Chapter Text
Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah selalu terdengar seperti sesuatu yang besar saat masih dibayangkan dari rumah.
Louis sudah memikirkan hari itu sejak beberapa malam sebelumnya. Membayangkan gerbang sekolah yang lebih besar dari sekolah lamanya, lorong-lorong yang dipenuhi siswa berseragam putih abu-abu, dan rasa canggung karena harus memulai semuanya dari awal.
Namun, ketika pagi itu ia benar-benar berdiri di lapangan sekolah dengan name tag yang tergantung di leher, topi yang terasa sedikit kebesaran, dan sinar matahari yang pelan-pelan mulai menghangatkan pundaknya, yang ia rasakan justru campuran antara kantuk, gugup, dan rasa penasaran.
Udara pagi masih cukup sejuk, rumput di pinggir lapangan tampak sedikit basah. Di sekelilingnya, ratusan siswa baru berdiri dalam barisan yang belum sepenuhnya rapi. Ada yang masih sibuk membetulkan topi, ada yang berbisik dengan teman satu gugus, ada juga yang terus-menerus mengipasi wajah dengan buku panduan.
Dari pengeras suara terdengar suara senior yang sesekali terputus oleh bunyi dengung mikrofon. Louis menarik napas perlahan melalui hidung, lalu mengembuskannya lewat mulut. Dadanya naik turun dengan tenang, meski telapak tangannya terasa sedikit berkeringat.
Ia menoleh ke kanan saat Kya, teman satu gugusnya, mengeluh pelan tentang panas dan lamanya mereka harus berdiri. Louis menanggapi dengan gumaman pendek, matanya masih memandangi deretan anggota OSIS yang berdiri di depan lapangan dengan blazer rapi dan ekspresi serius.
Di antara semua wajah yang berdiri di sana, sebenarnya tidak ada alasan khusus bagi Louis untuk memperhatikan satu orang lebih lama daripada yang lain.
Pada awalnya, ia hanya menatap sekilas seperti siswa baru lainnya yang penasaran pada senior-senior mereka. Namun, pandangannya berhenti begitu saja ketika salah satu anggota OSIS melangkah sedikit ke depan untuk menerima map dari temannya.
Gerakannya sederhana—hanya mengulurkan tangan, mengucapkan terima kasih singkat, lalu menyelipkan beberapa helai rambut yang tertiup angin ke belakang telinga.
Tetapi entah kenapa, gerakan sekecil itu terasa begitu jelas di mata Louis. Seolah semua hal di sekitarnya mendadak melambat. Suara dari pengeras suara berubah samar, seperti tenggelam jauh di belakang kepalanya. Yang tersisa hanya sosok senior dengan wajah lembut, kulit cerah yang memantulkan cahaya matahari pagi, dan tatapan tenang yang membuat Louis lupa bahwa ia sedang berdiri di tengah lapangan bersama ratusan orang.
Name tag di dada senior itu terbaca jelas bahkan dari kejauhan. Keonho. Ahn Keonho.
Louis berkedip sekali, lalu sekali lagi, seakan ingin memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi karena kurang tidur. Dadanya yang tadinya tenang mendadak berdebar lebih cepat. Ia bisa merasakan detak jantungnya memukul tulang rusuk dengan ritme yang tidak biasa. Ujung jarinya menegang, napasnya yang semula teratur menjadi sedikit lebih pendek. Ia bahkan secara refleks membasahi bibir bawahnya yang mendadak terasa kering.
“Buset...” gumamnya pelan, hampir tanpa suara.
Kata itu keluar begitu saja, seperti respons paling jujur yang mampu diberikan otaknya. Bukan karena ia belum pernah melihat orang tampan, tetapi karena Keonho bukan sekadar tampan. Ada sesuatu yang lembut dan nyaris tidak nyata pada wajahnya. Matanya terlihat teduh, ekspresinya tenang, dan caranya berdiri memberi kesan anggun tanpa dibuat-buat.
Louis tidak tahu bagaimana menjelaskannya selain dengan satu kata yang terus terulang di kepalanya: cantik.
“Lu ngeliatin siapa, sih?” suara Kya terdengar di sampingnya, memotong lamunan yang baru berlangsung beberapa detik itu.
Louis tidak langsung menjawab. Ia masih menatap ke arah yang sama, seolah jika ia berpaling satu detik saja, sosok itu akan menghilang.
Kya mengikuti arah pandangnya, lalu mengangkat alis. “Oh,” katanya singkat, nada suaranya berubah menjadi paham. “Yang itu.”
Louis menelan ludah sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah, “Cantik banget.” Kya tertawa kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Iya, sih. Dari tadi juga banyak yang curi-curi liat.”
Louis mengembuskan napas pelan, matanya belum juga lepas dari Keonho yang kini menerima mikrofon dan mulai berbicara di depan. Suaranya terdengar lembut, jernih, dan stabil.
Louis sebenarnya tahu bahwa senior itu sedang menjelaskan sesuatu yang penting tentang aturan sekolah, tetapi ia tidak benar-benar menangkap satu kalimat pun.
Perhatiannya tersita oleh detail-detail yang terasa absurd. Cara bibir Keonho bergerak saat berbicara, lengkungan kecil di sudut matanya ketika ia tersenyum tipis, dan bagaimana rambutnya bergerak setiap kali angin pagi berhembus pelan.
“Jangan bilang lu langsung naksir.” bisik Kya, kali ini dengan nada yang setengah mengejek.
Louis menghela napas pendek, masih menatap lurus ke depan. “Kayaknya iya.” Kya menoleh cepat. “Serius? Kita baru masuk sekolah.”
Louis akhirnya tersenyum, kali ini tanpa berusaha menyembunyikannya. “Ya terus kenapa?” jawabnya santai. “Kalau suka ya suka aja.” Ia mengatakan itu seolah hal tersebut adalah sesuatu yang paling masuk akal di dunia.
Dan memang, bagi Louis, perasaan yang muncul di dadanya terasa begitu sederhana sekaligus begitu kuat. Ia tertarik. Sangat tertarik. Bukan jenis ketertarikan yang datang karena iseng, melainkan dorongan yang membuatnya ingin tahu segalanya tentang orang itu—namanya, kelasnya, kebiasaannya, makanan favoritnya, siapa teman-temannya, dan apakah ada orang lain yang sudah lebih dulu menempati tempat khusus di hatinya.
Sisa kegiatan hari itu berjalan seperti kabut tipis.
Louis tetap mengikuti instruksi, tetap menulis saat diminta mencatat, tetap menjawab ketika panitia mengajukan pertanyaan, tetapi pikirannya terus kembali pada sosok Ahn Keonho.
Setiap kali anggota OSIS itu berjalan melintasi barisan siswa baru, Louis secara refleks mengangkat kepala. Setiap kali Keonho tertawa kecil bersama senior lain, sudut bibir Louis ikut terangkat tanpa sadar. Bahkan ketika angin berembus pelan dan membawa aroma rumput serta debu lapangan, Louis merasa jantungnya tetap berdebar dengan ritme yang sama.
Ia belum pernah berbicara dengan Keonho. Bahkan Keonho mungkin tidak menyadari keberadaannya. Namun perasaan yang tumbuh di dada Louis terasa nyata, hangat, dan sulit diabaikan.
Saat bel istirahat berbunyi dan barisan dibubarkan, Louis hampir langsung menarik lengan Kya sebelum mereka sempat melangkah jauh. “Temenin gue bentar.” Kya mendesah, tetapi tetap mengikuti. “Mau ngapain?”
Louis melirik sekilas ke arah koridor tempat beberapa senior OSIS berkumpul. Di antara mereka, Keonho sedang berdiri sambil memegang botol minum, mendengarkan sesuatu yang dikatakan temannya. Cahaya matahari dari samping membuat garis wajahnya terlihat semakin lembut.
Louis mengembuskan napas pelan, lalu berkata tanpa ragu, “Cari tau tentang dia.”
Kya menatapnya beberapa detik sebelum terkekeh. “Lu beneran, ya.” Louis mengangguk. “Banget.”
Hari itu, di tengah lapangan sekolah yang masih terasa asing, di antara suara pengeras suara, panas matahari, dan keramaian siswa baru, Louis menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Ia menyukai Keonho.
Bukan mungkin, bukan sepertinya. Ia benar-benar menyukainya. Dan meskipun ia belum tahu apa pun tentang senior itu selain namanya, satu pikiran sederhana sudah tertanam kuat di kepalanya.
Cepat atau lambat, Keonho akan mengenalnya. Bukan sebagai salah satu dari ratusan siswa baru yang berdiri di lapangan pagi ini, melainkan sebagai seseorang yang tidak akan mudah dilupakan.
