Work Text:
Keito tidak pernah terlalu peduli dengan bagaimana dia menata rambutnya. Biasanya dia hanya menguncir rambut panjangnya kebawah. Memberikan kesan sederhana dan polos meskipun ia adalah seorang idol (meski belum debut).
Setidaknya mantan pacar sahabat masa kecilnya, Tenshouin Eichi beberapa kali menyarankan untuk menata rambutnya. Bahkan saat Keito lengah, pria penyakitan itu akan menarik karet rambut Keito hingga terlepas lalu menata rambutnya dengan berbagai model yang manis dan cantik seakan-akan ia adalah hair stylish profesional (mengesampingkan fakta dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit)
"Rambut Keito itu halus dan terawat coba sesekali kau menatanya. Lihat! Kamu dikucir dua jadi terlihat menggemaskan"
"Hei jangan sembarangan mengucir rambutku yang aneh-aneh!"
Itu adalah potongan cerita di masa lalu, masa dimana hidup adalah hal yang sederhana seperti belajar dan bermain. Sebelum tangan seorang Hasumi Keito berlumuran darah demi revolusi Yumenosaki.
"Oiii kacamata sialan, masa kau mau naik ke panggung dengan dandanan secupu itu?" Oogami Koga, anak kelas 1 yang tidak ada sopan-sopannya karena nyelonong masuk ke ruang ganti perempuan menunjuk kearah rambut Keito yang dikucir kebawah seperti biasa. Model rambutnya jadi terlihat mencolok karena saat ini ia sedang memakai baju bernuansa rock alias baju DEADMANZ untuk memenuhi tantangan Sakuma Rei seminggu yang lalu.
"Ahh... Hasumi-chan, kau harusnya sedikit memperdulikan penampilanmu— yah... Secara umum kamu sudah manis sih. Sini, biar aku tata rambutmu. Kita masih ada sedikit waktu sebelum tampil" kali ini Rei yang bersuara sembari menarik tangan Keito dan menyuruhnya untuk kembali duduk ke kursi rias. "Serahkan saja pada yang mulia Rei yang serba bisa ini~"
Menit demi menit berselang saat tangan Rei bergerak lincah menyisir dan mengucir surai hijau milik Keito, hingga akhirnya membentuk high ponytail
"Hmm... Sebenarnya pakai pita bakal lebih bagus lagi sih... Tapi krn udah pakai topi ngga usah aja deh. Begini sudah bagus" Rei menepuk kedua bahu Keito pelan menandakan dia sudah selesai menata rambutnya. Keito memandang pantulan bayangannya di cermin dan memperhatikan tatanan rambut barunya.
"Kurasa tidak buruk juga"
"Kalian sudah selesai belu— whoaa.... Danna kamu cocok juga dengan rambut seperti itu" Kuro yang baru saja masuk ke ruang ganti bersama Morisawa Chiaki yang mengikuti dibelakangnya sedikit tercengang melihat penampilan baru Keito. Keito yang mendengar pujian itu hanya tersipu lalu mengalihkan pembicaraan untuk segera menuju panggung.
Tidak perlu diceritakan bagaimana selanjutnya. Kita semua juga tau live itu berakhir dengan pengkhianatan Rei dan kesalahan perhitungan Keito yang memalukan. Hal yang membuat Keito merubah rencananya menjadi menempatkan lima orang jenius untuk menjadi kambing hitam masalah yang ada di Yumenosaki.
Untuk menunjukkan tekadnya semenjak live DEADMANZ Keito berhenti mengucir rambutnya dengan kucir bawah dan merubahnya menjadi kepang sanggul. Alasan lainnya karena ia membangun unit dengan tema tradisional Jepang yang membuatnya berpikir dia membutuhkan model rambut yang memberikan kesan elegan.
"Yahh... Memang aku yang membuat baju panggung kita, tapi entah kenapa aku selalu merasa ada yang kurang dari penampilanmu, Danna" Kuro pada suatu hari di musim gugur memilih untuk merecoki Keito yang sedang mengurus berkas OSIS dengan dalih ingin membicarakan soal kostum Akatsuki. Keito hanya menaikkan kacamatanya yang turun lalu menghela nafas. "Memangnya menurutmu apa yang kurang?"
Hubungan mereka sedikit aneh. Mereka terlalu dekat untuk ukuran teman, tapi tidak terlalu intim untuk disebut berkencan. Kuro yang duduk di meja kerja Keito memainkan rambut panjang Keito yang ia biarkan lolos dari sanggulannya, berpikir.
"Awalnya aku juga tidak tahu. Tapi kemarin waktu aku menemani adikku berbelanja aku menemukan sesuatu yang sepertinya cocok untukmu" dengan semangat, Kuro mengeluarkan sebuah kotak panjang dari sakunya lalu memberikannya ke Keito. Dengan penasaran, Keito membuka kotak tersebut dan mempertunjukkan sebuah kanzashi berwarna merah gelap. Bunga teratai berukuran kecil terlihat menggantung diujung kanzashi sehingga memberikan kesan simple namun tetap elegan. Keito mengambil kanzashi tersebut lalu memperhatikannya.
"Yahh... Ngga seberapa sih... Tapi kurasa cocok untukmu. Sebentar lagi kau ulang tahun juga kan? Anggap saja hadiah yang keduluan"
Keito yang mendengar penjelasan Kuro hanya terkekeh pelan lalu memasangkan kanzashi tersebut kedalam rambutnya. Warna merah dari kanzashi itu terlihat mencolok diatara helaian hijau milik Keito
"Makasih, Kiryuu"
Bulan demi bulan berlalu, bermacam-macam kejadian telah terjadi. Kini Keito sudah kelas tiga dan kelulusan tinggal menghitung bulan saja. Dia masih setia dengan rambut sanggul dan kanzashi merah pemberian Kuro, dan hubungan mereka menjadi lebih serius yang membuat Souma, junior satu-satunya mereka terkadang kelabakan karena tidak sengaja memergoki kedua sejoli itu sedang bercumbu di ruang latihan (dan membuat mereka jadi lebih berhati-hati saat bermesraan di lingkungan sekolah).
Intinya bukan soal bercumbu, tapi keadaan sekolah sudah menjadi lebih baik setelah Trickstar menyatakan revolusi untuk menghentikan sang kaisar Tenshouin Eichi. Jadi kehidupan sekolah mereka bisa menjadi sedikit lebih santai... Tidak juga sih, jurusan idol Yumenosaki penuh dengan murid-murid aneh jadi tidak ada yang santai dari mengurusi tingkah aneh dan ajaib mereka seperti seorang siswi yang senang sekali berendam di air mancur sekolah.
Setidaknya dengan adanya produser, beban Keito jadi sedikit berkurang.
Dan beban itu semakin berkurang pada hari ini, tepatnya pada 6 September. Karena ini hari ulang tahunnya Keito. Bagaikan ratu sehari, semua murid yang mengenal sang wakil ketua OSIS tak berhenti-hentinya mengucapkan selamat dan memberikan hadiah kepada Keito. Dan yah ada juga yang menjahilinya seperti menyemprotkan whip cream ke wajah Keito (Tsukinaga Leo) atau mencuri kacamatanya (Hibiki Wataru) yang sukses membuat Keito mengamuk dan dengan sedikit bercanda (dan sepenuh amarah) memburu kedua pelaku iseng itu.
Setidaknya suasana menjadi lebih kondusif pada sore hari, ketika Akatsuki berkumpul di ruang latihan untuk persiapan DreFes yang akan datang. "Meskipun hari ini aku ulang tahun bukan berarti kita libur latihan" tukas Keito yang wajahnya masih menyisakan aroma manis whip cream.
"Tapi sebelum itu, Hasumi-dono. Saya belum memberikan hadiah ulang tahun untukmu" ujar Souma sembari mengeluarkan kotak kado berwarna hijau tua.
"Padahal tidak perlu repot-repot. Terima kasih, Kanzaki. Apa boleh kubuka?" tanya Keito yang dibalas dengan anggukan penuh antusias dari Souma. Ketika Keito membuka kotak kado tersebut, sebuah kanzashi berwarna ungu bening terlihat dari balik tutup kado. Kali ini bunga yang menghias adalah bunga wisteria. Keito memandangi kanzashi tersebut lalu menatap Kuro yang sedari tadi hanya menyimak.
"Kau tidak cemburu kan kalau aku punya kanzashi lain, Kiryuu?" setengah bercanda, Keito menggoda Kuro yang hanya dibalas dengan dengusan geli.
"Kan dari Kanzaki. Anggap saja dua kanzashi ini adalah bentuk kesetiaan kita kepadamu. Kepada Akatsuki"
"Eh? Kanzashi yang merah ini dari Kiryuu-dono?"
"Yah... Aku tidak cerita sih... Tapi terima kasih, Kanzaki"
"Ne... Souma-san... Masa gamau bantuin aku nyariin kado ulang tahun buat Hasumi-san sih..."
Kali ini Souma memijit pelipisnya karena sejak 20 menit yang lalu, anak laki-laki yang bernama Taki Ibuki ini tidak berhenti mengganggunya yang sedang istirahat di Shared Space Megasphere. "Kalau aku memberitahu kau harus memberikan apa bukannya itu jadi bukan idemu sendiri?" gumam Souma.
"Setidaknya beri aku ide dong... Terlalu banyak pilihan untuk hadiah Hasumi-san, aku bingung" sedikit memanyunkan bibirnya, Ibuki memasang wajah ngambek yang terlihat kekanak-kanakan.
"Haaahhh....." menghela nafas panjang, Souma berdiri dari sofa lalu menatap Ibuki "Aku cuma akan menunjuk tokonya. Apa yang kamu beli, itu yang harus kamu pikirkan sendiri. Ikut aku" lalu Souma berjalan pergi dari sana.
"Jaa, kalau begitu ini kencan? Okesip!"
"HAH?! APANYA YANG KENCAN DASAR BOCAH!!!!"
Nahas sebelum amarah Souma meledak karena digodain bocah ingusan yang bahkan legal saja masih lama, tangannya keburu ditarik sang bocah dan mereka berlari meninggalkan Shared Space.
"Ha-Su-Mi-San! Selamat pagi! Selamat ulang tahun!!!" kali ini Ibuki menyelonong masuk ke area wanita dari kamar Akatsuki. Keito yang sudah bangun dari tadi sedang merapikan sanggulnya sedangkan Souma yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk refleks melempar handuk tersebut kearah Ibuki.
"Bisa ngga sih jangan sembarangan masuk ke kamar perempuan!"
"Sori, Kanzaki... Ada aku juga sih ngikut..." kali ini Kuro ikut memunculkan diri dari balik pintu.
"Terlalu semangat itu bukan masalah tapi seperti kata Kanzaki. Kalau kami sedang ganti baju bagaimana?" keluh Keito yang dibalas dengan siulan dari Kuro. "Aku beruntung dong?" goda Kuro dengan wajah tanpa dosa.
Kali ini sebuah sisir yang melayang kearah kepala Kuro (dan ditangkap dengan sempurna).
"Aku bercanda. Tapi Taki terlalu bersemangat mau memberimu kado, jadi ya dia begitu bangun langsung menghampiri kamar kalian. Aku juga sih" ujar Kuro sembari mengembalikan sisir tersebut ke meja rias Keito.
"Lihatlah dan saksikan! Kado yang sudah aku persiapkan dengan sepenuh hati untuk Hasumi-san!!! Souma-san membantuku memilihkan kadonya sih" menjunjung tinggi kotak kado berwarna biru muda, Ibuki menyerahkan benda tersebut kepada Keito.
"Aku cuma memberikan rekomendasi toko, aku bahkan gatau kamu milih apa?"
Keito membuka perlahan kado tersebut dan terdapat sebuah kanzashi biru muda berhiaskan bunga morning glory didalamnya. Dengan perlahan Keito mengeluarkan kanzashi tersebut lalu memperhatikannya. Ibuki hanya menatap Keito dengan antusias menunggu reaksi dari Keito.
"Oi Taki, kamu ngerti ga makna ngasih kanzashi ke Hasumi danna?" kali ini Kuro yang bersuara menarik perhatian Ibuki dari Keito. Souma yang berada disisi lain Ibuki memberikan gestur isyarat kepada Kuro untuk tidak memberitahukannya ke Ibuki.
"Eh? Memang ada maknanya?"
"Ini maknanya kamu adalah anggota Akatsuki yang penting untukku. Makasih ya, Taki" mengabaikan isyarat dari Souma, Keito memberitahukan rahasia kecil mereka kepada Ibuki sembari memasang kanzashi barunya lalu menunjukkan dua kanzashi lainnya yang sudah menjadi milik Keito hampir tiga tahun.
Mencerna perkataan Keito, Ibuki hanya melongo, lalu menatap Souma dengan sejuta ekspresi sebelum menghambur memeluk gadis berambut ungu tersebut.
