Work Text:
Malam minggu ini juga akan sama saja seperti malam minggu biasanya.
Shiloh bakal habiskan waktunya dengan menonton film-film yang judulnya menumpuk di watchlist-nya sambil mengunyah popcorn yang ia beli dari Indomaret, menyalakan mode Do Not Disturb pada segala gadget-nya, dan melupakan segala hal yang sedang terjadi di dunia.
Ternyata semester genap bisa terasa tenang juga kalau tidak ikut-ikutan kegiatan kemahasiswaan. Shiloh sudah kenyang menyantap kepanitiaan dan program kerja himpunan yang tak ada habisnya itu, sekarang ia putuskan untuk rehat total — tak lagi andil ambil bagian dalam kesibukan apa pun itu.
Lagipula apa sih yang sebenarnya dikejar di hidup ini? Shiloh tidak paham mengapa kawan-kawannya terlihat larut dalam usaha memenuhi CV dengan jabatan-jabatan yang ia yakini juga akan dipandang sebelah mata oleh lapangan kerja nantinya, sebab apa yang bisa Komandan Lapangan Orientasi Studi Jurusan lakukan kalau disuruh menganalisis strategi bisnis terbaik untuk segmen pasar industri? Meneriakkan, “Rapat kiri, Mas, Mbak!”?
Satu film selesai, Shiloh izinkan matanya beristirahat sebentar sebelum melanjutkan film selanjutnya. Bungkus popcorn-nya dibuang — sudah habis dilahap, tangannya dicuci, dan rambutnya diikat, karena poninya sudah mulai panjang.
Ah, Shiloh masih belum mood lanjut nonton lagi. Iseng buka WA ah- ah.. haha.. hahaha.. pesan dari siapa itu yang muncul di paling atas?
Matthias.
Nama yang buat Shiloh langsung mual.
Padahal baru saja ia menikmati sebungkus popcorn sendirian, kini rasanya lambungnya berontak ingin memuntahkan seluruh isinya keluar.
Memang seharusnya hari Sabtu tidak usah ngide menghiraukan kicauan ribut manusia-manusia di dunia maya.
“Ashi, aku lagi di Bandung. Do you mind accompanying me strolling around Sudirman Street? My treat.”
Oh? Dipikir-pikir, sebenarnya bukan tawaran yang buruk sih. Makan malam gratis di jalan Sudirman sounds like a nice offer — it is a nice offer.
Rupanya pemuda yang satu itu masih cerdas, tahu siasat licik yang selalu berhasil taklukan Shiloh — makanan enak gratis.
Langit sudah mulai gelap, matahari sekonyong-konyong terbenam. Jam dinding menunjukkan pukul setengah 6 sore, pertanda hari masih belum memasuki jam-jam dimana Shiloh sudah malas keluar bepergian.
Matthias brengsek. Tahu saja Shiloh tidak mungkin menolak rezeki dadakan. Maka, bubble chat hijau itu lantas terkirim begitu saja.
“sure. pick me up here (location) at 6.”
Setengah jam kemudian, sesuai waktu yang dijanjikan, mobil Hyundai Stargazer putih itu berhenti tepat di depan pagar kosan Shiloh. Yang empunya kendaraan menurunkan kaca, memamerkan rentetan rapi giginya dari kursi pengemudi, “Good evening, Ashi.” sapanya.
Shiloh tidak membalas senyuman ataupun sapaan itu, ia hanya berdeham singkat lalu dengan cekatan memasang sabuk pengamannya — tidak ingin lelaki di sebelahnya mencuri start.
“You look as pretty as always. Kamu kelihatannya memang cocok di Bandung, this city is so your vibe.”
Shiloh mendengus, akhirnya membuka mulut, “Thanks.” ucapnya malas.
Matthias terkekeh, “Laper, ya? I’ll drive faster so we can eat ASAP. Do you have anything you want there?” tanyanya.
Shiloh berpikir sebentar, sebelum menyahut, “I don’t really know, but I want pork.” jawabnya, buat yang sedang sibuk menyetir tertawa gemas.
“Sure then, we’ll eat pork.”
Akhirnya lelaki jangkung itu berhenti berbicara sejenak, memberi Shiloh ruang untuk bernapas lega. Sejak awal ia duduk di kursi ini, jantungnya berdebar begitu kencang rasanya seakan ingin lepas dari tubuhnya. Entah karena sudah lama tidak melihat rahang tajam berhiaskan senyuman manis dari si pemuda, atau karena parfum wangi linen yang sepertinya berniat membuat ia mabuk kepayang, atau keduanya.
Shiloh tahu hanya ia yang merasa canggung sepanjang perjalanan ini, karena Matthias tampak menikmati — bersiul santai mengikuti alunan lagu The Beatles yang diputarnya melalui carplay. Jadi ia coba menenangkan dirinya, membiarkan nyanyian band Inggris itu yang mengisi kepalanya.
“Ashi.”
Gagal. Cukup satu patah panggilan sayang dari Matthias, usaha Shiloh untuk rileks langsung gagal.
“Hm?” jawabnya, masih enggan membuka mulut.
“How’s ITB treating you? Are you still as happy as the day you were accepted there?”
Pertanyaan sederhana dari Matthias itu sukses buat Shiloh tertawa, bahkan terbahak-bahak. Bukan karena ia merasa itu lucu, melainkan karena ia merasa ada yang teriris di dalam dirinya ketika kalimat itu memasuki indra pendengarannya.
“If I say no, would you lecture me the whole ride about how I should’ve tried fighting for UofT too?”
Matthias membelalakkan matanya, menggelengkan kepalanya tergesa-gesa. “No?! Why would I do that? I knew your endless concerns about studying abroad for bachelors.” belanya.
Shiloh tersenyum pahit, “I kinda wish I had listened to you back then though.” utasnya, membuat Matthias sempat hilang fokus dari jalan raya.
“Matt, it’s green.”
“Oh- yeah, sorry.”
Kendaraan beroda empat itu melaju menyusuri ramainya Kota Bandung akhir pekan, dengan isi yang kini dilanda sepi hanya beriring lantunan musik dari playlist Matthias yang berusaha mengalahkan sunyi.
Mobil terparkir rapi, Matthias bergegas turun lalu berlari ke sisi satunya untuk membukakan Shiloh pintu. “Thanks.” tanggap si pemuda yang diperlakukan bak putri kerajaan itu.
Kedua laki-laki itu berjalan depan belakang, Shiloh memimpin dan Matthias mengikuti, melewati desakan orang-orang yang mengantre dan mencari makan. Wangi masakan yang menguar di udara bikin perut Shiloh meronta-ronta makin kencang, minta diisi santapan lezat. Matthias tersenyum melihat pergerakan Shiloh yang terburu-buru, mencari-cari sasaran kios beruntung mana tempatnya akan menghamburkan uang si separuh bule.
Langkah Shiloh terhenti, membuat Matthias kagok, menabrak pelan tubuh yang lebih kecil di depannya yang ikut terhuyung, tetapi cukup gesit untuk ditangkapnya sebelum terjatuh. “Sorry.” pintanya.
Shiloh mengibas-ngibaskan tangannya, tanda tak apa-apa, sebelum menunjuk seonggok daging babi yang digantung dibalik kaca dengan kulit kecoklatan yang tampak crispy. “Mau yang itu aja, nggak?” tanyanya, yang dibalas anggukan Matthias.
Begitulah mereka kini terduduk di kursi kosong dekat kios tadi, menunggu makanan dan minuman mereka disajikan. Posisi keduanya berhadapan, buat Shiloh tak nyaman — bingung harus membuang pandang ke mana lagi agar tidak perlu menatap bola mata Matthias yang berbinar-binar menatap wajahnya.
“Nanti mau lanjut geser? Maybe ngafe? Or karaokean?” tawar Matthias, sontak toreh reaksi semangat dari sang lawan bicara yang sedari tadi lemas, “Ayo karaokean!” sahutnya, buat Matthias terkekeh — tersenyum dari ujung telinga kiri sampai kanan.
Matthias suka senyuman Shiloh, sangat suka. Ia menyayangkan fakta bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Shiloh semakin jarang tersenyum dibandingkan dahulu. Mungkin stress kuliah, mungkin juga karena kesepian ditinggalkan sendirian di dalam negeri.
Matthias dan Shiloh sudah bersahabat sejak kecil, bahkan sedari Matthias masih belum bisa berbicara. Mereka bertemu di kelompok bermain (playgroup), dimana Shiloh yang aktif dan cerewet itu sok jagoan membantu Matthias yang dirundung anak-anak lain, berakhir dengan bekas luka sama pada lutut kiri keduanya — hasil jatuh didorong.
Namun, beset perih yang sempat berdarah itu tak akan pernah mau Matthias tukar dengan lutut mulus mana pun, karena dari sana ia beroleh sobat baik yang setia menemaninya bahkan setelah 18 tahun saling mengenal sekalipun. Seperti saat ini, meskipun Matthias tahu Shiloh masih menyimpan dendam kesumat pada dirinya, bocah itu tetap luluh dengan sogokan sesederhana makanan gratis.
Dan.. soal dendam itu, sebenarnya agak rumit jika perlu dijelaskan. Akan tetapi, intinya, dulu Shiloh pernah berkeinginan sama dengan Matthias — berkuliah di University of Toronto, Kanada, bersama. Sedikit demi sedikit, berbagai pertimbangan finansial dan sosial bermunculan, Shiloh putuskan untuk kubur mimpi itu dalam-dalam and settle for less, PTN. Masuknya jelas lebih susah, tetapi setidaknya biayanya masih lebih terjangkau daripada mengenyam pendidikan dan hidup di negara maju jauh di ujung lain dunia.
Lahirlah seteru pendapat. Matthias, anak bungsu keluarga kaya raya itu, tidak mengerti mengapa Shiloh memilih untuk menyerah sebelum memulai. “You have a great potential to be one of the scholarship awardees, Ashi! Don’t think of yourself lowly like that!” bentaknya saat Shiloh suarakan ketidakyakinan bahwa dirinya mampu mendapatkan beasiswa yang hanya diberikan pada sekitar 30 orang dari segala penjuru dunia.
“And what if I don’t actually get it? I’ll lose millions just to have an English proficiency certificate that I probably won’t be able to use before it expires and donate some good amount of dollars to a university I’m not going to attend? Do you think I have enough resources to gamble my life that way, Matt?!”
Kerah baju pemuda yang lebih tinggi dicengkeram, badannya ditarik mendekat. “Kalau memang lu punya harta cukup banyak buat nunjang setinggi apa pun mimpi lu, silakan pakai — tapi jangan lu pikir semua orang punya privilege sama kek lu.” kepalan tangan itu dilepas perlahan.
“I’m happy for you, Matt, I truly am. I know how much you wanted to go back there and live closer to your extended family, and I wish I could keep you company there too. But things are not easy as said, aku masih punya adik yang harus aku pikirin gimana pendidikan dia nantinya, my parents are getting older too — aku harus pikirin gimana kalau mereka pensiun nanti. There are so many things I have to think about other than myself, so how can I be selfish and just choose whatever I want?”
Saat setetes air mulai mengalir membasahi muka Shiloh, Matthias langsung sigap memeluk raga yang dipaksa kuat itu. Pertahanan yang dari tadi Shiloh bangun berangsur runtuh juga, tubuhnya lemas sejak tadi berusaha menampung sesak di dada yang memekik minta dilepas.
Dari sanalah, hubungan mereka pelan-pelan merenggang. Matthias yang pengecut, takut sewaktu-waktu ada ucapannya yang melukai Shiloh lebih dalam, dan Shiloh dengan gengsinya yang lebih tinggi daripada atap dan langit-langit mana pun untuk mengakui bahwa perkataan Matthias juga ada benarnya.
Belum lagi satu perkara yang tak usut tuntas dibahas, bahkan hingga hari ini pun.
---
Suasana mencair dengan cepat ketika dua sekawan itu menginjakkan kaki di ruang karaoke, Shiloh menguasai tablet untuk memilih lagu itu dengan girang, memegang mikrofon erat-erat seolah-olah ada yang akan berusaha merebut jika ia lengah sedikit saja.
Matthias dengan senang hati ikut menyanyikan apa pun musik yang diputar Shiloh, selera mereka tidak jauh berbeda — sebab keduanya memang tumbuh besar bersama. Ia tidak perlu bertanya untuk mengetahui bahwa sudah sangat lama Shiloh tidak meluangkan waktu bersenang-senang seperti sekarang.
Saat sudah mulai kelelahan karena lompat-lompat dan membanting-banting kepala di udara, Shiloh putuskan untuk duduk, mengambil napas, dan menyetel lagu-lagu ballad dan indie yang santai.
Nadin Amizah — Matthias lihat nama itu diketik di bilah pencarian artis, napasnya tercekat — sepertinya ia harus bersiap agar hatinya tidak terasa pedih mendengar suara Shiloh yang menyanyi seakan dirinyalah orang yang paling tersakiti sejagad raya.
“Seperti sebuah tarian yang tak kunjung selesai, panjang banget judul lagunya?” komentarnya.
“Ssh! Bagus kok lagunya. Kamu diem aja dengerin aku nyanyi.” balas Shiloh tengil.
Baru instrumental yang lewat di telinganya, Matthias sudah bisa rasakan bulu kuduknya naik satu per satu. Begitu Shiloh menyanyikan bait pertama, sekujur tubuhnya merinding.
“Kadang aku bertanya, ‘Untuk apa masih saja, keras paksa apa yang sudah mati dari lama?’”
Serangan pertama. Bagaikan ditikam oleh lirik tulisan Nadin, Matthias diingatkan bahwa saat ini, yang sedang dilakukannya adalah berusaha memaksakan apa yang sudah mati dari lama — kisahnya dengan Shiloh.
“Kudengar namamu jauh tak kukenal. Wajah yang kusayang, kuraba sebentar.”
Serangan kedua. Lagi-lagi, Matthias ditampar fakta bahwa ia dan Shiloh kini sudah beranjak asing — ada banyak hal tentang sosok sahabatnya itu yang tidak ia ketahui, pula pengetahuan tidak dibagikan juga pada dirinya.
“Masih takut temu matamu yang dulu. Siapa? Siapa? Mengalun pada lagu, tak tahu akan ke mana.”
Serangan ketiga. Kalah telak. Matthias kini yakin Nadin menciptakan karya itu hasil mengamati cerita tentang dirinya dan Shiloh, karena bagaimana mungkin setiap kata yang keluar dari bibir Shiloh seakan mati-matian menghujat perbuatannya dari yang lalu sampai saat ini?
Benar kata Nadin, Matthias dan Shiloh hanya mengalun pada lagu, dan keduanya sama-sama tak tahu arah ke mana hubungan mereka akan dibawa.
Suara ketukan di pintu menyela nyanyian Shiloh, “Permisi, Kak. Untuk sesinya sudah habis, apakah mau diperpanjang?” tanya seorang staf studio karaoke.
“Oh nggak, Kak. Aman, ini kelar beberes langsung keluar.” jawab Shiloh, menepuk lengan Matthias untuk bersiap-siap meninggalkan ruangan.
“Ini mau langsung pulang? Atau kamu mau nyemil dulu?” tanya Shiloh yang buat Matthias tertawa.
“Kamu mau nyemil dulu?” tanyanya balik, yang disambut anggukan dan bibir manyun Shiloh.
Gemasnya. Matthias tidak menahan tangannya dari mencubit pipi kanan Shiloh, menyulut sumbu pendek pemuda itu untuk memukul lengannya kencang.
“Ouch!” keluhnya, mengelus-elus lengan kirinya yang kini memerah. Walaupun Shiloh badannya lebih kecil dari dirinya, tenaga anak itu bukan main-main — hasil rajin nge-gym dan mengikuti seribu seratus side quest olahraga lainnya.
“Jangan sembarangan ya, bule! Skincare gua mahal ya asal lu tahu!” omel Shiloh, lagi-lagi buat Matthias tertawa.
“Iya, love. Nggak lagi aku berani sentuh muka sucimu itu.”
Kalimat itu bikin bibir Shiloh yang sudah manyun semakin maju, matanya berputar malas lalu berdecih. “Aku mau drive thru es krim.” katanya.
“Sure, let’s get some ice cream then.”
Dua tubuh bongsor itu kembali masuk ke mobil, mengelilingi kota yang mulai sepi karena waktu menunjukkan jam tidur. Enggan cepat-cepat berpisah, otomotif itu lagi-lagi diparkirkan di pinggir jalan dengan penumpangnya yang bersantai melahap kudapan diterangi cahaya remang-remang dari lampu kabin mobil.
“Eh, I haven’t asked you yet. Kenapa tiba-tiba ke Bandung?” tanya Shiloh, “Kangen aku, ya?” tambahnya, tengil.
Matthias tertawa, “Iya, aku juga mau pamit.” jawabnya.
“Oh? Kamu mau balik ke Kanada habis ini? Kapan?”
“Yes, flight-nya masih besok malam sih. I’m staying here until tomorrow morning, then I’ll drive back to Jakarta pas siang.”
“Gosh, that sounds so tiring. Thank you for the effort.. just to meet me shortly like this.”
“Haha, you know nothing’s too much when it comes to you.”
Pipi Shiloh menghangat, ia berdoa dalam hati agar Matthias tidak menyadari bahwa semburat merah kini menghiasi wajahnya.
“Gombal terus lu, player.”
“When have I ever just played with you?”
Shiloh diam, tidak tahu bisa membalas pertanyaan itu dengan apa. Ia berdeham, “Kapan balik lagi ke Indonesia?” tanyanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oh, yeah, that.. Sorry, I haven’t told you yet.. I don’t think I’ll be coming back anytime soon.”
Shiloh memiringkan kepalanya, menuntun penjelasan atas kebingungan yang disebabkan pemuda di hadapannya.
“I’m changing my citizenship to Canadian.”
Mata Shiloh membesar, terkejut, sebelum ia membuang napas lega. “Ah.. good for you!”
Matthias merasa jantungnya merosot ke perut, dadanya terasa memanas dan mulai sesak. Ia tahu apa yang Shiloh utarakan belum lengkap, tidak semua yang ada di benaknya dituangkan demi melindungi perasaan Matthias seorang.
“Can I ask for a hug?” tanya Matthias, membuka tangannya lebar-lebar. Shiloh menatapnya diam sejenak sebelum perlahan memajukan tubuhnya lalu hanyut dalam dekapan pemuda bongsor di depannya, entah sejak kapan ia mulai terisak — air mata satu per satu mengalir membasahi kaos Matthias.
Matthias menepuk-nepuk pelan punggung Shiloh, “Kalau ada waktu, sempetin mampir ke Kanada, ya?” pintanya. Isakan Shiloh kini bercampur kekehan, “Duit dari mana coba?” balasnya.
“I have money.”
“Oh, you’ll pay for me?”
“You won’t ever need to ask for it. Even if someday you want to flee away from this country, I wouldn’t mind to provide for you. So feel free to come to me anytime.”
Shiloh tertawa, wajahnya perlahan ditarik mundur dari dada bidang Matthias, “You’ll even provide for me? What are you? My husband?”
“I can be, if you want to.” jawab Matthias, buat Shiloh berhenti tertawa dan menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca bekas menangis.
“There’s a place for people like us there, Shiloh. I saw it with my own eyes. They won’t hate us there, we can just be who we are without any fear of being rejected by the society. Heck, we can even get married there with actual registration to the government, all those legal documents and things.”
“Matt..”
“I know we’ve never talked about this at all, but I’ll bet my whole life that we both know, God knows, we have feelings for each other since forever. Not as just friends, not even just romantically, but something even deeper.”
“What are you implying?”
“Is it not obvious enough for you? I meant I can’t live without you living alongside me as my partner, the only one I want to marry in this life is you, and if I can’t have you, I won’t have anyone else for myself until the last breath I take. I’m confessing that I love you so much, I can’t even imagine being with another person but you.” ujar Matthias dalam satu tarikan napas. Ia langsung termengos-mengos, berusaha mengumpulkan udara yang cukup untuk mengisi paru-parunya kembali. Ekspresinya serius, wajahnya kemerahan karena terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk kalimat panjang tadi.
Shiloh tersenyum kecil, “Sudah yapping-nya?” tanyanya, dibalas anggukan pelan Matthias yang mengerucutkan bibir.
Shiloh menangkup pipi kiri Matthias dengan tangan kanannya, lalu mengecup singkat kulit tepat di samping bibirnya. “I wish I could say the same to you.”
“But I don’t make promises I can’t keep.” lanjutnya, membelai rambut pirang Matthias.
Tangan Shiloh yang hendak menjauh ditarik kembali untuk tetap menempel pada pipinya, “I know, I’m not asking you to.” jawabnya.
“Just.. if you ever feel like you can’t take it anymore, you can always drop everything and leave them all behind. Come and run back to my arms. I’ll be right there, ready to catch you whenever you need a safety net.”
Final Matthias itu buat Shiloh lepaskan cengiran lebar, “Udahan ah, jangan bikin gua beneran pengen kawin lari sama lu sekarang juga, right now jigeum.” asbunnya, yang ditertawakan keduanya.
“Jadi, flight-nya kapan?”
“Besok siang, habis mulangin kamu, aku langsung balik ke Jakarta.”
“Wow, you’re really not letting me give a proper goodbye don’t you?”
“I think this is pretty proper considering I was all caught up with family and business meetings the past few days.”
“Gosh, beda ya kehidupan pewaris mah.”
Matthias tertawa, mengusak rambut Shiloh, “I’m learning, Ashi. Biar warisannya bisa terus multiply, nggak dihabisin sia-sia gitu aja.”
Shiloh manyun — berniat ngambek karena dirinya tidak dijadikan prioritas dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan elit yang dihadiri Matthias hampir setiap hari di mancanegara itu. Tepat sebelum bibirnya sempat terbuka untuk lanjut mengomel, Matthias menguyel-uyel kedua pipi Shiloh pelan.
“Aku ngejar harta banyak biar bisa diporotin kamu, sayang.”
Keduanya tertawa lagi. Shiloh memukul pelan lengan kiri Matthias, “Makasih ya, my personal ATM.” ucapnya.
“Kamu mau ikut nginap dulu, nggak? The room fits two people and there’s free breakfast waiting in the morning.” tawar Matthias, buat Shiloh mendengus, “Lu pikir gua segampang itu ya disogok pakai makanan gratis aja langsung mau lu ajak tidur sekamar?”
“Nggak gitu-”
“Memang gampang. Pinjem baju lu ya tapi, gua males kalau balik kos dulu.”
Matthias terbahak-bahak, mengacak-acak rambut Shiloh. “Sure, dear. Let’s not part ways too fast.”
