Work Text:
Angin sore berhembus pelan, menyapu hamparan rumput hijau di luar dojo Kazemai yang sepi. Aroma tanah basah dan kayu pelitur menguar di udara. Di atas lantai kayu yang dingin, Minato duduk bersila. Pandangannya menerawang jauh menembus pintu geser yang terbuka lebar.
"Kalau aku sungguhan menghilang secara mendadak dari dunia ini," suara Minato memecah keheningan, mengudara begitu saja tanpa peringatan. "Apa kamu akan menangisiku, Seiya?"
Keheningan yang tadinya menenangkan seketika berubah pekat.
"Apa kamu akan benar-benar merasa kehilanganku? Apa kamu... akan mengunjungi makamku di setiap waktu luang yang kamu punya?"
Kalimat itu menggantung berat. Gema suaranya seolah menabrak dinding-dinding dojo yang hanya diisi oleh mereka berdua. Dari ujung matanya, Minato menangkap pergerakan kecil. Bahu di sebelahnya menegang. Ia tak perlu menoleh sepenuhnya untuk menyadari bagaimana rahang Seiya kini mengeras, atau bagaimana kilau di balik kacamata pemuda itu perlahan meredup, tergantikan oleh sesuatu yang gelap.
Sebuah lengkungan tipis dan melankolis terbit di bibir Minato. Insting yang terjalin dari persahabatan belasan tahun membuat Minato bisa merasakan udara di sekitar mereka mendadak mencekik. Seiya tak langsung menjawab. Hening panjang yang disuguhkan pemuda itu adalah bahasa yang sangat Minato pahami. Sebuah pertanda bahwa Seiya membenci ke mana arah pikiran Minato berlabuh.
Merasakan ketegangan yang kian menekan dada, Minato akhirnya memutar kepalanya. Ia menatap lurus pada sosok yang duduk mematung di sampingnya.
"Seiya?" panggil Minato pelan. "Kenapa kamu diam?"
Seiya membalas tatapan itu. "Kamu memintaku untuk menjawab pertanyaan yang sudah pasti kamu tahu jawabannya?"
Minato menajamkan pendengarannya. Nada suara Seiya merendah, terdengar tertahan di pangkal tenggorokan. Di balik artikulasinya yang selalu tertata, Minato bisa menangkap getaran tipis yang dipaksakan—sebuah kerapuhan yang mati-matian Seiya sembunyikan.
Senyum di bibir Minato tak pudar, justru mengembang semakin lembut. "Aku ingin kamu mengatakannya dengan jelas."
Dada Seiya naik dan turun perlahan. Sebuah helaan napas panjang nan berat lolos dari bibirnya, seolah ia baru saja meruntuhkan satu-satunya pertahanan yang tersisa.
"Aku lebih memilih... pergi bersamamu," ucap Seiya, sorot matanya mengunci pandangan Minato lekat-lekat, "daripada harus melanjutkan hidup tanpamu."
Minato merasakan detak jantungnya sendiri melambat. "Kenapa? Seiya, hidupmu itu sangat berharga."
"Aku tahu," balas Seiya tanpa jeda keraguan sedikit pun. "Sayangnya, apa gunanya hidup berharga itu kalau tak ada kamu di sana?"
