Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Canon
Stats:
Published:
2026-05-16
Words:
1,698
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
310

“Having hyung at home is really reliable, comfortable and stable for me in it’s own way.”

Summary:

“Mianhae lama, mules banget”

“Udah izin manajer hyung kan, kalo kita hari ini keluar pake mobil buat belanja bulanan?”

“Hehe lupa, tolong chat manajer hyung ya cintakuh”

“Hmmm”

“……”

“Yaudah yuk jalan? Kenapa? Ada yang ketinggalan?”

“……”

“Kenapa Min?”

“Morning kiss nya mana?”

Ampun dah.

Notes:

based on this : https://x.com/tomyeclipse/status/1895321647282037221?s=20

Work Text:

“Having hyung at home is really reliable, comfortable and stable for me in it’s own way.”


“Mianhae lama, mules banget”

“Udah izin manajer hyung kan, kalo kita hari ini keluar pake mobil buat belanja bulanan?”

“Hehe lupa, tolong chat manajer hyung ya cintakuh”

“Hmmm”

“……”

“Yaudah yuk jalan? Kenapa? Ada yang ketinggalan?”

“……”

“Kenapa Min?”

Morning kiss nya mana?”

Ampun dah.

 


 

Banyak Carat, nama penggemar dari boyband Seventeen, yang memberikan tittle pada Mingyu sebagai “housewife”, well itu tidak salah.

Cuplikan dalam sebuah variety show tentang Mingyu yang tahu bagaimana membersihkan dan merapikan dorm saat awal mereka debut, sangat viral. Tidak hanya itu, keikutsertaannya dalam sebuah acara yang mengharuskan bertahan hidup di hutan menunjukan bagaimana cara dia yang notabene seorang idol bertahan dengan cara pikir yang jenius dan skill bertahan hidup yang cerdas, serta tentu saja bagaimana mahirnya saat mengolah berbagai masakan dalam porsi besar disetiap acara tayang baik saat group mereka bersama atau hanya sebagian member. Hal yang akhirnya membuat fans dari group yang memiliki anggota berjumlah tiga belas orang itu mengeluarkan candaan (harapan).

‘program: satu rumah, satu Mingyu’

Namun realitanya juga tidak bisa dipungkiri bahwa Mingyu adalah orang yang ceroboh, ada beberapa hal yang memperlihatkan dia menjadi pribadi yang ‘berantakan’, ‘tergesa-gesa’ bahkan terkesan ‘asal-asalan’. Hal ini dikarenakan dia memiliki kepribadian yang penuh semangat, sehingga membuat dia menjadi sosok yang terburu-buru karena berkejaran dengan rasa gairah yang menggebu dalam melakukan suatu hal dan kadang terkesan menjadi tidak berhati-hati dengan keadaan sekitar.

Seperti saat ini, ‘minwon’ (sebutan keduanya dari para fans) sedang berada dalam perjalanan untuk grocery shopping bulanan, setelah sekian lama mereka tidak melakukan kegiatan tersebut dikarenakan jadwal mereka yang padat dan selalu bertabrakan.

“Seungkwan mau main kerumah katanya” Ucap Wonwoo setelah mematikan sambungan telepon dari Seungkwan.

“Oh, bareng Vernon kan? Tadi dia ada chat juga” Mingyu menoleh sekilas sebelum kembali fokus mengendarai kendaraan beroda empat itu.

“Eh? Ngga, dia datang sendiri kayaknya. Katanya dia lagi bosan terus udah 3 hari susah banget mau ketemu sama Vernon” Wonwoo sedikit memiringkan kepala — kebiasaannya jika bingung — dan memandang pria tan disebelahnya dengan mata yang mengecil sebab ada sinar matahari pagi menjelang siang yang menembus mengarah ke retina-nya.

Mingyu yang melihatnya pun memanjangkan tangannya ke depan Wonwoo lalu menurunkan sun visor di depan sang kekasih sebelum melakukan hal yang sama untuk dirinya.

“Lah, lagi berantem?”

“Gatau”

“Biarin aja kan katanya udah lama mereka ngga ketemu. Kita masak banyakan aja kali ya? Kamu ada kepengen lagi ngga mau dimasakin apa?” Mingyu tertawa sebab yang lebih tua menjawab dengan jawaban ragu namun terdengan lucu — bucin behaviour.

Seperti sudah mengerti dimana perannya, setiap mereka melakukan belanja bulanan Wonwoo telah mencatat apa saja yang akan mereka beli. Tadi malam Wonwoo berkeliling di rumah dengan nuansa modern, simple dan tampak minimalis (walaupun sebenarnya tidak) itu guna membuat list kebutuhan rumah yang sudah harus diisi kembali. Bahkan saat bangun tidur tadi dia kembali sibuk mengetikan beberapa tambahan bahan untuk masakan yang sudah lama ingin Mingyu coba masak.

“Ngga ada, mau masakan yang kamu masak itu aja, penasaran banget aku sama masakan yang bikin kamu rajin banget hari ini”

Hari ini Wonwoo terbangun sebab sang kekasih yang jarang bangun pagi itu sudah bersenandung di saat jam di layar handphone menunjukan pukul 08.57 dengan hanya menggunakan celana tidur tanpa atasan sambil menyirami tanaman pemberian dari kedua orang tua nya. Saat Mingyu meminta Wonwoo untuk bersiap, Wonwoo bisa melihat bahwa Mingyu juga menyelesaikan laundry pakaian dalam dan beberapa baju rumah yang mereka gunakan selama seminggu ini. Selama tingal bersama, sebenarnya tidak ada jadwal pasti untuk siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah, mereka sudah sama-sama paham, toh sebagian besar pekerjaan tetap di bantu oleh mba yang seminggu dua kali datang kerumah.

 


Tiba di supermarket, Mingyu tidak berhenti berbicara memberitahu Wonwoo tentang resep simple yang dia temukan di internet dan akan mengajari Wonwoo setibanya mereka dirumah — berharap Wonwoo bisa memasaknya jadi tidak ada alasan untuk memakan mie pedas kesayangannya terus menerus. Lalu ada beberapa resep makanan penutup yang sudah Mingyu bookmark lama dan ingin segera dia coba masak, snack viral, jajanan kekinian juga masuk dalam keranjang belanjaan bulan ini.

Mereka berdua juga sempat berdebat kecil di depan rak supermarket yang menjajarkan makanan mie instant favorit Wonwoo.

“Empat aja udah cukup Jeon Wonwoo” Mingyu menahan tangan sang kekasih saat ingin menambahkan jumlah mie instant dengan kemasan berwarna hitam kedalam kereta keranjang belanjaan keduanya.

“Ngga cukuplah Min” Jawabnya pelan dengan alis saling bertaaut.

“Cukup dong, kan jatah makan mie instant kamu seminggu sekali aja sayang” Tentu dibalas dengan ucapan lembut dari Mingyu dengan merangkul sang kekasih berjalan meninggalkan section mie instant itu.

“Tapi minggu depan aku ada libur 2 hari, aku mau marathon nyelesain series yang lagi aku ikutin ituu. Ngga enak kalo ngga sambil nyemil”

“Nyemilnya nanti yang lain aja. Aku buatin kamu maunya apa atau kita beli yang lain ya? jangan mie terus dong Jeon Wonwoo”

Wonwoo hanya membalas dengan melanjutkan jalan lebih cepat menuju lorong lainnya. Namun bisa Mingyu tebak bibir sang kekasih sudah mencucu dibalik masker hitam nya.

Ngambek dia tuh.

Kegiatan berbelanja yang memakan waktu lama dari dugaaan namun dilakukan dengan sangat efektif dan efisien sebab keduanya paham betul untuk tidak terlalu lama berada di ruang publik tanpa manajer mereka.

Berakhir, dengan mereka pulang dengan membawa empat kardus sedang yang cukup merepotkan namun membawa tawa dari keduanya.

 


Wonwoo baru keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian rumah berupa kaos hitam kebesaran dan celana training panjang, sekaligus menyelesaikan tugas menyusun kembali toiletries dan kebutuhan lainnya. Dia melihat dari sisi luar dapur bahwa Mingyu juga sudah berganti pakaian rumah berupa jersey tanpa lengan dan celana longgar selutut sedang berkutat dengan pisau yang baru dibeli (karena aesthetic dan tentu hasil negosiasi yang akhirnya jatah makan mie instant Wonwoo bertambah bulan ini) sambil bersenandung lagu yang tersambung ke pengeras suara.

Wonwoo berjalan mendekat berniat mengambil minuman dingin di kulkas dengan tangan yang membalas pesan dari Seungkwan yang jadinya sudah on the way bersama Vernon. Laki-laki berkacamata tersebut terpaku sejenak melihat kondisi di luar kulkas yang terdapat dua buah kardus lumayan berantakan dengan berbagai bahan makanan, minuman, dan segala perbumbuan didalamnya dan sebagian berserakan di lantai.

“Hehe, nanti aku rapikan kulkasnya hyung” seakan paham bahwa hal tersebut yang membuat Wonwoo terdiam didepan pintu kulkas.

“Gapapa Min, biar aku aja” ucap Wonwoo dan perlahan menyusun isi kulkas sesuai dengan cubicle dan fungsinya. Bukan hal baru bagi Wonwoo, selama hidup satu atap (bahkan satu tempat tidur) bertahun-tahun dengan sang kekasih, dia sangat hapal bahwa ada waktunya sifat ‘berantakan’ Mingyu ini muncul walaupun nanti Mingyu juga akan membereskannya.

Wonwoo menyusun dengan sangat rapi dan tertata, dia bahkan menyesuaikan ukuran dan warna minuman instan, cemilan serta sangat paham dimana meletakan sayur atau bahan masakan mentah agar awet. Tak jarang Mingyu memberikan pujian karena rasa kagum sebab menurutnya kadang dia tidak bisa mengatur se-estetik itu.

Saat mencuci beberapa buah dan sayuran dia melewati Mingyu yang sedang menumis masakannya, melihat sang kekasih yang berada dekat dijangkauannya tentu Mingyu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan kecupan di pipi sang kekasih yang berakhir mendapatkan cipratan dari air cucian buah.

“Ada yang mau dibantu ngga? Kamu jadi mau ngajarin aku masak apa?” Setelah meletakkan kardus kosong di sudut ruangan, Wonwoo berjalan menuju Mingyu dengan tangan memegang minuman energi berwarna hitam

Mingyu menoleh kesamping namun bukan menjawab pertanyaan sang kekasih, dia malah memberikan kecupan (lagi) ditulang selangka Wonwoo yang terekspose sebab acuh karena kerah bajunya yang lebar dan melorot.

“Iiih, ditanya bukan dijawab” Ujar Wonwoo sambil menarik kerah bajunya sedikit lebih tinggi

“Tolong aduk ini dulu cintakuh, aku mau nyiapin — Oopsie, hampir aja” Iya, Mingyu hampir menyenggol sebotol kecap asin jika saja Wonwoo tidak segera menahan badan yang lebih besar berhenti bergerak dan segera memindahkan botol berisi cairan pekat itu ke tempat yang lebih aman.

Wonwoo mengambil alih apa yang sebelumnya Mingyu lakukan dengan sarung tangan ungu lateks berlapis sarung tangan anti panas, dia membuka penutup panci dan melihat isi dari dari wadah bulat tersebut, setelah menutup kembali badannya reflek menunduk melihat angka yang tertera di kompor listrik itu.

“Ini apinya kebesaran ngga sih Min? Apa ngga jadi lembek nanti sayurannya?” Mingyu berjalan mendekat melakukan hal yang sama seperti yang Wonwoo lakukan sebelumnya, lalu menekan tanda segitiga terbalik diatas kompor dua kali

“Agak asin ini, apa emang gini rasanya? Bisa dikurangin ngga? Kan sup yang kamu buat udah gurih banget” Komentar Wonwoo setelah Mingyu meminta Wonwoo mencicipi masakan yang sedang dia tumis. Setelah mengoreksi rasa kembali, Mingyu menyelesaikan masakannya dan meyusun di piring saji.

Saat ini Wonwoo sedang menyiapkan satu porsi hetban sebab Mingyu sedang diet dan untuk Vernon dan Seungkwan akan dia siapkan saat kedua adiknya sudah tiba. Mingyu lalu berjalan menghampiri Wonwoo yang saat ini sedang memasukan hetban di kedalam microwave.

“Ih pinter banget sayangkuh, sadar ngga kamu makin pinter masaknya? Jangan pinter-pinter lah sayangkuuuuh, kamu tuh udah cakep, lucu, baik hati, rajin, ngangenin, pinter segala hal dan berprestasi. Masa sekarang nambah jadi jago masak, nanti kalo kamu ngga butuh aku lagi gimanaaa” Mingyu memeluk Wonwoo dari samping, meletakan kepala di bahu selebar 58 sentimeter itu lalu menggoyangkan badan sosok yang lebih tua ke kiri dan ke kanan dengan bonus kecupan di leher jenjang sang kekasih.

Wonwoo tidak menjawab apa yang sang kekasih ocehkan, dia hanya merespon dengan tertawa dan tetap fokus dengan microwave di depannya mengatur suhu dan waktu, lalu setelah itu berjalan agak jauh dari microwave dan menghadap sang kekasih dengan senyuman manis. Hal yang disambut dengan meriah oleh Mingyu sebab ia langsung memajukan badannya dan menabrakkan bibir sang kekasih dengan bibir tebalnya. Tangan saling mendekap lebih erat hingga angin pun enggan menyelip diantaranya. Kegiatan yang berlangsung setara dengan bunyi dari microwave yang menandakan bahwa makanan di dalamnya sudah siap untuk disantap. Wonwoo lebih dulu menghentikan kegiatan tersebut dengan kembali berdiri tanpa menjinjitkan kedua kakinya.

Posisi keduanya belum ada berjauhan satu sentimeter pun.

Mingyu menatap hyung tercintanya ini lalu menyentuhkan kedua hidung mereka dengan tangan yang sudah beralih dari pinggang menuju pipi tembam sang kekasih. Bagi Mingyu tidak ada alasan pastinya jika ditanya kenapa memilih seorang Jeon Wonwoo sebagai housemate nya selama bertahun-tahun, namun bisa Mingyu pastikan akan tetap memilih Wonwoo jika dia harus berpindah hunian. Bila penggemarnya sering mengatakan program ‘satu rumah, satu Mingyu’ maka Mingyu juga punya program yang akan selalu dia usahakan

rumah Kim Mingyu harus ada Jeon Wonwoo.’

Series this work belongs to: