Actions

Work Header

All I Want is You

Summary:

And maybe, you are the one that i need.

We both looks happy together.

Chapter Text

Ketika matahari menampakkan sinarnya malu-malu, Leehan melangkah keluar dari rumahnya dan medongakkan kepalanya untuk melihat ke langit. Setelah membetulkan posisi ransel yang dipakainya, ia menggunakan airpods-nya dan mengayuh sepedanya menuju sekolah. Awalnya ia ragu dan ingin membawa motor, tetapi pagi ini ia mengurungkan niat untuk membawa motor karena ingin berangkat lebih awal dan menikmati cuaca yang cukup cerah dengan sepedanya. Seraya bersiul ringan, ia tersenyum sembari mendengarkan lagu yang mengalun melalui airpods. Jarak komplek perumahan Leehan dengan sekolahnya sebetulnya tidak begitu jauh, hanya dua puluh menit saja menggunakan sepeda. Sungguh, Leehan merasa sangat gembira hanya dengan cuaca yang cerah. Itu sudah membuat moodnya menjadi cukup bagus di pagi ini.

Leehan menghentikan sepedanya ketika lampu lalu lintas berganti ke merah. Di saat yang bersamaan, lampu dengan gambar pejalan kaki berganti warna menjadi hijau menandakan tanda aman untuk para pengguna jalan yang berjalan kaki untuk menyebrangi pertigaan yang tidak terlalu ramai itu. Leehan mengetuk-ngetukkan jarinya di pegangan sepedanya, sembari memperhatikan lalu lalang para pejalan kaki yang sedang menyebrang.

Namun tiba-tiba pegangan tangan nya merosot dan badannya terasa oleng dari sepedanya saat melihat pria yang tampak seumuran dengannya yang lewat tepat di depan nya untuk berjalan ke sebrang. Wangi parfumnya yang khas dan parasnya yang cukup cantik bagi Leehan, langsung membuatnya seketika ingin ambruk ke tanah. Memang sepertinya tubuhnya bereaksi cukup berlebihan, tetapi begitulah dia. Leehan pun melepaskan airpods miliknya dan matanya mengekor untuk melihat ke arah mana pria itu berjalan. Leehan tersenyum kecil ketika menyadari seragam yang digunakan pria berambut hitam itu sama dengannya. "Mungkin aku bisa bertemu lagi dengannya," gumam Leehan pelan. Walau mungkin terdengar cukup mustahil, karena apakah cukup masuk akal di antara begitu banyak orang di sekolah untuk langsung dapat bertemu dengan orang yang dimaksud? Namun Leehan percaya jika nanti bisa bertemu kembali dengan sosok menawan itu.

Saat lampu telah berganti warna ke hijau lagi, dirinya pun melanjutkan perjalanan ke sekolah. Tak butuh waktu lama untuk Leehan tiba di sekolahnya. Setelah memarkirkan sepedanya dengan asal, ia berlari ke gedung sekolah kemudian menuju kelasnya.

Karena masih cukup awal maka masih banyak waktu sampai tiba dimulainya pelajaran. Leehan pun menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan bukunya, tetapi rupanya bukan buku pelajaran. Melainkan buku sketsa miliknya. Ia pun mencoba menggambar sketsa sesosok pria yang beberapa saat lalu mencuri perhatiannya. Walau Leehan hanya melihat sekilas wajahnya, dan itu pun dari samping. Sehingga Leehan tak begitu mengingat seluruh sisi wajah itu. Namun hanya sekejap waktu itu saja, seperti membuatnya tersihir. Bahkan Leehan tak tahu namanya. Persetan dengan itu, Leehan akan mencoba mencari siapa dia dan ingin mengenalnya bagaimana pun nanti caranya. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat dan ia tersenyum kecil. Ah, rasanya dia sedang membuat skenario halu di pikirannya sendiri.

Leehan sendiri adalah pribadi yang cuek. Dia sendiri mengakui itu. Dirinya hanya akan bersemangat jika itu menyangkut hal yang dia sukai. Ikan, space atau angkasa, apapun yang berhubungan dengan alien, dan sekarang mungkin sesosok pria yang cantik yang baru saja selesai ia gambar. Apakah sudah tepat jika disebut sebagai cinta pada pandangan pertama? Mungkin saja. Leehan masih belum tahu apakah perasaan itu hanya rasa suka sesaat atau ia telah jatuh cinta. Yang jelas, sekarang dia seolah merasa mempunyai satu tujuan.

Mengetahui nama si cantik dan ada di kelas berapa di sekolahnya yang cukup besar itu.

Bel pelajaran pun berbunyi. Leehan memasukkan buku sketsanya ke dalam tas kemudian berusaha untuk fokus mengikuti pelajaran. Singkirkan dahulu pikiran tadi, pikirnya. Ia tidak ingin tiba-tiba kecewa jika nanti tidak bisa bertemu lagi dengan sosok yang ia ingin kenal itu.

Waktu istirahat pun tiba. Sebenarnya Leehan selalu membawa bekal untuk makan siang, tetapi tadi dia bangun agak lambat dari alarm biasanya sehingga menjadi malas memasak bekal. Leehan pun melangkah keluar kelas dan tersenyum seraya mengangguk ketika beberapa temannya menyapa dan mengajak untuk ke kantin bersama.

Sesampainya disana, Leehan sempat bingung ingin membeli apa. Namun ia kemudian lagi-lagi mengikuti arahan teman-temannya, untuk membeli semangkuk soto dan nasi. Dia pun selesai membayar dan membawa makanannya untuk bergabung dengan kumpulan teman sekelasnya di suatu meja. Kantin hari itu cukup ramai, maka dia bersyukur ketika mereka masih mendapatkan meja. Walau di meja panjang itu mereka bergabung dengan gerombolan anak-anak lain? Yang sepertinya adalah kakak kelas. Leehan tahu hal itu karena wajah-wajah yang cukup asing. Meskipun dirinya tidak mengenal seluruh angkatannya, namun dia tahu jika beberapa wajah yang tidak familiar itu merupakan kakak kelas.

Yah, peduli apa? Leehan bersikap acuh dan mulai makan tanpa memperhatikan barisan kakak kelas di depan nya. Leehan tertawa dan mengobrol sambil menanggapi gurauan temannya di kanan dan kirinya. Namun ketika dia mengangkat kepalanya, Leehan tersedak kuah soto saat menyadari dia duduk bersebrangan, berhadapan dengan sosok pria cantik yang pagi ini berpapasan dengannya.

"Han, Leehan? Lo nggak apa-apa? Minum dulu anjir," Leehan hanya mengangguk pada pertanyaan temannya dan meraih tisu untuk mengelap sambil menutup mulutnya. Dia harus bersikap tenang, tidak mungkin dia menunjukkan jika ia tersedak karena sosok cantik, yang ternyata kakak kelasnya itu. Pria yang lebih tua di depannya pun tampak tidak terlalu menaruh minat pada Leehan yang habis tersedak, ia memasukkan potongan kue terakhir ke mulutnya.

"Sungho, ayo katanya mau nulisin gua chord lagu itu?" seorang pria yang ditemani dua orang perempuan mendatangi meja itu. Yang dipanggil Sungho hanya mengangguk dan memungut bekas makanannya di meja dan membuang sampah ke tempat sampah terdekat sebelum meninggalkan kursi panjang itu.

Leehan selesai meneguk sebotol air mineralnya, dan melanjutkan makannya dengan tenang. Walau di dalam hatinya sedang berteriak kegirangan. Sekarang dia memiliki satu kemajuan, dia sudah tahu nama Sungho. Namun dia belum mengetahui kelasnya? Yah biarkan itu menjadi list selanjutnya Leehan. Untuk sekarang dia sudah merasa cukup puas. Meski agak sedikit penasaran, dia pun mencoba menanyakan ke teman di sebelah kirinya.

"Tadi tuh kakak kelas dari kelas berapa?"

"Kalau nggak salah dari kelas 3-2. Soalnya gue tahu itu tadi yang dua pada cantik-cantik kesini pas nyamperin kakel yang di depan lu," jawab temannya sambil menyuap bakso.

"Memang cantik sih," gumam Leehan pelan, tentu saja merujuk pada Sungho. Bukan ke dua kakak kelas perempuan sebelumnya.

"Lo bilang apa tadi?"

"Enggak, bukan apa-apa," cengir Leehan sambil menuntaskan makannya.

Mereka pun kembali ke kelas setelah selesai makan saat bertepatan dengan bel masuk berbunyi.

Leehan pun tak menyadari beberapa jam setelahnya jika waktu pulang telah tiba. Dia pun mengambil airpods dari tas dan mengenakannya kemudian berjalan santai menuju parkiran. Setelah mengambil sepedanya, dia mengayuh cepat untuk menyusuri jalan dari halaman hijau sekolah, berkat ditanami oleh banyak pohon rindang yang sejuk.

Leehan hendak bersepeda keluar gerbang sekolah ketika melihat sosok yang familiar baginya, Woonhak. Tadinya Leehan hanya ingin menyapa sambil berlalu tanpa turun dari sepeda. Namun matanya tiba-tiba terbelalak melihat sosok yang berjalan dengan Woonhak, itu Sungho. Dia pun segera turun dari sepedanya dan setengah berlari untuk menyusul keduanya.

"Woonhak! Woonhak!" Leehan sedikit berteriak, membuat Woonhak dan Sungho menengok ke belakang berbarengan, melihat ke arah Leehan yang menghampiri mereka.

"Mau kemana?" tanya Leehan pada Woonhak. Sungho yang memegang buku di tangannya melihat Leehan sekilas, dan itu sudah cukup membuat Leehan tersenyum, namun dia menujukan senyumannya untuk Woonhak. Berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya.

"Mau ke perpustakaan kota, bang Leehan. Soalnya di perpus sekolah ngga ada buku yang ku cari," sahut Woonhak. "Terus katanya kak Sungho mau kesana juga, abang mau ikut?" sambung Woonhak.

"Oh nggak hehe cuma mau nyapa doang tadi, udah lama kita ngga mabar. Kapan-kapan main lagi ke rumah abang ya?" jawab Leehan, kemudian menaiki sepedanya dan tersenyum bergantian ke arah Woonhak dan Sungho. Sosoknya pun meninggalkan kedua orang itu yang menatap punggungnya yang menjauh dengan sepeda dari belakang.

"Itu siapa tadi?" tanya Sungho pada Woonhak sambil meneruskan langkah mereka yang terinterupsi karena Leehan barusan.

"Ohhh itu.. abang yang ku kenal dari tempat les waktu SMP, kak. Terus ternyata satu sekolah lagi sekarang. Orangnya baik. Aku lupa tadi ngenalin kakak ke dia karena dia keburu pergi."

"Iya ngga apa-apa. Lain kali juga bisa kenalan kok. Leehan ya namanya?"

"Iya kak, kakak kenal?"

"Enggak sih, cuma sempet papasan beberapa kali kayaknya. Cuma aku lupa," Sungho melihat sosok Leehan yang telah hilang dari bayangan mereka.

Cakep sih... batin nya di dalam hati.

 

Jangan tanyakan keadaan Leehan saat ini. Oh ayo lah? Tidak ada orang yang tersenyum selebar itu sambil naik sepeda saat matahari bersinar dengan cukup terik. Namun dia merasa hari ini dirinya cukup beruntung. Dalam satu hari dia bisa menemui sosok cantik bernama Sungho itu beberapa kali, terlepas dia baru saja menyadari atau pun memperhatikan eksistensi dari seorang Sungho pagi hari ini.

 

Sepertinya kisah mereka akan terukir panjang. Semoga? Harap Leehan.