Actions

Work Header

a habit of returning

Summary:

Lighter kelimpungan. Di hadapan Belle, sering kali ia tidak dapat pertahankan tumpuannya.

Notes:

Zenless Zone Zero 绝区零 © 2024 by Hoyoverse
Copyright all rights reserved.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Boleh,” sahut Belle. 

“Hari Sabtu, jam 7 malam, di depan stasiun, kan? Oke, aku tunggu di sana, ya,” lanjut si gadis yang lebih senior sebelum ia tandai kalender ponselnya dan berakhir dengan lambaikan tangannya menjauh.

Lighter seketika membeku. Belum sempat ia membenarkan letak kacamata dengan lensa fotokromiknya yang melorot, benda tersebut keburu jatuh ke tanah. Beberapa detik kemudian, seolah tersadarkan, buru-buru si pemuda ambil kacamata kesayangannya dari tanah yang sekarang jadi saksi bisu perjuangannya rebut kembali si pujaan hati. Oh, Tuhan.. Ia tidak salah dengar, kan, ucapan gadis pujaan hatinya? Takutnya semua hal yang terjadi barusan hanyalah imajinasinya dan Belle tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi berkencan dengannya.

Semuanya bermula seminggu yang lalu, hari Kamis tengah malam dengan rencananya untuk bermalam di indekos Abang Billy, seniornya dari sekolah menengah kejuruan. Rupa-rupanya, seniornya tersebut tengah mengadakan acara serupa di indekosnya, yaitu mengundang beberapa teman gengnya. Karena ketidakmampuan Lighter untuk menolak ajakan Billy (harusnya ia belajar lebih giat dengan Lucy, teman satu kelas kuliahnya yang paling rajin untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang merepotkan), ia berakhir mengikuti malam yang panjang dengan bermain gim paling seru di indekos seniornya bersama teman-teman senior lainnya yang tidak begitu ia kenal. Truth or dare

Permainan baru berjalan lima menit, botol bekas kopi Golda langsung mengarah ke dirinya yang sedang sibuk meratapi nasibnya selama enam jam ke depan. 

Buru-buru Lighter berkata, “Dare.” Padahal dalam hatinya ia ingin katakan truth, karena menurut pengalamannya bermain selama ini, pilihan tantangan jauh lebih merepotkan dan biasanya memiliki jangka waktu yang panjang dalam penyelesaiannya. Apalagi rata-rata teman seniornya ini memiliki riwayat untuk saling mengusili satu sama lain.

“Bang, boleh ganti pilihan, nggak?” Lighter membenarkan letak kacamatanya. “Tadi salah jawab,” tambahnya cepat.

“Ganti cuma boleh sekali doang, ya!” seru Billy. 

“Abis ini kalau kepilih lagi, berarti sisa satu pilihannya,” timpal Harumasa. 

Mendesah keras, Lighter kira ia tinggal berdoa kepada dewa keberuntungan agar tidak terpilih pada ronde berikutnya. Pikirnya begitu. Sebelum jam berikutnya, ketika permainan dimulai kembali, rupanya-rupanya ialah sosok yang dicintai oleh botol kopi Golda bekas.

Harumasa-lah yang pertama kali tertawa terbahak-bahak melihat wajah lesu Lighter. Disusul oleh Billy, senior yang paling ia respek (yang buat Lighter sempat sedih walaupun dalam jumlah kecil). 

Dare buat Lighter…”

Mungkin ada beberapa menit mereka lewati dengan alunan musik HipDut yang sedari awal terputar di pelantang yang terletak pada sudut kamar indekos Billy. Barangkali kehidupannya begitu misterius sampai-sampai teman-teman seniornya kelimpungan untuk berikan tantangan yang sulit kepada dirinya, begitu pikir Lighter, sebelum jantungnya tiba-tiba meloncat begitu ia mendengar suara melengking dari pengeras suara ponsel Billy.

Kalian bingung tantangan sulit buat Lighter?” Suara pekikannya diikuti bising kendaraan beberapa kali, seolah-olah ia berdiri tepat di sebelah sirkuit balap motor. “Suruh nge-date aja sama Belle, senior manajemen!” Timpal Caesar.

Maka, di sinilah Lighter sekarang. Masih ada lima belas menit sebelum pukul 7 malam, tapi ia sudah berada di depan stasiun tempat titik kumpul kencannya dengan Belle. Hari Jumat kemarin ia tidak memiliki mata kuliah apa pun, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk pergi ke kampus hanya demi melihat sang pujaan hati. 

Hari ini Lighter bangun pagi-pagi sekali. Dengan keadaan linglung, ia sempatkan untuk pergi ke gym sesuai jadwal kesehariannya. Siangnya, ia beli nasi bungkus di depan indekosnya, yang ternyata harus Lighter beli sekali lagi karena ia bahkan sampai kelupaan kalau temannya, Hugo, tengah menginap di indekosnya karena sedang kehabisan uang untuk membeli token listrik. Lighter buru-buru menelepon Lucy pada sore harinya untuk meminta saran mengenai pakaian yang pantas ia kenakan di acara nanti malam. Selepas itu, si pemuda menunggu dengan gelisah sampai pukul 6 sore, kemudian dengan semangat menggebu-gebu (tidak lupa keramas dan berdandan), ia pergi menuju stasiun yang jaraknya hanya 3 kilometer menggunakan motor Scoopy kesayangan, hadiah dari neneknya tiga tahun yang lalu.

Awalnya Lighter berpikir untuk menjemput Belle di rumahnya. Namun ketika ia utarakan ide itu hari Kamis ketika ia memberanikan diri untuk mengajak Belle kemarin, si gadis menolak mentah-mentah idenya dengan mengatakan bahwa rumahnya terlalu jauh dan akan merepotkan bagi Lighter untuk bolak-balik. Pupus sudah harapan Lighter untuk menjemput sang pujaan hati.

Belum ada lima menit berlalu, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya.

“Hai,” sapanya tersengal-sengal. “Tadi sempet ketinggalan kereta sekali, untung kereta selanjutnya cepat. Ah, make-up-nya luntur…” Si gadis gunakan kamera ponselnya sebagai cermin serbaguna.

Lighter kira, sekalipun Belle katakan dandanan wajahnya luntur, yang terlihat dari lensa si pemuda hanyalah betapa kerupawanan Belle dapat buat jantungnya kian berdetak dengan irama tidak menentu. 

“Cantik.” 

“Eh?” 

Lighter kelimpungan. Sial. Di hadapan Belle, sering kali ia tidak dapat mempertahankan tumpuannya. Semakin cepat jantungnya memompa darah menuju seluruh tubuhnya, semakin tidak terkontrol pula ucapannya. Saat hendak buru-buru menjelaskan maksud dari ucapannya barusan, Belle tiba-tiba berseru.

“Makasih,” katanya menatap Lighter dengan wajah berseri-seri, “Kamu juga ganteng.”

Darah Lighter berdesir. Cepat-cepat ia mengunci mulutnya rapat-rapat.

Tujuan pertama mereka adalah stan dimsum di sebelah selatan pasar malam. Berseberangan dengan stasiun, jaraknya hanya 50 meter. Sempat Lighter tawarkan apakah ia perlu mengantar Belle menggunakan motor Scoopy kesayangannya, yang langsung dihadiahkan dengan tawa lembut Belle. Ia segera merutuki kebodohannya barusan. Lighter rasa ia telah ketularan ketololan Caesar dalam mengambil keputusan penting.

“Antre-nya panjang, kamu nggak masalah?” tanya Belle di sela-sela antrean mereka. 

Ada sekitar belasan barisan manusia. Lighter, toh, tidak masalah selama ia bisa bersama gebetannya; mau ratusan antrean pun ia hajar. Namun, setelah melirik ke arah kaki Belle yang mengenakan sepatu hak, ia jadi tidak enak hati.

“Kak, mending…” Ia melirik ke arah kursi kosong di area taman sentral, “Kakak jagain kursi di taman itu. Aku yang antre,” lanjutnya.

“Ih, jangan gitu, dong,” seru Belle. “Atau kamu mau beli sesuatu nggak? Nanti sekalian aku beli sebelum jagain kursi. Gimana?”

Lighter seketika edarkan pandangannya ke sekeliling. Keramaian memenuhi tempat tersebut. Satu-satunya yang mencuri perhatiannya adalah stan penjual jagung-susu-keju yang minim antrean.

“Jasuke itu, kak,” tunjuknya.

“Oke!” Belle segera keluar dari barisan antrean, kemudian berjalan pelan ke arah stan yang ditunjuk oleh Lighter. 

Hati-hati. Suaranya hampir keluar sebelum tangannya buru-buru menyentuh keningnya, tidak percaya.

“Berarti sekarang kamu satu kelas sama kakakku?” tanya Belle setengah berteriak. Ia hampir menjatuhkan churros-nya yang semula ada di genggamannya, sebelum kemudian buru-buru merapikan sikap duduknya yang sempat berubah dalam sekejap. “Iya, ya.. aku lupa kalau Abang ngulang kelas bahasa,” sambung si gadis cepat.

Lighter pamerkan senyum kecutnya sebagai jawaban ringkas. Yang pertama terlintas dalam ingatannya adalah bagaimana Wise, kakak Belle dari jurusan psikologi itu, menemuinya secara empat mata sepuluh menit sebelum kelas umum bahasa dimulai. Bukan pertemuan yang baik, kalau boleh Lighter katakan begitu. Pasalnya, yang paling dapat Lighter ingat adalah bagaimana Wise melancarkan tatapan mematikan, disusul dengan beberapa ancaman sekaligus yang membuat Lighter tidak dapat berkutik, dan diakhiri dengan memburuknya hubungan Lighter dengan saudara pujaan hatinya. 

“Kenapa, ya, Abang nggak cerita?” 

Dengan gelisah, Lighter segera membenarkan posisi kacamata fotokromiknya. Susah payah ia menelan jasuke yang sebelumnya ia pesan.

Di sisi seberang, Belle edarkan pandangannya ke sekeliling. Dapat Lighter lihat ketika kedua bola matanya yang bercahaya menerawang jauh dari jangkauannya. Cahaya remang-remang dari sekeliling tampaknya menjadi latar yang memukau jika objek utamanya adalah Belle, begitu pikir Lighter, sebelum gadis senior di hadapannya tiba-tiba balik menatapnya dengan begitu menggebu-gebu, seolah ide baru terbesit begitu saja dalam kepalanya.

“Habis ini main bianglala, yuk.”

Lighter kira, perlu ratusan kalimat validasi agar dapat meyakinkan kepalanya bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah mimpi belaka. Bukan pula khayalan suatu sore yang sepi. Ketika keduanya berlarian menuju antrean bianglala yang masih minim, mendadak Belle menarik pergelangan tangan Lighter keras, isyarat untuk mempercepat langkah kaki Lighter yang tertinggal. Barangkali bibir Lighter mendadak kelu, sebab di tengah pikirannya yang berkecamuk, yang paling ia ingat justru betapa rupawannya rupa gadis pujaan hatinya di depan pendar-pendar remang dari pasar malam yang jadi latar belakang kala mereka duduk di dalam kapsul bianglala setinggi tiga puluh meter dari tanah.

“Lighter?” panggil Belle. Wajahnya tampilkan ekspresi yang paling sulit untuk Lighter baca. “Kamu nggak apa-apa?” sambungnya lirih.

Lighter kembali terbawa pada ingatan terdalamnya.

“Maaf.” 

Angin sepoi-sepoi menerbangkan helai keunguan milik gadis itu. Suaranya yang parau mengecil. Bersamaan dengan wajahnya yang menengadah jauh ke langit, Lighter dapat menyaksikan netranya yang berkilat berkali-kali. Ah, sialan. Semua ini salahnya. Begitu pikirnya, sebelum bergegas mondar-mandir beberapa kali dan berakhir bersedekap pada tepian langkan. 

“Harusnya aku yang minta maaf, Kak,” tuturnya. “Maaf.”

Maaf. Maaf. Maaf.

Cahaya dari lampion itu memantul pada mata Belle, membuat suatu gradasi unik antara netra kebiruannya dengan pendar beragam pasar malam dan cahaya kekuningan dari lampion. Senyum lebar terpatri pada wajah gadis yang lebih tua dengan tangannya yang menangkat lampion berukuran sedang. Di hadapannya berdiri Lighter dalam diam dengan pantulan cahaya kekuningan dari lampion pada kacamatanya. 

“Cantiknya,” gumam Belle, lantas mendongak menatap laki-laki di hadapannya. “Kamu nggak mau beli juga?” tanyanya seraya melirik stan penjual lampion di sebelah mereka. 

Berdasarkan informasi dari si penjual lampion, lampion yang telah dibeli oleh pengunjung akan dilepaskan serentak pada pukul 9 malam, sekitar lima belas menit dari sekarang. Akan tetapi, tidak ada peraturan ketat bagi pengunjung untuk menerbangkannya saat ini juga. Dalam pemikiran Belle, menunggu lima belas menit tidaklah lama. Mungkin ia dan Lighter dapat menghabiskan waktu tersebut dengan membeli beberapa jajanan lain sebelum menerbangkan lampion mereka bersama dengan pengunjung lainnya (akan Belle abadikan lampion-lampion cantik itu di angkasa nanti). 

Seketika Belle urungkan pemikiran tersebut kala melihat yang dipanggil justru tampilkan lagak paling bias dari yang pernah ia ingat sepanjang hidupnya. 

“Kita pulang saja sekarang?” tanyanya.

Lighter terperanjat, “Maaf. Tadi ngelamun. Mau diterbangin sekarang?”

Belle mendesah keras sebagai jawaban. Lighter kelimpungan. Ketika hendak membuka mulutnya yang sulit bekerja sama di situasi seperti ini, tiba-tiba Belle mengulurkan tangannya untuk arahkan tangan pemuda ke lampion di hadapan keduanya. 

“Dengar,” kata Belle, kedua netranya tunjukkan keseriusan dalam suaranya barusan. “Aku nggak masalah dengan ide jadi pacar kamu untuk sehari ini, kayak yang kamu bilang di hari Kamis.”

Ada jeda pada ucapannya. Dan Lighter dapat memahami hal tersebut. Genggamannya pada lampion dengan cahaya kekuningan di hadapannya mengeras. Dapat ia rasai hal serupa dari tangan Belle di sisi sebelahnya. 

“Tapi apa yang sudah terjadi sama kita adalah masa lalu. Dan aku nggak akan mengubah pikiranku untuk menyudahinya,” tuturnya pelan. “Maaf.”

Lighter rasa ada sesuatu yang tersangkut pada tenggorokannya, serupa dengan napasnya yang mendadak tersengal beberapa kali. Keheningan panjang menguasai keduanya, sebelum bersamaan dengan Belle yang hendak membuka suara, Lighter putuskan untuk menarik napas panjang.

“Aku tahu, Kak. Maaf,” katanya di sela-sela kekeringan tenggorokannya, “Akulah yang membebani Kakak dengan ekspektasi ini. Aku yang ternyata nggak bisa melanjutkan hidup. Maaf,” sambungnya.

Belle menangkup wajah yang lebih muda, “Maaf, ya. Semuanya jadi susah karena aku.”

“Nggak, Kak,” serunya. “You deserve your own happiness.”

“Kamu juga, Light.”

Pukul 12 malam, Lighter berakhir duduk di kursi depan toko kelontong kesayangannya yang jaraknya hanya seratus meter dari indekosnya. Sigaret terakhirnya hari itu sudah habis dan dia enggan membelinya lagi. Ia teringat janjinya dengan Belle dulu untuk mencoba hidup sehat (yang langsung patah karena ia bertindak seperti remaja yang baru putus cinta). Botol kopi Golda di tangannya masih sisa seperempat, mungkin akan dia kasih ke Hugo kalau-kalau temannya itu masih menginap di indekosnya sampai saat ini.

Tak berapa lama, bunyi notifikasi masuk ke ponselnya. Tak butuh waktu lama untuk segera Lighter buka.

Kak Belle 

Thanks for today. Rest well, ya Lighter!

Lupa kalau tadi sempat foto ini..

Sent a photo.

Foto lampion yang terbang di angkasa. Sendirian. Lampion yang tadi ia dan Belle genggam bersama. Jaraknya di foto cukup jauh, jadi Lighter perbesar gambar tersebut untuk melihat barang sisa-sisa kenangannya bersama mantan pujaan hatinya. Ada sesuatu yang cukup buat Lighter penasaran. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kehadiran tersebut? Apakah ia sebegitu terpesona dengan rupa perempuan mantan pujaan hatinya itu? Ia bahkan tidak bisa ingat kapan Belle menulis kutipan pada lampion tersebut.

Mendesah keras, Lighter bangkit dari tempat duduknya. Saatnya pulang, menutup cerita dari malam panjang yang mengobrak-abrik ingatannya. Belum sempat kembali mengenang-ngenang cerita lamanya, tulisan Belle pada lampion itu terngiang di kepalanya.

Be today!

Fin.

 

Notes:

Lagi suka sama konsep hidup untuk hari ini..
Kutipan full nya :

The past is dead, tomorrow is not born yet, be today!

Maaf kalau banyak part janggal, langsung di post soalnya