Work Text:
23.49
“Aamon, kamu mau bawa aku ke mana?”
Tangan Natan digenggam erat oleh Aamon, pria itu membawa dirinya entah ke mana tepat setelah keduanya turun dari mobil.
“Aku mau kasih tau tempat yang bagus buat lihat kembang api, jadi, percaya sama aku,” balas Aamon.
Mendengar itu, Natan tak lagi berniat untuk bertanya. Ia biarkan Aamon membawa dirinya melewati jalan setapak kecil di antara rimbunnya pohon dan semak-semak. Dari kejauhan, bunyi kembang api kecil terdengar saling bersahutan, hendak menyambut sang bintang utama yang akan diledakkan tepat ketika tahun berganti.
Jalan yang nampaknya tersembunyi itu hanya diterangi oleh beberapa lampu kuning. Tidak ada orang-orang di sekitar, hanya ada mereka berdua; seolah tempat ini adalah tempat tersembunyi yang hanya diketahui oleh Aamon. Seharusnya Natan merasa khawatir, namun, dengan adanya sang kekasih di sini, ia tidak merasakan kekhawatiran itu.
Langkah demi langkah mereka ambil. Hingga akhirnya mereka keluar dari jalan setapak itu, dengan panorama luas kota Lumina di malam hari yang terpampang jelas memikat mata. Saat ini, keduanya berada di kawasan terbuka tertinggi di kota Lumina. Bukit? Tebing? Entahlah, namun tempat ini cocok dijadikan sebagai tempat untuk menyaksikan kembang api.
Natan terpesona dengan apa yang dilihatnya. Mata berbinar ketika salah satu dari banyaknya kembang api pembuka kembali diledakkan, menghiasi langit malam dengan buncahan cahaya terang beragam warna. Aamon, yang berdiri di sebelahnya, mengabaikan keindahan yang terjadi di langit.
Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan bagaimana Natan menatap dengan rasa penuh kagum pada kembang api tersebut. Beberapa kali kekasihnya itu memberi komentar pada setiap warna yang ada tiap kali kembang api diledakkan.
Sesaat Aamon mengalihkan perhatiannya, menatap pada jam tangan miliknya; pukul 23.58, dua menit menuju tahun baru. Dua menit menuju sebuah hubungan baru dengan sang kekasih.
Aamon merogoh sesuatu dari saku kemeja panjang yang ia kenakan, mencari sebuah benda yang sudah lama ia simpan. Bagus. Benda itu masih tersimpan dengan aman di dalam sakunya.
Aamon mengeluarkan kotak kecil tersebut, menyembunyikannya di tangan kiri.
“Mon, kembang api-nya cantik-cantik, kamu enggak perhatiin?”
“Aku perhatiin kok, Mas.”
Demikian Aamon menjawab, namun yang ia perhatikan bukanlah kembang api megah yang saling berlomba-lomba memamerkan keindahannya di langit; melainkan Natan. Tak pernah bosan dirinya menatap kekasihnya.
Kembali Aamon memeriksa waktu.
Pukul 23.59
Bibir bawah tanpa sadar ia gigit, menandakan bahwa dirinya sangat gugup sekarang.
Sial. Ia tidak boleh mengacaukan momen ini.
“Natan—”
Suaranya teredam oleh satu dentuman keras yang datang dari kembang api besar. Namun, seolah mampu membaca apa yang akan terjadi, Natan mengabaikan kembang api tersebut—memilih untuk menolehkan kepalanya pada Aamon, yang saat ini, menggenggam tangannya erat.
“Aamon?” suaranya begitu pelan, tenggelam di antara meriahnya kembang api yang mulai mewarnai kanvas hitam di atas mereka.
Aamon menarik napas, menyiapkan dirinya sendiri dengan segala keberanian yang sudah ia kumpulkan. “Natan, Mas Natan,” Aamon menggumamkan nama Natan.
“Aku mungkin belum sesempurna kayak Nolan, temanmu itu—dan belum seromantis Lancelot dalam urusan percintaan, tapi… aku mau terus berusaha kalau itu berarti kamu masih mau jalin hubungan sama aku.” Aamon berhenti. Sisa kalimat yang ingin ia ucapkan terasa menyangkut di tenggorokannya.
“Mungkin apa yang ku lakukan selama ini masih jauh dari ekspektasi kamu, Mas. Tapi—”
“A-aku—” ucapan Aamon disela oleh suara tawa kecil yang diselingi isakan. “Mas… kamu nangis?”
Natan kembali tertawa. Diusapnya kasar air mata yang membasahi wajah. Senyuman lebar menemani wajahnya yang dihujani oleh beragam cahaya dari kembang api.
“Iya, Aamon,” ucap Natan, tersedak oleh tangisannya. “Iya, aku mau.”
Belum menangkap apa yang dimaksud oleh Natan, Aamon bergeming.
Satu detik, dua detik, tiga—
“Kamu mau terima lamaranku?!” Aamon berjengit, melompat kecil di tempatnya.
Natan menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya, Aamon, iya,” jawabnya.
Tak kuasa menahan emosi yang membuncah, Aamon menarik tubuh Natan ke dalam pelukan erat. Begitu erat, seolah Aamon berniat menyatukan tubuh keduanya di bawah lautan kembang api.
00.00
Pada puncaknya, satu kembang api besar meluncur menuju langit, menjadi saksi bagi dua pasang insan yang masih berpelukan.
Tidak ada yang berbicara untuk beberapa saat, mungkin masih sama-sama mencoba memproses kebahagiaan yang tidak terduga. Hingga Aamon menjauhkan tubuhnya sedikit, menyudahi pelukan keduanya.
Maniknya, yang berkaca-kaca sebab menahan air mata, bertemu dengan Natan—yang sudah lebih dahulu menangis.
“Kok Mas bisa tau aku mau ngelamar Mas?” tanya Aamon, tangannya naik, ibu jari bergerak menyapu air mata Natan yang masih membasahi wajah pria tersebut.
“Semingguan ini sikapmu aneh, orang mana pun bakal sadar, tau,” sahut Natan, tergelak kecil.
“Aduh, rencanaku jadi enggak romantis, deh,” gurau Aamon, perlahan menyatukan dahi keduanya.
Di bawah gemerlap kemeriahan kembang api, mereka menikmati kehadiran satu sama lain dalam keheningan. Untuk melangkah menuju hubungan yang baru, keduanya tidak memerlukan kalimat yang muluk-muluk. Sebab, kesederhanaan seperti ini saja sudah dirasa cukup.
“Jadi, Mas mau ‘kan?”
“Iya, Aamon. Jadi suami kamu? Iya, aku mau.”
