Work Text:
'Panas banget setan'
Terus-menerus berputar di benak Zanka, Betapa gilanya pancaran sinar matahari di siang hari buta menusuk kornea matanya, si kornea sendiri tengah bekerja memfokuskan penglihatannya, melawan silau matahari yang mendominasi. Keringat juga tak henti mengucur di sekujur tubuhnya, yang paling menyebalkan, rasanya, adalah bulir-bulir keringat yang memberi sapa ke seluruh permukaan wajahnya—membuat lepek poninya, beberapa menetap di hidungnya dan mengharuskannya mendorong kacamatanya ke tempat semula entah berapa kali.
Dia harusnya tidak sedang di posisi ini—di bully sinar matahari di atas motor Supra Pakde Enjin dengan destinasi toko ATK Bang Follo yang cukup dekat dari rumah. Zanka harusnya sedang bergolek santai di sofa ruang tamu. Kipas kecepatan 2 diarahkan ke sudut yang tepat supaya terkena ke wajahnya dan badannya sekaligus. Bantal empuk menopang kepalanya dan secangkir es teh nikmat di meja. 'Ya Tuhan, mau pulang.'
Tapi sungguh sayang dia telah memutuskan—dan beruntung bisa menang—untuk menjadi ketua OSIS. Hari ini hari Minggu, hari libur universal yang seharusnya Zanka manfaatkan untuk beristirahat, tapi kalender menunjukkan tanggal sembilan agustus, tepat satu minggu sebelum diadakan acara tujuh belas agustusan di sekolahnya. Dalam rangka mewujudkan persiapan acara yang matang tentu butuh usaha yang tidak sedikit. Banyak nya rapat koordinasi yang harus dia selenggarakan, anggota yang harus diatur, banyaknya data susunan lomba antar kelas yang terus menerus di revisi, anggota yang harus diatur, diskusi dengan guru pembimbing OSIS untuk mengkonstruksi acara, anggota yang susah di atur, pesannya di grup WhatsApp OSIS yang hanya di respon satu dua orang, 'anggota babi' dan masih banyak lagi. Zanka tidak tau kenapa dia bisa berakhir dengan anggota-anggota yang sungguh.. 'udahlah.'
Setidaknya masih ada sedikit angin yang seakan-akan menyemangatinya di tengah siksaan bak neraka, walau tidak terlalu terasa. 'Untung udah pake sunscreen' , hanya itu yang bisa di syukuri saat ini, setidaknya resiko dia terkena kanker kulit karena matahari jadi menurun. Moga-moga. Sebenarnya perjalanan ke toko Bang Follo—lebih tepatnya punya keluarganya—tidak terlalu jauh, hanya daerah yang harus dilaluinya untuk sampai ke sana adalah daerah pasar yang begitu padat dengan motor, becak, dan angkot sepaket dengan klakson-klakson cemprengnya. Banyak kios makanan dan minuman yang menutupi ruko-ruko di belakangnya berjejeran di sepanjang pinggiran jalan, tempat duduk dan meja berbahan plastik berserakan di trotoar dan orang ramai membeli dan berjualan jajan di sekitar. Zanka tidak terlalu sering dan memang kurang suka jajan-jajanan. Kalo soal itu dia malah teringat Rudo yang biasanya harus diikat pakai tali goni agar tidak kebanyakan jajan. Riyo juga jarang, tapi sekali pengen jajan dia bisa dengan kesadaran penuh membeli seblak level pedas paling tinggi yang dipasangin dumpling chili oil, semua dia habiskan kurang dari empat menit. Di tengah cuaca ini yang menarik perhatian Zanka hanya kios es kelapa muda yang jumlahnya tidak sedikit, mengingatkan tentang tenggorokannya yang mulai kering.
'Gua hampir sampe, harusnya, semoga.'
Keadaan aslinya tidak mendukung Zanka. Kerumunan motor di depannya masih belum banyak bergerak. Banyak yang memang sengaja berkendara perlahan supaya sambil melihat opsi makanan dan minuman di sekitar. Kaos random yang di timpa jaket biru andalannya telah basah sudah terguyur air keringat. Tangannya juga terasa licin di stang motor. Kacamatanya turun lagi. 'Sumpah kalo legal udah gua hantam ni motor pada. Panas plenger BURUAN JALANN!!' Riuhnya dalam pikirannya.
...
Zanka menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Rasanya mungkin kalau tubuhnya akan ter evaporasi dan berbaur dengan asap-asap bakso bakar di samping kanannya jika dia harus bertahan lebih dari dua menit lagi.
Setelah mengerahkan seluruh kemampuan salip-menyalipnya dia akhirnya terbebas dari belenggu area kemacetan. Tiga menit berkendara dilalui Zanka sebelum dia sampai di tujuannya, toko Bang Follo. Buru-buru dia parkir dan minggat dari motornya untuk ngadem di toko pinggir jalan itu.
"Lah, ada Aa Ketos- eh anjir Itu baju basah kuyup gitu," Sapa Follo yang sedang duduk menyamping dengan santai sambil main handphone di balik etalase berisi alat tulis. Di sampingnya ada kipas besar, indah, menggoda.
"Masuk ae masuk, sini ikut kipasan. Ini juga ada es teh kalo mau." Tawar abang-abang mahasiswa semester dua itu sambil menyodorkan es teh padanya.
Zanka dengan lesu melepas jaketnya yang tidak ter resleting dan meletakkan jaketnya asal-asalan di atas etalase. Kemudian menyeret tubuhnya ke belakang etalase lewat celah jalan yang disediakan untuk tepar di lantai keramik toko yang luar biasa adem. Sekali lagi dia menghela nafas sebelum mulai bangkit untuk duduk dan meraih es teh yang di tawarkan Follo.
"Thank you, Bang" ujarnya dengan suara serak. Ia membawa segelas es teh tersebut ke bibirnya yang pecah-pecah dan mulai meneguk dengan rakus. Sedetik es teh itu menyentuh kerongkongannya terasa pula sensasi surgawi yang menyegarkan kembali seluruh tubuhnya, seperti tanaman kering yang akhirnya disirami air. Follo cekikikan sedikit melihat Zanka yang menghabiskan es teh setengah gelas besar dalam waktu kurang dari 6 detik.
"Emang gila cuacanya akhir-akhir ini, bayangkan udah lima hari gak hujan-hujan, cok." Ia mengangguk setuju setelah meletak gelas yang sekarang kosong itu ke meja di belakang Follo. Haus nya sudah di atasi, sekarang tinggal bajunya. Zanka mengarahkan kipas ke tubuhnya dan meminta tisu ke Follo untuk mengelap keringat di wajahnya dan di ujung gagang kacamatanya.
"Oh iya, file yang mau di print ntar gua kirim, bang." Ujarnya, sambil mengambil handphone dari kantong kanan celananya. Dengan lugas dia membuka WA dan mengirim file susunan acara, script MC, jadwal lomba antarkelas dan lain-lain ke nomor Follo. Abang Tukang Print menyahut "Okay" dan mulai menghidupkan komputernya.
Sekarang Zanka tinggal menunggu Follo bekerja. Dia masih di posisi berhadapan dengan kipas, corak gelap lembab mulai mengering dan pudar di bajunya.
Satu menit berlalu dan hanya terdengar berbagai suara kendaraan dari lalu lintas di depan toko, sisanya keheningan. Itu karena mereka sibuk masing-masing, Follo sibuk melakukan pekerjaannya dan Zanka sibuk dengan pikirannya sambil terlentang di lantai.
Semalam, hari Sabtu, dia dan Riyo hangout di salah satu kafe yang cukup terkenal di kota, Riyo yang ajak. Si gadis rambut merah PDIP seperti biasanya menggunakan outfit yang sangat modis, crop top dengan outer jaket hasil trifting , rok mini yang dipasangkan dengan legging hitam dan sepatu platform tinggi, tidak lupa juga rambut panjangnya yang telah di kepang fishbone dan diberi berbagai hiasan jepit rambut, salah satunya berbentuk kepala tengkorak. Dia sendiri, yah, cuma kemeja biasa dengan rompi coklat muda. Biasa saja. Zanka sendiri jarang jalan-jalan keluar, tapi kali ini dia setuju untuk ikut karena Riyo bilang matcha di situ enak.
Dia bukan salah satu dari orang-orang yang FOMO matcha itu, tegasnya. Dia memang penikmat sejati dari beragam jenis teh tradisional, dari Indonesia maupun dari Jepang, tempatnya lahir, dan matcha adalah favoritnya. Walau dia benci rasa pahit tapi jika pahit dan manisnya seimbang, didukung lagi dengan rasa gurih tipis dari matcha nya, maka bisa menimbulkan sensasi rasa yang benar-benar unik dan nikmat. Omong-omong dia akui, Riyo benar. Matcha di kafe itu memang enak.
Waktu mereka di kafe dihabiskan dengan bergosip tentang guru-guru di sekolah dan beberapa murid yang punya drama di sekolah, semua bahan gosip datang dari Riyo yang sepertinya punya banyak informan. Si Average Joe hanya mengikuti alur percakapannya sambil bergurau di momen-momen tertentu. Berbicara dengan Riyo memang selalu terasa mudah baginya, toh mereka sudah seperti saudara, tinggal serumah dan sama-sama ada di bawah asuhan Pakde Enjin.
Lalu tiba-tiba topik di alihkan oleh saudarinya itu. "Zan, lo kalo mau pacaran tipe cewe lo gimana?" Tanyanya dengan senyuman yang terkesan licik, sengaja memprovokasi.
Soal pacaran, itu jelas-jelas bukan prioritas utama Zanka. Dia juga memang tidak pernah tertarik dengan cewe manapun. Cewe yang paling berbekas di memorinya mungkin Hyo, murid pindahan jenius dari sekolah semi militer yang di kelola keluarganya dulu. Dia masih ingat saat Hyo pertama kali masuk di kelasnya saat dia masih SMP kelas satu, bagaimana gadis jenius dari kawasan kumuh itu dengan sungguh mudahnya menaklukkan dan menghancurkan seluruh egonya dulu.
'Ah. gua gak mau ingat masa itu lagi.' dia benci orang jenius.
"Cewe baik..yang punya ambisi kuat." Jawabnya, itu jawaban paling aman menurutnya. Dia sendiri juga tidak yakin, orang dia belum pernah suka sama siapapun.
Si iris hijau lumut malah tergelak mendengar jawabannya, dia jadi sedikit tersipu. Kurang ajar, pikirnya."Bukan gituu! Cupu-cupu. Maksud gua soal penampilan, lo suka yang gimana?"
Zanka ber-ooohh dan mulai memproses jawaban lagi. Penampilan? Biasanya cowok mengidamkan cewe cantik kan?
"Gua gak terlalu peduli kalo soal itu, sih" Jawab nya dengan nonchalant sambil menyeruput matcha latte nya.
Riyo mendesah kecewa dan menatapnya dengan ekspresi bosan yang terkesan eksesif. "Lo seriusan gaada tipe samsek jir. Jangan-jangan lo gak suka cewe lagi." Cetusnya sambil menyuapkan kentang goreng yang di cocol saus pedas ke mulutnya.
"Maksud lo, njing? Gua suka cewe, ya." Sambar si netra laut dalam, wajahnya merengut, jelas tersinggung. Bagi Zanka, mustahil kalau dia suka sama sesama jenis. tidak mungkin. Top dua dari sepuluh hal yang tidak akan pernah terwujud di dunia, top satu nya Indonesia emas 2045.
"Eh iya-iya santai dong beb, cuma bercanda loh~ Tapi biasanya yak, yang paling nyangkal gini aslinya.."
"Gak."
"Iya dah, iya,"
Mereka terdiam sejenak sambil lanjut menyantap pesanan mereka. Kalau di pikir-pikir, Zanka memang tidak pernah suka dengan cewe sama sekali seumur hidupnya. Dia pernah di tembak kira-kira 4 kali, tiga saat dia SD dan satu lagi di masa SMP, semua pastinya dia tolak, dengan lembut. Karena memang faktanya dia tidak terlalu kenal dan tertarik dengan satupun cewe-cewe itu. Di tingkat SMA juga masih ada beberapa cewe yang dia rasa mencoba mendekatinya. Apa artinya semua ini? Artinya, Zanka tidak punya pengalaman romansa bukan karena dia jelek atau semacamnya. Kalau memang cukup pede dia akan secara langsung mengakui kalau dia, secara objektif, memang tampan. Wajah yang cukup androgini, mata sipit yang selalu tampak sayu, figur berotot dan langsing, hasil nge-gym yang seperti hobi baginya.
Zanka tidak pernah punya pengalaman romansa karena sesederhana dia belum pernah tertarik dengan satu cewe pun. Tidak pernah tertarik dengan satu cewe pun. Tidak tertarik dengan cewe.
'Gak mungkin lah kocak, gak mungkin.'
Pikirannya kemudian berputar di satu kemungkinan itu,
Tidak tertarik dengan cewe.
"Anyways, gua rasa lo deserve buat ngerasain butterfly era setidaknya sekali di masa SMA lo, Zan. Kerjaan lo kan banyak ya, namanya juga jadi Abang Ketos. Tapi, lo harus ngerasain rasanya dag dig dug waktu lo eye contact sama crush lo selama, kayak, sedetik gitu." Ujar Riyo dengan cekikikan di akhir. Dia sambil mengunyah kentang goreng terakhirnya.
"Jangan terlalu kaku buat ngejalanin hidup lo sendiri, okay? Pakde memang pastinya bangga sama prestasi lo sekarang, tapi dia pasti lebih peduli buat ngeliat lo menikmati masa muda, having fun 'n' stuff y'know?"
Having fun 'n' stuff y'know?
Menikmati masa muda.
Jangan terlalu kaku.
...
Having fun 'n' stuff y'know?
Menikmati masa muda.
Jangan terlalu kaku.
...
Having fun 'n' stuff y'know?
Menikmati masa muda
Jangan terlalu kaku
Jangan-jangan lo gak suka cewe lagi-
"ZANKA!"
Keseluruhan tubuhnya rasanya seperti habis disetrum listrik. Netra nya yang awalnya seperti lensa kamera tak berfokus akhirnya menyadari dan beradu tatap dengan figur yang menjulang di samping kanannya—Bang Follo—menunggu respon darinya.
Zanka kemudian bangkit dari lantai untuk berhadapan dengan Abang Tukang Print.
"Eh, iya kenapa bang? Sorry sorry tadi lagi ngelamun." Ujarnya, sambil gestur menggaruk-garuk canggung samping lehernya.
"Yaelah, dari tadi di panggil-panggil, sibuk ngelamun ternyata. Untung kaga kesurupan. Ini udah selesai ngeprint nya, bayar wok. Rp.7,500." Cetus Follo dengan muka kusut sambil menyodorkan tumpukan kertas HVS yang di susun rapi dan telah di bungkus plastik tipis ke arahnya.
Si Ketos menerima hasil print tersebut dan mengeluarkan dompet dari saku kirinya dan memberikan uang sesuai nominal yang harus di bayar, lebih Rp.500. "Nih Bang." Katanya.
setelah itu mereka mengucapkan "Makasih" dalam waktu bersamaan. Sebenarnya kalau transaksi yang bilang terimakasih penjual atau pembeli?
"Gua cabut dulu ya, Bang Follo. Titip salam ama orang-orang bengkel." Ujar Zanka sambil mengenakan kembali jaket andalannya dan melangkah keluar dari etalase.
"Yoo, hati-hati di jalan Ketua!" Seru Follo iseng saat si Ketua sudah mulai menaiki motor Supra kembali.
Zanka hanya memutar matanya dan tersenyum tipis sebagai respon dan mulai menyalakan motornya- oh.
Dia bisa merasakan keberadaan seseorang di belakang nya. Tukang Parkir.
"Mundur, mundur." Suara berat yang sedikit diayun terdengar tepat dibelakang nya memberikan panduan kurang berguna. Bagaimana pun dia memundurkan motornya sesuai arahan dan mulai meraih dompetnya. Namun saat dia membuka dompetnya tidak ada uang kecil yang tersisa. Hanya ada beberapa lembaran uang dua puluh ribu rupiah dan satu lembaran uang lima puluh ribu rupiah.
Zanka menghela nafas tipis dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dompetnya, yang kemudian ia serahkan ke sosok tukang parkir di belakang motor nya tanpa membalikkan badannya. "Kembaliannya ambil aja." Tuturnya singkat.
Ada keheningan sebentar, minus suara kendaraan yang berlalu-lalang. Lalu,
"..Makasih, Koko ganteng~" Kicau si tukang parkir dengan gemulai, ditemani sedikit dengkuran di akhir kalimat.
Lah?...Gak, gak, tukang parkir biasanya gak gini, herannya. Rasa heran dan penasaran memicu reflek si pirang keabu-abuan untuk membalikkan badannya. Dan-
Mata almond berbinar fuschia yang ujungnya setajam silet dengan bulu mata lentik yang bertengger di atasnya sedang bersahutan dengan mata monolid biru redup miliknya. '..eyeliner?'
Matanya kemudian menangkap visual wajah androgini berelemen tajam, hidung mancung nan runcing yang memikat, kedua alisnya terbelah, dimana alis kanannya memilki tindik dengan kilau yang berasal dari pantulan terik mentari dari atas. Bibir penuhnya yang sedikit kering melengkungkan senyuman manis bak gula merah, kumpulan gigi gingsul mengintip ramah melalui celah bibirnya.
Tapi bagian yang paling magnetik dari keseluruhan penampilan orang ini adalah tumpukan rambut gimbalnya yang terhias aksesoris elemen emas dengan panjang menjalar sampai ke pinggangnya. Rambutnya diikat setengah ke atas, setengahnya berayun minim secara bebas di punggung dan dadanya.
Kaos tank top abu-abu gelap memberinya berkat untuk dapat melihat sepasangan lengan dengan otot yang cukup kencang—tidak sebesar miliknya—yang bertinta sawo matang, sedikit mengkilap karena dilapisi keringat. Saat bola matanya ia seret ke tangan cowo ini yang sedang beristirahat di behel motornya, ada dua pasang gelang bangle silver tebal yang berdenting menyapanya. Di tiap jari panjang dan lentik cowo ini ada cincin yang melingkari, posisinya bukan di dasar jari seperti biasanya, tapi malah di area tulang falang tengah.
Orang ini memang pakai rompi tukang parkir klasik berwarna oranye, tapi sepertinya hanya itu yang mengindikasikan kalau cowo ini adalah tukang parkir, kalau tidak mungkin Zanka akan mengira dia baru saja berpapasan dengan model bule lightskin pecinta alt fashion dan bukannya tukang parkir. Kalo terpikir tukang parkir yang terbayang pasti bapak-bapak tua bangka dengan tubuh yang, ya, kayak bapak-bapak. Tapi, cowo ini tampak sangat muda seperti seumurannya dengan tubuh langsing dan berotot. Mungkin orang ini hanya sedang cosplay, mungkin. Argumen ini di dukung tidak adanya ID Card tukang parkir yang di dadanya.
Sejenak waktu terasa sedang berhenti dan tidak bisa ia mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok mempesona yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi santai tak terbaca, mulutnya termangap kecil tanpa sadar.
"damn." hembus nya. Hanya itu yang bisa keluar.
...
Kedua ujung bibir itu terangkat, dan matanya menyipit riang. Lalu suara tawa terbahak-bahak menusuk telinganya. Seluruh muka Zanka mendadak terasa hangat, itu karena kepanasan, yakinnya. Bukan karena hal lain.
Perlahan suara gelak itu mereda dan, entah karena dorongan apa, dia reflek berucap dengan suara kikuk. "..halo mbas- eh mas maksudnya."
Tubuh cowo itu bergerak tipis, gerak geriknya seperti kucing yang sedang mengamati mangsanya.
"Haii, 08•••••••••"
'Hah?' "Hah?" Ucap Zanka, dengan tampang wajah penuh heran.
"Kamu kayak mau minta nomorku gitu, jadi aku kasih langsung aja." Tutur cowo itu dengan santainya.
Zanka mengerutkan alisnya, 'ni orang pede banget jir, cocok sih tapi sama tampangnya.' Bagaimana pun dia berakhir menurut dan mengeluarkan handphone dari saku kanannya. Kemudian cowo cantik itu mengeja kembali nomornya.
"Save 'Jabber'. Aku jarang on WA, orang sibuk." Ucapnya, dengan senyuman yang belum luntur dari tadi.
"..Oke? Salken ya, Mas Jabber. Gua Zanka." Sahut Zanka dengan senyuman tipis sambil mengulurkan tangannya. Tapi ekspresi Jabber mendadak berubah menjadi ekspresi ' baru sadar kalau kompor di rumah belum dimatikan'. Jabber menyambar sling bag di pinggangnya untuk mengambil handphonenya yang layarnya sedikit retak dengan casing My Melody
"OH IYA!" Cetus nya, sebelum membalikkan badannya untuk mulai berlari ke arah kanannya. Sebelum menjauh dia berseru ke arah Zanka sambil melambaikan tangannya "See you around, Koh!"
Bahkan setelah Jabber hilang dari penglihatannya detak jantungnya masih belum melambat. Zanka terdiam di posisi itu kira-kira selama dua menit sebelum dia akhirnya menyalakan motor.
Detak kencang jantungnya bagai menyanggah seluruh keyakinannya tentang tidak menyukai sesama jenis sebelumnya. Jabber, nama yang sekarang tetap terngiang-ngiang di pikirannya bahkan setelah dia sudah sampai kembali di rumah Pakde. Nomor tadi sudah dia simpan, di kontak WA terpampang nama "Jabber"—gak, dia gak kepikiran buat nge save pake nama yang lain kok, pikirnya—dengan foto profil tarantula yang sedang hinggap di tangan seseorang, yang jelas adalah tangan jabber sendiri, dilihat dari cincin-cincinnya ikoniknya yang hadir di foto.
Dia memutuskan untuk mengirim pesan duluan. Jarinya masi tergantung ragu di atas keyboard handphone nya, beberapa kali mengetik dan menghapus pesan. 'Udah kirim pesan normal aja jir, gua kenapa dah' Omelnya pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya dia sampai di keputusan untuk mengirim pesan paling simple,
< P
<Jab
