Work Text:
Langkah mereka berkejaran dengan waktu. Melarikan diri ke bawah atap halte dari terpa rintik awan kelabu, tetapi angin bertiup terhitung angkuh untuk merambatkan sejuk pada kulit yang terbebas dari dekapan kain.
Bersedekap. Zhou Xinyu mengusak telapak tangan ke tiap sisi lengan. Sedemikian berharap membaik dari kedinginan dan kekecewaan atas cerah yang dikira akan kekal, setidaknya sampai agenda kencan tuntas.
Walau menggigil, ia enggan memperjelas. Xinyu bergeming dengan rahang menegas sebagai bentuk lain pelampiasan samar atas ketidakberdayaan. Enggan membiarkan sang kekasih di sebelah sadar betapa ia sedang tak karuan. Membuat siapapun repot bukanlah gayanya.
Namun, sebagaimana orang yang jatuh cinta. Park Sohyun tak pernah mengalihkan perhatian dari setiap hal tentang sang perempuan. Dan, bodoh sedikit bukan permasalahan, meski kemudian dirinya sendiri yang dikorbankan.
"Jangan mau sakit," katanya, sembari memasangkan blazer hitam itu pada bahu yang sedikit lebih tinggi dari milik Sohyun.
Xinyu mengulum senyum mendapati perlakuan sebegitu manisnya dari yang teristimewa. Pandangan mereka beradu membahasakan kasih lewat binaran mata.
"Kamunya juga jangan." Pinggang itu ditariknya lebih rapat, menyatukan kehangatan masing-masing dalam dekapan. Membuat Park Sohyun tak mampu mundur—tak mau, kecuali tertunduk malu.
"Kita di tempat umum, Xinyu."
"Biar, satu dunia harus tau." Zhou Xinyu melandaikan badan. Mencuri kecupan di sudut mulut tercantik itu, refleks membuat pemiliknya tersentak dengan rona merah menghias wajah.
Menengok ke sana kemari tak banyak yang berlalu-lalang. Pengguna payung pun terlihat jarang, tetapi outer itu Xinyu layangkan di atas kepala mereka, menghadang setiap kemungkinan dari luar sebelum kembali mendaratkan ciuman.
"Kecuali ini. Punya kita."
Tawa mereka mengedar di tengah naungan kecil. Sohyun terhanyut dalam alur Xinyu. Ia memeluk raga semampai kekasihnya. Berjinjit. Memangkas jarak yang tertinggal untuk memberi kesempatan bagi pertemuan ranumnya kedua bibir.
Melupa waktu, bahkan bus yang melipir kembali menutup pintu selang beberapa detik lebih singkat dari biasanya. Mungkin juga turut mengapresiasi sepasang yang memadu asmara di tengah hujan hari itu.
