Chapter Text
"MAMIIII!!!!!"
Suara teriakan terdengar nyaring di Rabu pagi ini, menggema di seluruh penjuru rumah di sebuah kawasan perumahan yang cukup elit dengan penghuni-penghuni borjuis. Bangunan yang disebut dengan rumah itu saat ini cuma dihuni oleh tiga orang saja yang tentunya membuat rumah dua lantai itu seharusnya terlihat tenang dan sepi. Namun, bukannya sepi yang menyelimuti malah kebalikannya. Hampir setiap hari terjadi keributan-keributan contohnya seperti sekarang ini.
Sosok cowok dengan surai hitam kecokelatan yang minggu lalu baru saja berulang tahun ke-17 berteriak memanggil ibunya yang saat ini sedang membaca berita pagi di layar ponsel keluaran terbaru dengan segelas teh hangat yang masih mengepul asapnya di atas meja. Wanita berumur 50-an dengan dandanan yang terlihat seperti ibu-ibu sosialita pada umumnya, make up ala-ala, rambut disanggul, kalung, cincin dan gelang emas, bahkan anting segede gaban itu pun tak luput dari penampilannya.
Pandangan wanita itu masih fokus menatap layar ponselnya tanpa melirik sedikitpun ke arah sumber suara yang berkali-kali memanggilnya. Berita hangat pagi ini, artis wanita pendatang baru yang sedang naik daun berkat filmnya yang booming beberapa waktu lalu dirumorkan terlibat sebuah hubungan gelap dengan seorang pejabat yang sudah beristri. Ditemukan bukti-bukti yang mengarah pada perselingkuhan mereka membuat rumor itu semakin valid.
"Kasihan mana lagi naik daun, coba aja cewek itu lebih pinter lagi pasti nggak bakal ketauan." Gumamnya. Layar dia gulirkan kembali, membaca berita hangat lainnya sambil menyesap teh hangatnya.
"Mami liat seragam An yang batik?" Langkah kaki cowok bernama Anton itu mendatangi ibunya. Menanyakan tentang seragam sekolahnya yang harusnya dipakai hari ini. Mengingat sekarang hari Rabu jadi dia harus memakai seragam batik khas sekolahnya.
"Cari yang bener, An sayang." Wanita yang dipanggil 'Mami' itu tanpa menoleh membalas pertanyaan sang putra. Anton merengek manja layaknya anak ke ibunya, "nggak ada, An udah cari kemana-mana, Mi."
"Atau jangan-jangan si anak sialan Papa itu ngerjain An." Kesalnya.
Barulah wanita itu mulai mengalihkan perhatiannya dari ponsel kesayangannya. Menaruh atensi pada putranya yang hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih dan celana sekolah berwarna senada. "Dimana anak sialan itu?" Tanyanya.
"BINTANG, DIMANA KAMU?!" Serunya berteriak memanggil nama seseorang yang menjadi pembicaraan mereka.
Bintang. Ya. Cowok yang sejak beberapa waktu lalu menguping di balik pintu dapur terkikik geli ketika mendengar saudaranya, ah, saudara tirinya mencari keberadaan seragam yang harusnya dipakai hari ini. Setelah membuatkan 'Mami'-nya teh beberapa saat lalu, dia bersembunyi di dapur ketika mendengar teriakan Anton dari kamarnya. Rencananya berhasil. Pikirnya. Namun, ketika mendengar wanita yang berstatus sebagai ibu tirinya itu berteriak memanggilnya seketika membuat dirinya menegang di tempat. Hanya sepersekian detik. Dia langsung kembali seperti semula.
Langkahnya yang santai tanpa ragu mengarah menuju kedua orang yang menurutnya tidak penting-penting amat di hidupnya. Bahkan sebenarnya tidak penting sama sekali. Kalian harus baca baik-baik! Bagi Bintang mereka berdua adalah nenek lampir dan kacungnya. Terdengar kasar, tetapi Bintang masa bodoh. Rumah bagi Bintang sudah seperti neraka sejak kedatangan mereka, tetapi ini rumahnya. Rumah ayahnya lebih tepatnya. Dua sosok itu cuma pendatang. Cuma penumpang. Tidak lebih dari benalu. Tidak berhak sama sekali. Namun, apa daya posisi Bintang saat ini tidak cukup kuat, tidak bisa berbuat apapun.
"Kenapa?" Tanyanya pada Mami, Yelena namanya.
Cowok bersurai brunette yang sedikit berantakan itu berhenti sambil berusaha mengontrol ekspresinya ketika melihat Anton yang mengenakan dalamannya saja. "Haha, baju lo kemana, Ton?" Ucapnya sambil terkikik kecil.
"Heh, pasti ini kerjaan lo kan?" Anton menatap Bintang sengit. "Balikin seragam gue!" Perintahnya. Matanya melotot. Niatnya ingin menakut-nakuti Bintang, tetapi cowok cantik dengan lesung di pipi kanannya itu sama sekali tidak bergeming. Menurutnya itu lucu. Bukan lucu yang menggemaskan, tapi lucu yang terlihat 'kocak'. Weird.
"Lah bukannya seragam lo udah gue setrika semalem? Cari aja di keranjang setrika noh." Balas Bintang sambil mengarahkan dagunya ke ruangan yang disebut dengan laundry room. Mata almond-nya berhenti memperhatikan mereka, dia langkahkan kaki jenjangnya yang sudah dibalut seragam sekolah. Berniat mengambil roti tawar di kulkas sebagai sarapan pagi ini sebelum pekikan ibu tirinya memanggil namanya. Lagi.
"Bintang! Sudah Mami bilang kalau udah selesai disetrika ya taroh di kamar Mami sama Anton!" Ucap Yelena.
"Kamu tuh ya, budeg atau bolot sih!" Tambahnya. Berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang dengan satu tangan menunjuk ke wajah Bintang menggunakan telunjuknya.
Ya. Memang benar apa yang sudah kalian baca. Sebenarnya hampir semua pekerjaan rumah yang mengerjakan adalah Bintang. Termasuk membuat sarapan dan makan malam, mencuci baju, bahkan menyetrika. Asisten rumah tangga hanya bekerja membersihkan rumah setiap Senin-Sabtu. Datang di pagi hari pulang di siang hari setelah memasak untuk Yelena kalau dia tidak ada kepentingan di luar rumah. Biasalah, ibu-ibu sosialita yang gayanya selangit, pergi kemana saja bareng teman-teman sosialitanya. Selain hari itu, pekerjaan rumah Bintang yang menyelesaikan.
Bintang bak bawang putih yang ditindas oleh ibu dan saudara tirinya. Namun, Bintang bukanlah sosok yang lemah yang hanya diam saja ketika dirinya ditindas, bukan sosok yang mudah terbawa perasaan ataupun menangis-nangis sedih karena dia diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri. Tentunya dia sering melawan dan mangkir dari pekerjaan rumahnya. Kalau dia dipaksa, dia akan meminta upah setelah mengerjakan tugas rumah tangga tersebut. Padahal kan itu sama saja uang sakunya yang dikirim oleh ayahnya yang saat ini serang dinas di luar negeri.
'Dasar nenek lampir culas. Lihat aja pembalasan gue.' Pikirnya tiap kali kesal dengan mereka berdua.
Ayahnya sedang kontrak dinas di London selama tiga tahun, dan ini baru memasuki tahun pertama. Masih cukup lama sampai ayahnya kembali. Ada alasan kenapa Bintang tidak melaporkan ini semua ke ayahnya dan hanya mereka yang tahu, lama-lama juga nanti kalian bakal tahu.
"Budeg sama bolot kan sama aja, Mi." Balas Bintang sok polos. Iya, dia mah, sok polos saja di depan Mami Yelena. Cengiran pun nampak tersungging di wajahnya.
Raut mukanya yang santai dan tak pernah takut dengan wanita itu membuat Yelena semakin murka.
"BINTANG!" Sentak Yelena. "Kamu tuh yah, ngelawan mulu kalo dibilangin. Ambilin baju An." Perintahnya. Mata melotot sampai bola mata itu seperti hampir terjatuh dan menggelinding di lantai. Membayangkannya saja Bintang bergidik ngeri.
"Ogah, emang dia nggak punya kaki apa? Ambil sendiri lah." Balas Bintang. Ogah banget dia disuruh-suruh oleh Mami-nya. Mending dia melanjutkan niatnya untuk sarapan roti tawar favorite-nya. Pagi ini dia sudah masak nasi goreng untuk Yelena dan Anton. Piring dan gelas sudah dia cuci, baju juga sudah dia jemur tadi pagi. Yelena juga sudah memberikan upah untuknya. Alias uang saku untuk sekolah.
"Dasar anak kurang ajar!" Omel Yelena. Lagi dan lagi. Hampir saja jeweran di telinga Bintang dapatkan andai saja cowok itu tidak gesit untuk menghidar.
Bintang berlari kecil menuju dapur sambil memutar bola matanya. "Mana berani dia mukul gue." Gumamnya.
'Kejam.' Memang Yelena itu ibu tiri yang kejam bagi Bintang, mungkin bagi semua anak di bumi ini kecuali si Anton atau yang biasa Bintang panggil dengan sebutan 'Tono'. Plesetan dari Antonio. Lagian Bintang tidak suka dengan cowok letoy itu. Lemah. Anak mami. Manja. Pikirnya.
Bintang sedang mengunyah roti tawar sambil berjalan mengambil tasnya di salah satu kursi di dapur itu ketika mendengar teriakan lagi yang kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Membuat telinganya pengang. Dia mengorek telinganya menggunakan jari yang sebelumnya dia gunakan untuk memegang roti tawar dan kembali memakan rotinya.
'Yikesss,
jorok.' Tapi Bintang sekali lagi masa bodoh. Emang siapa yang bakal melihat, toh tidak ada yang melihat, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
"Berisik." Bisiknya. Menatap sekilas ke arah Anton yang datang sambil menghentakkan kakinya dari arah laundry room.
"MAMI, LIAT BAJU AN!" Anton menunjukkan seragam batiknya yang nampak berlubang di bagian dada ke ibunya. Air mata nampak menggenang di pelupuk matanya, serta ada emosi yang terpancar dalam matanya itu.
Upsss... Sepertinya Bintang tahu apa yang sedang terjadi. Tubuhnya nge-freeze sejenak. Gigitan roti tawar di mulutnya berhenti. Memandang ke arah Anton dan seragamnya yang berlubang itu.
'Gawat. Gue lupa bajunya bolong.' Batinnya. Iya, semalam dia menyetrika baju Anton dan maminya sambil main ponselnya. Namun, pas seragam batik Anton dia lupa kalau sedang menyetrika dan dibiarkan begitu saja karena keasyikan scroll TikTok. Awalnya dia ketar-ketir, tapi akhirnya dia biasa saja. Tidak perlu pusing. Lagian mereka berdua suka menindasnya. Masa bodoh.
Perlahan-lahan dia langkahkan kakinya keluar rumah, mengendap-endap bak maling sebelum Yelena dan Anton mulai sadar, kemudian teriakan yang kesekian kalinya menggelegar di ruangan itu.
"BINTANG! BENAR-BENAR KAMU YAH! SINI KAMU!" Teriak Yelena.
Mendengar itu tentunya mau tak mau Bintang pun harus melarikan diri. Sambil memegang roti tawar di tangannya keluar rumah, tertawa girang disela larinya.
"HAHAHAHA..." Tawanya. Senang melihat mereka kesal.
Bintang keluar dari halaman rumahnya saat melihat Yelena serta Anton mengejarnya di belakang sambil membawa sapu yang entah dapat dari mana. Ohh, Bintang ingat, tadi ada Mbok Asih yang sedang menyapu rumah.
"BINTANG!" Panggil Yelena sambil mengacungkan sapunya. Sebenernya terlihat lucu ketika wanita sosialita dengan dandanan rapi itu mengejar sambil mengacung-acungkan sapu di pagi hari yang cerah ini.
"Mampus." Larinya makin kencang saat kedua sosok itu semakin dekat. Roti tawar di tangannya dia pegang erat sambil berlari menuju pertigaan depan sana. Surai brunette nya bergerak seiring dengan larinya.
Netranya melihat sosok cowok di depan sana dengan seragam yang mirip dengan miliknya. Jaket varsity berwarna biru putih nampak tersampir di bahu. Tangannya sedang asyik menyuap sesendok demi sesendok bubur ayam yang nampak nikmat di pagi hari ini, terlebih dia belum sarapan. Sebuah motor Vario dengan gagah terparkir dengan cukup rapi di tepi jalan. Pikir Bintang itu miliknya.
Tanpa ba-bi-bu dan tanpa ragu lagi dengan tak tahu malunya, Bintang menarik cowok dengan surai hitam legam yang sedang asyik menikmati sarapannya itu sehingga membuatnya terkejut. Hampir saja mangkuk bubur nya jatuh dan sarapan paginya terbuang sia-sia.
"Bang, bang. Tolongin gue. Gue dikejar mucikari." Paksa Bintang ke si cowok tersebut. Iya dia memangilnya dengan sebutan 'Bang' lantaran melihat badge di seragamnya yang menunjukkan kalau dia kakak kelasnya.
Kalau Yelena tahu dia dipanggil mucikari, wanita itu pasti akan semakin murka. Untung saja dia tak tahu.
Bintang meraih mangkuk bubur ayam yang masih dipegang si cowok, dan menyerahkannya ke si abang-abang tukang buburnya. Kemudian menarik si cowok menuju motornya.
"Eh, eh, eh... Apa-apaan nih?" Ujar si cowok yang ternyata lebih tinggi dari Bintang.
Tanpa banyak omong, Bintang langsung menjejalkan mulut si cowok yang berstatus sebagai kakak kelasnya dengan roti tawar yang sudah tidak tahu bentuknya seperti apa lagi sampai mulutnya penuh. Andai cowok itu tahu, kalau roti tawar itu sudah terkena tangan kotor Bintang beserta debu-debu selama pelariannya.
"Udah, Bang. Ayo tolongin gua. Cepetan itu mucikari-nya udah deket."
Bintang melihat Yelena dari kejauhan bersama Anton yang berlari di belakangnya. Ternyata cowok manja itu sudah memakai jaket.
"Bang, liat tuh bang. Itu orangnya!" Tunjuk Bintang ke Yelena semakin was-was sambil menepuk-nepuk bahu si cowok dan matanya yang terbuka lebar. Memang tampilan Yelena yang rapi terlihat meyakinkan si kakak kelasnya itu, kalau wanita itu mucikari yang sedang mengejar Bintang.
Segeralah si cowok itu memakai jaketnya dan naik ke atas motor sambil mengunyah roti tawar tak berbentuk dengan rasa yang cukup, 'asin?'.
"Naik." Perintahnya setelah memakai helm.
Bintang langsung saja naik ke motor kakak kelasnya. Berpegangan ke bahu si cowok, kemudian menepuk-nepuk mengisyaratkan agar segera melajukan motornya. "Gass, Bang."
Si cowok yang Bintang tak tahu namanya ini melajukan motornya dengan kecepatan yang sedang melintas jalanan yang cukup ramai di pagi hari itu mengingat jam-jam berangkat kerja dan sekolah.
Bintang menengok ke belakang dan menjulurkan lidah mengejek mereka berdua ketika melintas di depan keduanya. Dasar bocah tengil kamu, Bintang!
"Bintang!! Awas kamu yah!" Ucap Yelena. Bintang sama sekali tak takut dengan ancamannya. Toh, mana berani Yelena berbuat lebih padanya dalam hal fisik kecuali menindasnya.
"Hahahaha..." Lagi-lagi Bintang tertawa kemenangan atas dirinya.
Sementara si cowok yang sedang mengemudikan motornya itu nampak penasaran. Anak sekecil ini pagi-pagi sudah dikejar mucikari. Aneh.
Ia menyayangkan bubur ayamnya yang baru dimakan tiga suapan dan diganggu oleh makhluk kecil diboncengannya ini.
'Sialan, bubur gue.' Dia nampak kesal dan jengkel ketika mengingat sarapannya yang sudah dia beli dan belum ditandaskan.
"Bang, Bang.. Turun depan." Bintang menepuk, lebih ke memukul bahu si cowok ketika melihat halte di depan sana dengan seenak jidatnya. Tangannya menunjuk ke arah halte.
Si cowok menghentikan motornya di halte itu dan Bintang langsung turun dari joknya. "Thanks ya, Bang, dan sorry juga tadi ganggu sarapan lo. Kapan-kapan gue traktir deh." Ucapnya.
Manik cokelatnya menatap manik hitam di depan persis yang sedang menatapnya dengan enggan.
"Nama lu?" Tanya si cowok.
Ah, iya. Bintang lupa, sejujurnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Hanya bermodalkan satu sekolah menjadikan Bintang berani dengan cowok itu.
"Eh iya, belom kenalan kita ya. Nama gue Bintang Saskara Lazuardi. Orang-orang manggil gue Bintang sih. Kalo abang?" Bintang memperkenalkan diri, tangannya terulur ke sosok pahlawan kepagiannya itu. Iya kepagian, ini kan masih pagi. Jadi, bukan pahlawan kesiangan. Ah, garing lu, Thor.
"Abang... abang. Emang gua abang lu?" Hampir saja si cowok melayangkan jitakan di kepala Bintang kalau saja Bintang tak menghindar. Ya, Bintang si spesialis menghindar.
"Eitsss... Abang ini tipe yang phsycall touch banget yah? Baru kenal udah mau megang-megang. Gimana kalo udah pacaran." Ucap Bintang sambil melindungi dirinya.
Hey, ingatkan Bintang kalau beberapa waktu yang lalu dia menarik-narik bahkan memukul-mukul si kakak kelasnya itu! Apalagi tadi, pacaran? Kaya dia mau saja sama kamu Bintang!
Si cowok yang Bintang akui ganteng itu menatapnya aneh. 'Nih bocah gila kali ya?'. Batinnya.
'Sinting. Nggak waras. Freak'
"Temuin gua di kelas gua pas istirahat kedua." Ucap si cowok bersurai hitam itu. Melaju pergi meninggalkan Bintang yang menatap kepergiannya dengan santai. Setelah itu, dia sadar akan sesuatu.
"Lah, tuh orang belom ngasih tau namanya anjir! Apalagi kelasnya? Mana gue tau."
"Bodoamat ah." Langkah kakinya gontai menuju sekolah yang hanya berjarak beberapa puluh meter saja di depan sana. Riang gembira setelah berhasil membuat Mami dan Anton kesal di pagi hari ini. Ya, biarpun kali ini memang Bintang benar-benar tak sengaja sih. Tapi baginya sudah cukup memuaskan.
Next?
