Work Text:
Bar malam itu sudah ditutup. Tinggal Sadewa dan Bima yang di meja bartender. Kehadiran staff lain yang sedang merapikan kursi, mengepel lantai, dan mematikan lampu cukup sebagai pengisi suara pemecah keheningan. Keduanya saling terdiam. Sadewa yang berkutat dengan gelas dan botol yang harus dibersihkan, Bima yang sedang memperhatikan bagaimana bulir embun jatuh tergelincir ke meja. Bedanya, Sadewa melirik Bima sesekali, mencari celah dimana ia bisa membicarakan hal penting yang sudah ia ketahui dari Nakula dan Arjuna dari bulan-bulan lalu. Ternyata rahasia Bima sudah diketahui umum.
"Bim, kamu yakin mau lanjut misi yang ini?" Ucap Sadewa sambil mengelap gelas-gelas yang sudah dicuci. Badannya sudah tegap di hadapan Bima, hanya dibatasi meja bartender. Matanya mengawasi gerak-gerik Bima untuk ia laporkan ke kembaran dan sahabatnya. Yang Sadewa paham adalah Bima yang terlihat kosong seperti biasa, beberapa tahun kebelakang. Sungguh mengkhawatirkan.
Bartender itu sangat membenci penampilan Bima yang seperti orang yang enggan melawan. Kadang Bima bisa pulang dengan tatapan kosong, bahkan dengan lebam-lebam baru di sekujur tubuh. Bukan ia menyalahkan Nakula yang meminta bantuan, tapi Bima mendadak bodoh dan tidak tahu berhenti memberikan pertolongan. Sadewa ingin sekali menyelundupkan Bima ke kapal yang sering berlabuh di pelabuhan dan mengirimkannya ke antah berantah supaya Bima bisa beristirahat.
"Saya dengar misi ini ngelibatin banyak golongan." Memang ada benarnya perkataan Sadewa. Karena Jagat Maya sedang dalam ancaman sehingga dicetuskannya misi rahasia yang memaksa Bima harus mendampingi atasannya yang berasal dari golongan politik.
Sadewa melanjutkan kekhawatirannya, setidaknya Bima bisa mempertimbangkan andilnya dalam misi ini. "Saya sedikit takut mengingat—kamu tau, Yudis—" Kalimatnya sengaja dipotong karena tidak berani menjadi lebih lancang menyebutkan nama yang sangat erat di hidup Bima.
"Saya hanya ingin kamu melihat dunia yang lebih indah, Bima. Nakula dan Arjuna juga ingin kamu secepatnya mencari kegiatan baru." Sadewa melihat genggaman Bima ke gelas kecilnya melonggar. "Easier said than done, I know. Kita semua juga ga bisa lupa. But life must go on."
Ia tersenyum kecut melihat sahabat dihadapannya. Bahkan mulutnya terasa pahit saat hendak menyebut nama itu, sarat akan pilu. "Tapi kalo bukan gue, Yudis gimana?" Pertanyaan yang cukup membuat Sadewa segan menjawabnya. Sadewa tahu betul maksud Bima dan nampaknya hanya kekosongan yang bisa menjawab.
"Kali ini aja, Mas, kali ini aja. Gue mau berguna buat Yudis. I wasn't there."
Masih terulang di memorinya kejadian yang menyisakan Bima hanya sebuah keberanian. Saat itu Yudistira yang sedang berjalan menuju kediaman Bima menjadi korban penyanderaan yang pada akhirnya direnggut juga. Tebusan yang tidak masuk akal, perintah untuk tidak mendekat, dan pesan terakhir yang tidak sempat Bima simpan. Bahkan Bima tidak diberi kesempatan untuk mencari Yudistira yang sudah menjadi puing-puing di balik gudang tua yang reyot dan terbakar.
Yudistira meninggalkan Bima yang harus menjalani hidup untuk segera mati dan menjemput kekasih hati.
"Lagipula, Mas, gue siap sama risiko yang gue hadapin." Bima meyakinkan Sadewa sekali lagi. Ia memang sudah menerima keadaan dan siap menghadapi masa depan.
Pisau, peluru, dan bahkan senjata kimia sudah pernah bersarang di tubuhnya. Sudah tidak ada lagi yang ia takuti.
Bahkan kekasihnya pun harus menerima konsekuensi bejat dari lawan yang haus darah. Sudah tidak ada lagi yang ia nanti.
"Gue juga yakin ada Yudis yang nunggu gue di sana. Kasihan, Mas, kalo dia harus sendiri lagi tanpa gue." Raut muka Bima berusaha menenangkan meskipun matanya sudah memerah, Sadewa merasakan kesedihan yang mendalam.
"Don't die, Bima." "Takdir lah, Mas."
Bima terbangun oleh belaian hangat yang ia rindukan bertahun-tahun tapi matanya enggan membuka, takut ia hanya bermimpi. Jari-jari kurus yang biasa membelainya saat pulang malam dan kelelahan masih mengusap wajahnya dengan pelan. Bima bisa rasakan ada deru napas di dekat keningnya, ah... gue pasti kangen Yudis.
"Bim... Bima..." Suara pelan itu memaksanya membuka mata. Sumpah demi Tuhan, Bima mau liat sumber suara ini. Bima membuka matanya dengan pelan-pelan, takut kalau hanya kekosongan yang ia lihat. Atau bahkan memori pesan terakhir Yudistira yang terputar di televisi.
Sedikit demi sedikit, cahaya menunjukkan juntaian rambut hitam dengan aksen hijau yang menutupi pandangan yang Bima sangat kenal. Mata kehijauannya tetap sama seperti bagaimana hangatnya mata itu saat melihat Bima pulang larut malam dalam kondisi baju sobek sana sini. Rona di wajahnya juga tetap menarik untuk dilewatkan seperti Yudistira yang habis mandi di pagi hari sambil menepuk-nepuk Bima yang pura-pura tidur.
"Bangun, Bima. Sudah pagi, sayang."
Demi Tuhan, gue harap gue gak akan pernah bangun dari mimpi ini.
Mata Bima tidak mau berkedip, ia takut kalau setelah itu si cantik di hadapannya langsung hilang.
"Kenapa bengong?"
Sosok indah itu melihatnya dengan alis yang menyatu ketika melihat Bima bergumam seperti merapalkan doa-doa di waktu malam. Ia menyentuh pipi Bima dengan ibu jarinya.
"Cantik."
"Apa, Bimaku?"
Saat itu Bima tahu kalau memang ini Yudistira, bukan buaian mimpi yang menyenangkan hatinya. Bima sangat hapal Yudistira yang sering mengelus pipinya di pagi hari yang biasanya Bima biarkan karena ia lebih suka bermanja di ranjang hangat mereka dibanding bangun pagi untuk apel di lapangan panas.
Tidak terasa aliran hangat turun dari sudut matanya, jatuh ke jari Yudistira yang asyik membelai. Berawal dari keheningan Bima dan menjadi pecah suara tangisan, tanda kerinduan yang teramat dalam. Bima segera bangun dan menarik Yudistira ke dalam dekapannya yang erat. Bertahun-tahun ia menantikan cintanya kembali ke pelukannya.
Semoga pengadu nasib tidak memisahkan mereka lagi.
Semoga pemilik takdir tidak kembali memberikan izin keapda siapapun yang ingin merenggut satu dari yang lain.
"Padahal aku gapapa loh nunggu lebih lama, Bim."
Yudistira berusaha menenangkan Bima yang tampaknya masih ketakutan atas kejadian di masa lampau. Bahunya bergetar dan tangisannya masih berlanjut. Tapi, dekapannya melonggar berubah menjadi elusan yang juga Yudistira rindukan. Seakan menyempatkan dirinya menjadi sandaran yang Yudistira nantikan bertahun-tahun, padahal lelaki besar ini juga sudah terlanjur rapuh.
"Gak, Yud. Aku bukan orang yang bisa sabar kalau harus nunggu lagi."
Bima akhirnya melepaskan pelukannya. Ia melihat Yudistira yang tersenyum dengan sedikit genangan air di pelupuk matanya. Perlahan ia usap ujung mata Yudistira agar tidak menjadi dosa bagi dirinya yang tidak sempat mengusap air mata itu di akhir hidup Yudistira. Ia tambahkan kecupan kecil di kelopak mata Yudistira supaya ia tidak kehilangan kesempatan memberikan rutinitas paginya.
"Maaf, cantik."
"Bima, perhaps the death of mine was always inevitable." Dengan tenang Yudistira menggenggam dan mengelus punggung tangan Bima. Ia berusaha memberikan kelembutannya kepada Bima yang sudah berkali-kali tergores realita di Jagat Maya.
"But, I am okay. I got the chance to wait for you in a safer world."
"This isn't heaven I promised, Yudis."
Mata Bima mencari letak keamanan yang Yudistira sampaikan. Tempat yang ia tidak mengerti konsepnya ini bisa saja sebuah jebakan atau perbuatan dari hal lain yang juga tidak ia ketahui.
"I know. 'Cause it's not heaven till I'm with you."
