Work Text:
Kilian menghembuskan nafasnya seraya menaruh kotak kardus besar terakhir yang sejak tadi harus diangkatnya, menyeka keringat dengan punggung tangannya sebelum kembali lagi ke pintu depan untuk memberi beberapa lembar uang pada kurir pengangkut barang yang turut membantunya sebelum mempersilahkannya pulang.
“Terima kasih.”
Killian kembali ke dalam rumah setelah menutup pintu kondominiumnya dan menangkap pemandangan Gabriel yang sedang mengintipi satu-persatu ruangan disana. “Kamu suka?”
Gabriel menoleh kemudian mengangguk. “Yang ini kamar Gab, ya?” Anak itu menunjuk satu ruangan yang ada disana.
“Okay, punyamu, tapi sebelum itu ayo bantu ayah beresin ini semua,” ujar Kilian seraya mengangkat tangannya untuk menunjuk semua tumpukan kotak kardus yang berserakan di lantai.
“Eeeeh????”
“Merengek nggak akan membebaskanmu dari tugas ini, jagoan.”
Gabriel mencebikkan bibirnya sebelum benar-benar melakukan perintah Kilian dengan ogah-ogahan.
“Aku capekkk!”
Gabriel berguling di karpet ruang tamu mereka, Kilian yang melihat hanya menghembuskan napasnya kemudian tersenyum maklum.
“Makan di luar, mau?”
Gabriel segera bangkit dan memandang Kilian dengan mata berbinar. “MAU!”
Kilian dan Gabriel kemudian keluar dari kondo, setelah mereka mandi dan berganti baju tentu saja, untuk makan malam sekaligus berbelanja kebutuhan mereka.
“Halo, selamat malam.” Suara seseorang mengagetkan Kilian, membuatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki yang berdiri di depan pintu unit sebelah. “Aku yang menempati unit nomor 1408. Kamu baru pindah ke sebelah, ya?” Tanya nya sopan.
“Ah ya, benar.” Kilian mengangguk kikuk.
“Sirius,” Lelaki itu tersenyum dan menguluran tangannya.
“Kilian. salam kenal, Sirius.” Kilian menyambut uluran tangan itu. “Uh, Gab! Simpan mainanmu dan sapa tetangga baru kita.”
“Halo pria kecil,” Sirius menyapa dengan ramah. Buru-buru berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dan Gabriel.
Gabriel mendongakkan kepalanya dari psp di genggamannya sebelum menatap Sirius dihadapannya. “H-halo.”
“Sayang, ingat apa yang kita bicarakan tentang bertemu orang baru?” Kilian berujar setengah berbisik, Gabriel memandangnya bingung. “Namamu.” Kilian membuat gestur dengan mulutnya.
“Oh.” Gabriel membungkuk santun. “Namaku Gabriel, umurku enam tahun, aku suka bermain game dan membaca komik! Oh, omong-omong, kami punya anjing namanya Cookie dan dia sangat lucu. Salam kenal kak, dan mohon bantuannya.”
“Pintar nya,” puji Sirius tulus. “Nama kakak Sirius, mohon bantuannya juga Gab!” Sirius mengelus puncak kepala Gabriel sebelum kembali berdiri. “Adikmu lucu banget, Kilian. Ah, aku jadi rindu adikku di rumah.”
“Um soal itu,” Kilian tersenyum canggung, “Gabriel... dia... anakku.”
“Oh, aku minta maaf.” Sirius menatap Kilian dengan raut muka yang menyiratkan rasa menyesal dan tak enak hati.
“Nggak apa, Sirius,” Kilian menyibakkan tangan dan tersenyum maklum. “Toh ini bukan yang pertama kalinya.”
.
.
.
Kilian bertemu dengan Joshua saat ia baru berusia delapan belas tahun. Lelaki itu tampan, tidak banyak bicara namun menjadi sangat hangat setiap berada di dekat Kilian. Tidak butuh waktu lama untuk mereka menjadi akrab.
Mereka bertukar nomor dan saling mengirimi pesan. Acara makan bersama seusai kelas sudah jadi rutinitas bagi mereka. Sampai pada suatu saat Joshua menyatakan perasaannya dan Kilian membalasnya, mereka berkencan dan menjadi pasangan paling fenomenal.
Kisah cinta mereka sempurna. Seisi kampus mendambakan punya kisah seperti mereka. Namun mereka tetaplah remaja pada umumnya, muda, naif dan liar. Suatu hari Kilian merasakan ada yang aneh dari tubuhnya. Ia selalu merasa mual di pagi hari, gampang merasa lelah, dan tidak ada satupun makanan yang terlihat menggugah baginya.
Sambil terus mencoba mendepak kemungkinan terburuk yang bergelantungan di dalam kepalanya, Kilian pergi ke apotek terdekat. Meminta sebuah benda yang tidak pernah ia bayangkan akan dicarinya, dengan nyaris berbisik kepada sang penjaga apotek.
Kemudian apa yang ia temukan setelahnya adalah bencana bagi Kilian Anderson umur 18 tahun itu.
Kilian mendatangi Joshua di rumah sewa-nya dengan wajah berurai air mata dan tangan yang bergetar ketika lelaki itu menyerahkan benda panjang dan pipih ke kekasihnya.
Joshua mungkin berharap apa yang ia lihat salah, jadi dia memejamkan mata dan berdoa ketika nanti kembali membuka matanya benda di tangannya itu akan menampakkan hasil yang berbeda. Namun tidak ada yang berubah.
Dua garis.
Kilian positif hamil.
Joshua merengkuh Kilian dengan tangannya yang gemetaran. Membisikkan janjinya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
.
.
.
“Wajahnya mirip denganmu Josh,” ucap Kilian lirih, bayi mereka di dalam gendongannya. “Gabriel ayo sapa ayah nak.”
Kilian tersenyum melihat Joshua yang sedang menyentuh pipi bayi itu pelan—seperti takut sentuhannya bisa menghancurkan makhkuk mungil itu. Saat itu Kilian membayangkan potret keluarga bahagianya, mereka akan membesarkan Gabriel (dan calon adiknya nanti), tinggal di sebuah rumah kecil yang jauh dari pusat kota dan menghabiskan hari tua mereka disana. Namun bayang-bayang akan keluarga bahagia itu harus pupus begitu saja.
Tiga bulan kemudian Joshua pergi meninggalkan mereka. Semua barangnya masih ada di flat mereka. Tidak ada sepucuk kertas, pun pesan singkat yang Kilian terima. Joshua menghilang begitu saja meninggalkan Kilian dan Gabriel yang menangis keras di gendongannya.
Awalnya Kilian tentu mencoba menelponnya, mendatangi rumah keluarga Joshua, mencari informasi dari teman-teman terdekat, namun nihil. Joshua benar-benar menghilang. Kilian menerka; Mungkin Joshua memang pergi jauh sekali, lelaki itu pernah bilang dia ingin mengejar impiannya, leaki itu menerima beasiswa di salah satu universitas ternama. Kalau begitu... Manhattan, benarkah? Ah, kalau dipikir-pikir semuanya memang masuk akal.
Joshua tak mungkin membuang mimpinya dan lebih memilih mereka, kan?
.
.
.
Berkali-kali Kilian mencoba untuk menitipkan Gabriel di panti asuhan. Berkali-kali Kilian menaruh Gabriel di dalam kereta bayinya dan berniat meninggalkannya di pinggir jalan. Berkali-kali Kilian mencoba menelantarkan Gabriel yang meraung menyedihkan, biarlah sampai anak itu mati kelaparan, pikirnya.
Namun sesuatu dalam dirinya akan berteriak; tidak Kilian, ini salah.
Jadi, pada akhirnya Kilian akan mengendong dan membawa Gabriel kembali ke dalam mobilnya. Kilian akan kembali mendorong kereta bayi Gabriel menuju kamar indekosnya. Kilian akan merasa sangat bersalah, menggendong Gabriel dan akan tetap membuat susu hangat untuk anaknya.
Jangan hitung berapa banyak malam yang ia habiskan untuk menangis diam-diam. Tugas kuliahnya terabaikan. Ratusan pesan ajakan untuk bersenang-senang tidak kunjung dibaca. Malam yang dulunya selalu ia nantikan untuk sekedar hangout di rumah teman, kini berubah menjadi jam-jam paling mengerikan baginya.
Bayi itu akan menangis keras di jam 2 malam. Dan Kilian tidak tahu harus melakukan apa. Ia sudah menggendongnya, memberinya susu hangat, mengganti popoknya, namun tangisnya tak kunjung mereda. Kilian hanya bisa menggendongnya sambil menepuk pelan punggung mungil itu. Membisikkan kalimat, ayah disini, kita bisa melewati ini semua, berulang kali dengan mata berkaca-kaca dan hidung yang memerah.
Namun ketika cahaya mentari mulai masuk melalui celah jendela kamarnya, ia terbangun dan mendapati sosok mungil tak berdosa itu sedang terlelap sambil menggenggam erat jari telunjuknya. Entah bagaimana caranya—mungkin itu cara makhluk itu mengatakan bahwa ia yakin Kilian bisa melewati semuanya.
Kilian memang belum siap, ia masih muda, namun ia cukup tau bagaimana menghargai sebuah nyawa. Jadi mulai detik itu Kilian bersumpah untuk tak lagi menyerah.
Sudah cukup sedih anak ini ditinggalkan oleh ayahnya, jadi jika bukan Kilian siapa lagi yang akan melindunginya dari kekejaman dunia?
.
.
.
Kilian meremas pegangan tas berisi peralatan milik Gabriel dengat kuat, ditatapnya Gabriel yang tertidur pulas dalam gendongannya. Mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu rumah orangtuanya.
Banyak hal yang sudah Kilian pikirkan, sehingga dengan tekad dan keberaniaannya yang tak seberapa, Kilian kembali ke kota kelahirannya.
Kilian sudah siap. Tak apa jika nanti orangtuanya akan mencacinya, mengusirnya dan menghapusnya dari silsilah keluarga, siapa juga yang mau punya anak sebrengsek dirinya? Namun setidaknya walau sekali saja mereka harus melihat anak di dalam gendongannya ini, tau bahwa Gabriel ada.
Tau bahwa Gabriel adalah anak kandungnya.
“Kilian, kamu pulang nak,” Ibunya menyambutnya dengan senyuman hangat, menatap Kilian dengan pandangan teduhnya. “Ayo masuk, di luar sangat dingin.”
“Anakku Kilian!” Seru ayahnya senang ketika melihat Kilian yang memasuki ruang tamu, kemudian bangkit untuk menepuk pelan bahunya.
“A-ayah... ibu...”
“Ssst, duduklah dulu, ibu tau kamu capek setelah perjalanan jauh,” ucap ibunya. “Bagaimana kabar cucu ibu nak?”
.
.
.
“Ya tuhan, Gabriel! Pakai dulu celana mu!” Ibu Kilian berteriak ketika Gabriel berlari dengan keadaan setengah telanjang sambil tertawa senang.
“Dapat kau setan kecil!” Kilian menangkup tubuh Gabriel dan membawa anak itu ke arah ibunya.
“Nenek ini udah nggak muda lagi, lho, diam dan jadilah anak baik, nah begitu.”
Kilian terkekeh pelan melihat ibunya yang nampak kewalahan meladeni Gabriel yang memang sedang aktif-aktifnya. “Maaf ya bu.”
Ibunya menoleh sebentar kemudian kembali fokus untuk memakaikan pakaian Gabriel. “Nggak ada yang perlu dimaafkan, nak.”
Kilian tersenyum.
Tidak terasa sudah empat tahun sejak ia kembali ke kota kelahirannya dan selama itulah ayah dan ibu Kilian membantunya mengurus Gabriel, menyayanginya.
Dalam waktu selama itu, Kilian pikir sudah cukuplah dia membuat repot kedua orang tuanya. Kini waktunya ia berjuang sendirian.
“Bu,” panggil Kilian.
“Gabriel main dulu sama kakek ya?” Seolah mengerti ibunya membiarkan Gabriel kembali berlarian untuk mencari kakeknya.
“Bu, aku nerima tawaran kerja di ibu kota, gajinya emang nggak seberapa tapi aku nggak mau ngerepotin ibu sama ayah lagi.”
“Sudah bilang dengan ayahmu?”
Kilian mengangguk, “sudah bu.”
Ibunya tersenyum kemudian menepuk pelan bahunya. “Kilian-nya Ibu sudah besar ya sekarang.”
Kilian mati-matian menahan air matanya. Dia tidak akan menangis lagi. Kilian harus kuat, ini semua demi Gabriel.
“Jangan lupa sekali-sekali berkunjung kemari, ayahmu pasti akan merindukan jagoan kecil itu.”
“Pasti bu, pasti.” Kilian memeluk ibunya. “Terima kasih.”
.
.
.
“Ayah kita mau kemana?” Gabriel menelengkan kepalanya ketika Kilian memasangkannya sabuk pengaman.
“Kejutan! Ayah yakin Gab pasti suka. Ayo, Nak, pamit dulu sama kakek dan nenek.”
.
.
.
Dua tahun Kilian dan Gabriel hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Biaya hidup di ibu kota yang tinggi membuat Kilian harus pandai-pandai menyiasati uang yang ia punya.
“Ayah, Gab capek lhooo pindah-pindah terus,” keluh Gabriel sembari mengeluarkan koleksi komiknya dari kotak kardus besar. Kotak itu selalu jadi yang pertamakali Gabriel bongkar saat mereka pindah rumah.
Kilian meringis, “maaf Nak. Ayah janji ini yang terakhir.”
Setelah dua tahun menyisihkan upah kerjanya sedikit demi sedikit dan juga atas kemurahan hati orang tuanya, akhirnya Kilian mampu membeli sebuah unit kondominium sederhana. Letaknya memang agak berada dipinggiran, namun tentu jauh lebih baik ketimbang rumah kontrakan sempit yang selama ini mereka tempati.
“Ayah selalu ngomong begitu tapi sebulan kemudian kita akan pindah ketempat baru, tapi, yeah, kali ini aku percaya.”
Kilian tersenyum kemudian duduk menghadap Gabriel. Jemarinya menyisir helaian surai milik Gabriel. “Makasih, jagoan. Kamu bisa pegang janji ayah kali ini, maaf ya ayah sering berbohong padamu,” ujarnya, “aku—kita akan melewati ini bersama, kay?” Kilian menelisik pupil jernih milik putranya, ada makna lebih dalam dari ucapannya namun Kilian lebih memilih tak menyampaikannya lewat kata.
Gabriel mengangguk polos dan kelegaan luar biasa yang Kilian rasakan. “Nah ayo, sayang, ini saatnya untuk tidur.”
Gabriel menurut dan berjalan ke arah ranjangnya. Kilian membantu putranya itu untuk memakai selimut hingga ujung dagunya. Gabriel menatap setiap gerakan sang Ayah dengan pandangan polos.
“Selamat malam, jagoan.” ujar Kilian disertai usapan lembut di kepala sang anak.
“Selamat malam, Ayah.”
Setelah memastikan Gabriel benar-benar menutup matanya—karena kadang anak itu suka curi-curi waktu untuk bermain psp saat jam tidurnya—Kilian keluar dari kamar anaknya itu. Meraih ponselnya yang ia tinggalkan di atas meja makan, dan terkejut melihat sebuah notifikasi di sana.
Sirius: Halo, Kilian. Udah tidur?
Ah, rumah baru, hidup baru. Dan mungkin... ini saatnya untuk cerita baru juga?
