Work Text:
Jakarta, 6 Mei 2029
Langit di atas jembatan Semanggi tidak lagi berwarna biru, melainkan abu-abu pekat yang tercemar oleh asap pembakaran ban, gas air mata, dan polusi yang seolah menolak pergi. Sejak pemindahan ibu kota secara massal difinalisasi tahun lalu, Jakarta ditinggalkan dalam kondisi yang mengenaskan. Bagi mereka yang tidak memiliki modal atau koneksi politik untuk pindah ke IKN, kota ini menjadi penjara beton yang perlahan tenggelam, baik secara harfiah oleh air laut utara, maupun oleh inflasi yang mencekik leher.
Harga beras menyentuh angka yang membuat rakyat kecil harus memilih antara makan atau membeli obat. Rezim yang berkuasa mengeluarkan kebijakan demi kebijakan yang hanya memihak oligarki, memicu gelombang demonstrasi yang tak pernah padam sejak awal tahun.
Dari semua kekacauan ini, ada Saka Karsa Kinandaru yang akrab dipanggil Dokter Saka, ditengahnya.
Ia bukan mahasiswa aktivis, bukan pula pahlawan. Kinandaru hanyalah seorang residen medis yang muak melihat rumah sakit tempatnya bekerja menolak korban demonstrasi karena “instruksi dari atas”. Sore itu, dengan masker respirator menutupi separuh wajahnya dan sebuah tas P3K berukuran besar melingkar di bahunya, Kinandaru menyelinap di antara gang-gang sempit di kawasan Bendungan Hilir.
Suara sirine polisi meraung-raung dari arah Jalan Sudirman. Rentetan tembakan gas air mata terdengar seperti petasan di malam tahun baru, disusul jeritan dan langkah kaki ribuan orang yang kocar-kacir.
“Mundur! Barikade depan jebol!”
Sebuah teriakan serak menghentikan langkah Kinandaru. Dari balik kabut putih gas air mata yang pedasnya mengiris kornea, sesosok tubuh tinggi besar terhuyung-huyung mundur. Laki-laki itu memegang tongkat bambu di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menekan sisi perutnya yang basah oleh darah segar.
Mas Gala Juang Sadhamalik atau anak anak kampus lebih kenalnya dengan sebutan Mas Galang.
Kinandaru kenal wajah itu. Wajah yang selalu muncul di mimbar-mimbar jalanan, orasi-orasinya viral di media sosial sebelum dibredel oleh kementerian komunikasi. Sadhamalik itu mahasiswa hukum tingkat akhir yang sekarang jadi salah satu pentolan gerakan Reformasi Jilid Dua.
Melihat Sadhamalik yang nyaris ambruk, Kinandaru jelas tidak berpikir panjang. Ia tarik lengan laki-laki jangkung itu, menyeretnya masuk ke balik pintu besi sebuah ruko kosong yang gemboknya sudah lama dirusak Ndaru untuk dijadikan safehouse darurat.
“Sial, lepasin – “ Sadhamalik meronta, insting bertahannya menyala meski matanya merah dan berair.
“Diem dulu, ih. Aku dokter,” desis Kinandaru, suaranya teredam masker. Ia menendang pintu besi itu hingga tertutup rapat, mengunci mereka dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya temaram dari ventilasi.
Kinandaru menekan bahu laki-laki yang lebih tinggi darinya ini hingga terduduk bersandar pada dinding beton yang dingin. Napas Sadhamalik memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Kinandaru menyalakan senter kecil dari saku rompinya, menggigit pangkal senter itu, dan mulai membuka jaket almamater Sadhamalik yang robek.
“Peluru karet?” tanya Kinandaru, tangannya dengan cekatan membersihkan luka yang menganga di pinggang Sadhamalik .
“Bukan… ujung tameng huru-hara. Tadi ada yang jatuh, reflek ngehalang badannya, malah kena hantam,” jawab Sadhamalik meringis menahan sakit. Ia menatap wajah Kinandaru yang setengah tertutup. “Lu… yang waktu itu bagiin cairan antasida di stasiun Palmerah, bukan sih?”
Kinandaru tidak menjawab. Ia fokus menjahit luka robek itu dengan peralatan seadanya namun steril. Hening menyelimuti mereka, hanya diselingi suara dentuman dari luar dan deru napas keduanya yang perlahan menyatu dalam ritme yang sama.
“Kamu bisa mati kalau terus terusan di garis depan, Mas Sadham,” gumam Kinandaru akhirnya, setelah memotong benang jahit.
Sadham tersenyum tipis, senyum yang entah bagaimana masih terlihat tampan meski wajahnya cemong oleh jelaga. “Kalau negara ini mati, apa bedanya gua hidup atau mati?”
Kinandaru menatap mata Sadham. Di sana, di balik tatapan yang lelah dan penuh amarah, Ndaru melihat sebuah kobaran api yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari yang seharusnya.
Dua minggu berlalu sejak insiden di Benhil. Rezim semakin represif. Jam malam diberlakukan. Setiap orang yang berkumpul lebih dari lima orang di ruang publik akan ditangkap atas tuduhan makar atau mengganggu ketertiban umum.
Sadhamalik kini bersembunyi di apartemen studio Kinandaru di kawasan Cikini. Tempat itu sempit, bocor di bagian sudut, dan listriknya sering padam karena kebijakan pemadaman bergilir di Jakarta Raya. Namun, bagi Sadham, tempat itu adalah surga.
Sore itu, hujan turun deras, sedikit membersihkan polusi udara Jakarta. Listrik sedang padam. Kinandaru menyeduh dua cangkir kopi hitam menggunakan kompor gas portable.
“Gula habis,” kata Kinandaru datar, meletakkan cangkir kaleng di atas meja lipat di hadapan Sungchan. “Harga gula hari ini naik lagi, Mas. Udah 45.000 sekilo. Kayaknya kita harus mulai terbiasa sama rasa pahit.”
Sadham menutup laptopnya, yang layarnya menampilkan draf manifesto pergerakan, lalu meraih cangkir tersebut. Ia menyesapnya perlahan. “Pahitan juga hidup kita, Ndar. Kopi ini doang mah ngga ada apa-apanya.”
Kinandaru duduk di lantai, menyandarkan punggungnya di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. Ia menatap profil samping Sadham yang disinari cahaya lilin. Laki-laki itu terlihat lebih kurus. Tulang pipinya semakin menonjol. Luka di pinggangnya sudah mengering, berkat perawatan Ndaru setiap malam, tetapi luka batinnya karena melihat kawan-kawannya ditangkap satu per satu terlihat jelas dari sorot matanya yang sering kosong.
“Sampai kapan mau ngelakuin ini?” tanya Kinandaru, suaranya nyaris berbisik menembus suara hujan.
Sadhamalik menoleh. “Sampai mereka turun. Atau sampai gua habis.”
“Jawaban konyol.” Kinandaru membuang muka. “Kamu pikir dengan mati martir, rezimnya terus bakal tiba-tiba berubah pikiran? Mereka punya senjata, Mas. Mereka nguasain hukum. Kamu cuma punya megafon dan spanduk kain.”
“Gua bisa ngapain lagi emang, Kinan?” Suara Sadham meninggi, ada rasa frustrasi yang meluap. “Duduk diem di sini? Nungguin sampe air bersih aja udah ngga bisa kita beli? Nunggu sampe rumah sakit tempat lu kerja ditutup karena obat-obatan dimonopoli sama perusahaan menteri? Gua ngga bisa nutup mata gitu aja Ndar, sementara di luar sana orang-orang dipukulin cuma karena nagih haknya.”
Kinandaru terdiam. Matanya memanas. Bukan karena ia tidak setuju dengan Sadham. Ia sangat setuju. Ia membenci negara ini sama besarnya dengan Sadham. Tetapi ada satu hal yang lebih ia benci daripada rezim ini: bayangan kehilangan Sadhamalik.
Selama dua minggu tinggal bersama, tanpa mereka sadari, ada garis batas tak kasat mata yang telah mereka lewati. Dari sekadar dokter dan pasien darurat, menjadi kawan diskusi, berbagi sisa makanan terakhir, hingga malam-malam di mana Sadham mengigau karena trauma dan Ndaru menenangkannya dengan usapan lembut di kepala.
Ada cinta yang tumbuh di tempat yang paling tidak subur. Di atas tanah yang dipijak oleh kekejaman.
“Aku takut, Mas,” bisik Kinandaru. Satu tetes air mata lolos, jatuh mengenai celana piyamanya. “Aku ngerawat luka-luka orang setiap hari, tapi ngebayangin luka itu ada di tubuh kamu… ngebayangin suatu hari nanti kamu yang akan dibawa ke UGD dalam kantong mayat… aku ngga sanggup.”
Sadhamalik terpaku. Amarahnya menguap seketika, digantikan oleh rasa sesak yang menghantam dadanya. Ia bergeser dari duduknya, mendekati Kinandaru, lalu ikut duduk di lantai di sebelah pemuda itu.
Tangan besar Sadhamalik terangkat, ragu-ragu pada awalnya, sebelum akhirnya menyentuh pipi Kinandaru, menghapus jejak air mata di sana. Kulitnya terasa dingin.
“Ndaru…” suara Sadhamalik melembut.
Kinandaru memejamkan matanya, meresapi kehangatan telapak tangan Sadham yang kasar karena sering memegang tiang bendera. Ia memiringkan wajahnya, menyandarkan pipinya sepenuhnya pada tangan itu.
Bulan Juni tiba dengan membawa kabar buruk. Pemerintah mengesahkan Undang-Undang Keamanan Darurat. Aparat kini diizinkan menggeledah rumah tanpa surat perintah jika dicurigai menyembunyikan “pemberontak”.
Malam itu, grup Telegram rahasia yang diikuti Sadhamalik dibanjiri pesan panic button. Beberapa safehouse di Depok dan Salemba telah digerebek.
“Kita harus musnahin semua dokumen,” kata Sadhamalik cepat, tangannya bergetar saat mengeluarkan tumpukan selebaran, buku-buku kiri, dan catatan rapat dari ranselnya. “Kalau mereka sampe meriksa tempat ini terus nemuin ini semua, lu bisa keseret, Ndar.”
Kinandaru sedang merapikan peralatan medisnya ketika ia melihat kepanikan Sadhamalik. Ia segera membantu mengumpulkan kertas-kertas itu. Mereka membakarnya sedikit demi sedikit di wastafel kamar mandi, menyalakan kipas exhaust agar asapnya keluar.
Nyala api berwarna jingga menerangi wajah keduanya di kamar mandi yang sempit. Kertas-kertas yang berisi harapan, kemarahan, dan cita-cita keadilan itu berubah menjadi abu yang tersiram air kran.
“Ideologi kita dibunuh,” geram Sadhamalik, menatap nanar abu hitam yang mengalir masuk ke saluran pembuangan.
Kinandaru menggenggam tangan Sadhamalik yang terkepal. Erat. Ia tidak mengatakan apa-apa, membiarkan keheningan berbicara. Dalam situasi seperti ini, kata-kata motivasi juga tidak lagi dibutuhkan. Bualan. Omong kosong. Yang dibutuhkan hanyalah kehadiran.
Setelah semua dokumen musnah, mereka duduk berhadapan di atas kasur yang tipis. Di luar, suara helikopter aparat berpatroli memecah keheningan malam. Lampu sorot dari luar sesekali menembus tirai jendela, membuat jantung mereka berpacu.
“Ndaru,” panggil Sadhamalik pelan.
“Ya?”
“Kalo… kalo malam ini mereka milih pintu kita buat di dobrak, gua mau lu bilang ke mereka kalo lu di paksa. Bilang ke mereka gua ada ngancem lu pake sajam buat nyembunyiin buron. Lu harus selamat, Ndar. Masa depan lu masih bisa dikejar.”
Kinandaru menatap Sadhamalik dengan mata yang memancarkan kemarahan yang berbeda. “Kamu pikir aku pecundang? Kamu pikir aku bakal ngebiarin kamu diseret??”
“Bukan soal pecundang apa bukan, Ndaru... Ini soal rasionalitas, buat apa kita hancur berdua?”
“Karena aku mau sama kamu.” sergah Kinandaru, suaranya tertahan di tenggorokan, takut terdengar hingga ke luar. “Aku udah pilih mau berpihak kemana sejak hari aku nyeret kamu ke dalem ruko kosong itu.”
Napas keduanya menderu. Jarak di antara mereka terkikis. Dalam keremangan malam, di bawah bayang-bayang ketakutan dan sirine yang mengaum dari kejauhan, adrenalin mencampur adukkan rasa takut dan hasrat.
Sadhamalik menangkup wajah Kinandaru dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap rahang Kinandaru yang menegang. “Kenapa keras kepala banget, Kinandaru?”
“Karena dunia di luar sana udah gila, Mas. Kalo aku harus waras sendirian tanpa kamu, aku lebih milih gila sama kamu,” balas Kinandaru, matanya menantang, namun bibirnya bergetar.
Tanpa aba-aba, bibir mereka bertemu. Itu bukan ciuman yang lembut atau manis dari sebuah roman picisan. Ciuman keputus asaan, kasar, dan dipenuhi oleh rasa takut akan kehilangan. Ciuman dari dua manusia yang tahu bahwa esok pagi mungkin tidak akan pernah datang lagi untuk mereka. Gigi mereka beradu, napas mereka bertabrakan, mencari oksigen, mencari validasi bahwa mereka masih hidup, masih bernapas, masih memiliki satu sama lain di tengah runtuhnya negara ini.
Bulan Agustus. Suasana semakin mencekam. Demonstrasi puncak direncanakan akan berlangsung di depan Istana Negara, dipicu oleh penembakan tiga mahasiswa di Makassar. Konsolidasi nasional dilakukan. Sadham harus turun. Endgame bagi pergerakan mereka.
Pagi itu, sebelum fajar menyingsing, Sadhamalik sudah mengenakan pakaian serba hitamnya. Sepatu converse usangnya yang penuh noda lumpur kembali terpasang. Ia mengikat saputangan hitam menutupi sebagian wajahnya.
Kinandaru berdiri di ambang pintu dapur, menyedekapkan dada. Kantung matanya menghitam, tanda ia tidak tidur semalaman.
“Kamu beneran harus pergi ya,” ucap Kinandaru, suaranya parau.
Sadhamalik menghentikan kegiatannya memakai sarung tangan, lalu berjalan mendekati Ndaru. “Harus, Ndaru. Kalo bukan sekarang, negara bakal mati selamanya di tangan mereka.”
Kinandaru menunduk. Ia meraih tangan Sadham, memainkan jari-jemari yang lebih besar dari miliknya itu. “Janji sama aku, kamu bakal pulang dengan selamat. Janji sama aku, kamu ngga akan berdiri di barisan paling depan kalo mereka ngerahin kendaraan taktis.”
“Janji, manis. Aku janji bakal berusaha sekuat tenaga buat balik ke rumah ini. Ke tempat kamu,” ucap Sadhamalik, mencium kening Kinandaru dalam dan lama.
Saat Sadham berbalik untuk meraih ranselnya, Kinandaru menahan ujung jaketnya. Sadham menoleh, mendapati Kinandarunya sedang menatap dengan pandangan yang membuat dunia Sadhamalik berhenti berputar sejenak. Mata itu dipenuhi oleh air mata yang siap tumpah, bibir yang digigit kuat-kuat untuk menahan isakan.
Kinandaru menarik napas panjang, menelan semua logika dan ketakutan yang menggerogoti otaknya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Sadham, Mas Sadhamnya, dan membiarkan seluruh pertahanannya runtuh.
“Mas Sadham,” suara Kinandaru bergetar, namun kata-katanya diucapkan dengan artikulasi yang begitu jelas, menembus kesunyian fajar yang dingin.
“Di ambang kehancuran negeri karena rezim ini, boleh ngga ya aku cintai kamu tanpa tapi?”
Kalimat itu menggantung di udara. Menghentikan waktu. Di luar sana, jutaan orang bersiap untuk perang saudara yang tak terhindarkan. Perekonomian hancur, harga diri bangsa diinjak-injak, keadilan hanyalah ilusi. Tapi di dalam ruang berukuran empat kali empat meter ini, yang tersisa hanyalah kejujuran yang paling murni.
Tanpa tapi. Tanpa memikirkan risiko bahwa mencintai seorang buronan politik berarti mengalungkan tali ke lehernya sendiri. Bunuh diri. Tanpa memikirkan bahwa mereka mungkin tidak akan punya rumah, tidak akan punya masa depan, tidak akan punya apa-apa selain satu sama lain.
Mata Sadham memerah. Air mata yang selama ini ditahannya sebagai seorang pemimpin pergerakan, akhirnya jatuh. Ia menjatuhkan ranselnya. Benda itu menghantam lantai berdebu dengan bunyi bedebuk pelan.
Sadham menarik yang lebih kecil darinya itu ke dalam dekapan, memeluk pemuda itu begitu erat seakan ia ingin menyatukan tulang rusuk mereka. Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher Kinandaru, menghirup aroma sabun batang murah dan antiseptik yang kini menjadi aroma rumah baginya.
“Boleh,” bisik Sadham dengan suara serak yang patah-patah, air matanya membasahi bahu Kinandaru. “Tolong di cintai Sadhamnya ya, Ndar. Tolong jadiin aku alasan kamu untuk bertahan hidup. Karena demi Tuhan, kamu satu-satunya alasan aku ingin terus hidup melihat hari esok.”
Kinandaru membalas pelukan itu tak kalah erat, meremas jaket hitam Sadham, menangis tanpa suara di dada bidang laki-laki jangkung itu. Mereka berdiri di sana, saling berpegangan erat di tepi jurang, menyadari bahwa meski dunia di sekitar mereka terbakar habis oleh keserakahan dan tirani, mereka telah menemukan sesuatu yang tidak bisa dirampas oleh rezim mana pun.
Pukul 14.00 WIB. Televisi tabung di sudut ruangan Kinandaru menyala, menayangkan siaran langsung berita yang disensor sebagian. Asap hitam mengepul tebal di langit Monas. Kerusuhan massal meledak. Suara tembakan dan gas air mata bersahut-sahutan.
Kinandaru duduk di lantai mengenakan scrub medisnya, mengepak tas P3K-nya dengan kassa, betadine, cairan infus, dan obat penghilang rasa sakit. Ia mengikat tali sepatunya dengan kuat.
Ia tidak lagi menunggu di ruko gelap. Jika Sadhamnya berjuang di garis depan untuk membela keadilan, maka Kinandaru akan berada di baris kedua, memastikan laki-laki yang dicintainya, dan kawan-kawan seperjuangannya, tetap bernapas.
Ia menyandang tasnya, menatap cermin sebentar, lalu memakai helm sepeda motornya.
Negara ini mungkin sedang menuju kehancurannya. Rezim mungkin akan menang hari ini, atau mungkin tumbang besok. Namun, satu hal yang pasti di benak Kinandaru saat ia memacu motornya menembus jalanan Jakarta yang dipenuhi barikade aparat:
Ia tidak lagi takut, karena cintanya tidak bersyarat. Cintanya tak kenal tapi.
Asap tebal membumbung ke udara, mengubah warna langit sore Jakarta menjadi rona jingga kemerahan yang mengerikan. Hawa panas dari sisa-sisa ban yang dibakar dan kendaraan aparat yang digulingkan massa menyapu wajah Kinandaru saat ia memarkir motornya di sebuah gang sempit di belakang Stasiun Gambir.
Jalanan menuju Medan Merdeka sudah diblokir total oleh barikade kawat berduri dan lapis baja Water Cannon. Suara gemuruh ribuan massa yang meneriakkan yel-yel perlawanan berbaur dengan rentetan tembakan peringatan yang memekakkan telinga.
Kinandaru turun dari motornya, mengencangkan tali tas medisnya. Ia memakai masker gas yang sudah dimodifikasi dan sebuah helm proyek berwarna putih dengan tanda silang merah yang ia cat semalaman. Di sekitarnya, orang-orang berlarian menjauh dari pusat konflik, wajah mereka memerah, batuk-batuk, dan tersedak oleh udara yang beracun.
“Medis! Tolong, ada yang pingsan di depan!”
Sebuah teriakan dari arah patung kuda membuat Kinandaru segera berlari menerobos arus manusia yang mundur. Ia menemukan tiga mahasiswa sedang menggotong rekan mereka yang tak sadarkan diri, pelipisnya robek dan darah mengalir deras menutupi sebelah matanya.
“Bawa ke trotoar! Jangan di tengah jalan!” perintah Kinandaru tegas, mengambil alih situasi.
Dengan cekatan, Kinandaru berlutut di atas aspal yang kasar. Ia mengeluarkan cairan saline, membersihkan luka itu dalam hitungan detik, lalu menekan kuat area yang robek dengan kassa steril tebal. Sambil membalut kepala pemuda itu, mata Kinandaru terus bergerak liar, menembus lautan manusia yang mengenakan almamater berbagai warna, pakaian sipil, dan bendera-bendera pergerakan.
Di mana kah gerangan, Mas Sadhamnya ini?
Perasaan cemas menggerogoti ulu hatinya, namun Kinandaru tahu ia tidak bisa membiarkan kepanikan menguasai dirinya. Ia adalah seorang dokter. Tangannya harus stabil, meski jantungnya bergemuruh lebih keras daripada derap langkah sepatu lars aparat.
Sore berganti malam, dan seperti yang sudah diprediksi, rezim tidak berencana untuk berkompromi. Lampu penerangan jalan di seluruh kawasan Monas tiba-tiba dipadamkan. Gelap gulita menyergap, memicu kepanikan massal. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari api unggun buatan massa, lampu sorot dari helikopter yang berputar-putar di atas kepala, dan kilatan-kilatan cahaya dari moncong senapan peluru karet.
“Maju! Jangan mundur! Mereka hanya berani dalam gelap!”
Suara itu.
Suara bariton yang selalu menggema di ruang tamunya, yang semalam berbisik parau meminta untuk dicintai. Suara itu kini menggelegar dari atas atap sebuah mobil pikap yang penyok, menembus kekacauan.
Kinandaru menoleh dengan cepat. Di bawah sorot lampu darurat yang dibawa oleh barisan depan demonstran, ia melihatnya. Mas Sadhamnya berdiri tegak, memegang megafon dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengibarkan bendera merah putih yang sudah kusam dan sobek. Kemeja hitamnya basah oleh keringat, saputangan menutupi wajahnya, namun Kinandaru bisa mengenali postur dan sorot matanya dari jarak ratusan meter. Bahkan dengan mata tertutup sekalipun.
“Mas Sadham!” Kinandaru mencoba berteriak, namun suaranya langsung tenggelam oleh bunyi ledakan flashbang yang dilemparkan ke tengah kerumunan.
Cahaya menyilaukan dan suara dengingan tinggi membuat Kinandaru terhuyung mundur, menutup telinganya. Garis depan pertahanan massa jebol. Aparat berpakaian antihuru-hara merangsek maju dengan formasi tameng, memukul mundur siapa saja yang berada di jalan mereka. Tongkat-tongkat rotan berayun tanpa ampun.
Kepanikan massal tak terhindarkan. Mobil pikap tempat Sadham berdiri berguncang hebat karena dorongan massa yang kocar-kacir.
Kinandaru memaksakan diri melawan arus manusia yang berlarian ke arah Stasiun Gambir. Ia menabrak bahu, terdorong, bahkan nyaris terinjak. “Beri jalan! Medis!” teriak orang sekitarnya, menggunakan siku dan bahunya untuk membelah lautan manusia yang ketakutan untuknya.
Di depan sana, Sadham telah melompat turun dari mobil pikap. Laki-laki itu tidak berlari mundur. Ia justru menarik kawan-kawannya yang jatuh tersandung, melindungi mereka dari pukulan aparat dengan tubuh besarnya sendiri.
“Mundur ke arah Kwitang! Evakuasi yang terluka!” teriak Sadham, suaranya mulai serak.
Sebuah batu entah dari arah mana melayang dan menghantam bahu Sadham dengan keras. Ia terhuyung, namun tidak ambruk. Tepat ketika seorang aparat dengan tameng dan tongkat bersiap menghantam kepala Sadham dari titik buta, seseorang menarik seragam aparat itu dari belakang dengan kekuatan penuh hingga ia terjungkal.
Sadham berbalik, bersiap melawan balik, namun matanya melebar saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Kinandaru berdiri dengan napas terengah-engah, tangannya yang terbalut sarung tangan lateks mencengkeram ujung tali tas medisnya. Helm putihnya sedikit miring, matanya menatap tajam dari balik kacamata pelindung.
“Kamu gila ya?!” bentak Sadham, suaranya campuran antara kemarahan, syok, dan kelegaan yang luar biasa. Ia menarik pergelangan tangan Kinadaru kasar. “Ngapain Ndar di sini?!”
“Bantu kamu lah, bodoh.” balas Kinandaru sama kerasnya, menarik Sadham agar menunduk saat gas air mata kembali ditembakkan, mendarat hanya dua meter dari posisi mereka.
Asap putih pekat langsung mengepul, membutakan pandangan dan membakar saluran pernapasan.
“Bukan waktunya, Mas. Kita harus lari dulu! Sekarang!” Kinandaru mencengkeram erat tangan Sadham. Di tengah huru-hara yang siap menelan mereka hidup-hidup, genggaman tangan Kinadaru satu-satunya jangkar yang menahan Sadham dari kenyataan yang hancur.
Mereka tidak bisa melewati jalan besar. Aparat menyisir setiap sudut, menangkap siapa pun yang dicurigai sebagai peserta demonstrasi. Kinandaru dan Sadham berlari menyusuri gang-gang sempit di kawasan Kwitang, menghindari jalan raya, dan bersembunyi di balik tumpukan sampah setiap kali ada truk patroli yang lewat.
“Ke arah sini,” bisik Sadham, menarik Kinandaru masuk ke dalam sebuah area konstruksi stasiun bawah tanah yang mangkrak sejak anggaran negara dialihkan sepenuhnya ke IKN. Pintu sengnya sudah berkarat dan terbuka setengah.
Mereka menyelinap masuk, menuruni tangga beton yang belum selesai, masuk ke dalam perut bumi Jakarta yang gelap dan berbau apak. Air menggenang setinggi mata kaki di beberapa tempat.
Begitu mereka merasa cukup jauh dari permukaan dan suara sirine terdengar sayup-sayup, langkah Sadham melemah. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding beton yang lembap, merosot perlahan hingga terduduk di tanah yang kotor. Napasnya putus-putus.
Kinandaru segera menyalakan senter kecil dari saku rompinya, mengarahkannya ke tubuh Sadham. “Di mana yang sakit? Bahunya Mas luka? Atau luka jahitan yang kemarin di pinggangmu itu kebuka lagi?”
Kinandaru menanggalkan helm dan masker gasnya, lalu berlutut di hadapan Sadham, tangannya dengan panik meraba pakaian Sadham untuk mencari sumber darah.
“Aku… aku ngga apa,” Sadham terengah, menahan tangan Kinandaru yang bergetar. “Memar aja. Ngga ada yang bocor.”
Kinandaru tidak mendengarkan. Ia menyibakkan jaket hitam Sungchan, memastikan jahitan di pinggangnya aman, lalu memeriksa bahu yang tadi terkena lemparan batu. Ada memar ungu kehitaman yang besar di sana, namun syukurlah tulang selangkanya tidak patah.
Setelah memastikan fisik Sadham relatif aman, barulah ketegangan di bahu Kinandaru runtuh. Tubuhnya gemetar hebat. Adrenalin yang sejak tadi menopangnya perlahan surut, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan apa yang baru saja mereka lewati. Jika ia terlambat satu detik saja di depan pikap tadi…
Kinandaru menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengatur napasnya yang tidak beraturan. Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan besar menangkup bagian belakang kepalanya, menarik Kinandaru ke depan hingga dahinya bersandar pada bahu Sadham yang tidak terluka.
“Maaf ya,” bisik Sadham parau. Jemarinya membelai rambut Kinandaru yang lepek oleh keringat. “Maafin aku karena udah bikin kamu harus terseret ke neraka ini.”
Kinadaru menggeleng pelan, menggesekkan wajahnya pada kerah kemeja Sadham yang berbau asap dan debu. “Kan udah Ndaru bilang? Di ambang kehancuran pun, aku bakal tetap milih ada di sini.”
Sadham menelan ludah dengan susah payah. Di dalam terowongan beton yang dingin dan gelap ini, bersembunyi layaknya tikus dari kejaran negara sendiri, Sadham menemukan sesuatu yang terasa lebih besar dari revolusi yang ia teriakkan di jalanan.
Ia memiringkan wajahnya, mencari bibir Kinandaru dalam kegelapan. Saat bibir mereka bertemu, tidak ada lagi keputusasaan seperti ciuman mereka semalam. Kali ini, ciuman itu dipenuhi oleh rasa syukur, bahwa mereka berdua masih hidup, bahwa mereka berhasil selamat dari malam paling mematikan dalam sejarah rezim ini.
Kinandaru merespons dengan sama menggebunya. Tangannya naik, melingkari leher Sadham, menarik tubuh besar itu mendekat hingga tidak ada jarak tersisa di antara mereka. Di tengah kota yang sedang meregang nyawa, detak jantung mereka menjadi satu-satunya melodi kehidupan yang tersisa.
Malam berlalu dengan lambat. Mereka tidak berani keluar dari terowongan hingga fajar benar-benar menyingsing. Kinandaru menggunakan sisa persediaan medisnya untuk mengompres memar Sadham dan membersihkan luka gores di tangannya sendiri.
Mereka duduk bersisian di atas sepotong papan kayu, berbagi sebotol air mineral yang tersisa di tas Kinandaru.
“Kita ngga bisa balik ke Cikini,” kata Sadham memecah keheningan. Matanya menatap lurus ke dalam kegelapan terowongan. “Tempatnya pasti sudah digerebek abis mereka ngidentifikasi wajah aku di aksi tadi. Apartemen kamu jadi ngga lagi aman...”
Kinandaru bersandar pada bahu Sadham, merasakan kehangatan yang menjalar. “Lalu kita ke mana ya? Jakarta sudah dikunci. Akses keluar masuk provinsi juga diperketat.”
“Ada kawan di serikat buruh pelabuhan Tanjung Priok. Mereka punya rute kapal kargo ilegal yang biasa mereka pake buat nyelundupin logistik,” Sadham menoleh menatap Kinandaru. “Kita bisa pergi ke Sumatra. Atau mungkin nyeberang lebih jauh. Mulai hidup baru. Tinggalin identitas ini.”
Meninggalkan semuanya. Berarti meninggalkan karir Kinandaru sebagai dokter, perjuangan Sadham, keluarga, juga identitas mereka. Berhenti menjadi warga negara dari sebuah negeri yang tidak lagi menginginkan mereka hidup.
Kinandaru menatap tangan Sadham yang menggenggam tangannya erat. Tangannya kasar, kapalan, tangan seseorang yang telah mengorbankan masa mudanya untuk melawan ketidakadilan.
“Kamu siap, Mas? Berhenti jadi Gala Juang Sadhamalik sang pahlawan reformasi?” tanya Kinandaru pelan.
Sadham tersenyum getir. “Hahahahah aku mah bukan pahlawan, Ndar. Pahlawan itu mitos. Aku cuma pemuda bodoh yang marah. Dan semalam, pas aku lihat kamu menerjang tameng aparat cuma buat narik aku… aku sadar. Kalo aku mati di jalanan, negara ini mungkin ngga akan berubah juga, tapi duniamu yang akan hancur. Ternyata aku ngga sanggup Ndar, ngehancurin dunia orang yang aku kasihi.”
Sadham memutar tubuhnya, menatap Kinandaru sepenuhnya. Di bawah cahaya senter yang mulai meremang kehabisan baterai, wajah Sadham terlihat sangat serius.
“Kamu bilang berani mencintaiku tanpa tapi,” ucap Sadham, suaranya merendah, bergetar oleh emosi yang mendalam. “Jadi hari ini, gantian izinin aku bersumpah di depan kamu. Di bawah reruntuhan kota ini, aku akan kasihi kamu lebih dari aku kasihi ideologiku sendiri. Ke mana pun Kinadaruku pergi, sekalipun itu di pengasingan, di kapal kargo yang sempit, atau di tempat asing yang tidak kita kenal bahasanya… itu akan menjadi negaraku.”
Mata Kinandaru memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga. Ia tersenyum, sebuah senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan sejak krisis melanda negara ini.
“Kamu puitis banget untuk ukuran seorang buronan,” isak Kinandaru pelan sambil tertawa kecil.
Sadham ikut tertawa, mengusap air mata Kinandaru dengan ibu jarinya, sebelum menarik pemuda itu ke dalam pelukan yang hangat dan aman.
Cahaya matahari pagi perlahan menembus dari celah-celah ventilasi konstruksi, menciptakan garis-garis cahaya yang menembus debu tebal di udara. Di atas sana, sayup-sayup terdengar suara sapu lidi petugas kebersihan jalan yang membersihkan puing-puing sisa kerusuhan. Kehidupan Jakarta yang keras dan apatis mulai kembali berjalan, seolah darah yang tumpah semalam hanyalah mimpi buruk belaka.
Namun bagi Kinandaru dan Sadham, segalanya telah berubah.
Rezim mungkin masih berkuasa. Harga beras mungkin masih selangit. Orang-orang miskin mungkin masih digusur untuk pembangunan gedung-gedung beton yang kosong. Penindasan belum berakhir, dan perlawanan dalam bentuk lain akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu.
Namun pagi ini, mereka tidak lagi bertarung untuk mati sebagai martir. Mereka bertarung untuk hidup.
Kinandaru berdiri, mengulurkan tangannya ke arah Sadham. “Ayo. Kita punya pelabuhan yang harus dituju.”
Sadham menatap tangan itu sejenak, lalu meraihnya dengan keyakinan yang matang. Ia bangkit, menyandang ranselnya yang tersisa, dan berjalan berdampingan dengan Kinandaru menyusuri terowongan menuju cahaya di ujung tangga.
Di ambang kehancuran sebuah negeri yang tidak lagi mengenal keadilan, dua manusia memilih untuk saling menyelamatkan. Cinta mereka mungkin tidak akan tercatat dalam buku sejarah pergerakan nasional, namun cinta itu akan menjadi satu-satunya kebenaran yang akan terus mereka bawa, ke mana pun kaki mereka melangkah.
Tiga hari dalam pelarian mengubah Sadham dan Kinandaru menjadi bayangan.
Jakarta telah resmi ditetapkan dalam status Darurat Sipil. Layar-layar digital raksasa di sepanjang jalan protokol yang biasanya menampilkan iklan-iklan produk kecantikan atau properti mewah di IKN, kini didominasi oleh satu wajah: GALA JUANG SADHAMALIK. Di bawah fotonya tertera tulisan kapital berwarna merah menyala: DPO – PEMBERONTAK NEGARA. IMBALAN RP 180 JUTA.
Bagi rakyat yang kelaparan dan putus asa akibat inflasi, angka yang jauh dari setengah miliar itu merupakan jaminan hidup untuk bertahun-tahun. Sadham tidak lagi hanya diburu oleh aparat, tetapi juga oleh mata-mata sipil yang tergiur hadiah.
Mereka bersembunyi di bak belakang sebuah truk sayur tua yang disopiri oleh seorang simpatisan pergerakan. Bau kubis busuk dan tanah basah menyengat hidung, namun itu adalah harga yang murah untuk sebuah perjalanan rahasia menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
“Dingin?” tanya Sadham, merangkul bahu Kinandaru yang gemetar di tengah perjalanan malam yang berangin.
Kinandaru menggeleng, menyandarkan kepalanya di dada Sungchan. Ia bisa mendengar detak jantung laki-laki itu, ritmis, kuat, seolah meyakinkan Kinandaru bahwa selama jantung itu masih berdetak, segalanya akan baik-baik saja.
“Kalau kita sampai di Sumatra, aku kayaknya bakal ngelamar kerja di klinik kecil di pedesaan,” gumam Kinandaru, matanya menatap langit malam yang terpotong oleh terpal truk yang berkibar. “Kamu nanti bisa bantu-bantu aku racik obat, Mas. Kita ngga perlu lagi peduli siapa presidennya atau berapa harga saham hari ini.”
Sadham tersenyum di dalam kegelapan. Ia mengecup puncak kepala Kinandaru. “Nanti di surga seperti itu kali ya, Dokter Kinandaru? Aku kayaknya juga akan tanam sayuran yang banyak biar kamu ngga perlu lagi makan mi instan tanpa telur setiap hari.”
Mereka merajut angan, membangun istana pasir di atas ombak yang ganas. Di tengah kelelahan fisik yang mendera, harapan adalah satu-satunya candu yang membuat mereka tetap terjaga.
Namun, mereka lupa bahwa dalam negara yang dikuasai tiran, harapan adalah barang mewah yang tidak boleh dimiliki oleh kaum marjinal.
Pukul 02.15 WIB. Truk berhenti di sebuah area bongkar muat peti kemas yang sepi di sektor utara Pelabuhan Tanjung Priok. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam, oli mesin, dan karat. Suara deru ombak dan dengungan mesin crane dari kejauhan menjadi latar suara yang mencekam.
Kinandaru dan Sadham turun dengan hati-hati. Di sela-sela labirin kontainer raksasa, sesosok pria berkaus jingga kumal berdiri menanti mereka. Ia adalah Panduadji, kawan lama Sadham di serikat buruh pelabuhan.
“Dji,” panggil Sadham dengan nada lega, berjalan mendekat dan memberikan pelukan khas kawan seperjuangan.
Namun, Panduadji tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku. Matanya gelisah, melirik ke kiri dan ke kanan, menghindari kontak mata dengan Sadham apalagi Kinandaru.
“Kapalnya sudah siap? Yang rute ke pesisir Lampung kan, mas bro?” tanya Sadham, belum menyadari kejanggalan tersebut.
Panduadji menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya meski angin malam berhembus kencang. “Gal… maaf. Anakku… anakku butuh mesin cuci darah bulan ini, dan asuransinya dicabut pemerintah…”
Langkah Kinandaru terhenti. Darahnya berdesir hebat. Insting bertahannya langsung menyala merah. “Mas Sadham, mundur!” teriak Kinandaru refleks.
Kata maaf yang Panduadji layangkan ternyata sebuah aba-aba.
Lampu sorot dari empat sudut kontainer menyala serentak, membutakan pandangan mereka. Suara derap sepatu bot berat yang bergesekan dengan beton menggema dari segala arah. Puluhan aparat berseragam hitam taktis tanpa badge nama, pasukan algojo bayangan rezim, muncul dari balik bayang-bayang, mengepung mereka dengan moncong senapan serbu laras panjang yang sudah dikokang.
“Target terkonfirmasi. Jangan biarkan dia hidup,” sebuah suara dingin terdengar dari alat komunikasi radio aparat.
Panduadji telah berlari menjauh, menghilang ditelan kegelapan, membawa serta harga nyawa kawannya demi pengobatan sang anak. Di negeri yang hancur, kemiskinan berhasil membunuh loyalitas pertemanan.
Tidak ada negosiasi. Tidak ada tembakan peringatan. Rezim tidak menginginkan persidangan yang akan mengubah Sadham menjadi martir di mata publik, mereka menginginkan mayatnya membusuk sebagai peringatan.
“LARI, KINAN!”
Sadham mendorong tubuh Kinandaru dengan kekuatan penuh hingga pemuda itu terjerembap keras ke celah sempit di antara dua kontainer yang gelap, tepat saat tembakan pertama meletus.
Kembang api mematikan menyala di kegelapan pelabuhan. Sadham tidak mencoba lari untuk menyelamatkan dirinya. Sebaliknya, ia mencabut sebatang pipa besi bekas dari tanah dan menerjang ke arah barisan aparat, sengaja menarik seluruh tembakan ke arahnya agar mereka tidak menyadari keberadaan cinta kasihnya.
“MAS SADHAM!” jerit Kinandaru dari sela-sela kontainer. Tangannya mencengkeram ujung beton hingga kuku-kukunya berdarah. Ia mencoba merangkak keluar, namun rentetan peluru yang menghantam badan kontainer memaksanya menunduk.
Ia melihatnya. Di bawah cahaya lampu sorot yang kejam, Kinandaru melihat tubuh besar yang selalu memeluknya itu ditembus peluru.
Satu peluru bersarang di bahu kiri Sadham. Laki-laki itu terhuyung, namun masih mengayunkan pipa besinya, menghantam rahang salah satu aparat hingga tumbang.
Peluru kedua menembus paha kanannya. Sadham jatuh berlutut, napasnya memburu, matanya memerah karena amarah dan rasa sakit. Aparat tidak langsung membunuhnya, mereka mendekat perlahan, menikmati jatuhnya sang singa podium.
Seorang komandan pasukan melangkah maju. Tanpa sepatah kata pun, ia mengayunkan popor senapannya dengan brutal ke wajah Sadham. Tubuh Sadham terjerembap ke aspal. Berkali-kali, tendangan berlapis sepatu laras baja menghantam rusuk, perut, dan punggungnya. Darah segar memercik, menodai aspal pelabuhan yang dingin.
Kinandaru menggigit lengannya sendiri kuat-kuat untuk meredam jeritan histerisnya. Air matanya mengalir deras, merobek hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil. Dirinya itu dokter. Dirinya tahu pasti kerusakan anatomi yang sedang terjadi pada tubuh laki-laki jangkung yang dicintainya. Setiap hantaman itu menghancurkan organ dalamnya.
“Habisi,” perintah sang komandan singkat.
Sang komandan mengarahkan laras senapannya tepat ke dada Sadham yang sudah tak berdaya.
Dua peluru terakhir menembus dada kiri Sadham. Tubuh besar itu tersentak ke belakang, sebelum akhirnya terdiam, tergeletak dalam genangan darahnya sendiri.
“Target dilumpuhkan. Bersihkan area dan ambil fotonya untuk laporan pimpinan. Masukan fotonya kedalam poster poster selebaran juga, dan tinggalkan jasadnya di sini sebagai peringatan,” instruksi sang komandan. Pasukan hitam itu memotret jasad Sadham kilat, lalu berbalik dan pergi, menghilang ke dalam kegelapan seperti iblis yang kembali ke neraka.
Begitu derap langkah aparat tak lagi terdengar, Kinandaru merangkak keluar dari persembunyiannya. Kakinya seolah tak bertulang. Ia terseok-seok, jatuh berkali-kali di atas aspal yang kasar, hingga akhirnya ia sampai di sisi tubuh Sadham.
“Engga… engga mas, engga, engga, Tuhan, ngga mungkin…” Kinandaru meracau panik.
Tangannya yang gemetar membuka tas medisnya yang kotor. Ia mengeluarkan kassa, berusaha menekan lubang tembakan di dada Sadham. Darah merembes terlalu cepat, terlalu banyak. Cairan merah pekat itu membanjiri jari-jari Kinandaru, menggenang di lututnya.
“Mas Sadham! Lihat kinan! Mas!” jerit Kinandaru, suaranya serak dan pecah. Ia memompa dada Sadham dengan CPR, menulikan telinganya pada suara tulang rusuk Sadham yang patah di bawah tekanan tangannya. “Kita mau ke Sumatra! Mas udah janji sama aku! Mas Sadham udah janji sama Kinan…”
Perlahan, kelopak mata Sadham bergetar. Ia menatap wajah Kinandaru yang berantakan oleh air mata dan darah. Napas Sadham hanyalah gelembung-gelembung darah di tenggorokannya. Batuk kecil lolos dari bibirnya, membawa serta aliran darah segar dari sudut mulutnya.
Dengan sisa tenaga terakhir yang asalnya dari luapan sayang untuk cinta kasihnya, Sadham mengangkat tangan kanannya yang berlumuran darah. Tangannya yang bergetar hebat menyentuh pipi Kinandari yang basah.
Kinandari menghentikan CPRnya, menggenggam tangan besar Mas Sadhamnya yang kini terasa begitu dingin, menekankannya ke pipi sendiri.
“Jangan tinggalin aku… aku ngga bisa mas, Kinan ngga bisa hidup di dunia ini tanpa Mas Sadham…” isak Kinandaru, menempelkan dahinya pada dahi Sadham.
Sadham tersenyum. Senyum yang begitu tipis, namun di mata Kinandaru, senyum itu menjadi hal paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah dirinya lihat. Pandangan Mas Sadhamnya mulai meredup, namun fokusnya tidak pernah lepas dari mata Kinandaru.
“Ndaru… Kinan, Kinandaru…” suara Sadham hanyalah bisikan angin yang bergesekan dengan cairan di paru-parunya. “Di ambang… kehancuran ini…”
Kinandaru menggeleng kuat-kuat. “Sssh, Mas ngga boleh ngomong. Simpen tenaganya Mas. Aku mau jahit luka-luka Mas. Aku bisa, Kinan bisa selamatin Mas lagi kali – “
“…terima kasih… sudah mencintai aku…” napas Sadham tercekat sejenak, dadanya turun dengan lambat, “…tanpa… tapi.”
Mata Sadham tetap terbuka, menatap mata Kinandaru, namun cahayanya telah padam. Dada yang sebelumnya menjadi tempat Kinandaru bersandar itu berhenti bergerak. Tangan yang mengusap pipi Kinandaru terkulai lemas, jatuh menghantam aspal.
“Mas Sadham?” panggil Kinandaru lirih.
Hening. Hanya suara ombak yang menghantam beton pelabuhan.
“Mas Sadham. Mas Sadham, bangun. Mas ah… ngga lucu mainnya... Mas… Hiks – bangun yuk…” racau Kinandaru sembari mengguncang bahu laki-lakinya itu.
Namun realitas menamparnya dengan brutal. Dokter Saka Karsa Kinandaru, yang telah menyelamatkan ratusan nyawa pendemo dari gas air mata dan peluru karet, gagal menyelamatkan satu-satunya nyawa yang menjadi alasan detak jantungnya sendiri masih ada sampai saat ini.
Jeritan putus asa Kinandaru memecah keheningan malam di Tanjung Priok. Tangisan yang begitu panjang, melolong seperti hewan yang terluka parah. Ia memeluk jasad Sadham yang berlumuran darah, membenamkan wajahnya di leher laki-laki itu, mencium rahangnya yang dingin, menangisi dunia yang baru saja kiamat baginya.
Negara ini belum sepenuhnya hancur, namun Kinandaru sudah mati malam itu bersama Kekasih Hatinya.
Jakarta, Desember 2029.
Hujan turun rintik-rintik membasahi kaca jendela sebuah klinik kecil yang tersembunyi di kawasan padat penduduk di pesisir utara. Di dalam, seorang dokter muda dengan wajah yang selalu terlihat lelah sedang membalut luka bakar di lengan seorang buruh pabrik.
Mata dokter itu kosong, seolah jiwanya tertinggal di suatu tempat, di masa lalu.
“Terima kasih, Dokter Saka,” ucap buruh itu pelan. “Kami rakyat kecil tidak tahu harus berobat ke mana lagi sejak tarif rumah sakit dinaikkan sampai tidak masuk di akal.”
Kinandaru hanya mengangguk pelan, membereskan peralatannya tanpa ekspresi. “Jaga lukanya tetap kering ya pakde,” ucapnya monoton.
Setelah pasien itu pergi, Kinandaru berjalan ke ruang belakang kliniknya yang sempit. Ia duduk di atas kursi plastik tua. Di atas meja kerjanya, tidak ada foto keluarga atau pajangan indah. Hanya ada sebuah saputangan hitam yang sudah dicuci bersih, namun noda darah yang memudar di serat kainnya tidak akan pernah bisa di hilangkan.
Di luar sana, rezim masih berkuasa. Demo masih sesekali terjadi meski seringkali terbungkam dengan cepat. Wajah Sadham telah diturunkan dari papan reklame DPO, digantikan oleh berita kemenangan pemerintah melawan “kelompok separatis”. Dunia terus berputar, melupakan darah yang tertumpah di aspal Tanjung Priok.
Kinandaru mengambil saputangan hitam itu, menggenggamnya erat di depan dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh seperti rutinitas yang ia lakukan setiap malam sebelum tidur.
Dirinya masih hidup. Dirinya bertahan, bukan karena dirinya takut mati, melainkan karena ia adalah satu-satunya saksi yang tersisa atas seorang pahlawan tanpa nama yang mati di pelukannya. Ia membawa ingatan tentang Gala Juang Sadhamalik di setiap hela napasnya.
Di ambang kehancuran negeri ini, Kinandaru masih mencintainya. Selamanya.
Tapi ada jenis kegelapan yang tidak bisa diusir oleh cahaya lampu neon 15 watt di langit-langit klinik. Kegelapan itu tidak datang dari luar, melainkan merembes keluar dari dalam pori-pori kulit Kinandaru, memenuhi ruangan kecil di belakang klinik daruratnya hingga terasa sesak.
Malam itu, hujan bulan Desember turun luar biasa lebat di pesisir Jakarta Utara. Air laut pasang, membuat got-got di depan klinik meluap, membawa bau sampah dan air payau. Namun, hidung Kinandaru sudah mati rasa. Sejak malam di Tanjung Priok itu, indra penciumannya terkunci pada satu aroma: bau besi dari darah yang mengental di atas aspal dingin.
Kinandaru duduk di lantai kamar mandi klinik yang beralaskan semen kasar. Lampu tidak dinyalakan. Ia sengaja membiarkan dirinya tenggelam dalam gulita, hanya ditemani kilatan petir yang sesekali menembus celah ventilasi.
Di hadapannya, di atas lantai yang basah, terletak sebuah instrumen bedah yang sangat ia kenal: scalpel, pisau bedah bernomor 10 dengan bilah baja karbon yang baru saja ia ganti. Pisau itu berkilat setiap kali petir menyambar. Begitu bersih. Begitu tajam.
Tangannya yang kurus, yang kini bergetar tanpa henti akibat tremor psikologis yang dideritanya sejak enam bulan lalu, terulur menyentuh gagang logam pisau tersebut.
Kinandaru menyingkap lengan baju scrub medisnya yang berwarna biru legam yang agak sedikit pudar. Di bawah cahaya temaram yang minim, kulit pergelangan tangannya terlihat pucat, hampir transparan, memperlihatkan jalur-jalur urat nadi hijau kebiruan yang berdenyut ritmis. Denyut itu terasa seperti ejekan baginya. Sebuah pengingat bahwa tubuhnya menolak untuk mati, meskipun jiwanya sudah dikubur di liang lahat tanpa nisan bersama sang kekasih.
Ia menempelkan bilah pisau yang dingin itu di atas kulitnya.
Hanya perlu satu tekanan yang presisi, pikir Kinandaru. Sebagai dokter, ia tahu persis sudutnya. Ia tahu seberapa dalam ia harus mengiris arteri radialis agar kesadarannya hilang dalam hitungan menit tanpa rasa sakit yang berkepanjangan. Ia tahu cara mengosongkan rumah yang bernama tubuh ini dari jiwa Kinandaru.
Kinandaru memejamkan mata. Jemarinya mulai menekan gagang pisau. Ujung bilah yang runcing mulai merobek lapisan epidermisnya. Rasa perih yang tajam menyengat kesadarannya, namun anehnya, rasa sakit fisik itu justru membawa sejenis kelegaan yang mengerikan. Untuk beberapa detik, rasa sakit di pergelangan tangannya mampu meredam rasa sakit yang membakar di dadanya.
Satu tetes darah merah pekat keluar, perlahan mengalir menyusuri lengannya, persis seperti aliran darah Sadham malam itu.
Suara petir yang menggelegar di luar tiba-tiba terdengar seperti letusan senapan laras panjang di telinga Kinandaru. Tubuhnya tersentak hebat. Kilas balik malam pengkhianatan itu menghantam otaknya seperti gada besi.
Ia kembali berada di labirin kontainer. Ia kembali mencium bau garam. Ia kembali melihat tubuh besar cinta kasihnya tersungkur, dihujani timah panas, dan bagaimana tangan besar yang dingin itu mengusap pipinya untuk terakhir kali.
“…terima kasih… sudah mencintaiku… tanpa… tapi.” Katanya.
Bisikan terakhir Sadhamalik terngiang begitu nyata di pelipisnya, mengalahkan gemuruh badai di luar.
Kinandaru terengah-engah. Pisau bedah di tangannya terlepas, berdenting keras saat menghantam lantai semen kliniknya. Ia menarik lengannya menjauh, mencengkeram luka gores kecil yang baru saja ia buat. Darah merembes di sela-sela jarinya, tapi belum. Luka itu belum cukup untuk memisahkan jiwa Kinandaru dari sangkarnya.
Kinandaru ambruk, menyandarkan dahinya di atas lutut yang ditekuk, menangis histeris hingga dadanya berguncang hebat.
Ia menyadari sesuatu yang lebih kejam dari kematian itu sendiri: Sadham mati agar Kinandaru bisa hidup. Sadhamalik sengaja memancing semua peluru malam itu, menyerahkan nyawanya sendiri sebagai tebusan agar Kinandaru tidak berakhir di dalam kantong mayat. Jika malam ini Kinandaru mengakhiri hidupnya di lantai kamar mandi yang kotor ini, maka pengorbanan Sadham, darah yang membanjiri aspal Tanjung Priok, dan kata-kata terakhir laki-laki itu akan menjadi sia-sia.
Kematian Sadham adalah sebuah utang kehidupan yang harus Kinandaru bayar, seberapa pun hancurnya ia harus menjalani hari-hari itu.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan napas yang patah-patah, Kinandaru merangkak mendekati wastafel. Ia menyalakan kran air, membiarkan air dingin membasuh darah di pergelangan tangannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak di atas wastafel.
Wajah di cermin itu hampir tidak ia kenali. Matanya cekung dan merah, tulang pipinya menonjol tajam, dan ada kekosongan yang mengerikan di dalam manik matanya. Namun, di balik semua kerapuhan itu, ada sebersit sisa amarah yang ditinggalkan Sadham di dalam dirinya.
Rezim ini telah merenggut segalanya dari mereka. Merenggut masa depan mereka, merenggut cinta mereka, dan merenggut nyawa kekasihnya.
“Aku ngga akan ngebiarin mereka menang dua kali,” bisik Kinandaru pada pantulannya sendiri. Suaranya tidak lagi bergetar. Goresan di tangannya terasa perih saat terkena air, namun perih itu kini menjadi pengingat bahwa ia masih bernapas, masih memiliki tugas.
Kinandaru keluar dari kamar mandi, berjalan lambat menuju meja kerjanya. Goresan kecil di tangannya ia balut dengan sepotong kassa steril secara asal. Ia mengambil saputangan hitam milik Sadham yang selalu tersimpan di laci paling atas.
Ia mengusap noda darah yang telah mengering di kain tersebut menggunakan jemarinya.
Malam itu, di ambang kehancurannya sendiri, Kinandaru memilih untuk tidak menyerah pada pisau bedah. Jika hidup adalah satu-satunya cara untuk menjaga agar nama kekasihnya tidak lenyap ditelan sejarah palsu yang ditulis oleh tiran, maka Kinandaru akan hidup seribu tahun lagi dalam luka ini.
Ia melangkah ke jendela klinik, menatap lurus ke arah jalanan Jakarta Utara yang gelap dan diguyur hujan deras. Di luar sana, lampu-lampu kota berkedip lemah, mencerminkan sebuah negeri yang sedang sekarat.
Kinandaru mengikatkan saputangan hitam itu di pergelangan tangan kirinya, tepat di atas luka gores yang baru saja ia buat, menutupi tanda kelemahannya dengan simbol perlawanan kekasihnya.
Di tahun 2029 ini, setelah badai kerusuhan besar yang merenggut nyawa Sadhamalik, kota ini bertransisi menjadi distopia beton yang sunyi. Tirani tidak lagi menggunakan peluru karet di siang bolong, mereka beralih ke algoritma, pembungkusan narasi, dan sensor digital yang ketat. Di buku-buku sejarah sekolah baru dan portal berita resmi, nama Gala Juang Sadhamalik dicatat sebagai “pimpinan sel terorisme maritim yang tewas dalam operasi penertiban pelabuhan”.
Rezim mencoba menghapus kemanusiaan Sadham, menjadikannya sekadar angka statistik kriminalitas.
Namun, di sudut utara Jakarta yang luput dari lampu sorot pembangunan, Kinandaru menolak membiarkan sejarah palsu itu menang.
Klinik kecilnya kini berubah fungsi. Di siang hari, tempat itu tetaplah sebuah tempat pengobatan murah untuk kaum buruh dan nelayan. Namun di malam hari, setelah pintu besi ruko ditutup rapat, ruang belakang klinik itu bertransformasi menjadi ruang redasi bawah tanah.
Sebuah mesin cetak stensil usang, yang dibeli Kinandaru dari pasar loak menggunakan sisa tabungannya, diletakkan di sudut ruangan. Aroma antiseptik kini bercampur dengan aroma pekat tinta hitam dan kertas buram.
Kinandaru duduk di depan mesin ketik manual. Penggunaan komputer atau internet terlalu berisiko, patroli siber pemerintah mampu melacak alamat IP dalam hitungan menit. Tangan kiri Kinandaru, yang pergelangan tangannya masih terikat erat oleh saputangan hitam milik sang belahan jiwa, bergerak lincah menekan bilah-bilah huruf besi.
WARTA PEMBEBASAN – EDISI 04
Mengingat 180 Hari Tragedi Tanjung Priok: Gala Juang Sadhamalik Bukan Teroris.
Ditulis oleh: Saksi Mata.
Dia tidak membawa senjata api. Dia tidak membawa bom. Yang dia bawa malam itu adalah harapan sepotong roti yang murah untuk anak-anak pelabuhan, dan sebuah mimpi tentang Indonesia yang tidak dikuasai oleh sepuluh keluarga oligarki. Mereka menembaknya lima kali di dada karena mereka takut pada suaranya…
Kinandaru berhenti mengetik. Ia menarik napas panjang, meresapi rasa perih yang entah bagaimana selalu muncul di dadanya setiap kali ia mengeja nama itu. Ia mengusap kain hitam di pergelangan tangannya.
“Aku sedang menulis bagianmu yang menyukai sayuran, Mas,” bisik Kinandaru pada keheningan malam. “Agar mereka tahu kalo kamu juga manusia biasa yang bisa tertawa, bukan cuma patung perlawanan.”
Setiap pukul tiga pagi, sebelum para pencari kerja mengantre di halte-halte busway dan buruh pabrik mulai memadati pelabuhan, Kinandaru akan keluar mengenakan jaket hoodie longgar dan masker medis. Di dalam tas ransel besarnya, bukan lagi obat-obatan yang mendominasi, melainkan ratusan lembar pamflet kertas buram yang baru selesai dicetak.
Ia bergerak seperti hantu di antara bayang-bayang tiang pancang proyek mangkrak. Dengan cekatan, ia menempelkan lembaran-lembaran kertas itu di dinding pasar, di tiang listrik, di bawah wiper kaca mobil yang parkir, hingga menyelipkannya di dalam tumpukan koran resmi pemerintah yang siap diedarkan.
Ia menjadi penyelundup kebenaran.
Suatu pagi, di sebuah warung kopi kecil dekat pangkalan kontainer, Kinandaru sengaja duduk di pojok sambil memesan kopi hitam pahit, kebiasaan Mas Sadham yang kini menular padanya. Dari balik maskernya, ia mengamati seorang buruh pelabuhan tua berkulit legam yang sedang membaca salah satu pamflet buatannya yang tertinggal di meja.
“Eh, lihat ini,” kata buruh tua itu pada temannya, menunjuk tulisan Kinandaru. “Ini cerita tentang anak muda yang ditembak di dermaga utara waktu itu. Di sini ditulis dia anak mahasiswa hukum yang bela kita soal uang pensiun.”
“Ah, masa pak? Di TV dia lho dibilang penyelundup senjata dari luar negeri,” sahut temannya skeptis.
“TV itu punya menantunya menteri, bodoh!” sergah si buruh tua. “Aku inget banget malam itu. Anak ini sering bagi-bagi nasi bungkus di sini. Tulisan ini bener loh pak. Dia orang baik. Rezim bajingan itu berani sekali memelintir secara terang terangan sekarang.”
Mendengar percakapan itu, tangan Kinandaru yang memegang cangkir kopi berhenti bergetar. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, seberkas cahaya hangat menyusup ke dalam hatinya yang beku.
Tulisan-tulisannya bekerja. Ingatan tentang Sadhamalik tidak mati. Nama itu tetap hidup di dalam kepala orang-orang yang tertindas, berbisik dari mulut ke mulut seperti api dalam sekam yang siap membakar jerami kering kapan saja.
Desember 2029 hampir berakhir, membawa Jakarta masuk ke musim penghujan yang lebih dingin dari biasanya.
Malam itu, Kinandaru berjalan menuju area Pelabuhan Tanjung Priok. Lokasi pengkhianatan itu kini telah dipagari seng tinggi, dijaga oleh pos polisi baru untuk memastikan tidak ada demonstran yang membuat tempat peringatan. Namun, Kinandaru tahu setiap celah di pelabuhan ini. Ia telah menghafal jalurnya dengan air mata dan darah.
Ia menyelinap di antara celah pagar seng, berjalan lambat di atas aspal beton yang kini sudah bersih dari noda darah. Di titik persis di mana Sadhamalik mengembuskan napas terakhirnya, Kinandaru berlutut.
Ia tidak membawa bunga. Rezim jelas akan membersihkannya di pagi hari.
Kinandaru membuka ikatan saputangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Di bawah cahaya bulan yang tertutup awan mendung, bekas luka goresan pisau bedah enam bulan lalu terlihat memudar, membentuk sebuah garis putih horizontal yang permanen di kulitnya. Sebuah cacat fisik yang indah.
Ia meletakkan telapak tangan kanannya di atas aspal yang dingin, lalu mengecup kain hitam milik Mas Sadham sebelum mengikatnya kembali dengan kuat.
“Mereka lagi lagi nyoba buat ngubur kamu di bawah kebohongan, Mas,” ucap Kinandaru, suaranya terdengar tegap menantang angin laut yang kencang. “Tapi mereka lupa, kamu kan benih ya, Mas. Semakin dalam mereka ngubur kamu, semakin banyak kamu tumbuh di kepala orang-orang kecil.”
Kinandaru berdiri. Ia menatap ke arah laut lepas, di mana kapal-kapal kargo besar bersiap berlayar menembus ombak malam.
Ia tahu bahaya selalu mengintainya. Suatu hari nanti, intelijen rezim mungkin akan menemukan mesin stensilnya. Suatu hari nanti, ia mungkin akan bernasib sama dengan Mas Sadhamnya, diseret ke dalam kegelapan dan dihilangkan. Namun, rasa takut itu telah lenyap dari kamus hidup Kinandaru.
Selama ia masih bisa memegang pena, selama jemarinya masih bisa menekan bilah mesin ketik, dan selama jantungnya masih berdetak, sejarah palsu yang ditulis oleh para tiran tidak akan pernah menjadi kebenaran.
Kinandaru berbalik, berjalan meninggalkan pelabuhan dengan langkah yang pasti, kembali menuju laboratorium perlawanannya di utara kota. Negara ini boleh saja berada di ambang kehancuran total, namun di dalam diri Kinandaru, Gala Juang Sadhamalik dan cintanya abadi.
Namun, ketika selebaran Warta Pembebasan mulai ditemukan di kantong-kantong buruh, di sela-sela mesin pabrik, hingga di toilet stasiun, kementerian keamanan dalam negeri tidak lagi menganggapnya sebagai riak kecil. Narasi tandingan yang ditulis Kinandaru mulai mengikis legitimasi sejarah yang mereka bangun dengan susah payah.
Aparat berengsek bergerak dalam senyap. Mereka tidak lagi menyisir jalanan, melainkan mengumpulkan setiap lembar pamflet kertas buram yang berhasil mereka sita.
Di sebuah laboratorium forensik bawah tanah di kawasan Jakarta Pusat, lembaran-lembaran fanzine itu diletakkan di bawah lampu ultraviolet. Teknologi pemindai sidal jari tingkat lanjut dikerahkan. Meski Kinandaru selalu memakai sarung tangan lateks saat menempelkan pamflet di jalanan, ia melakukan satu kecerobohan fatal karena kelelahan: ia memegang kertas-kertas kosong itu dengan tangan telanjang saat memasukannya ke dalam mesin cetak stensil di kamarnya.
BEEP.
Layar monitor forensik menampilkan kecocokan 99,9%.
IDENTITAS TERKONFIRMASI:
Nama: Saka Karsa Kinandaru
Profesi: Eks-Residen Medis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (Status: Buron/Non-Aktif)
Catatan Sipil: Terakhir terlihat di kawasan Cikini, diduga memiliki hubungan dekat dengan DPO Gala Juang Sadhamalik.
“Tikusnya udah ketangkep bos,” ujar seorang perwira tinggi, mematikan cerutunya di atas meja. “Habisi malam ini. Jangan ada kebisingan. Buat seolah-olah ini kecelakaan atau bunuh diri akibat depresi ditinggal kekasih.”
Mei 2030. Tepat satu tahun sejak aroma gas air mata pertama kali mempertemukan mereka di Semanggi.
Malam itu, hujan tipis mengguyur pesisir Jakarta Utara. Kinandaru baru saja selesai merawat seorang anak nelayan yang menderita demam berdarah. Tubuhnya luar biasa lelah. Berat badannya menyusut drastis dalam beberapa bulan terakhir, ia hampir tidak pernah makan dengan layak, menyisihkan seluruh uangnya untuk membeli tinta cetak.
Ia duduk di kursi plastiknya, menatap mesin ketik manual di hadapannya. Saputangan hitam milik Sadhamalik masih terikat erat di pergelangan tangan kirinya, menutupi bekas luka horizontal yang telah mengering.
Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh suara langkah kaki yang sangat halus di koridor depan klinik. Bukan langkah kaki pasien yang terseret atau ragu-ragu. Ini adalah langkah kaki yang mantap, ritmis, dan berat.
Klek.
Suara gembok pintu besi depan yang dipotong dengan tang hidrolik terdengar samar.
Kinandaru tidak panik. Jantungnya berdegup, namun bukan karena takut, melainkan karena sejenis kelegaan yang aneh. Ia perlahan berdiri, tidak mencoba lari lewat jendela belakang. Ia tahu, jika mereka sudah sampai di sini, seluruh blok ruko ini pasti sudah dikepung.
Pintu ruang belakang didobrak tanpa suara yang berarti. Tiga pria berpakaian taktis serba hitam dengan topeng balaclava merangsek masuk. Di tangan mereka, terpasang senapan taktis dengan peredam suara (silencer).
Kinandaru menatap mereka dari balik meja kerjanya. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan ejekan terhadap rezim yang begitu ketakutan pada selembar kertas buram.
“Terlambat enam bulan,” ucap Kinandaru tenang, suaranya terdengar seperti bisikan. “Jiwa tempat ini sudah lama pergi.”
“Saka Karsa Kinandaru, Anda dieksekusi atas tuduhan makar dan penyebaran propaganda terorisme,” ucap salah satu agen dengan nada monoton, seolah sedang membaca menu makanan.
Kinandaru menunduk, menatap saputangan hitam di pergelangan tangannya. Ia mengusap kain itu dengan tangan kanannya untuk terakhir kali.
Aku datang, Mas. Negaramu… akhirnya menjemputku.
Dua tembakan berperedam suara terdengar seperti letupan balon yang pecah. Satu peluru menembus leher Kinandaru, menghancurkan urat nadi besarnya, sementara peluru kedua bersarang tepat di jantungnya.
Tubuh kurus Kinandaru tersentak ke belakang. Ia jatuh dari kursinya, menghantam lantai semen klinik yang dingin. Darah segar langsung merembes dari leher dan dadanya, mengalir dengan cepat, membanjiri lantai, persis seperti aliran darah Sadhamalik di pelabuhan waktu itu.
Para agen hitam itu bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Mereka tidak menyentuh dokumen. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebotol cairan kimia beracun, meminumkannya paksa ke mulut Kinandaru yang sudah setengah tak sadarkan diri, lalu meletakkan sebuah botol obat penenang kosong di tangan kanannya. Mereka merekayasa TKP agar terlihat seperti kasus bunuh diri seorang dokter yang frustrasi.
Dalam hitungan tiga menit, mereka menghilang kembali ke dalam kegelapan malam, meninggalkan ruko itu dalam kesunyian.
Kesadaran Kinandaru perlahan menipis. Pandangannya mengabur, langit-langit klinik yang retak perlahan berganti menjadi kegelapan yang pekat. Rasa sakit di dadanya perlahan lenyap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.
Namun, di detik-detik terakhir sebelum napasnya benar-benar berhenti, kegelapan itu tidak terasa menakutkan bagi Kinandaru.
Di dalam kepalanya yang mulai kehilangan oksigen, siluet cahaya jingga kemerahan muncul. Ia tidak lagi berada di klinik utara yang apak. Ia berada di sebuah padang rumput yang hijau, sangat jauh dari Jakarta, jauh dari IKN, jauh dari tiran, dan jauh dari inflasi yang mencekik.
Di sana, berdiri sesosok laki-laki bertubuh tinggi besar dengan kemeja hitam yang bersih tanpa noda darah. Laki-laki itu sedang menatapnya, mengulurkan tangan kanannya yang besar dan hangat, sambil memamerkan senyuman lesung pipit yang begitu dirindukan Kinandaru selama setengah tahun ini.
Kinandaru yang berada dalam imajinasi terakhirnya tersenyum lebar. Ia melangkah maju, meraih tangan itu, dan membiarkan dirinya ditarik ke dalam pelukan yang hangat, pelukan yang tidak akan pernah bisa dilepaskan oleh peluru atau pengkhianatan lagi.
Di lantai klinik yang dingin, tangan kiri Kinandaru yang terikat saputangan hitam milik Sadhamalik perlahan terkulai lemas. Denyut nadinya berhenti total pukul 03.45 WIB.
Pagi harinya, berita tentang kematian Kinandaru menyebar di kalangan buruh pesisir secara berbisik. Pemerintah merilis berita resmi bahwa “seorang dokter gadungan yang mengalami gangguan jiwa ditemukan tewas akibat overdosis obat penenang”.
Mereka pikir mereka telah berhasil. Mereka pikir dengan membunuh Sadhamalik dan Kinandaru, mereka telah menghapus ancaman terhadap kekuasaan mereka.
Namun, rezim itu membuat satu kesalahan besar. Mereka membakar jasad Kinandaru, mereka menghancurkan mesin stensilnya, tetapi mereka tidak bisa menghapus ratusan lembar pamflet yang sudah telanjur disimpan di bawah kasur para buruh, di dalam dompet para nelayan, dan di dalam hati mahasiswa yang masih memiliki akal sehat.
Dua minggu setelah kematian Kinandaru, sebuah grafiti besar berwarna merah menyala muncul di dinding luar gedung parlemen Jakarta yang dijaga ketat. Grafiti itu digambar menggunakan cat semprot di tengah malam, menampilkan gambar kepalan tangan yang terikat saputangan hitam, dengan tulisan besar di bawahnya:
“GALA JUANG SADHAMALIK & SAKA KARSA KINANDARU: DI AMBANG KEHANCURAN NEGERI INI, KAMI AKAN MELAWAN TANPA TAPI.”
Rezim bisa membunuh manusianya, tetapi mereka tidak pernah bisa membunuh cinta dan kemarahan yang telah bertransformasi menjadi sebuah revolusi. Di atas tanah Indonesia yang sedang merintih di tahun 2030, kisah cinta Kinandaru dan Sadhamalik yang berakhir tragis justru menjadi sumbu pendek yang siap meledakkan sisa-sisa menara tiran yang angkuh.
Mereka berdua telah tiada, namun di dalam setiap kepalan tangan rakyat yang tertindas, mereka hidup selamanya.
Karena kematian Kinandaru yang direkayasa sebagai kasus bunuh diri tidak pernah dipercayai oleh mereka yang waras. Bagi lingkaran aktivis mahasiswa yang bergerak di bawah tanah, narasi pemerintah tentang “dokter depresi” justru menjadi konfirmasi paling benderang, Saka Karsa Kinandaru telah dibungkam karena ia memegang obor kebenaran tentang Gala Juang Sadhamalik.
Dua kematian ini, yang terpisah jarak enam bulan namun disatukan oleh darah yang sama, menjadi katalisator yang mengubah keputusasaan mahasiswa menjadi kemarahan yang terorganisir.
Malam itu, di dalam aula gedung kampus yang terbengkalai di kawasan Salemba, tempat yang dahulu sering digunakan Sadham untuk memimpin rapat konsolidasi, ratusan mahasiswa berkumpul dalam sunyi. Tidak ada lampu yang dinyalakan. Jendela-jendela ditutupi kain hitam tebal agar cahaya tidak bocor ke luar dan memicu kecurigaan patroli aparat.
Di tengah ruangan, sebuah altar sederhana dibuat di atas meja kayu yang rapuh. Dua buah foto hitam putih diletakkan berdampingan.
Foto pertama adalah Sadhamalik, tersenyum dengan almamater kuningnya yang tersampir di bahu. Foto kedua adalah Kinandaru, mengenakan jas laboratorium putih dengan tatapan matanya yang teduh serta senyum nan cantik andalannya. Di sekeliling foto mereka, ratusan lilin kecil dinyalakan, memantulkan cahaya jingga yang hangat pada wajah-wajah muda yang dipenuhi tekad.
Seorang mahasiswi tingkat akhir bernama Giska, yang dahulu merupakan salah satu adik tingkat Sadhamalik di fakultas hukum, melangkah maju. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan emosi yang membuncah. Di pergelangan tangan kirinya, kini terikat sepotong kain hitam, sebuah simbol yang kini diadopsi oleh seluruh aktivis mahasiswa sebagai bentuk penghormatan atas saputangan hitam yang ditemukan di jasad Kinandaru.
“Rezim ini mengira mereka bisa mengubur kebenaran dengan cara mengubur manusianya,” suara Giska memecah keheningan, menggema di antara dinding beton yang retak. “Mereka menembak Bang Galang di pelabuhan seolah dia seorang kriminal. Mereka meracuni Kak Saka di kliniknya seolah dia orang gila yang putus asa. Tetapi malam ini, lihat ke sekeliling kalian…”
Giska menunjuk ratusan lilin yang bergoyang ditiup angin malam.
“Mereka tidak tahu bahwa Bang Galang dan Kak Saka adalah benih. Di ambang kehancuran negeri ini, mereka telah mengajarkan kita satu hal yang paling ditakuti oleh para tiran: bagaimana cara mencintai perjuangan ini...”
Pertemuan malam itu bukan sekadar aksi tabur bunga atau duka cita pasif. Kematian Kinandaru justru menyatukan faksi-faksi mahasiswa yang sebelumnya terpecah akibat tekanan politik rezim.
Di sudut ruangan, sebuah proyektor tua dinyalakan, menampilkan salinan digital dari Warta Pembebasan terakhir yang ditulis oleh Kinandaru sebelum ia dieksekusi. Tulisan tangan dan sidik jari Wonbin yang sempat dilacak aparat kini telah disalin secara digital oleh tim siber mahasiswa, disebarkan ke jutaan jaringan privat di seluruh penjuru negeri sebelum kementerian komunikasi bisa memblokirnya.
“Kak Saka sempet ninggalin sesuatu untuk kita,” kata seorang mahasiswa teknik yang memegang kendali laptop. “Di dokumen terakhir yang dia simpan di mesin tiknya, dia ngga nulis soal kesedihannya. Beliau nulis tentang cetak biru gerakan kita selanjutnya.”
Layar menampilkan baris kalimat terakhir yang diketik Kinandaru sebelum malam eksekusinya:
…Jika suatu hari surat kabar ini berhenti terbit, jangan cari aku di antara mereka yang menyerah. Carilah aku di dalam barisan kalian yang masih berani meneriakkan keadilan. Perjuangan ini bukan lagi tentang satu atau dua orang. Ini tentang hak kita untuk bernapas di tanah kelahiran kita sendiri.
Malam itu, sebuah manifesto baru lahir. Mahasiswa menyepakati sebuah gerakan nasional yang diberi nama “Gerakan Gala Karsa”. Sebuah gerakan yang menuntut transparansi anggaran IKN, penurunan harga bahan pokok secara radikal, dan pengusutan tuntas atas pelanggaran HAM yang menewaskan Sadhamalik, Kinandaru, dan ratusan martir lainnya di tahun 2029 kemarin.
Mereka tidak lagi bergerak dalam kelompok kecil. Mereka mulai merancang aksi mogok massal nasional yang akan melumpuhkan sektor transportasi dan logistik.
Puncak penghormatan dan pembuktian gerakan itu terjadi tepat tiga minggu setelah kematian Kinandaru.
Pagi hari di depan Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta Barat. Suasana mencekam. Barikade kawat berduri setinggi dua meter telah dipasang, dijaga oleh berlapis-lapis pasukan antihuru-hara lengkap dengan tameng baja dan kendaraan taktis Barracuda. Rezim mengira mereka bisa menakuti mahasiswa seperti aksi-aksi sebelumnya.
Namun, apa yang terjadi hari itu membuat nyali para petinggi aparat menciut.
Dari empat penjuru jalan utama, gelombang manusia datang bagai air bah. Bukan puluhan, bukan ratusan, melainkan puluhan ribu mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia yang sengaja datang ke ibu kota. Mereka berjalan dalam keheningan yang mencekam, sebuah Silent March.
Tidak ada teriakan yel-yel yang bising. Tidak ada pembakaran ban.
Di barisan paling depan, sepuluh mahasiswa berjalan sambil menggotong dua buah keranda kosong yang diselimuti bendera merah putih. Di atas keranda itu, terikat erat almamater kuning dengan patch merah khas anak hukum milik Sadhamalik dan scrub medis biru legam milik Kinandaru.
Dan yang paling mengerikan bagi pandangan rezim: setiap mahasiswa yang hadir hari itu, tanpa terkecuali, mengikatkan saputangan hitam di pergelangan tangan kiri mereka.
Ketika barisan depan mahasiswa berhadapan langsung dengan moncong senapan aparat di depan barikade, mereka semua berhenti. Secara serentak, puluhan ribu mahasiswa itu mengangkat tangan kiri mereka tinggi-tinggi ke udara, memamerkan saputangan hitam yang berkibar ditiup angin Jakarta yang panas.
Suara Giska terdengar melalui pengeras suara berkekuatan tinggi, memecah kesunyian kota yang mencekam:
“Kepada para penguasa yang bersembunyi di balik dinding beton dan senjata! Kalian bisa menghapus nama Gala Juang Sadhamalik dari televisi kalian! Kalian bisa merekayasa kematian Dokter Saka Karsa Kinandaru di dalam laporan polisi kalian! Tetapi hari ini, lihatlah ke jalanan!”
Giska menunjuk ke arah lautan manusia yang membentang hingga ke batas cakrawala.
“Setiap dari kami yang berdiri di sini adalah Gala Juang Sadhamalik! Setiap dari kami adalah Saka Karsa Kinandaru! Kalian telah membunuh dua orang, tetapi hari ini kalian melahirkan sebuah jenderal pasukan yang tidak akan pernah bisa kalian bungkam dengan peluru!”
Aparat yang berjaga di balik tameng perlahan menurunkan senjata mereka. Di balik helm-helm pelindung yang tebal, beberapa dari mereka, yang juga merupakan anak dari rakyat kecil yang kelaparan akibat krisis 2029, menatap saputangan hitam itu dengan mata yang berkaca-kaca. Perintah untuk menembak yang terdengar dari radio komunikasi mereka tidak lagi dipatuhi. Keberanian mahasiswa telah meruntuhkan dinding ketakutan.
Hari itu menjadi titik balik sejarah. Rezim tiran yang tampak begitu kokoh dan angkuh selama bertahun-tahun, perlahan mulai retak dari dalam. Pengorbanan Sadhamalik di pelabuhan dan keteguhan Kinandaru di kliniknya telah menjadi perekat yang menyatukan hati jutaan rakyat yang tertindas.
Di suatu tempat yang jauh dari hiruk-pikuk dunia, di atas dimensi yang tak lagi mengenal batas ruang, waktu, dan rasa sakit… dua jiwa barangkali sedang berdiri bersisian sambil mengaitkan jemari mereka di bawah langit yang cerah.
Sadhamalik mungkin sedang merengkuh Kinandarunya, menatap ke arah bumi, menyaksikan bagaimana saputangan hitam yang dahulu sering ia gunakan untuk menyeka keringat kini menjadi bendera perjuangan sebuah bangsa. Dan Kinandaru, dengan senyuman teduhnya yang telah kembali, mungkin sedang menggenggam erat tangan Sadhamaliknya.
Mereka telah kalah dalam pertempuran fisik mereka di dunia, namun mereka telah memenangkan keabadian. Kisah tentang seorang aktivis yang mati demi rakyatnya, dan seorang dokter yang memilih hidup, namun dihabisi nyawanya, untuk menjaga api ingatan kekasihnya, akan terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Di ambang kehancuran negeri yang kini perlahan bangkit kembali, cinta mereka tidak lagi menjadi rahasia yang terkunci di dalam ruko gelap. Cinta itu telah bertransformasi menjadi bahan bakar sebuah perubahan. Menjadi sebuah sumpah yang digaungkan oleh setiap jiwa yang merindukan keadilan.
