Actions

Work Header

Veilon

Summary:

Kembar artinya berbagi segala hal 'kan?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tak semua hal bisa dibagi.

Bukan sesuatu yang langsung disadari Nakula. Tidak sejak awal. Tidak pula saat mereka masih terlalu terbiasa melakukan segalanya bersama.

Katanya, saudara kembar selalu berbagi segala hal. Ruang, waktu, bahkan perhatian orang-orang di sekitar.

Semua terasa wajar.

Sampai pada satu titik, ketika sesuatu tak lagi terasa bisa dibagi begitu saja.

Perasaan.

Ia tak pernah benar-benar mengakui kapan tepatnya semua itu dimulai. Tak ada momen yang cukup jelas ‘tuk dijadikan titik awal.

Arjuna.

Nama yang tak pernah diucapkan dengan cara berbeda. Tak ada penekanan khusus, tak ada pula nada yang berubah. Namun entah sejak kapan, setiap kali nama itu terucap, ada sesuatu dalam dirinya yang ikut bergerak—halus, hampir tak terasa.

Nakula mencintainya.

Bukan melalui satu momen besar. Hanya kumpulan hal-hal kecil; cara ketegasan Arjuna dalam berbicara, kerutan samar di antara alisnya saat berpikir, cara ia tersenyum ketika semuanya terasa…sempurna.

Nakula menyimpannya, jauh dalam pikirannya.

Memendam rasa bukan sesuatu yang sulit baginya. Ia terbiasa menjaga segala hal tetap rapi—pikiran, sikap, bahkan emosinya sendiri. Semuanya ditempatkan sesuai porsi. Tak kurang, tak lebih.

Awalnya karena tak perlu dikatakan. Kemudian, karena tak ada lagi yang bisa diucapkan.

Namun waktu memiliki cara sendiri ‘tuk mengubah sesuatu perlahan menjadi berat.

Ketika ia akhirnya menyadari, satu hal yang tak pernah ia bayangkan bahwa Sadewa —kembarannya— lebih dulu mendapatkan hati Arjuna.

Ia tak mengatakan apapun.

Tidak kepada Sadewa. Tidak pada Arjuna. Bahkan tidak pada dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa—

Tertinggal.

Rasa cemburu itu tetap ada. Tipis, tetapi menetap.

Ia melihatnya melalui hal-hal kecil. Cara Arjuna datang tanpa pemberitahuan, seolah tahu bahwa Sadewa ‘kan berada disana. Cara mereka berbicara tanpa banyak kata. Cara Arjuna tersenyum—senyum yang tak pernah ia sadari begitu berarti, sampai ia tahu itu bukan untuknya.

Dan yang paling sederhana, sekaligus paling sulit diabaikan—

pagi hari.

Nakula tak pernah benar-benar mempermasalahkan pagi sebelumnya. Itu hanya bagian dari waktu, seperti siang dan malam. Tak ada yang benar-benar istimewa.

Namun sejak ia melihat Arjuna berdiri di ambang pintu dengan sisa kantuk yang belum sepenuhnya hilang, menyapanya tanpa sadar sisa gigitan yang masih tampak menghiasi tubuh indahnya; tanpa sadar terekspos—pagi tak lagi terasa netral.

Ia mulai berharap.

Harapan yang tak pernah diucapkan, bahkan dalam benaknya sendiri.

Bahwa suatu hari, senyum itu ‘kan datang sepenuhnya kepadanya.

Bukan kepada Sadewa.

Ia tahu betapa egoisnya itu.

Namun kesadaran tak selalu cukup ‘tuk menghentikan sesuatu.

Nakula tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap berbicara dengan nada yang sama, bergerak dengan ritme yang sama, dan tersenyum ketika diperlukan.

Tak ada yang benar-benar berubah di permukaan.

Namun di bawah itu, keinginan-keinginan kecil mulai bertumpuk.

Ia ingin berbagi kasih dengan mataharinya.

Ia ingin mata itu berhenti lebih lama padanya, mengikuti setiap gerakannya, bukan sekadar lewat seperti yang selalu terjadi.

Ia menginginkan sesuatu yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Dan mungkin…itu sebabnya pikiran itu muncul.

Tidak tiba-tiba. Tidak pula dramatis.

Hanya satu kemungkinan kecil bertengger dalam benak yang perlahan-lahan menjadi lebih masuk akal, semakin lama ia membiarkannya ada.

Bagaimana jika ia menjadi Sadewa?

Mereka kembar. Perbedaan paling mencolok hanyalah warna kulit dan rambut, sedikit usaha ‘kan diperlukan—semuanya masih bisa diatasi. Setidaknya, ‘tuk sementara.

Bukan ide yang baik.

Nakula tahu itu sejak awal.

Namun mengetahui sesuatu tak berarti selalu menolaknya.

Ia tak teburu-buru. Tak langsung bertindak. Hanya membiarkan ide itu berputar dalam pikirannya, menguji segala kemungkinan, setiap celah yang bisa dimanfaatkan.

Sebuah ide gila,

yang cukup layak ‘tuk dicoba.


Kesempatan itu datang tanpa perlu dicari.

Nakula menawarkan Sadewa ‘tuk beristirahat.

Alasannya sederhana. Tak berlebihan, bahkan tak cukup kuat ‘tuk dipertanyakan, tetapi juga tak cukup lemah ‘tuk ditolak.

Sadewa menerimanya tanpa banyak komentar.

Seolah itu hal biasa.

Dan mungkin, justru itu membuat segala sesuatu berjalan terlalu mudah.


Di Antara. Tak pernah sepenuhnya berubah.

Lampu redup masih menggantung di tempat yang sama, bercampur dengan udara yang masih menyimpan sisa percakapan yang tak pernah kunjung selesai. Segalanya berjalan seperti biasa.

Namun malam itu—

Nakula tak berada disana sebagai dirinya sendiri.

Ia telah menyiapkannya.

Perbedaan yang selama ini tampak jelas— warna kulit, rambut, iris mata—perlahan disamarkan. Foundation menutup apa yang terlalu kontras. Wig merapikan hal yang tak bisa ditiru begitu saja. Lensa kontak mengubah detail terakhir yang mudah dikenali.

Tidak sempurna.

Namun cukup.

Cukup ‘tuk seseorang yang tak benar-benar memperhatikan. Cukup ‘tuk seseorang yang datang tanpa kecurigaan.

Cukup ‘tuk Arjuna.

Seperti yang telah ia duga, Arjuna datang tanpa pemberitahuan. Tak ada pesan; tak ada tanda sebelumnya. Ia hanya muncul seperti biasa, seolah tempat itu memang selalu tersedia untuknya.

Nakula mengangkat kepala.

Menyambutnya.

Bukan sebagai dirinya sendiri.

Percakapan berjalan seperti biasa. Ringan, tanpa memiliki arah khusus. Dirinya meniru apa yang ia tahu—nada suara, pilihan kata, bahkan respon kecil yang sering ia lihat sebelumnya.

Ia berhasil.

Setidaknya, ‘tuk sementara.

Namun yang tak ia perkirakan adalah bagaimana rasanya berada di posisi itu.

Terlalu dekat.

Tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri.


Minuman silih berganti.

Satu. Dua.

Dirinya berhenti menghitung.

Ia hanya memperhatikan.

Bagaimana tangannya menumpu kepala yang telah memerah sempurna. Bagaimana bibir mungil itu terus melantunkan kalimat racau. Bagaimana lentik mata menyapu wajahnya.

Hingga satu titik, Arjuna mulai berbicara dengan cara yang tak lagi terkontrol sepenuhnya. Kata-kata yang tak lagi dengan hati-hati, lebih jujur—atau mungkin, lebih berani.

“Kau tahu?” Bibir mungil itu memulai kembali percakapan, “Paras Nakula rupawan,”

“…Aku suka dia.”

Kalimat itu datang tanpa peringatan.

Sederhana. Sembrono. Namun berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.

Nakula membeku.

Bukan secara fisik. Ia masih berdiri di tempatnya. Namun, seolah waktu berhenti saat itu juga.

“…tapi, aku juga mencintaimu.” lanjutnya.

Seolah tak ada yang aneh dengan pernyataan itu. Seolah, dua hal yang saling bertentangan bisa berdiri berdampingan tanpa masalah.

Nakula tak langsung merespon.

Ia tak tahu harus merespon sebagai siapa.

Dirinya sendiri—atau Sadewa.

Dan di antara kebingungan itu, sebuah ide lain muncul.

Lebih berani. Lebih berisiko.

Lebih gila.

Dan mungkin,

Lebih jujur dari apapun yang pernah ia pikirkan sebelumnya.


Ia menghubungi Sadewa.

Tak lama setelah itu.

Tak ada pembukaan panjang. Tak ada penjelasan berlapis. Ia langsung pada intinya.

Hanya satu usulan.

Untuk sekali lagi berbagi.

Sadewa tak marah. Tak pula terkejut.

Ia hanya menghela napas.

Lelah.

Seolah bukan kali pertama ia menghadapi sesuatu seperti ini.

Sadewa mengenalnya terlalu baik. Lebih dari Nakula sadari.

Ia tahu.

Tentang rasa yang disembunyikan. Tentang kecemburuan yang tak pernah diucapkan. Tentang cara Nakula melihat sesuatu yang seharusnya tak ia miliki.

Semua itu tak pernah benar-benar tersembunyi.

“Ide yang buruk,” katanya akhirnya.

Tak keras. Tak dingin.

Hanya jujur—tak cukup menutup kemungkinan yang sudah terbuka.

Sadewa tak ingin berbagi.

Itu jelas.

Namun ada hal lain yang sama jelasnya—ia tak ingin kehilangan Arjunanya.

Sunyi menggantung di antara mereka.

Bukan karena tak ada lagi yang ingin dikatakan. Melainkan karena terlalu banyak hal yang tak bisa disederhanakan dalam satu jawaban.

Dan dalam situasi seperti ini, pilihan tak terasa lagi sama.

Lebih seperti pertukaran.

Apa yang bisa dipertahankan dan apa yang harus dilepaskan.

Nakula tak mendesak.

Untuk kali ini, ia menahan diri. Tak memotong, hanya…menunggu.

Sadewa menghela napas pelan. Lebih panjang dari sebelumnya.

“Dia lagi mabuk.”

Kalimat sederhana, tak sepenuhnya menolak.

Nakula tak langsung menjawab.

“Dia tetap bilang itu,” ujarnya tenang. Tak memaksa. Namun tak bisa diabaikan begitu saja.

Sadewa terdiam.

Ia tahu.

Kalimat seperti itu tak muncul tanpa alasan, bahkan dalam kondisi setengah sadar.

Namun mengetahui bukan selalu menerima.

“…dan kalau itu bukan sekedar omong kosong?” tanya Nakula, lebih pelan.

Tak seperti pertanyaan.

Lebih seperti sesuatu yang sudah ia yakini, hanya menunggu diakui.

Sadewa tak langsung merespon.

Ia menatap kosong sejenak, seolah mencoba mencari celah yang tak ada.

Namun yang ia temukan hanya satu hal yang sama—

Arjuna.

Dan kemungkinan kehilangan datang bersamanya.

“…kau akan tetap melakukannya, kan.”

Bukan pertanyaan.

Nakula tak menyangkal.

Ia tak mengiyakan. Namun itu sudah cukup jelas.

Sadewa menghela napas, lebih pendek.

Seolah sesuatu dalam dirinya akhirnya…melepaskan.

Bukan karena setuju.

Melainkan karena tak ada cara lain ‘tuk benar-benar menolak tanpa kehilangan lebih banyak.

Sialan.

“Kita lihat dulu,”

Bukan persetujuan. Bukan pula penolakan. Hanya cukup ‘tuk membuat segala sesuatu bergerak.

Tak ada pembicaraan lanjutan malam itu.

Tak ada yang benar-benar mencoba menarik kesimpulan. Hanya sisa-sisa kalimat yang tak sempat dituntaskan, dibiarkan menggantung—cukup ‘tuk diingat, tak cukup ‘tuk diselesaikan.


Hari-hari berikutnya, berjalan seperti biasa.

Atau setidaknya, terlihat demikian.

Nakula tak lagi berdiri di jarak yang sama.

Ia mulai mengambil ruang—kecil, tak mencolok, namun disengaja.

Lebih cepat merespon. Bertahan sedikit lebih lama dalam percakapan yang seharusnya bisa diakhiri lebih awal. Mendekat, tanpa benar-benar memberi alasan.

Hal-hal kecil. Namun cukup ‘tuk terasa.

Sadewa tak menghentikan.

Namun juga tak membiarkan sepenuhnya.

Ia tetap berada di sana, seperti biasa. Menjaga jarak yang sama, namun dengan perhatian yang tak lagi sepenuhnya netral.

Seolah ia menjaga sesuatu yang bahkan tak mereka sepakati ‘tuk dimiliki bersama.

Dua orang yang bergerak di garis yang sama, tanpa pernah benar-benar saling bertabrakan.

Arjuna menyadarinya.

Bukan sebagai sesuatu yang bisa langsung disebut. Hanya perasaan kecil yang terus muncul, setiap kali ia mencoba mengabaikannya.

Cara Nakula kini tak lagi menghindar. Cara Sadewa sesekali menatap lebih lama dari biasanya.

Dan sesuatu diantara itu—

yang tak pernah benar-benar ada sebelumnya.

Sampai akhirnya—

“Kenapa lagi kalian?”

Pertanyaan itu keluar.

Ringan. Hampir terdengar seperti candaan.

Namun cukup ‘tuk menghentikan keduanya sejenak.

Yang ditanya tak langsung menjawab.

Hanya keheningan yang meresponnya.

Tak lama, namun cukup ‘tuk membuat Arjuna mengerti bahwa ini bukan sekadar perubahan kecil yang bisa dilewatkan begitu saja.

“Waktu itu…” Nakula memulai.

Pelan.

Tak berburu-buru.

Arjuna mengerjap.

Butuh beberapa detik sebelum sesuatu di wajahnya berubah.

Memerah.

“…ah,” ujarnya pelan. “aku ingat…”

Hampir tak terdengar.

Tak ada yang langsung menimpali. Karena ‘tuk sesaat, itu sudah cukup.

Arjuna menghela napas.

Pendek.

Seperti memberi ruang pada sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Harusnya aku nggak ngomong sembarangan,” lanjutnya.

Nada yang sama. Tak defensif. Tak juga menyangkal.

“Menurutku itu bukan sembarangan,” potong Nakula pelan.

Tak menekan.

Namun cukup membuat Arjuna berhenti.

Sunyi kembali turun.

Ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya. Sesuatu yang tak dapat diabaikan begitu saja.

Arjuna menatap mereka berdua, bergantian.

Seolah mencoba memastikan sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia mengerti.

“…aku nggak ngerasa itu salah.” kalimat itu keluar lebih pelan. Namun pasti.

Nakula tak bergerak. Sadewa pun juga tidak.

Namun keduanya mendengar hal yang sama.

“Cuma…” Arjuna berhenti sejenak, “aku nggak tahu harus gimana.”

Tawa kecil keluar. Tipis. Hampir hilang sebelum sempat terdengar.

“Jadi aku diam.”


Tak ada yang berubah secara drastis. Setidaknya, itu yang terlihat.

Nakula tak benar-benar berusaha menyembunyikan apapun lagi. Ia terlalu…ringan.

Bukan dalam arti sederhana, melainkan seperti seseorang yang pada akhirnya mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan—dan belum sepenuhnya percaya bahwa itu nyata.

Ia berbicara lebih banyak; lebih cepat. Terkadang tanpa benar-benar menyaring.

“Berarti sekarang boleh ya?”

“Bolehkan?”

Atau,

“Ini nggak melanggar, ‘kan?”

Pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Tak selalu membutuhkan jawaban.

Arjuna tertawa kecil, sementara Sadewa hanya menghela napas.

“Tidak semua harus kamu tanyakan,” ujarnya datar.

Nakula mengangkat bahu. “Biar jelas.”

Namun itu bukanlah alasannya. Ia hanya tak ingin melewatkan apapun.


Kesempatan itu tak lagi terasa kecil. Setiap celah menjadi berarti.

Ketika Sadewa tak ada dalam ruang, Nakula bergerak lebih dulu.

Memonopoli.

Duduk lebih dekat; berbicara lebih pelan; menyentuh tanpa alasan yang benar-benar penting.

Arjuna tak menolak. Tak merasa keberatan.

Namun itu tak berarti Sadewa tak melihat.

Ia hanya tak selalu bereaksi, membuat semuanya terasa lebih…tak seimbang.

Sampai suatu hari—

peran itu terbalik.


Hari itu Sadewa libur.

Hal yang sangat jarang terjadi.

Berbanding dengan Nakula yang harus lebih lama menetap dalam kantornya. Bukan karena ingin. Lebih karena terpaksa.

Arjuna datang seperti biasa.

Namun kali ini, yang menyambut bukan Nakula. Melainkan Sadewa.

Tak ada yang aneh dari awalnya.

Percakapan berjalan seperti sediakala, tenang.

Namun waktu berjalan lebih lambat. Atau mungkin, hanya terasa demikian.

Arjuna tampak lebih lelah dari biasanya. Tak banyak berbicara, hanya memberi jawaban singkat. Dan pada satu titik—ia berhenti sepenuhnya.

Tertidur.

Tanpa peringatan. Kepala jatuh bersandar pada dada Sadewa.

Napas pelan. Teratur. Seolah dunia tak lagi memerlukannya kali ini.

Sadewa terdiam. Tak bergerak.

Tangan sempat terangkat, menggantung—seolah ingin membangunkan.

Namun niat itu segera ia singkirkan.

Ia hanya membiarkan.

Untuk beberapa saat, tak ada yang berubah. Hanya keheningan yang terasa tenang.

Ponsel di tangannya bergetar pelan. Tanda pesan masuk.

Nakula:

“Gimana?”

“Arjuna disana kan?”

“Lama amat reponnya.”

Sadewa menatap layar itu, sedikit lebih lama.

Lalu tanpa banyak pertimbangan—membuka kamera.

Satu foto.

Sudut yang jelas.

Arjuna yang terlelap di dadanya. Tangan yang tanpa sadar mencekram sedikit kain bajunya.

Tak berlebihan.

Ia mengirimnya, tanpa teks.

Balasan datang hampir seketika.

Nakula:

“…serius?”

“Sadewa.”

Sadewa tak menjawab.

Ia hanya menatap layar, lalu kembali pada sosok yang masih tertidur diatasnya.

Tenang.

Tak terganggu oleh apa pun.


Nakula menatap layar terlalu lama.

Ekspresinya tak langsung berubah. Namun sesuatu dalam dirinya bergerak. Tak nyaman. Namun juga…menantang.

Ia menghela napas.

“Mainnya begitu, ya…” ujarnya pelan. Tak nampak marah.

Lebih seperti seseorang yang baru saja memahami aturan baru dalam permainan yang tak pernah mereka sepakati.


Sejak itu, sesuatu berubah. Tak besar. Tak mencolok, namun cukup ‘tuk dirasa.

Nakula tak lagi sekadar mengambil kesempatan. Ia mulai…menciptakannya.

Mencari waktu dimana Sadewa tak ada. Menarik Arjuna ke percakapan yang lebih panjang. Melakukan kontak fisik.

Lebih sering. Lebih berani.

Dan tanpa sadar atau mungkin, dengan sengaja—ia mulai membalas.

Bukan dengan cara yang sama, namun dengan maksud yang sama.

Sadewa melihatnya.

Tentu saja.

Ia tak menghentikan. Tak pula memperingatkan. Ia hanya…menyesuaikan.

Memberi ruang di satu sisi, lalu mengambilnya kembali di sisi lain.

Lebih halus; lebih tenang. Namun tak kalah jelas.

Arjuna, satu-satunya yang tak benar-benar menganggap ini sebagai kompetisi.

Atau mungkin ia tahu dan memilih ‘tuk tak menghentikan.


Sampai suatu sore.

Nakula dengan berani melakukan langkahnya, dengan Sadewa berada di sisi lain. Berpusat pada Arjuna.

Situasi yang seharusnya terasa canggung, namun tak ada yang bergerak menjauh.

“Ini jadi aneh,” gumam Nakula pelan.

Sadewa mendengus kecil. “Dari awal juga.”

Arjuna tertawa.

Pelan.

“Bukannya kalian yang mulai?”

Tak ada yang langsung menjawab.

Nakula hanya tersenyum tipis, seolah merasa tak perlu menyangkal. Disisi lain, Sadewa menghela napas—lebih panjang, namun tak berusaha menjauh.


Tak pernah terbayangkan bagaimana mereka jatuh pada hal yang sama.

Bagaimana mereka sangat menginginkan dirinya melihatnya. Seakan dirinya telah melihat mereka langung dalam jiwa, memahami mereka sepenuhnya.

Dan saat Ia menatap dengan senyum di wajahnya.

Entah sejak kapan mereka mendambakan hal yang sama.

Senyumnya.

Candanya.

Tawanya

Notes:

f/n: 1. Sudut pandang orang ketiga ‘Ia, Dirinya’ dengan font style italic, merujuk pada Arjuna

A/N: AKU CINTA LADDER HUHU