Actions

Work Header

LOUD

Summary:

Minje yang ingin mencintai secara lantang.
Insipred by Loud-Nmixx

Work Text:

Minje dan Juwang kembali mendebatkan hal yang sama di apartemen studio yang mereka sewa.
Juwang yang ingin tetap bersembunyi dan Minje yang ingin seluruh dunia tahu.

"Kan aku udah bilang, jangan banyak skinship di publik Je" Ucap Juwang lantang.

"Emang kenapa? Temen-temen kita yang lain juga skinship sama pacarnya" jawab Minje. Juwang menatap nyalang. "Lu paham gak sih? Kalo kita beda?!" Minje selalu tak suka dengan topik ini, memang kenapa jika ia tak pacari seorang perempuan.

Bukankah perasaannya sama? bukankah sama saja dasarnya? Kenapa harus bersembunyi? Minje juga mau cintai Juwang secara lantang pada dunia.
"Ya terus kenapa Ju? Lu malu pacaran sama gua?" Ucap Minje remeh, membuat perdebatan yang sudah kesekian kalinya, dengan topik yang sama tak segera usai.

Juwang tak membalas, mengerang pelan. Tubuhnya merosot. Ia juga mau, tapi… "Lu gak lihat apa? Gimana tatapan jijik orang lain waktu lihat orang kek kita di publik?

"Pertanyaannya, mau sampai kapan kita pura-pura?" Juwang tak menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh Minje.
Ia tak tahu dan tak pernah tahu. "Sampai dunia bisa terima kita."

---

Awal pertemuan mereka berdua Minje yang butuh roomate untuk temaninya di apartemen miliknya yang tak seberapa besar itu. Dan Juwang yang butuh tempat tinggal di perantauan.

Minje datang menawarkan apartemennya di media sosial dengan banyak benefit, siapa yang tak tergiur untuk tinggali apartemen dengan biaya sewa yang cukup murah.

Awalnya mereka hanya sekedar teman yang tinggal di tempat yang sama. Minje berlaku seperti pemilik dan Juwang sang penyewanya. Canggung. Tak ada tegur sapa untuk beberapa minggu, mereka terlalu bingung untuk memulai topik obrolan. Tapi, waktu berlalu entah siapa yang memulai mereka lebih dari sekedar teman satu apartemen. Statusnya naik menjadi teman.

Hanya teman, hingga Minje yang entah sejak kapan berikan atensi berlebih atau khawatirkan Juwang yang beberapa kali pulang larut malam. Atau mungkin, saat berbagi satu kasur yang sama dan itu berbeda rasanya dengan yang dulu. Sentuhan fisik yang sama, rasanya berbeda atau saat Minje yang hilang kendali mengecup bibir Juwang saat sedang tertidur.

Muncul rasa ingin memiliki Juwang, setidaknya dasar itu yang membuat Minje berani ungkapkan perasaannya. Juwang mengiyakan, dirinya punya perasaan yang sama seperti Minje yang ingin miliki Juwang. Tapi, tantangannya dunia mungkin tak bisa terima hubungan mereka.

Dua setengah tahun mereka menjalin hubungan. Waktu yang lama untuk bertahan, banyak rintangan yang mereka lalui dan jalani. Termasuk menyembunyikan hubungan mereka dan perdebatan yang kian sengit setiap waktu berlalu maju. Mungkin awalnya Minje setuju untuk sembunyikan hubungannya dengan Juwang. Namun, waktu berlalu dan Minje berubah. Rasanya, Ia tak bisa salurkan perasaannya secara gamblang di publik.

Ia tak bisa menggandeng tangan Juan di publik. Ia tak bisa bermanja-manja dengan Juwang atau Minje yang harus bersikap bahwa Juwang itu temannya bukan pacarnya. Dan Minje tak bisa lakukan itu lebih lama lagi.

Rasanya semakin waktu berjalan, Minje ingin tunjukan pada dunia bahwa Juwang miliknya. Minje mulai serakah, dulu baginya Juwang menjadi miliknya sudah lebih dari cukup. Namun sekarang, miliki Juwang saja itu tak cukup, Minje ingin semua dunia tahu. Sayangnya, Juwang masih sama dengan pendiriannya. Biarkan mereka saja yang tahu.

Dan Minje tak bisa lakukan itu. Melihat banyak perempuan secara terang-terangan menggoda Juwang atau teman-teman mereka yang terus merekomendasikan perempuan ini dan itu ke Juwang. Rasanya Minje ingin memberi tahunya, bahwa Juwang miliknya. Juwang kekasihnya.

Mungkin Juwang tak cemburu jika Minje didekati oleh perempuan-perempuan cantik itu. Tapi, Minje bukan Juwang yang bisa bersikap biasa saja di publik.

"Eh Juw, ini cakep nih. Mau nyoba dulu gak? Kasian gua sama lu jomblo dari lahir" Donghwa beri tawaran pada Juwang. Juwang melirik sekilas ke Minje, mereka bersitatap untuk waktu yang singkat.

Jelas Juwang sadar, bahwa Minje menatap tak suka dengan ide gila Donghwa. "Gak deh Hwa, gak lagi pengen punya pacar" katanya, Donghwa mendecih malas.

"Ah lu mah, alesannya itu mulu. Males gua. Nje lu mau gak?" kali ini Donghwa lemparkan tawaran itu ke Minje.

"Cakep ni, cocok sama lu yang ganteng paripurna." Juwang jelas tak khawatir karena Minje pasti akan menolaknya. "Boleh, bagi nomernya biar gua wa"
Tapi, kali ini Minje memilih untuk menantang Juwang.

"DIH, Ini mah mau dijadiin HTS an. Hp nya Minje kan asrama cewe tuh" Keiju berujar sembarangan. Memang banyak perempuan yang menggoda Minje, tapi Minje tak pernah menanggapinya. Sedangkan Minje tertawa melirik Juwang.

"Lusa gua diajak jalan sama kating, iyain gak?" Keiju dan Donghwa bersorak gembira, sedangkan Juwang diam mencoba mencerna perkataan Minje. Sejak kapan?

"Iyain aja lah. Kata gua, kalo cocok pacarin sih" Donghwa, seorang yang paling mendukung dua temannya Minje dan Juwang untuk dapatkan kekasih.

"Yah ntar kalo lu sold out, di menfess pasti rame sih nje" mereka tertawa bersama mendengar ucapan Keiju.

"Siapa?" tawa mereka terhenti, Juwang yang mengintrupsi. Minje melihat ke arah Juwang, menyunggingkan senyum kemenangan dan tatapan menantang.

"Adalah anak Hukum" dan obrolan mereka terus berlanjut. Minje yang terus menerus membahas perempuan ini dan itu yang secara terang-terangan mendekatinya. Donghwa dan Keiju semangat menimpalinya, karena Minje jarang sekali membicarakan seorang perempuan.

"Kan gua bilang apa, Lu mah diem-diem diem Nje. Dah gua duga HTS an lu banyak" ah Juwang tak pernah tahu, jika Minje menanggapi semua pesan masuk dari banyak perempuan.

Juwang tahu, jika Minje memang terkenal dan banyak mendapatkan pesan atau dm dari beberapa orang perempuan. Tapi, Juwang tak pernah tahu, bahwa Minje menanggapinya.

"Gua duluan ya, gua ada kumpul kelompok" Juwang pamit, tinggalkan mereka dengan alasan yang sebenarnya tak pernah ada. Semua mengiyakan tanpa terkecuali. Bahkan Minje, seolah tak pedulikan kepergian Juwang.

---

Malam kian larut, Juwang masih setia menunggu sang kekasih sofa tempat mereka biasa menonton TV bersama. Berandai-andai jika dirinya mungkin perempuan, atau mengenang saat-saat mereka baru jadian. Saat Minje masih perlakukan Juwang seperti barang berharga. Saat hubungan mereka diisi oleh kalimat sayang bukan ujaran kebencian.

"Kenapa baru balik? Ngedate sama cewe baru lu?" tanya Juwang, saat pintu apartemen terbuka, melihatkan sosok Minje tertawa mendengar pertanyaan Juwang

"Kenapa? Cemburu?" Juwang membuang muka, berjalan menuju kamar yang mereka bagi berdua. Hubungan mereka akhir-akhir ini selalu diselimuti rasa tegang yang tak berkesudahan. Dan sialnya, tak ada yang mau mengalah atas topik ini.

"Gimana? Enak gak rasanya? Masih mau sembunyi-sembunyi? Emang gak cukup kah Juw, kalo cuma gua yang nerima lu?" Juwang hentikan langkahnya, menghela nafas berat. Matanya terpejam untuk beberapa saat. Membalikan badanya menatap Minje yang berdiri bersandar di pintu masuk.

"Gua takut Nje gua takut. Tolong lah, gua anak beasiswa. Gimana kalo kita coming up dan sampe ke prodi terus gua di DO cuma karna gua Gay?!" Nada suara Juwang bergetar, demi apapun masa kuliahnya tinggal sedikit lagi. Dan dirinya tak mau jika harus dikeluarkan dengan alasan konyol.

Minje tertawa sarkas. "Lu tuh takut sama hal yang belum terjadi" Juwang benci jika Minje selalu bisa sentil egonya. "Iya gua pengecut, kenapa?"

"Setidaknya kita speak up ke Keiju sama Donghwa, biar gua gak harus pura-pura akting seolah lu tuh temen gua doang Ju. Gua gak minta seluruh dunia tahu, gua gak minta itu. Gua cuma mau, mereka berdua ngelihat kita sebagai sepasang kekasih bukan sahabat." ucap Minje lirih, ia hampir putus asa untuk pertahankan hubungannya.

"Kenapa sih, gua gak bisa bilang ke mereka kalo lu punya gua? kenapa? emang apa bedanya sama donghwa yang punya pacar cewe? bedanya apa? dasarnya kan sama? rasa suka, rasa sayang, cinta, kenapa - " Juwang menangis, mendengar Minje yang selantang itu untuk hubungan terlarang mereka berdua. "Cuma karena kita sama-sama cowo kah?"

"Gimana kalo mereka gak bisa terima Je? Gimana kalo mereka bakal sebarin rumor dan gua di DO? Gua bukan lu yang berduit. Tolong lah"

"Tolong apa? ngertiin lu? terus kapan bagian lu ngertiin gua?"

Juwang bergeming mendengarnya, membenarkan ucapan Minje. Kapan dia akan mengerti Minje? tapi masalahnya, tak semudah yang Minje bayangkan dan mungkin tak serumit yang Juwang pikirkan.

---

Hubungan mereka semakin renggang, bahkan mereka tak tidur di satu ruang yang sama lagi. Minje benar-benar serius akan mendekati perempuan, ia selalu menceritakan semua progres saat mereka berkumpul. Dan Juwang hanya bisa diam berpura-pura senang atas apa yang dilakukan oleh Minje.

Obrolan diantara mereka juga tak ada. Mereka pulang di tempat yang sama, tapi tak ada tegur sapa. Juwang yang selalu menutup pintu kamar dan Minje yang memilih diam.

Bahkan kebiasaan Minje berubah. Biasanya Minje akan memilih duduk di sebelah Juwang, dan menggandeng tangan Juwang di bawah meja. Namun, itu tak kembali Minje lakukan. Minje yang selalu banyak taruh perhatian kecil ke Juwang, sekarang sudah tak pernah ia lakukan.

Dulu Juwang menikmatinya atau terkadang jantungnya berdegup 2x lebih cepat saat tangan mereka saling bertaut. Takut jika salah satu temannya tahu, tapi sekarang rasanya kosong. Seolah kehilangan suatu barang berharga miliknya.

Dan Juwang harus tahan rasa sakit itu saat Minje datang membawa seorang perempuan cantik ke tempat mereka berkumpul bersama.

"ANJAY, CEWE LU NJE?" Donghwa sangat girang ketika Minje membawa seorang perempuan.

"Kagak masih temen, doain ya" jawab Minje enteng, melirik sekilas ke arah Juwang. Selanjutnya, ia tak peduli.

Mempersilahkan perempuan itu duduk, memperkenalkan layaknya perempuan itu pacarnya, padahal jelas-jelas Juwang lah kekasihnya. Tepat di depan mata kepala Juwang, bagaimana cara Minje memperhatikan gadis cantik itu. Betul-betul seperti Minje yang selalu perhatikan Juwang. Hati Juwang teriris melihatnya, sakit ya ternyata. Dadanya sesak bukan main.

Ah mungkin ini yang dirasakan Minje saat banyak perempuan menggodanya. Cemburu. Juwang akui dia cemburu, tapi Minje kali ini sepertinya terlalu berlebihan. Mata Juwang memanas, air matanya bisa turun kapan saja.

"Eh kata gua, hati-hati aja sama ni buaya satu." Keiju mencoba memperingati dan Juwang membenarkan.

"Kagak ya, ngarang lu Ju" Mereka bertiga terus mengobrol tertawa bersama, dan adegan romantis harus Juwang lihat sekali lagi. Tepat di depan matanya, Minje KEKASIHNYA. Mengangkat jari tangannya, untuk menghapus noda makanan di mulut perempuan itu.

Melihat perempuan itu tersipu malu dan dua temannya berteriak menggoda. Juwang pusing, dadanya sesak tak karuan.

"Guys, maaf ganggu… Gua pulang dulu ya, maaf banget nih gua duluan" Juwang buru-buru pergi dari warmindo kesayangan mereka berempat. Dengan susah payah ia buat suaranya tak bergetar, pandangannya mulai kabur menahan air mata yang bisa turun kapan saja.

"Eh iya Juw, ati-ati ya" ucap Keiju kebingungan atas kepergian Juwang yang mendadak. Minje sendiri pandangi punggung Juwang yang semakin menjauh.

---

Jarak warmindo dan apartemen mereka itu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Berjalan sendirian di trotoar, di tengah ramainya jalanan malam ibu kota bukan pilihan yang tepat.

Minje sialan, batinnya. Kenapa Minje bertindak sejauh ini? Perlukah? hanya untuk membuatnya cemburu? Juwang terus berjalan, hingga tak sadar air matanya mulai mengalir secara perlahan-lahan.

"Andai gua cewe ya nje" monolog Juwang pada angin malam. Air matanya terus menetes. Volume suara tangisnya semakin meninggi, hampir bersahutan dengan bisingnya suara kendaraan.

"Ah Minje Anjing!" Juwang berjongkok, menangis tersendu-sendu. Tak ada hujan malam ini, tak ada yang bisa samarkan suara tangisnya yang kalah hebat dengan suara bising kendaraan.

---

Minje pulang pukul delapan pagi, dan sialnya bersama perempuan cantik yang katanya kakak tingkat mereka. Juwang tak peduli, bahkan saat ia melihat perempuan itu entah siapa namanya Juwang lupa. Tidur di lengan Minje, posisi yang sama saat ia tidur bersama Minje.

Beruntungnya hari ini hari libur, Juwang tak perlu mengarang alasan kenapa matanya bengkak. Tapi, sialnya ia harus melihat Minje yang masih terus berpura-pura bahwa ia menyukai seorang perempuan.

Juwang biasanya akan siapkan dua porsi makanan untuk dirinya dan Minje, bahkan saat mereka tak bertegur sapa. Tapi kali ini, Juwang malas untuk lakukan hal tersebut.

Makan saja Juwang malas, hanya mencari kesibukan sembari mencuri pandang dua orang yang masih tertidur lelap.

Juwang mencoba mencari kesibukan, mencuci pakaiannya yang menumpuk. Sesekali melirik pada dua insan yang baru saja bangun. Dan kegiatan romantis yang biasa ia lakukan bersama Minje saat bangun tidur terjadi tepat di hadapannya.

Rasa tak terima dan cemburu, Juwang masih bisa menahannya. Atau saat mereka masih sibuk berdebat untuk memilih menu sarapan yang akan mereka makan. Juwang masih bisa tahan, walau tangannya mengepal menahan amarah.

Yah, tapi suasana antara dua orang itu semakin intim. Juwang samar dengarkan percakapan mereka dari dapur mereka yang harus dibagi untuk tempat mesin cuci.

"Nanti Juwang lihat" kata perempuan itu.

"Gak papa kali" samar Juwang dengar suara Minje yang berujar seola Juwang bukanlah lagi kekasihnya. Jarak dapur tak cukup jauh dari ruang tamu mereka. Juwang masih bisa lihat Minje yang mencoba mendekat dan memperpendek jarak antara keduanya.

Hingga bibir mereka saling menempel, bukan sekedar kecupan tapi ciuman. Dan Juwang sudah ada di ambang batas kesabarannya. Juwang berjalan tergesa, menarik Minje membuat ciuman itu terpaksa terlepas. Menampar Minje. "ANJING LU YA!"

"Apasih Juw?" Minje masih bermain peran, seolah tak lakukan kesalahan dan mempertanyakan alasan mengapa ia mendapatkan tamparan telak di pipi kanannya.

"Kalo lu emang udah gak mau sama gua, bilang. Jangan kek gini" Air mata Juwang mengalir begitu saja.

"Maksudnya apa sih juw? Kenapa marah kan kita cuma temen" Juwang mendecih kala mendengar jawaban Minje. Sialan.

"Lu pacar gua Minje, Lu pacar Gua–" Juwang menyerah atas permainan Minje, memukul dada Minje dengan rasa sesal. "Fine, Maaf kalo gua egois… Tapi - " untuk kali pertama Juwang berucap lantang mengenai hubungan mereka. Tak pedulikan ada sesosok manusia yang mungkin bisa menatap mereka jijik atau menyebarkan rumor mengenai hubungannya.

"Apa? Gak enak kan? pura-pura kalo kita cuma temen, gimana rasanya ada di posisi gua?" Minje menekankan kata teman di sana. Masih berdiri kokoh atas permainan yang ia buat sendiri.

"Maaf nje maaf, udahan yaa" mata Juwang sudah berlinang air mata, mencoba meraih Minje yang masih bergeming. Menangis di pundak Minje yang masih kokoh akan pendiriannya.

Tak mendapat respon dari Minje, Juwang berganti menatap sosok perempuan itu, tatapan memohon yang menyayat hati siapapun yang melihatnya. "Kak jangan suka Minje ya kak, dia pacarku kak. Minje gak suka cewe kak" ucap Juwang penuh permohonan. Juwang sudah tak pedulikan kemungkinan bahwa perempuan ini akan menyebabkan ia dikeluarkan dari kampus.

Mungkin Juwang memang takut jika harus dikeluarkan dari kampus, tapi sepertinya kehilangan Minje juga sama menakutkannya bagi Juwang.

"Nje… udahan aja gak sih?" Sullyoon nama perempuan ini. Menawar dengan Minje yang masih bergeming. Minje menghela nafas pasrah, sedangkan Sullyoon merasa bersalah setengah mati mengikuti alur permainan Minje.

Juwang terdiam, berbalik menatap Minje dan Sullyoon secara bergantian "Maksudnya?"

"Makasih ya kak, bisa pulang sendiri kan?" ucap Minje, membuat Juwang semakin dibuat kebingungan. "Iya aman, udah lu urusin dah hubungan lu" ucap Sullyoon dan melenggang pergi membuat tanda tanya besar di kepala Juwang.

"Ouh iya Juwang kan ya? Maaf ya, Minje yang nyuruh… Lagian gua juga gak suka cowo kok" tawa hambar Sullyoon sebelum ia benar-benar pergi dari apartemen Minje dan Juwang.

"Nje? Semua ini cuma pura-pura?" Minje diam, permainan yang ia buat dan ia sendiri bingung untuk membela diri. "JAWAB GUA ANJING!" Juwang emosi melihat Minje yang masih enggan untuk berbicara.

Minje meraih kedua pundak Juwang, ia cengkram dengan perasaan bersalah. Helaan nafas berat oleh Minje, ia menunduk merasa bersalah melangkah terlalu berani. "Iya." jawab Minje singkat, mencoba memeluk Juwang.

Sedangkan Juwang sudah enggan untuk dipeluk. "ANJING LU" Juwang marah, berusaha untuk memberontak dari pelukan Minje, memukul-mukul Minje. Minje berusaha menahan pukulan Juwang.

"Dengerin aku dulu, Ju" Minje menahan semua pukulan yang diberikan Juwang, meraih pundak itu ia cengkram kuat. "Sayang dengerin dulu" dan Juwang terduduk lemas. Sial Minje tahu titik lemahnya.

Minje peluk Juwang yang sudah lumayan tenang, mengelus kepala Juwang. "Maaf, aku berlebihan. Maaf sayang"

"Too much Je… Iya gua paham sekarang rasanya jadi lu, tapi anjing. Gak dengan cara kek gini." Minje masih setia mengelus pucuk kepala Juwang. Mendengar suara tangis Juwang dengan nafas yang tersengal-sengal membuat Minje merutuki perbuatannya sendiri.

Ia melangkah terlalu jauh, Minje lupa pikirkan efek sampingnya. Minje menangkup pipi Juwang, menghapus air mata Juwang yang terus mengalir deras. Mengecup bibir Juwang sekilas, karena Juwang segera mendorong Minje menjauh. "Bibir lu bekas cewe lain, gua gak mau

"Tadi cuma nempel aja, gak kissing"

"Sama aja" Minje tertawa puas melihat Juwang cemburu padanya. Dua setengah tahun, Minje tak pernah sekali pun dapati Juwang cemburu padanya. Dan baru kali ini Juwang merasa cemburu pada Minje.

"Kita coba ya? percaya sama aku… kamu gak bakal di DO, papaku uangnya banyak" Ucap Minje sembari merapikan rambut panjang Juwang yang berantakan.
"Terserah" Juwang mendekap Minje, mencari posisi nyaman di tubuh Minje.

---

Seminggu berlalu setelah pertengkaran hebat mereka. Minje masih sama, tak berubah. Masih beri perhatian-perhatian entah di publik atau tidak dan Juwang sedikit demi sedikit untuk mulai terbiasa atas afeksi yang diberikan Minje saat di publik.

"Kenapa tiba-tiba ngadain acara di apart lu dah?" tanya Keiju yang heran dengan Minje dan Juwang yang menyuruh mereka berdua untuk mampir seusai kelas.
"Ada yang mau gua omongin" nada suara yang dikeluarkan Minje cukup serius.

"Serius amat Je, lu gak hamilin anak orang kan?" Donghwa dan kebiasaan asbunnya itu kadang terdengar menjengkelkan saat urusan serius seperti ini. Donghwa dan Keiju menyantap cookies yang Juwang buat dengan santai, sedangkan dua orang di depannya berdiri tegang. Mungkin hanya Juwang karena Minje tak setegang itu.

"Serius dulu anjir" Donghwa dan Keiju menaruh kembali cookies yang sudah mereka makan setengah, duduk memperhatikan Minje yang nampak serius. "Buruan njir" Donghwa mendesak Minje untuk berhenti menghela nafas gusar.

"Gua pacaran sama Juwang" ucap Minje, Juwang meremas tangan Minje di bawah meja. Jantung keduanya berdegup kencang. Hening untuk beberapa saat. Tak ada reaksi dari dua temannya. Donghwa dan Keiju saling melirik dan kemudian tertawa bersama, membuat sepasang kekasih di depannya kebingungan.

"Ouh ngaku juga akhirnya" Keiju berujar seolah yang dikatakan Minje bukan informasi penting baginya.

"Gak kaget sih" dan Donghwa bersikap cuek melanjutkan untuk memakan cookiesnya yang tertunda. Juwang dan Minje saling beradu pandang, mereka tahu?

"Lu semua tahu?" Juwang akhirnya buka suara, Donghwa mengangguk dengan mulut yang masih sibuk mengunyah. "Ya elah, keliatan kali. Siapa sih yang gak tahu, ouh gua juga pernah liat lu bedua ciuman waktu kita berempat liburan." ucap Donghwa tanpa beban.

"Sama, waktu liburan gua kebangun tengah malem terus denger suara aneh, gua pikir Minje nonton bokep full volume… ternyata lagi buat bokep. Desahan lu mantep juga Juw, anjir gokil dah" Juwang tersipu malu, sedangkan Minje mengumpati mulut Donghwa yang terlalu santai membicarakan hal tersebut. "Anjir, lu harusnya rekam Hwa, gua juga mau denger minimal bangunin gua dah" Keiju ikut menggoda mereka berdua, terutama Juwang yang sudah menahan malu.

"Dan kalian pikir, gua gak liat tiap kalian gandengan di bawah meja warmindo?" Keiju mengaku. "Kalian gak jijik?" Juwang dengan segala ketakutannya.

"Santai aja kali Juw, kita kagak homophobic kok. Ya gak Ju?" Keiju mengangguk membenarkan. "Terus kenapa kalo lu udah tahu, masih sering nyuruh Juwang atau gua cari pacar?" Minje tak terima, seolah Donghwa sengaja lakukan semua itu.

"Ouh kalo itu, gua sengaja sih" dan memang sengaja, Donghwa mengangkat bahunya tak acuh. "Ya pengen liat kalo kalian cemburu. Eh, lu kan Nje yang sering cemburu buta. Cuma kemarin aja sih gua liat Juwang cemburu mampus"

"Bangsat lu anjir" Juwang merasa tak terima seolah dipermainkan.

"Santai guys, kita baik-baik aja kok sama orientasi kalian. Gua juga bisex btw" dan Keiju sekalian mengaku, seolah ini adalah pengakuan dosa.

Setelahnya mereka mengobrol berbagi kehangatan di ruangan yang tak begitu besar ini. Juwang dalam hati merapalkan kalimat syukur, bahwa kekhawatirannya tak terjadi. Dan Minje akhirnya bisa mencintai Juwang dengan suara yang lantang

 

Fin -