Work Text:
“Lighter.”
Lighter yang sedang mengecek sarung tangan bertarungnya menoleh ke arah suara. Belle dengan langkah kecil dan tangan berayun—sesuatu yang sangat khas dilakukan gadis itu ketika berlari—menghampiri Lighter, yang hanya mengangkat sebelah alis sebagai tanda ia mendengar.
“Boleh kita bicara sebentar?” ujar Belle saat ia berdiri di depan agent dari Outer Ring itu. Alis birunya bertaut, seakan ia memikirkan sesuatu yang sulit.
“Hm? Oke.” Jawabnya singkat. Ujung bibirnya naik tanpa terasa, karena melihat ekspresi Belle—mengingatkannya kepada kakak gadis itu yang memiliki kebiasaan serupa ketika mereka sedang berpikir.
“Aku ada komisi lagi yang membutuhkan—em… bantuanmu.” Belle bergumam ragu, matanya melihat ke manapun selain Lighter.
“Komisi macam apa?” Lighter melipat tangan di depan dadanya. Tergelitik penasaran melihat reaksi tidak biasa dari gadis itu. “Hollow Zero lagi?” tanyanya, mengingat komisi berbahaya terakhir yang ia lakukan di Hollow Zero bersama Thiren rubah dari Section Six.
“Bukan. Ini bukan menyangkut Hollow atau semacamnya.”
Alis Lighter naik sebelah. “Lantas?” tanyanya heran, karena seingatnya ini kali pertama Proxy meminta bantuannya mengenai hal di luar Hollow.
“Ini tentang… Wise.”
Lighter mengerjapkan matanya. Tak menduga nama itu akan keluar.
“Tentang… Wise…?”
“Oh! Aku akan tetap membayar fee-mu sebagai agent. Jangan khawatir soal itu.”
“Dia dalam bahaya?” Alis Lighter berkerut, rahangnya mengencang. Kepalanya langsung dipenuhi kemungkinan siapa yang berani mengganggu manajer Random Play itu. Pelanggan? Jangan-jangan ada yang tahu mereka Phaethon? Atau—
“Um—Tolongajakkakakkunontonfilmyangkeluarbesok.”
“Hah?”
✦✦✦
Lighter melihat tiket di tangannya. Dua buah tiket untuk pemutaran perdana sebuah film terbaru di Gravity Cinema.
Courtesy of Proxy tentunya.
Lighter akui ia tidak menduga bahwa ia akan mendapat komisi seperti ini dari gadis itu. Diminta untuk mengajak Wise kencan—nonton? Tidak usah melalui permintaan komisi pun ia tidak akan keberatan.
Belle sempat bercerita bahwa Wise belakangan tampak stres—karena masalah yang dihadapi Belle belakangan ini, terutama setelah kejadian di kompetisi Hollow Champion—jadi gadis itu berinisiatif mencarikan kakaknya teman untuk berkeluh kesah dan bertukar pikiran.
Dan orang yang dia pilih adalah Lighter.
Lighter sempat bertanya, memangnya kenapa harus dia. Belle menjelaskan dengan bisikan pelan bahwa ia melihat Wise cukup terbuka saat bersama Lighter.
Jawaban yang membuat Lighter cukup terkejut. Ia memutuskan menerima lembar tiket itu ketika ia sudah tahu pasti bahwa Belle tidak keberatan jika Lighter menganggap ini layaknya… pendekatan.
Tapi yang jadi masalah justru bukan Belle, melainkan bagaimana caranya mengajak Wise.
Lighter mengusap mukanya dengan tangan lalu membuang napas.
Ia kembali melirik handphone di meja, lalu tiket di tangannya, sebelum akhirnya menatap layar itu lagi. Tangannya meraih benda itu, memencet tombol—dan ketika layar menyala, aplikasi Knock-Knock dengan nama pengguna Wise menyapanya di sana.
“Haaa… Ini lebih susah daripada melawan Nineveh.”
Jarinya kembali menekan layar, mengetik kalimat sebelum ia terdiam sesaat, lalu menekan tombol backspace. Ia menggaruk kepala, mengacak-acak rambut dengan frustrasi.
Ayolah bung, kamu sudah pernah melawan Nineveh demi Tuhan. Mengajak Wise nonton harusnya tidak sesulit ini—
Bunyi notifikasi pesan dari Wise membuatnya hampir melempar handphonenya. Lighter terdiam beberapa saat, lalu ia menarik napas—memberanikan membuka pesan itu.
[Lighter, lagi sibuk…?]
Dirinya? Tidak sama sekali.
Otaknya? Itu hal lain.
Ia membaca ulang pesan dari Wise sambil memikirkan cara mengajak pemuda itu tanpa terdengar terlalu kentara. Otaknya berputar mencari kalimat yang tepat sementara jarinya mulai mengetik balasan.
[Ngga kok. Ada apa?] Lighter membaca ulang pesannya. Normal. Tidak ada yang aneh. Masih cara membalas pesan dia yang biasa.
Ia menekan tombol kirim.
Tak lama pesan balasan dari Wise masuk. Lighter membacanya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Namun kalimat di layarnya itu tetap tidak berubah. Sebuah pesan yang berisi ajakan menonton film di Gravity Cinema.
“Hah?”
✦✦✦
Lighter kembali mengecek pakaiannya untuk kesekian kalinya. Masih bajunya yang biasa, tidak ada yang aneh, tidak ada yang kotor, tidak ada darah, tidak ada yang bolong, tidak bau jug—
“Lighter?”
“Manajer?” Pandangan Lighter jatuh pada Wise yang muncul dengan jaket yang selalu ia pakai saat mampir menemani Belle ke Outer Ring.
Wise yang biasa.
Ia tersenyum.
Seharusnya ia tidak usah terlalu berpikir aneh-aneh, karena ini hanya dua orang teman yang hendak menonton film. Hal yang biasa.
“Kukira ketemunya di bioskop,” ujar Lighter sambil berkacak pinggang. Senyum jahil tersungging di bibirnya. “Jangan bilang mau menjemputku?”
“Iya," tukas Wise singkat.
Lighter mengerjap.
“Seingatku, kamu pernah bilang kalau kamu mudah tersasar di kota, jadi—” Wise tidak menyelesaikan kalimatnya.
Lighter terdiam.
Mencerna.
Yang barusan itu apa…?
Lighter mengusap tengkuknya, “Well, nggak salah sih. Tapi seingatku aku bilang itu ke Belle.”
Wise tersenyum simpul. “Dan Belle cerita. Informasi yang didapat Belle, tentu akan sampai padaku,” jelasnya.
Ah.
Phaethon.
“Karena kalian satu.”
Wise tertawa kecil lalu menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Ssh. Itu confidential,” ujarnya dengan nada serius—meski sudut bibirnya terangkat penuh makna.
Lighter merapatkan rahangnya. Mencegah dirinya sendiri tergoda untuk mengucap sesuatu yang bodoh.
Wise—Phaethon kedua—tidak seperti Belle yang selalu berada di garis depan. Ia lebih sering bertindak di balik layar, membantu baik secara teknis maupun moral.
Kesan pertama yang ia miliki tentang pemuda itu adalah pendiam, tapi ternyata, setelah mengenalnya lebih jauh, Wise tidak sependiam yang ia duga.
Sejujurnya, Lighter jarang bertemu Wise dalam komisi, karena bertemu agent di lapangan adalah tugas Belle. Tapi mereka cukup sering mengobrol karena Wise sering berada di Random Play setiap Lighter ditugaskan oleh para anak-anak Sons of Calydon untuk menyewa film.
Dan obrolan itu kemudian berlanjut menjadi pertukaran pesan di Knock-knock.
Lighter berdehem. “Kalau gitu tunjukkan jalannya, manajer.” Wise mengangguk, lalu berjalan di samping Lighter, menunjuk beberapa area sambil menjelaskan.
Bukannya Lighter tidak tahu juga sih.
Walau ia memang suka merasa ribet berjalan di kota, bukan berarti dia tidak hafal peta Lumina Square di otaknya—terutama ketika hampir tiap minggu Lucy atau Caesar menyuruhnya ke sini untuk membeli sesuatu.
Tapi, ia rasa Wise tidak perlu tahu hal itu.
✦✦✦
“Eh…? Lighter sudah punya tiketnya?” Wise memperhatikan dua lembar tiket di tangan Lighter.
“Iya. Seseorang memberikannya padaku.” Lighter menjawab santai. Toh ia tidak bohong. Walau… tidak sepenuhnya jelas juga.
“Oh? Okelah. Lumayan, menghemat uang,” ujar Wise mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut mengenai detail asal muasal tiket itu.
Lighter menghela nafas lega.
Kepraktisan cara berpikir Wise adalah sesuatu yang Lighter syukuri untuk saat ini. Matanya menyapu interior cinema, lalu jatuh ke pojok jajanan.
“Mau beli snack buat nonton? Kita masih punya waktu sebelum film dimulai.” Lighter bertanya, mengantongi tiket di saku dadanya. Wise memegang dagunya, berpikir.
“Lighter mau? Aku sebenarnya nggak terlalu suka makan sambil nonton… tapi boleh kalau kamu mau.”
“Nggak juga.”
“Kalau gitu kita tunggu dekat pintu teaternya saja. Daripada terlewat.” Wise menunjuk ke arah lorong teater dengan nomor yang tertera di tiket mereka.
Lighter mengiyakan usulan itu.
✦✦✦
Mata Lighter menyapu layar dengan seksama, sesekali melirik ke arah Wise yang tampak nyaris tidak berkedip saat menonton, membuat Lighter tersenyum simpul.
Film bertema fantasi ini menceritakan orang yang terlempar ke dunia novel—Lighter sempat mengangkat alis ketika Wise menceritakan inti film ini sebelum mereka masuk—merasuki tubuh salah satu tokoh yang ada di novel itu.
Mata Lighter kembali ke layar, melihat pemandangan tenang nan asri di layar berubah menjadi kobaran api, diiringi teriakan histeris dan putus asa para penduduk.
Perang.
Sesuatu yang Lighter kenal, pahami, dan—
Benci.
Alis Lighter berkerut ketika melihat pembantaian yang terjadi di layar. Tidak terlalu gore, tapi darah tetap tidak terelakkan.
Lighter melihat bagaimana karakter utama mengencangkan rahangnya. Matanya menatap nanar ke lautan api, melihat buah hasil keputusannya.
Salah seorang teman tokoh utama—Rio? Roi? Lighter tidak ingat—bertanya kepada tokoh utama kenapa ia mengambil keputusan berdarah itu.
Karakter utama mengangkat pedangnya, berkata bahwa kebebasan selalu datang dengan harga, dan kemudian mereka bertarung.
Ketika bilah pedang menembus dada karakter utama, Lighter melihat ekspresi putus asa menyapu sang sahabat ketika melihat tokoh utama menutup matanya dan meninggalkan pesan terakhir.
Lighter menahan napasnya.
Ini terlalu dekat dengan dirinya.
Dadanya sesak.
“Lighter?” Bisikan pelan menyadarkan Lighter dari memorinya. Saat ia mengangkat kepalanya, Wise tengah memperhatikannya dengan khawatir. “Kamu tidak apa-apa?” Tanyanya lirih.
Lighter menghela napas, mendorong kacamata hitamnya kembali ke posisinya. Lalu melihat ke arah Wise.
“Tidak apa-apa,” jawabnya dengan senyum tipis.
“Kita bisa keluar kalau kamu tidak nyaman.” Alis Wise berkerut, memperhatikan Lighter dengan seksama.
“It’s okay.” Gelengnya pelan.
Wise masih memandangnya, setengah tidak percaya. Lalu pemuda itu memutuskan tidak bertanya lebih lanjut, ia memberi anggukan kecil lalu kembali menatap layar.
Lighter menghembuskan napas pelan.
“Kalau ada apa-apa bilang ya. Film bisa ditonton lain kali.”
Sebelum Lighter sempat menoleh untuk melihat ekspresi Wise saat mengucapkan itu, layar berubah menjadi putih terang dan tokoh utama membuka matanya.
Ia hidup kembali.
Di dalam tubuh yang bukan miliknya.
✦✦✦
“Saya pesan daging yang ini 10 piring. Terus yang ini… Lighter mau yang mana?”
Pertanyaan Wise memecah atensi Lighter yang sedari tadi memperhatikannya memesan makanan.
“Daging oke, seafood juga. Sayur nggak masalah. Aku nggak pilih-pilih soal makanan,” jawabnya. Lighter melihat ujung bibir Wise terangkat sedikit—sepertinya menyukai jawaban Lighter—sebelum melanjutkan pesanannya.
Seusai memesan, Wise menyerahkan buku menu kembali pada pelayan. Setelah mengulang pesanan mereka untuk memastikan, pelayan itu pun pamit pergi.
Suasana hening sejenak. “Film tadi lumayan juga,” ujar Lighter, berusaha membuka topik yang familiar.
“Iya, walau temanya cukup umum, eksekusinya menarik.” Wise menjawab setuju.
“Oh, tema seperti itu umum?” Lighter memiringkan kepalanya, karena untuknya, ini kali pertama ia menonton film dengan tema seperti itu.
“Belakangan ini tema begitu cukup populer. Biasanya masuk ke dunia novel, gim, atau semacamnya. Isekai sebutannya.” Wise menjelaskan, tangannya bergerak dengan cukup antusias.
“Ah.” Ia mengangguk.
“Lighter suka?”
Kamu? Sepertinya.
“Film tadi.”
Lighter mengerjap. Barusan ia tidak mengatakannya keras-keras, kan? Ia terdiam, menyadari bahwa Wise masih menunggu jawabannya.
Lighter terbatuk kecil.
“Sepertinya memang enak sih. Terlempar dari dunia penuh perang seperti itu untuk masuk ke dunia yang damai seperti tadi.”
“Dunia tanpa perang memang enak ya…” Wise menghela napas ringan. “Walau kita tidak benar-benar berperang… Dengan adanya bahaya Hollow—” Wise memutus kalimatnya, bibirnya bertekuk pelan.
“Mungkin. Tapi tokoh utama tadi—Joey? Bukannya tidak punya masalah juga sih.”
“Jowy,” koreksi Wise ringan.
“Nah. Dia.” Lighter mengiyakan. “Dia tampak susah beradaptasi dengan dunia barunya.”
Mendengar itu, mata Wise berbinar. “Cukup realistis memang. Belum lagi teman-teman dari pemilik tubuh yang Jowy masuki bereaksi cukup keras terhadap perubahan sifatnya.”
“Terutama yang rambut pirang itu…” Lighter mengetukan telunjuknya di dagu, berpikir.
“Ether?”
“Ether. Reaksinya sangat ekstrim.” Lighter menjawab. Bersyukur Wise tidak menggoda kelemahannya mengingat nama.
“Kalau menurutku… Ether menyukai Keya—pemilik tubuh yang ia rasuki.”
Alis Lighter mengangkat tinggi. “Serius?”
Wise memainkan tisu di tangannya. “Subtle sih. Tapi dari tindak-tanduk dan ucapannya… menurutku begitu.”
“Bukannya mereka... sama-sama laki-laki…?” tanya Lighter dengan hati-hati. Ia ingin tahu pendapat Wise tanpa terdengar aneh.
“Ya kan ada jenis cinta yang tidak memandang gender. Buatku tidak masalah kok.”
“Oh.” Lighter menelan ludah. “Manajer juga tidak keberatan ternyata.”
“Lighter juga? Syukurlah.” Wise tersenyum ringan.
Lighter menahan napasnya.
Kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka memotong kegelisahan Lighter. Ia dan Wise mengucapkan terima kasih sebelum pelayan itu pergi. “Panggangnya barengan aja ya?” ujar Wise sambil mulai menaruh daging di panggangan.
Desisan daging dan aroma gurih perlahan menenangkan Lighter.
“Tapi kurasa reaksi Ether itu cukup logis.” Wise melanjutkan topik mereka sambil membolak balik daging. Lighter mendengarkan sambil memasukkan lauk ke panci hot pot mereka.
“Melihat orang yang kita kenal—apalagi itu orang yang dicintai—tiba-tiba berubah hampir seratus delapan puluh derajat pasti akan membuat kita frustasi.”
Lighter setuju dengan pernyataan itu, karena ucapan Wise memang masuk akal. Lighter rasa, kalau Wise tiba-tiba berubah, maka ia pun—
“Kalau Lighter tiba-tiba begitu, aku juga pasti akan stres.”
Ciduk di tangan Lighter hampir tercemplung ke panci hot pot.
Lighter berdehem.
“Kalau manajer begitu, aku akan mencari tahu penyebabnya,” ujarnya spontan. Kali ini Wise tertawa lepas.
“Solusi yang sangat Lighter,” kekeh Wise pelan.
“Walau dunianya lebih damai, mungkin rasanya tidak akan sama tanpa orang-orang familiar di sekitar kita,” ungkap Lighter.
Tangan Wise yang sedang memegang penjepit daging berhenti. Alisnya bertaut sesaat, berpikir. “Benar juga. Aku tidak berpikir sampai sana,” Wise mengiyakan lalu menaruh beberapa potong lobak.
“Lobak dibakar?”
“Aku suka aroma bakar lobak. Enak kok. Nanti Lighter coba saja,” jelas Wise sambil mengangkat daging dari atas panggangan, meletakkannya ke mangkuk nasi Lighter.
Lighter menerimanya dalam diam.
Mungkinkah Wise juga menganggap ini—
Lighter menggelengkan kepalanya pelan.
Karena ia tak berani menyimpulkan lebih jauh kategori apa nonton dan makan yang mereka lakukan hari ini.
✦✦✦
Wise meneguk teh dingin miliknya, menghela napas puas setelah semua makanan mereka tandas.
“Lighter masih mau pesan lagi?”
Lighter menggeleng sambil mengangkat tangan pelan, “Nope. Ini saja aku sudah kekenyangan,” jawabnya ringan. Wise membalas dengan dengusan tawa kecil.
“Ini aku matikan saja ya.” Wise memencet tombol, mematikan api untuk panggangan dan hot pot sementara Lighter menyesap tehnya, menghilangkan sisa-sisa rasa di mulutnya.
“Lighter.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah mau menemaniku hari ini.”
Ucapan Wise yang tiba-tiba—disertai senyum lembut—membuat Lighter termangu.
“Er… Ahem.” Lighter batuk pelan. “Seharusnya aku yang berterima kasih sudah ditraktir makan siang,” jawabnya canggung.
“Kamu juga sudah traktir aku nonton, jadi kita impas,” ujar Wise sambil tersenyum tipis.
“Uh—itu tiket gratis.”
Dari Belle pula.
“Tetap saja, bukan aku yang beli,” sanggah Wise. “Lagipula kan aku yang mengajak, jadi—”
“Kalau begitu, makasih sudah mengajakku,” ucap Lighter pelan. Wise yang tadi sibuk melihat ke arah panggangan kini menatapnya. “Padahal manajer kan terkenal, kurasa banyak gadis yang mau diajak nonton oleh manajer.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Wise berkedip.
Secepat kilat Lighter menutup mulutnya. Berjaga-jaga mana tahu mulutnya bertindak lebih cepat dari otaknya lagi.
“Hmm… Kalau dengan mereka… rasanya mungkin agak sedikit… canggung…?” Wise menjawab dengan hati-hati, tampak berusaha memilih kata yang sesuai. “Kalau denganmu, beda.”
Jadi dengan dirinya Wise merasa nyaman?
Lighter hanya mengangguk. Otaknya terlalu bingung untuk mengolah suasana yang ada di antara mereka.
“Lighter tidak keberatan… kan…?”
“Tidak,” balasnya spontan, berusaha mengerem mulutnya, jangan sampai— “walau agak terasa seperti kencan, tapi aku tidak keberatan.”
Sial.
Wise terdiam sesaat, memperhatikan Lighter dengan seksama. Lalu berkedip.
“Iya juga ya—” Wise berhenti sejenak, matanya melirik ke atas, seakan membayangkan sesuatu “—nonton, makan.” Ia ber-“aha” pelan. “Ini memang terasa seperti kencan. Tidak salah.”
Kali ini Lighter yang terdiam. Menunggu lebih lanjut apa yang akan keluar dari mulut Wise.
“Aku tidak keberatan sih, kalau dianggap seperti itu—kalau Lighter mau—em maksudku—”
Lighter menarik nafas panjang dan menahannya.
“... Kalau manajer mau… aku—ah—akan berterima kasih—eh—senang—ugh.” Lighter mengusap mukanya—tak peduli dengan kacamata yang bertengger di mukanya—sambil menghela napas.
Serius. Lawan Nineveh jauh lebih gampang daripada ini.
Wise mengerjapkan matanya, lalu menunduk kecil. Bahunya bergetar menahan tawa.
“...Aku barusan ngucap beneran ya?”
Wise mengangguk sambil menghapus air mata yang mulai muncul dari ujung matanya karena menahan tawa. Lighter menutupi wajahnya dengan satu tangan sambil menggumam frustrasi. Membuat Wise akhirnya tidak bisa menahan derai tawanya.
“Aku tidak sesusah Nineveh kok,” ucap Wise disela kekehannya, “Ketemu, ngobrol, makan, nonton—menghabiskan waktu dengan Lighter saja sudah cukup.” Wise mengatakan itu sambil memandang Lighter dengan seksama, diiringi sebuah senyum hangat.
“Itu pun kalau Lighter mau.”
Mata hijau Wise menatap lurus ke arahnya. Lighter menarik napas.
“Kalau aku tidak mau, aku tidak mungkin ada di sini…" Lighter berhenti sebentar, sebelum melanjutkan dengan penuh kepastian "...Wise.”
Lighter melihat dengan jelas bagaimana senyuman Wise berkembang semakin lebar saat mendengar jawabannya.
Dan jujur?
Senyum itu pun menular ke dirinya.
✦ ✦ ✦ FIN ✦ ✦ ✦
OMAKE:
“Jadi… sekarang berarti Lighter sudah jadi pacarku?”
Lighter hampir menabrak tiang listrik.
“Harap melihat ke depan saat berjalan!” Bangboo yang sedang bertugas mengantur perlintasan jalan raya di dekat mereka mengingatkan.
Wise mengulum senyum sambil menyeruput milk teanya.
Yang dibelikan oleh Lighter tentunya.
