Actions

Work Header

Bound by Fate

Summary:

part of forelsket chapter 3 - beautiful arrangement.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Langit di pagi hari ini cerah. Tiada awan yang halangi biru muda indah nan membentang tanpa batas. Setelan putih gading yang melekat peluk figur rupawan sang omega memantulkan sinar matahari nan terik hingga ia tampak seperti pemeran utama dalam dunia untuk saat ini.

 

Jantung Arkayesa masih berdegup begitu cepat. Telapak tangannya basah dan dingin oleh keringat yang berlomba-lomba untuk melembabkan kulit. Netra cokelat gelap nan tampak terang akibat kilatan cahaya menatap setiap sisi ruangan terbuka yang sudah dihias sedemikian rupa.

 

Cantik. Area permberkatan pernikahannya tampak begitu indah dengan ratusan kelopak putih nan tersebar dan tersemat apik di setiap sudutnya. Untaian karpet putih nan membentang berlabuhkan pada sebuah altar, seolah menunggu agar ia segera melangkahkan kaki menghampiri sosok tinggi bertubuh tegap nan tampak begitu memukau dalam busana yang senada dengan miliknya.

 

Sang omega Arundati meremat tangannya pelan. Kehadiran sosok ayahanda di sebelahnya tak mampu luruhkan gelisahnya. Kehadiran Bian di belakang yang sibuk membenahi setiap sudut pakaiannya pun turut tak mampu menghilangkan resah di dada Arkayesa. Pandangannya yang menelusuri setiap sudut serta setiap insan yang pusatkan perhatian pada dirinya bermuara pada sang ibunda yang berdiri dengan raut wajah memelas, seolah tak rela melepaskan sang buah hati nan tercinta.

 

Arkayesa linglung. Dunia di sekitarnya seolah berjalan begitu cepat tanpa berikan ia waktu untuk beradaptasi dan memahami setiap sudutnya. Sang omega merasakan risau semakin berisik kala kedua matanya menangkap crew-crew wedding organizernya berlalu lalang dengan kening yang mengkerut sembari ranum sibuk membisikkan sesuatu yang sang omega tak tahu apa isinya.

 

Angin berhembus kencang. Daun-daun hijau serta pepohonan dan juga helai untaian kelopak putih yang menggantung berayun lembut dibuatnya. Sejuk menyiram kepala sang omega saat senyuman di wajah sosok yang akan menjadi kepala rumah tangganya menyapa kedua netra cokelat yang disinari oleh mentari terik.

 

Suasana kemudian seketika hening dan hanya kicauan burung nan berlalu lalang melintasi cakrawala yang beberapa saat kemudian diiringi oleh alunan lembut nyanyian yang mengudara menjadi pelipur atas segala kecemasannya. Alpha Arundati yang berdiri tegak di sebelah menyenggol lengan sang buah hati agar Arkayesa dapat dengan segera menggamit lengannya sehingga mereka bisa mulai meniti langkah demi langkah melewati untaian putih nan setia menunggu— sama seperti sang alphanya yang siap menunggu dengan hati nan tenang.

 

“Pi…” lirih sang omega pelan. Takutnya masih riuh, ia ingin ada sedikit ketenangan dari ranum sang ayah agar ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja sebab sejuk dari senyuman Nawasena hanya dapat tenangkan hatinya sejenak.

 

Hanif menajamkan pandangannya. Wajahnya yang sudah tegas malah semakin menegas tanpa ada lembut yang tersirat. “Arka… we should not waste our time, nak.”

 

Maka tak ada lagi yang Arkayesa bisa lakukan selain segera mengalungkan tangan di lengan sang ayah. Ia seharusnya tak mengharapkan kalimat afirmasi apapun sebab Hanif bukanlah tipikal yang pandai bersilat lidah dan lontarkan kalimat-kalimat manis. Kasih dan sayang dari ayahandanya selalu berbentuk aksi, bukan kalimat seperti yang kini ia harapkan.

 

Tanoa menunggu apapun lagi, kedua pasang tungkai mulai meniti setiap langkah dengan jejak yang sama. Pergerakan yang dituntun oleh sosok yang akan alihkan tanggung jawab menjaga sang omega kepada alpha lain itu pelan, seirama dengan suara yang mendayu lembut mengikuti lantunan piano yang membuat suasana semakin sakral.

 

Arkayesa menahan napas. Keringat semakin basahi telapak tangan dan membuat dingin menjalar hingga ke ujung-ujung kukunya. Wajahnya yang sudah dirias hingga rupanya semakin mempesona tampak datar, tak ada kurva manis yang terukir sebab gugup lebih menguasai.

 

Di setiap langkah yang ia ambil ditemani oleh kelopak-kelopak putih yang berjatuhan mengairi dirinya. Setiap insan yang berdiri rapi di tepi untaian putih yang sedang dilangkahi oleh sepasang ayah dan anak mengulas senyuman indah, senyuman haru; senyuman yang hanya terpasang saat prosesi sakral ini tengah terlaksana.

 

Dari sudut matanya, Arkayesa dapat melihat sang ibunda terisak dan ditemani oleh omega yang melahirkan alphanya ke dunia ini. Tunggal Arundati rasakan lehernya tercekik, seolah ada tangan yang melingkari saat tiap tetes air mata jatuh dari kelopak ibundanya. Napas omega itu semakin memberat, pening semakin menusuk-nusuk setiap sudut kepala seiring langkahnya yang terus dituntun untuk maju.

 

Jarak demi jarak terkikis. Nawasena di depan sana menunggu dengan sabar— lengkap dengan senyuman tipis saat melihat omega yang akan menjadi pasangan seumur hidup hingga maut menjemput perlahan semakin mendekati altar tempat dirinya sudah berdiri sejak beberapa saat yang lalu. Kicauan burung semakin nyaring, seolah makhluk hidup yang terbang bebas melintasi angkasa itu turut memeriahkan prosesi sakral yang tengah terjadi di kehidupan dua insan ciptaan Sang Maha Kuasa.

 

Langkah alpha yang surainya sudah terdapat beberapa helaian putih terhenti saat altar yang menjadi tujuan dari perjalanan keduanya telah tercapai setelah meniti beberapa anak tangga kecil. Tangan yang tidak diamit apik oleh sang buah hati bergerak untuk genggam telapak tangan yang dingin, hasilkan reaksi netra bulat Arkayesa yang menatap tepat pada obsidian sang ayahanda.

 

“Papi antar sampai sini ya, Arka. You know I’m not good with words, but Papi hopes Arka knows that I’ll always thank the Moon Goddess for giving me you as my son in this life. Papi dan Mimi banyak salahnya, terima kasih sudah memaklumi dan menjadi anak terbaik yang kami punya, our little omega.”

 

Tak ada yang memberitahu Arkayesa bahwa ucapan singkat dari Hanif itu mampu menyembuhkan sedikit dari sekian retak yang bersemayam di hatinya. Pandangannya perlahan kabur bersamaan dengan bibirnya yang bergetar pelan. Sang kepala keluarga Arundati yang melihat perubahan raut di wajah sang buah hati ulas senyuman kecil di wajah yang mulai terdapat kerutan-kerutan pertanda waktu mulai memakan usianya.

 

Tangan yang selalu Arkayesa genggam erat saat ia masih kecil sebarkan kehangatan di sela dingin kulitnya. Ada setitik kesedihan di netra gelap Hanif yang membuat omega di depannya hampir saja luruhkan segala kristal yang berkumpul di kelopak matanya.

 

“Papi…” lirih tunggal Arundati itu pelan. Seluruh perasaannya bercampur aduk hingga ia merasa setiap titik tubuhnya kebas. Tanpa sadar ada aliran yang tercipta basahi pipinya ketika ia kembali mendengar sang ayahanda berucap kepada sosok alpha yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya.

 

“Nawasena, saya titip anak saya kepada kamu. Treat him well. Jika kamu tidak bisa memperlakukan dan menyayangi Arka dengan sepenuh hati, rumah saya selalu terbuka untuk menyambut kembali buah hati satu-satunya yang saya miliki,” ucap Hanif tegas sembari mengarahkan tangan sang omega kepada alpha yang memiliki surai legam.

 

Sulung Sadadjiwa mengangguk mantap. Ia ambil alih tangan kecil Arkayesa dari genggaman Hanif lalu berucap, “Jangan khawatir, Pi. Arkayesa akan selalu menjadi prioritas utama di dalam kehidupan saya.”

 

Pria yang sudah berusia setengah abad tersebut tersenyum lega. Genggaman sang buah hati sudah lepas dari tangannya, tergantikan dengan raut wajah sedih yang membuat Hanif mengusap lembut surai yang sudah ditata dengan begitu rapi. Dalam seumur hidup pria paruh baya yang selalu meletakkan Arkayesa tepat di bawah pantauannya, tentu berat bagi Hanif untuk lepaskan sang omega yang selalu akan tampak kecil bagi dirinya.

 

Langkah tungkai yang terbalut bahan kelabu itu perlahan mundur. Hanif tinggalkan altar tempat sang buah hati akan mengikat janji dengan kata-kata yang tak mampu ungkapkan seluruh rasa dibenaknya.

 

“Good luck on your new journey, anak Papi. Ingat selalu Papi akan senantiasa ada untuk kamu meski sekarang kamu sudah tidak dalam pengawasan Papi lagi.”

 

Arkayesa menganggukkan kepala pelan sembari menatap sang ayah yang berlalu untuk bergabung dengan ibundanya yang sudah tenggelam dalam haru kebahagiaan. Air matanya tak berhenti mengalir basahi kedua pipi gembil sang omega. Usapan ibu jari berhasil membuat tunggal Arundati alihkan fokus pada alpha di depannya sembari berusaha hentikan tangis agar riasannya tak kacau berantakan.

 

“Hei,” Nawasena menyapa lembut. Seluruh gelisah dan risau yang menyelimuti tubuhnya perlahan luruh saat suara rendah itu terasa begitu hangat hingga ciptakan degupan aneh yang menggelitik perutnya.

 

“Abang…”

 

“Gugup ya?” tanya sulung Sadadjiwa guna menghapus segala ketegangan nan tampak jelas di tubuh omeganya. Arkayesa menganggukkan kepala pelan dan kemudian rasakan tangan besar Nawasena genggam kedua telapak yang lebih kecil. Jari sang alpha bergerak mengamit setiap lentik yang dimiliki oleh Arkayesa sembari kembali berucap, “Sama, Sa. Aku gugup juga.”

 

Kekehan kecil mengudara dari ranum yang lebih tua hingga mau tak mau sang omega juga turut terkikik lembut. Ketegangan yang tadi meremat seluruh tubuhnya bergantikan dengan hangat yang merambat dengan pelan tapi pasti. Arkayesa pertemukan netranya dengan obsidian gelap yang hari ini menatap dirinya begitu teduh. Aroma kayu cendana beserta patchouli menyapa lembut penciumannya, aroma familiar yang selalu mampu berikan ketenangan itu akhirnya dapat dihirup oleh sang omega dengan puas.

 

Sulung sadadjiwa jadi yang pertama putuskan pertemuan kedua netra indah mereka. Pria yang lebih tinggi itu memilih untuk menatap setiap sudut wajah cantik Arkayesa, mengagumi dalam diam bagaimana pahatan indah yang tampak begitu menawan itu kini berhasil membuat jantungnya yang sedari tadi tenang mulai berdegup dengan cepat.

 

Tak ada yang bersuara. Setelah memposisikan diri di tempat yang seharusnya, hanya genggaman tangan beserta usapan-usapan kecil yang menjadi pelipur atas seluruh gugup yang tengah keduanya rasakan. Lirik lagu yang dilantunkan oleh penyanyi wanita dengan suara merdunya pun telah usai; meninggalkan dentingan piano yang senantiasa membuat suasana tetap khidmat dan intim.

 

Beberapa saat berlalu tanpa disadari ketika kini sosok tetua—kakek dari pihak Nawasena— yang akan memimpin proses pernikahan kedua anak manusia yang tengah mengeratkan genggaman tangan mulai memasuki area altar. Tubuh alpha yang tidak terlalu tinggi itu berdiri di antara jarak yang tercipta antar alpha Sadadjiwa dan omega Arundati, kemudian mundur beberapa langkah ke belakang agar ia tak memancing keprotektifan dari alpha yang lebih muda.

 

Under the blessing of the Moon Goddess, we gather here today to witness the binding of two souls, two pheromones, and two destinies as one. I, Henry Sadadjiwa, the elder alpha of Sadadjiwa, ask everyone gathered here to stand as witness to the vows these two souls are about to exchange.”

 

Kalimat tersebut terdengar tegas dan penuh wibawa. Seluruh tamu undang berdiri tegak dari duduk. Setiap insan yang tadi masih lemparkan kelopak-kelopak bunga mulai menghentikan gerakan dan menggerakkan tubuh untuk menghadap altra yang bersinar dengan begitu terang. 

 

Cumbuan sinar mentari mengecup kedua insan nan indah rupawan yang akan ucapkan janji untuk seumur hidup. Nawasena dan Arkayesa tampak begitu indah, hasilkan kekaguman dari setiap pasang mata yang melihat serta ciptakan aliran air mata yang jatuh dari sudut kelopak mata kedua pasang orang tua yang menyaksikan bagaimana sosok buah hati kini memulai lembaran baru tanpa ada tanggung jawab mereka di dalamnya.

 

Though fate may have brought them together first, may fate guide their steps. May devotion strengthen their bond, and may love bloom softly between them with every passing day. And now, let the vows be spoken.”

 

Arkayesa merasa lemas, tubuhnya menggigil dingin atas adrenalin yang muncul. Usapan ibu jari sang alpha di punggung tangannya tak ada hentinya, Nawasena tersenyum indah sembari menganggukkan kepala untuk menenangkan omeganya meski dirinya tentu juga merasakan kegelisahan yang sama.

 

Tubuh tinggi yang setiap otot besar namun tak berlebihan milik sang alpha yang dibaluti fabric putih bergerak satu langkah ke depan. Feromonnya semakin menguar baluti sekitar agar omeganya mampu memfokuskan diri hanya pada ia saja. Genggaman tangan semakin erat seiring dengan dehaman pelan guna membersihkan tenggorokan sebelum kemudian Nawasena ucapkan untaian kalimat yang menjadi janji sakral untuk kasihnya.

 

“Yesa… from the very first moment we met, you already caught my attention. Your smile, the soft vanilla scent around you, and the way your eyes crinkle whenever you laugh somehow made my alpha feel calmer around you. Maybe we did not meet under ordinary circumstances. Maybe we were brought together by fate long before we were ready for it. And although we still have so many things left to learn about each other, standing here with you today doesn’t feel wrong at all, it feels right, Sa.”

 

Nawasena menjeda kalimatnya saat manis vanilla sang omega menusuk indra penciumannya. Kurva manis membentuk di wajah tegasnya, ia hirup rakus segala aroma memabukkan yang membuat alpha di dalam dirinya menggeram rendah. Netra cokelat gelap Arkayesa ia tatap telak, dicumbu oleh sang mentari membuat lensa indah itu tampak berkilauan seolah langit malah nan penuh bintang pindah ke dalam titik di dalam bola mata cantiknya.

 

Ucapan perkataan sang alpha tak sesuai dengan naskah yang diberikan satu hari yang lalu. Sang omega tentu terkejut, seluruh hafalan yang terngiang di kepalanya lebur menghilang sebab haru nan timbul karena dari setiap bait kata yang terlontar sebelum janji tersuara berhasil mengetuk seluruh hatinya dengan segala ketulusan dari tiap kata nan terucap.

 

Nawasena menghela napas, berusaha menguatkan diri agar tak diambil alih oleh emosi haru yang baru saja ia rasakan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup. Tangan bergetar halus sebelum kemudian alpha muda Sadadjiwa itu makin eratkan genggaman dan lanjutkan kalimat yang belum tuntas.

 

And today, beneath the blessing of the Moon Goddess, I, Nawasena Sadadjiwa, take you, Arkayesa Arundati, as my husband and my omega, as someone I will protect for the rest of my life.”

 

Sulung Sadajiwa kembali jeda kalimatnya. Rasa tanggung jawab kini seolah bertumpu di pundaknya setelah janji terikrar dari lisannya dan Nawasena tentu sudah siap atas segala hal yang akan ia tempuh di perjalanan baru dengan omeganya. Ritme napasnya mulai teratur dan sang alpha kembali rampungkan janjinya dengan kalimat-kalimat yang sekiranya mampu tunjukkan rasa yang Nawasena sesungguhnya miliki.

 

I cannot promise that I already know everything about love, but I can promise that I will try. I will get to know and learn you slowly, cherish you gently, and stand beside you through everything that comes after this. And I promise that no matter how unfamiliar this path may feel now, I’ll always guide you so you will never feel like walking through it alone. I hope that in the future, this unfamiliar feeling between us will become something we can embrace dearly and this wedding which brought us together without either of us expecting it, will become a beautiful memories for us to remember.”

 

Indah. Saking indahnya setiap rangkaian kata yang sang alpha ucapkan, Arkayesa tak mampu menahan agar kristal bening tak luruh berlomba-lomba untuk basahi wajah yang sudah dirias dengan begitu indah. Ada ketulusan nan terpancar begitu nyata. Tak ada satupun kata dari bagian naskah yang sudah dirancang masuk ke dalam ucapan janji sulung Sadadjiwa sehingga sang omega yang sudah hafal setiap kalimat di luar kepala memilih untuk menghapus setiap kata yang bersemayam di kepalanya dan turut ungkapkan rasa yang sesungguhnya membenam di dalam benaknya.

 

Napasnya berat namun tatapan teduh dari Nawasena berhasil kuatkan sang omega. Arkayesa hanya dapat berharap agar tidak ada setitik pun kebohongan yang bersembunyi dibalik kehangatan janji yang tengah mereka ikrar di bawah setiap pasang mata yang menjadi saksi.

 

“Abang Nawa… I never knew what to expect from all of this. Maybe because this marriage was arranged long before our hearts could fully understand each other or maybe because love still feels unfamiliar between us. Abang… honestly, I was terrified. Terrified of becoming someone’s omega. Terrified of sharing my life with someone I barely knew. I was terrified, because in my mind I didn’t know if two people who barely knew each other could truly become husbands and mates for the rest of their lives.”

 

Nawasena rasakan lehernya tercekat saat dengan lantangnya sang omega ungkapkan bahwa ia merasa takut. Arkayesa berhasil ungkapkan seluruh kesahnya selama ini. Gigitan kecil pada bibir sang omega lakukan agar ia tak runtuh dalam isakan. Ia tak mau ada kesedihan mendalam dalam momen yang seharusnya menjadi kenangan yang indah walaupun diawali dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.

 

Sang alpha melepas salah satu genggaman, berusaha meraih pipi nan basah. Namun sebelum Nawasena hapus setiap bulir air yang tak henti jatuh dari kelopak mata, Arkayesa menggelengkan kepala pelan lalu meraih kembali tangan besar nan hangat itu untuk kembali ia genggam dan kemudian merampungkan kalimatnya. Setiap aksi sang alpha beberapa hari ini berlalu lalang diingatan sang omega. Arkayesa dapat mengingat bagaimana dalam setiap resah yang ia sembunyikan dalam-dalam, Nawasena dengan cara alpha itu sendiri mampu mengusir tanpa membuat sang omega merasa kecil.

 

But somehow, whenever you look at me, especially today, your presence feels warm enough to quiet all the fears in my mind. Your presence is comforting in ways I still cannot fully explain and somehow, your alpha never makes me feel trapped— it only makes me feel protected without making me feel caged.”

 

Tunggal Arundati harus ucapkan ribuan syukur kepada sang Moon Goddess karena telah dipertemukan dengan sosok alpha seperti sang sulung Sadadjiwa. Bagi Arkayesa, kehadiran Nawasena berhasil tunjukkan bahwa hangat seharusnya tak mencekik. Rasa kasih nan timbul seharusnya tak berharap balasan. Dan rasa ingin melindungi harusnya tak mengurung. Setiap hangat yang dijalarkan oleh Nawasena selalu ciptakan percikan-percikan nan menggelitik perut sang omega.

 

Tak ada yang tahu tentang masa depan. Tapi, jika Arkayesa diperbolehkan untuk memiliki keingininan, sang omega itu berharap bahwa di kehidupan rumah tangganya yang akan datang hanya ada kehangatan dan kenyamanan yang lingkupi kedua insan nan dipertemukan dan disatukan secara mendadak. Arkayesa ingin agar keduanya tak menyesali apapun yang akan terjadi di seiring perjalanan yang akan dilangkahi oleh keduanya.

 

Sobeneath the blessing of the Moon Goddess, I, Arkayesa Arundati, accept you, Nawasena Sadadjiwa, as my husband and my alpha. I promise to try with you. I promise to stay beside you sincerely, allow you to guide me wholeheartedly, and open my heart for whatever future awaits us after today. And if fate truly brought us together for a reason, then I hope someday we can look back on this moment and realize that this was where everything beautiful first began.”

 

Janji sudah saling terikrar. Tetua Sadadjiwa yang menuntun prosesi sakral ini terjadi tersenyum bangga. Hatinya menghangat merasakan setiap emosi jujur yang mampu membuat setiap insan ikut tersentuh. Tungkai kakek sang alpha melangkah maju. Ia bergerak mengambil genggaman kedua pasangan yang sudah direstui oleh Moon Goddess lewat teduhnya matahari yang menyinari sepasang insan yang akan menjalani lembaran baru.

 

The vows have been spoken. Love does not always bloom before marriage. Sometimes, it grows quietly after two souls choose to remain beside each other despite the unfamiliarity of tomorrow.”

 

Pria yang sudah umurnya sudah menginjak kepala tujuh itu menepuk pelan genggaman yang tadi ia ambil. Kedua netra indah pasangan muda di depannya menatap tepat dan tak ada lagi yang bisa mendeskripsikan kebahagiaan di wajah pria tua atas dirinya yang masih mampu memimpin pernikahan cucu tersulungnya.

 

Kini atensi teralih pada sosok yang langkahnya tampak berantakan. Adik dari Nawasena— Gaharu, berjalan dengan sebuah kotak cincin kelam nan berada di tangannya. Pria yang baru beranjak dewasa itu tampak lucu di mata Nawasena hingga sang alpha tak bisa tahan gelak tawa saat melihat hidung merah sang adik. Pembawa cincin pernikahannya itu tampak begitu berani melewati karpet putih untuk menghampiri sang abang yang kini sudah tak dapat ia monopoli sesuka hatinya.

 

“Bro.” Gaharu tepuk pundak lebar Nawasena. Kotak cincin yang ia bawa sudah berhasil diserahkan dan kini dengan raut wajah dramatisnya sosok alpha yang baru menginjak umur dua puluh tahun itu ucapkan rasa bahagia atas pernikahan sosok yang selalu ia jadikan panutan.

 

“Congratulations on your wedding, abang. Jangan lupain Haru please, I still need your money to buy those hot wheels,” ucap Gaharu tanpa ada rasa malu sedikitpun di hadapan iparnya. Aliran air mata yang jatuh dari kelopak cantik Arkayesa terhenti, berganti dengan gelak tawa yang seirama dengan sang suami.

 

“Haha, terima kasih ya. Kamu akan selalu jadi adeknya abang, Gaharu. There’s nothing you should worry about,” balas Nawasena sembari lepas genggaman tangannya. Ia usap pundak yang lebih kecil dari miliknya, adiknya itu tanpa ia sadari kini sudah besar dan pandai mengungkapkan seluruh keinginannya tanpa rasa takut.

 

Gaharu tersenyum senang. Kini perhatiannya beralih kepada omega yang kini sudah menjadi anggota keluarga terbarunya. Hidungnya sedikit mendapati aroma vanilla dengan segarnya bergamot di sela-sela kayu cendana hangat milik kakaknya.

 

“Kak Yesa! Congratulations on your wedding ya! Kakak kelihatan cantik banget, semoga nanti pasangan aku juga secantik kakak!”

 

Gelak tawa hangat kini mengudara bebas, gantikan haru yang tadi menyelimuti sebab ucapan alpha muda itu begitu keras hingga dapat didengar oleh seluruh tamu undangan. Sang omega hanya dapat menganggukkan kepala sebagai balasan, tak ada kalimat yang mampu ia rangkai sebab seluruh emosi kini tengah mengumpul jadi satu dan membuatnya sedikit kewalahan.

 

Gaharu kemudian kembali ke posisi awal, tinggalkan ketiga sosok yang masih berdiri di atas altar putih. Sinar dari sang surya semakin terik dan kaki pria tua itu tak lagi mampu berdiri lama. Prosesi kembali dilanjutkan sesuai urutan yang telah diatur sedemikian rupa.

 

“Nawasena and Arkayesa, you may now exchange the rings.”

 

Kotak cincin dibuka oleh sang alpha. Kilauan permata pada cincin yang akan bersemayam di jari manis sang omega timbulkan perasaaan asing sendiri saat Arkayesa menatap pasangan cincin yang masih tersimpan rapi. Nawasena mengambil cincin dari dalam kotak beludru itu. Sang kakek dengan sigap mengambil alih kotak dari tangan sang cucu agar sulung Sadadjiwa itu dapat meraih jemari lentik Arkayesa.

 

Genggaman tangan besar itu sangat berhati-hati, seolah omega yang kini sudah resmi menjadi pasangannya itu adalah sesuatu yang rapuh. Arkayesa menahan napas. Waktu seolah melambat ketika terpaan akhir menyapa tubuhnya seiring dengan cincin yang perlahan melingkar indah di jari manisnya.

 

Setelah cincin sudah berhasil Nawasena pasangkan kepada sang omega, kini giliran Arkayesa yang mengambil cincin dengan model yang lebih simpel namun tampak begitu serasi dengan miliknya dari dalam kotak beludru yang di pegang oleh pria tua yang masih tersenyum bahagia. Tangannya bergetar pelan dan napasnya semakin tercekat. Nawasena yang melihat itu tersenyum simpul, “Breathe, omega. Take your time. There’s no rush for us now.”

 

Kalimat sederhana itu berhasil sebarkan kehangatan di dada Arkayesa. Tunggal Arundati itu kemudian segera raih tangan besar sang alpha, netranya telisik setiap urat yang menjalar dan kemudian tanpa menghabiskan waktu yang lebih lama ia dorong cincin yang dipegang untuk dapat melingkari jari manis Nawasena. Sontak suara riuh tepuk tangan dan pekikan-pekikan yang panjatkan ucapan selamat mengudara. Arkayesa dapat mendengar jelas teriakan sang ibunda dan sahabatnya yang memekik di antara puluhan suara lainnya.

 

Kini tak ada lagi rasa riuh, resah, gugup yang tadi dirasakan. Seluruhnya berganti dengan bahagia nan tercipta. Layaknya suasana yang kini cerah di bawah cakrawala biru yang menengadahi, setiap insan yang hadir merasakan siraman sukacita nan melipur seluruh lara. Prosesi pernikahan sakral Nawasena dan Arkayesa kini hampir rampung, hanya satu proses lagi dan keduanya telah resmi terikat untuk sepanjang masa.

 

Lastly, under the blessing of the Moon Goddess, both of you shall exchange a kiss and your scents as the symbol of your sacred bond.”

 

Sang kakek mundur kembali beberapa langkah seiring kedua pasangan baru mulai saling mendekatkan raga mereka. Nawasena meminta izin melalui obsidian gelapnya yang langsung diangguki oleh Arkayesa. Rahang sang omega di tangkup, pipinya diusap lembut sebelum kemudian hidung keduanya saling bertabrakan— sama seperti deru napas yang saling bertemu.

 

“You can kiss me, abang…” Arkayesa pertegas izin yang ia berikan. Nawasena kemudian labuhkan ranumnya pada merah muda yang selama ini berhasil tarik perhatian. Tak ingin melakukan sesuatu yang terlalu berlebihan dan membuat omega itu tak nyaman, hanya kecupan dalam tanpa lumatan yang sang alpha berikan. Arkayesa yang baru pertama kali rasakan bibirnya dijamah oleh sosok lain— terutama sesosok alpha kemudian memejamkan matanya. Tangannya menjalar untuk mendekap punggung Nawasena dan saat kecupan terlepas keduanya kini beralih untuk sandarkan kepala di pundak pasangan.

 

Manis vanilla serta bergamot menusuk dan penuhi seluruh paru-paru sang alpha saat hidungnya kini sudah mengusak kelenjar feromon sang omega. Seluruh tubuh Arkayesa meremang. Keintiman ini baru pertama kali ia rasakan dan ia kemudia memilik untuk mengikuti naluri omeganya. Pria  yang lebih pendek itu pun turut mengusak hidungnya pada sumber kayu cendana dan patchouli yang selalu berhasil membuatnya nyaman.

 

Detik demi detik berlalu. Prosesi intim di hadapan banyak saksi itu berlangsung begitu khidmat. Aroma keduanya mengudara, perlahan melebur menjadi satu seiring kecupan-kecupan kecil saling ditukar pada kelenjar aroma sepasang insan ciptaan sang Moon Goddess. Setiap sudut tubuh keduanya kini saling berbalut oleh feromon yang bercampur. Vanilla bergamot dan kayu cendana patchouli kini melebur bersatu seiring dengan sorakan yang mengudara dan kelopak-kelopak putih yang kembali berterbangan.

 

Sang kakek yang menjadi saksi utama pun mengundurkan diri. Ucapan terakhir seiring langkahnya menuruni altar menjadi penutup atas prosesi sakral yang berhasil mengikat Nawasena dan Arkayesa dalam suatu hubungan baru.

 

May the Moon Goddess guide your hearts toward warmth, understanding, and the kind of love that quietly grows stronger with time. Selamat Nawa dan Arka, doa kakek akan selalu mengiringi setiap langkah kalian.”

 

Keduanya saling merengkuh setelah usai membaui satu sama lain. Nawasena eratkan dekapannya, tanpa sang alpha sadari setetes bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya runtuh juga. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, sulung Sadadjiwa itu biarkan emosi mengambil alih kendali dirinya di hadapan banyak mata yang memandang.

 

“Terima kasih, Sa. Thank you for trusting me this much.”

 

“Kembali kasih, abang. I don’t know how many times I’ve said this, but I’ll always be grateful that it’s you.”


 

 

 

 

 

 

 

 

Notes:

akhirnya menikah!!

silahkan diambil ya zuppa soupnya dan please antri yang rapi untuk nunggu giliran foto:o