

Pertanyaan sederhana yang selalu membuat Sarah terdiam sesaat sebelum tersenyum dan mengangguk.

Karena itulah, sebagian besar masa kecil Kaito dihabiskan bersama nanny, suster pribadi, dan sopir keluarga yang selalu ia panggil dengan sebutan sederhana—Bapak.

Suatu pagi, dalam perjalanan menuju sekolah, Kaito menyodorkan kotak bekal kecil ke kursi depan mobil dengan mata berbinar.

"Bapak had any breakfast? Kai made my own breakfast, lho! Bapak try, Kai happy," dengan bahasanya yang masih acak-acakan.

Mendengar itu, Bapak yang sedang menyetir langsung teringat pesan majikannya untuk lebih sering mengajak si kecil Kaito berbicara dalam bahasa Indonesia.

"Kamu bikin sendiri, Dek?"

"Nanny bantu," jawabnya dengan cengirannya yang manis.

Hal lucu lainnya, Kaito juga selalu memanggil susternya dengan sebutan, Kakak. Bukan karena lupa nama, melainkan karena memang itulah yang ingin ia miliki sejak lama.

Seorang kakak.

Keinginan yang sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar ia dapatkan.

Sebagai anak tunggal, hari-harinya lebih sering berlalu di dalam rumah besar yang terasa terlalu luas untuk dihuni sendirian. Ia menyusun puzzle atau lego seorang diri, membaca buku di sudut kamar, atau duduk di balkon depan kamarnya sambil memperhatikan anak-anak lain berlarian dan bermain di luar.

Kadang ia ingin ikut merasakan serunya bermain sampai sore seperti mereka.

Namun biasanya sebelum keinginannya sempat terucap, kakak suster akan menghampiri dari belakang. Tangannya ditarik pelan agar beranjak dari sana, sementara suara lembut itu mulai terdengar di telinganya.

“Adek masuk dulu yuk sayang, pipinya sudah merah sekali.”

Kaito menoleh pelan. Benar saja, udara sore yang cukup terik membuat kedua pipinya memerah otomatis.

“Kalau adek ikut main nanti sakit lagi. Besok kan jadwal adek main sama mama, ya?”

Akhirnya ia hanya mengangguk kecil dan membiarkan dirinya dibawa kembali masuk ke dalam rumah, sementara suara tawa anak-anak di luar perlahan terdengar semakin jauh.

Kaito selalu menurut. Terlalu patuh, untuk ukuran anak seusianya.

Mungkin karena itulah pertemuannya dengan Sena terasa seperti sesuatu yang diam-diam mengubah banyak hal dalam hidupnya. Sebab Sena datang membawa segala sesuatu yang selama ini tidak pernah Kaito miliki—keramaian, juga kehangatan.

Hari pertama mereka resmi menjadi teman, Sena langsung menarik tangan Kaito keluar kelas tanpa aba-aba, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

“Kamu suka main tentara-tentaraan nggak?”

Kaito hanya berkedip bingung.

“Kalau tank?”

“…tank?”

Ya ampun... lucu banget punya adik laki-laki!

Sena bahkan sampai lompat-lompat sendiri saking gemasnya.

Sejak hari itu, tanpa benar-benar direncanakan, Kaito mulai lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Sena dibanding di rumahnya sendiri.

Awalnya Sarah cukup khawatir.

Kaito memang bukan anak yang bisa sembarangan diajak bermain. Tubuhnya terlalu sensitif. Sedikit debu bisa membuatnya bersin semalaman. Salah makan sedikit bisa berujung demam, batuk, atau ruam yang muncul entah dari mana.

Namun seiring waktu, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi rasa haru.

Sebab setiap kali melihat keluarga Ghiffari menyambut putranya, Sarah selalu merasa seolah Kaito sedang diterima bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari rumah itu sendiri.

Meski, kalau dipikir-pikir, kedatangan Kaito sempat membuat seluruh penghuni rumah cukup sibuk. Karena setiap kali mendengar Kaito akan datang bermain, Ami langsung heboh bersih-bersih rumah.

“SENA! Mainannya diberesin dulu!”

“ABI TOLONG PEL LANTAI YANG DEKET SOFA!”

“Lia jangan makan ciki dekat Kak Kaito, ya. Nanti remahannya ke mana-mana!”

Bahkan Sena pernah dimandikan dua kali dalam sehari setelah pulang bermain bola sampai tubuhnya penuh keringat dan debu.

Kalau mau ke rumah Kaito atau ngajak Kaito main ke sini, abang harus bersih, wangi, ganteng,” kata Ami sambil menyisir rambut putranya sampai rapi.

“Emang biasanya abang jelek ya, Mi?”

“Biasanya kamu kayak anak ilang.”

Kemudian yang paling sering membuat Ami mengelus dada sebenarnya bukan putra sulungnya itu sendiri, melainkan kamarnya.

Ruangannya lebih mirip medan perang daripada kamar anak SD. Tentara-tentaraan berserakan di mana-mana, tank berukuran besar memenuhi sudut ruangan, ditambah robot, lego, sampai pistol air yang entah bagaimana selalu ditemukan di tempat-tempat tak masuk akal.

Sarah beberapa kali merasa tidak enak hati.

“Aduh, Mbak... maaf ya, jadi bikin repot terus...”

Namun Ami selalu tertawa ringan sambil menggeleng.

“Nggak repot sama sekali, mom. Sena malah seneng ada temannya. Aku juga seneng Sena main sama adek Kai, jadi nggak kelihatan kucel terus anakku tuh!”

Mungkin sejak saat itulah semuanya berubah. Untuk pertama kalinya, Sena memiliki seseorang yang mau mendengarkan semua ceritanya tanpa bosan, begitu juga Kaito merasakan bagaimana rasanya tidak sendirian.

Kaito kecil yang biasanya sangat pendiam di rumah, bisa berubah jauh lebih hidup setiap kali berada di dekat Sena. Ia akan duduk bersila di lantai, memperhatikan Sena memainkan tank mainannya dengan ekspresi serius seakan sedang menghadiri rapat militer sungguhan.

“Ini markas rahasia kita.”

Kaito mengangguk serius.

“Kalau ini?”

“Itu tank penghancur.”

“…wah.”

“Terus kamu jangan mati ya.”

Kaito langsung menegang.

“…Kaito mati?”

“Iya kalau kena bom.”

Wajah kecil itu langsung murung. Sampai Sena buru-buru mengacak rambutnya, “tapi nanti aku hidupin lagi kok!”

Dan sore itu rumah Sena dipenuhi suara tawa kecil Kaito yang bahkan jarang terdengar di rumahnya sendiri.

Bahkan Abi beberapa kali berdiri di ambang pintu hanya untuk memperhatikan mereka diam-diam. Anak itu terlalu manis sampai rasanya mustahil untuk tidak disayang.

Apalagi setiap jam makan tiba. Kaito selalu duduk rapi dengan kedua tangan di atas paha sebelum mengucapkan itadakimasu pelan. Kalau diberi camilan, ia tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih dua kali.

Karena pantangannya cukup banyak, Abi sampai hafal cara memotong apel menjadi potongan kecil agar lebih mudah dimakan.

“Pelan-pelan makannya, Nak,” ujar Abi suatu sore sambil menyodorkan apel yang sudah dipotong mungil-mungil di piring kecil.

Kaito menerima piring itu dengan kedua tangan, “terima kasih, Abi... Arigatou Gozaimasu!

Tanpa disadari, sedikit demi sedikit Kaito mulai menempati ruangnya sendiri di rumah itu. Kehadirannya seolah menyatu begitu saja dengan keseharian keluarga Senada. Lia akan berebut tempat duduk di sampingnya setiap kali menonton kartun bersama, Ami tanpa perlu diingat selalu menyiapkan menu khusus yang aman untuknya, sementara Abi tak pernah lupa memastikan buah-buahan di rumah sudah dipotong kecil-kecil sebelum disajikan.

Sedangkan Senada menjadi anak yang paling sulit dipisahkan dari Kaito. Ke mana Kaito pergi, di situ Senada berada—mengajaknya bermain, mengobrol tanpa henti, atau sekadar duduk menemaninya melakukan hal-hal sederhana. Sebab semakin hari, semakin jelas terlihat bahwa Kaito tumbuh paling baik ketika berada di tengah rumah yang ramai. Rumah yang dipenuhi suara tawa dan percakapan. Tepatnya rumah yang hangat dengan orang-orang yang selalu menyambutnya tanpa syarat.

Mungkin itulah alasan mengapa Senada tak pernah benar-benar bisa jauh dari Kaito hingga mereka tumbuh sebesar sekarang. Karena tanpa pernah disadarinya, sejak kecil Sena sudah belajar menjadi tempat pulang bagi anak itu—sebuah rumah yang selalu terbuka, tempat Kaito tahu ia akan diterima, apa pun keadaannya.

Notes:

hi.. any thoughts?? hehe nanti ada chapter 2 pas senakai sudah sebesar tugu monas yaaah!!!