Chapter Text
Udara musim gugur di Berlin mulai menusuk tulang, tapi bagi Wonwoo, ini adalah aroma kebebasan. Tidak ada abdi dalem yang membungkuk saat ia lewat, tidak ada batik motif khusus yang harus ia kenakan, dan yang paling penting: tidak ada yang memanggilnya dengan gelar Raden Mas. Ia baru saja selesai menata koper di kamar asrama yang tergolong sempit untuk ukuran seseorang yang tumbuh di dalam bangunan utama keraton.
Saat itulah, pintu terbuka dan kemudian seorang pemuda jangkung dengan jaket bomber hijau gelap serta tas ransel yang tampak berat masuk dengan napas terengah. Ia melempar kunci ke atas meja, lalu matanya membulat saat melihat Wonwoo. Sekali lihat tahu bahwa ‘teman barunya’ ini sama-sama dari tanah air karena Mingyu melirik sekilas barang-barang yg berserakan di lantai. "Eh, baru sampai, Mas?" sapa pemuda itu. Suaranya berat, tapi ramah.
Wonwoo mengangguk pelan, sedikit canggung. "Iya, baru sejam yang lalu."
Pemuda itu mengulurkan tangan, senyumnya lebar sampai deretan giginya terlihat. "Wah, akhirnya ada temen ngomong Indo! Kenalin, saya Mingyu. Arsitektur, tahun pertama." Wonwoo menyambut jabatan tangan itu. Genggaman Mingyu hangat dan kuat. "Wonwoo. Dari Jogja. Saya ambil Bisnis."
Mingyu melepaskan tasnya, lalu menatap Wonwoo dari atas ke bawah dengan wajah heran tapi jenaka. "Oalah, Masnya orang Jawa juga? Sumpah, Mas, tadi saya kira koko-koko Surabaya yang kuliah di sini. Keren banget penampilannya, rapi bener."
Wonwoo tersenyum tipis, hampir saja ia keceplosan menyebutkan nama lengkap yang mengandung silsilah keluarga besarnya. "Engga, saya cuma... ya, cuma dari Jogja saja."
Mingyu tertawa sambil menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. "Saya Mingyu, Mas. Saya mah cuma orang yang kebetulan beruntung bisa dapet beasiswa kuliah di Jerman. Modal nekat sama belajar mati-matian biar gak ngerepotin orang tua di kampung. Salam kenal ya, Mas Wonwoo. Semoga betah jadi roommate saya yang agak berantakan ini."
"Kenapa kok langsung manggil saya ‘Mas’?" tanya Wonwoo penasaran.
"Ya iyalah, Mas kan lebih tua dua tahun dari saya, saya udah liat daftar nama di pintu tadi," jawab Mingyu santai sembari mulai membongkar tasnya yang berisi penggaris siku dan gulungan kertas maket.
"Mas tenang aja, kalau butuh info tempat makan murah atau toko barang bekas di Berlin, tanya saya. Kita kaum pejuang harus saling jaga, kan?"
Wonwoo tertegun sejenak. Kaum pejuang.
Ia melihat Mingyu yang sibuk memindahkan buku-buku tebal arsitekturnya. Pemuda ini menganggapnya setara. Seorang kawan seperjuangan di tanah rantau. Tidak ada sekat kasta, tidak ada rasa sungkan karena darah biru.
"Iya," jawab Wonwoo akhirnya, kali ini dengan senyum yang lebih tulus. "Mohon bantuannya ya, Mingyu."
"Siap, Mas Wonwoo! Nanti malam saya masakin mi instan bawaan dari Indo ya, buat perayaan roommate baru!"
Wonwoo duduk di pinggir kasurnya yang keras, memperhatikan Mingyu yang asyik bercerita tentang betapa sulitnya menggambar struktur bangunan sambil sesekali mengeluh soal harga kopi. Di kamar kecil ini, Wonwoo merasa lebih 'hidup' daripada saat ia berada di bangsal keraton yang luasnya berhektar-hektar.
Dia benar-benar hanya 'Wonwoo dari Jogja' sekarang, dan itu jauh lebih dari cukup.
