Actions

Work Header

Stay by My Side

Summary:

Disclaimer: This work takes Kowagaranai de, Soba ni Ite by Long Utsumi as a reference.

He thinks that he can't give me a normal life.
And that incident only made him believe it even more, and distance himself impulsively.

The only thing he didn't know was that, even without those memories... I still find myself unconsciously seeking his presence.

What is normal life anyway? Why does he think he can't give me that? Is my everyday life not normal?

Notes:

The rules are simple, don't like don't read. You guys have 'back' button, or some phone uses swipe left or right, or uses 'back' on easy touch. Jangan kayak orang gak ada kerjaan, aku yang pengangguran aja gak kayak gitu.

Btw ada loker? Pustakawan?
Aku siap menjadi pustakawan yang baik hati dan tidak sombong. Aku siap membantu kalian, para pencari informasi, mencari bahan pustaka mana yang bisa membantu kalian menyelesaikan tugas atau skripsi kalian. Ada loker?

😂Malah promosi, heh, bukan linkedin ini

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Aku pikir semua akan baik-baik saja.

Untukku

Dan untukmu

Sekarang dan seterusnya

“Anggap aja ini gak pernah terjadi.”

Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu darimu.

 


 

Aku membuka kelopak mataku yang terasa berat. Pandanganku masih buram, hanya cahaya terang yang menusuk ke mataku. Kepalaku berdenyut. Aku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bisa fokus.

Platform putih.

Bau antiseptik.

“…”

Aku mengangkat tubuhku perlahan, menopang diri dengan kedua tanganku. Kulihat di sampingku ada jendela besar.

“Rumah sakit…?”

“Kok bisa…?”

Tiba-tiba, tirai di sisiku terbuka.

“Juna?”

Orang yang membuka tirai itu terlihat kaget. Dia memanggil namaku, tapi aku tidak tahu siapa dia.

“Ee…sia-“

Ucapanku terpotong. Dia tiba-tiba memelukku dengan erat.

“Makasih, Tuhan!” katanya.

“…”

“Arjuna!”

Kali ini aku tahu siapa itu, Nakula. Dan dia ditemani oleh Bima.

“Nakula, Bima,” sapaku.

“Syukur kamu udah bangun! Gimana keadaannya sekarang?” tanya Nakula.

“Aku…”

“Kau bisa-bisanya sih jatuh dari tangga. Apa masih ada yang sakit?” tanya Nakula lagi, padahal pertanyaan tadi belum sempat aku jawab.

“Ngak…” jawabku.

“Syukurlah.”

Bima mendekat dan menaruh tangannya di pundakku. “Untung lu tahan banting ya, Mas,” katanya.

“Gak... hah?”

Nakula menghampiri orang itu. “Syukur ya, Dis,” kata Nakula.

“…Iya.” Jawabnya.

“Maaf aku nangis,” katanya.

“Gak papa.”

Siapa? Kok aku gak ingat dia.

Nakula melihatku lagi. “Kita panggilin dokter dulu ya.”

Tapi sebelum Nakula sempat pergi, “Nakul.”

“Ya?”

“Dia siapa?” tanyaku, menunjuk orang asing yang dari tadi berdiri di sampingku.

Semua terdiam.

 

*

Beberapa hari kemudian…

Siang itu di ruangan kantor yang nyaris sunyi, hanya dipenuhi oleh suara detik jam dinding dan lembaran kertas yang sesekali bergeser.

Arjuna duduk di meja kerjanya dengan kening yang mengkerut dalam.

Dokumen-dokumen berserakan, lembar laporan yang penuh coretan tinta merah menumpuk tidak beraturan. Secangkir kopi di mejanya sudah dingin sejak beberapa jam yang lalu.

Arjuna akhirnya menghembuskan napas panjang. Jari-jarinya memijat pelipisnya sebentar sebelum kembali ke lembaran di depannya.

Semakin dia membacanya, semakin banyak bagian yang terasa janggal. Nama-nama yang seharusnya tidak saling terhubung justru muncul berulang kali. Angka-angka di laporan keuangan itu juga terlalu bagus.

“Sial.”

Arjuna menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit kantor untuk beberapa saat.

Ceklek.

Pintu ruangannya terbuka.

“Mas Juna!”

Bima berdiri di ambang pintu sambil mengangkat sekantong plastik berisi jajanan, mungkin bakwan.

Pandangan Bima langsung jatuh ke meja Arjuna yang berantakan. “Buset.”

“Ngapain ke sini, Bima?”

“Menurut mas?”

“Aku udah sehat kok.”

“Kata Mas Nakula, kalau sehat harusnya gak ngeyel,” cemoh Bima.

Bima berjalan mendekat dan duduk di depan Arjuna.

“Kau tuh baru kemaren keluar dari rumah sakit loh, Mas. Istirahat kek,” kata Bima.

“Aman aja,” kata Arjuna.

“Aman aman, aman dari mana.”

“Heh, in this economy ya, kalau gak kerja, mau makan apa aku,” Hardik Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.

“Dih, marah-marah terus ih Mas Juna.”

“Ya, kau gak percaya sama aku.” Arjuna memijat pelipisnya pelan.

Bima cuma mendengus. Dia lalu membuka bungkusan yang dibawanya. Aroma gorengan bakwan hangat langsung memenuhi ruangan.

“Makan mas,” tawar Bima sambil menyodorkan plastik bakwannya.

“Kau aja, aku gak lapar,” jawab Arjuna.

“Gak lapar tapi muka udah putih kayak hantu,” sarkas Bima.

Arjuna mendecakkan lidahnya. “Lebay.”

“Dih,” Bima menggigit bakwannya. “Tapi serius deh, Mas, mukamu tuh udah kayak zombie.”

“Bim, kau komen terus, bakwan mu kubuang ya Bim.”

“Ya jangan dong.” Bima langsung mengambil semua gorengannya.

Ruangan kembali sunyi beberapa saat, kecuali suara kunyahan dari mulut Bima.  

“Abang.”

“Apa lagi?”

“Mas Kula nyuruh aku seret Abang keluar kalau perlu.”

Arjuna langsung mengangkat pandangannya. “Eh, jangan macam-macam kau ya.”

“Tapi itu amanah, Mas.”

“Gak, gak. Kerjaan ku masih banyak, Bima~”

Arjuna mengambil pulpen, hendak kembali mencoret sesuatu, tapi sebelum sempat menyentuh kertasnya, Bima tiba-tiba menarik dokumen itu dan melemparnya.

“Udah.”

“Bima.”

“Pulang.”

“Aku belum selesai.”

“Dan gak akan selesai kalau Mas tepar lagi. Mau aku gendong atau jalan sendiri.”

“Tapi Bim-“

Bima memotong Arjuna dengan langsung mengangkat Arjuna ke pundaknya.

“TURUNIN GAK BIMA!”

“Gak!”

“Bima!"

Arjuna menggeliat untuk melepaskan diri. Tangannya sempat memukul punggung Bima beberapa kali. Tapi apalah daya, badan Bima yang sebesar itu tidak mungkin dia lawan dengan tubuh lemah seperti saat ini.

Iya, Arjuna mengaku, tubuhnya saat ini memang lemah karena masih dalam tahap pemulihan. Sial, andai saja dia tidak mengalami kecelakaan itu.

Ngomong-ngomong soal kecelakaan. Apa kabar Yudistira ya?

Ternyata laki-laki yang memeluknya di rumah sakit waktu itu bernama Yudistira, dan dia merupakan teman baik Arjuna, dan mereka sudah bersahabat sangat lama, lebih lama ketimbang dia dengan Bima, Nakula, atau Sadewa. Dan yang membuat kejadiannya terasa semakin aneh adalah, hanya kenangan tentang Yudistira yang hilang, dia tidak ingat sedikitpun tentang Yudistira.

Bima membereskan beberapa barang Arjuna, memasukkannya ke dalam tas Arjuna, lalu berjalan keluar ruangan sambil tetap memanggul Arjuna seperti karung beras.

Karyawan Arjuna terkejut melihat bos mereka dibawa begitu saja oleh seseorang.

“Apa liat-liat. Balik kerja!”

“Waduh…” Karyawan yang tercengang langsung lari mengicir, kabur.

“Malu banget, sial, ini muka bakal ditaruh di mana ntar,” desis Arjuna sambil menutupi wajahnya.

Bima terkekeh.

“Aku sumpahin keselek bakwan kau Bim.”

“Jahat ih.”

Pintu lift terbuka tepat saat mereka sampai di depan sana. Bima masuk dengan santai sambil bersenandung, sedangkan Arjuna masih menggantung di pundaknya.

Keluar dari lift, Bima berjalan menuju parkiran. Dia lalu menurunkan Arjuna di samping mobilnya.

“Mau kemana?” tanya Arjuna saat sudah di dalam mobil Bima.

“Antara. Mas Dewa yang suruh,” kata Bima sambil memakai sabuk pengamannya.

Mobil itu berjalan keluar dari area parkir gedung dan memasuki jalanan kota yang padat. Di perjalanan, tidak ada yang memulai percakapan. Keduanya hanya diam.

Tak lama, mobil Bima berhenti di depan sebuah bangunan ruko tua berdinding bata merah. Papan nama tua dengan lampu neon berbentuk gelas martini yang berkedip dengan malas.

Bima turun dan masuk lebih dulu ke dalam bar, yang disusul oleh Arjuna. Begitu Arjuna  membuka pintu bar, suasananya langsung berbeda. Musik jazz mengalun pelan dari sudut ruangan. Lampu kristal chandelier mengedarkan cahaya kuning keemasan ke seluruh ruangan. Aroma alkohol dan asap rokok bercampur jadi satu disana.

Para pengunjung berbicara dengan pelan di booth mereka masing-masing. Sesekali terdengar suara tawa kecil. Beberapa lainnya hanya duduk menikmati minuman mereka.

“Oi.”

Panggilan itu memudarkan lamunannya. Suara itu datang dari balik meja bar. Sadewa sedang mengelap gelas dengan kain kecil di tangannya.

“Kau lagi cosplay jadi zombie, ya?” tanya Sadewa yang melihat kondisi Arjuna.

“Mana ada,” sanggah Arjuna.

Bima tertawa, “Bener kan, udah kayak zombie gitu mukanya.”

Sadewa menghela napasnya.

“Duduk. Kubuatin makanan.” Sadewa meletakkan gelas yang tadi dia pegang.

Arjuna menurut dan duduk di sebelah Bima.

“Dibilangin suruh istirahat, ya istirahat. Bukannya malah kabur kerja. Aneh. Baru pertama kali saya lihat orang kabur buat kerja.”

“Iya eh, Mas. Orang malahan mau kabur biar gak kerja,” sambung Bima.

“Udah, ini diminum dulu. Saya tinggal ke belakang.”

“Apa ini? Alkohol kah?” tanya Arjuna.

“Ngawur, saya gak segila itu untuk kasih alkohol ke orang sakit ya. Ocha itu,” ucap Sadewa sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan Bima dan Arjuna berdua.

Suasana di ‘Antara’ sangat tenang. Lampu-lampu kuning memantul lembut di permukaan meja bar yang mengkilap. Musik jazz mengalun pelan, samar bercampur dengan suara dentingan gelas pengunjung lain.

Arjuna menopang dagunya dengan tangan sambil menatap gelas teh di depannya. Bima di sampingnya sibuk memainkan game di HP-nya.

“Mas.”

“Hm?”

“Jangan ngelamun, ntar kemasukkan.”

“Gak.”

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Sadewa keluar membawa dua piring pasta untuk teman-temannya. Aroma bawang putih dan butter langsung menyebar pelan memenuhi area bar.

“Wihhh, enak nih,” gumam Bima.

“Pasti lah,” jawab Sadewa santai sambil meletakkan piring di depan mereka satu per satu.

“Mas, ih, kok punyaku ada jamurnya?” Bibir Bima manyun-manyun.

“Jangan rewel, Bima,” kata Sadewa.

“Yaudah mas Juna tukeran yuk.”

Baru akan menggeser piringnya ke samping, piring itu ditahan oleh tangan Sadewa.

“Makan,” tegas Sadewa.

“Aaahhh~” rengek Bima.

Arjuna terkekeh melihat Bima yang merajuk.

“Makasih,” kata Arjuna ke Sadewa.

“Iya.”

Bima sudah mengunyah sesendok pasta bahkan sebelum Sadewa selesai bicara. Arjuna ikut mengambil garpu dan mulai makan.

Kring.

Bel kecil di atas pintu depan berbunyi pelan.

“Dew, numpang minum.”

Arjuna mengalihkan pandangannya ke pintu. Di sana, berdiri orang yang sedang memenuhi isi pikirannya saat ini, Yudistira.

“Eh, ada Bima sama Juna,” kata Yudistira sambil berjalan mendekat ke arah bar.

“Eh, kau kerja kah?” tanya Yudistira yang melihat setelan Arjuna.

“Iya nih, masmu ini kabur dari rumah buat kerja. Aneh gak,” kata Bima, mengompori.

“Yaudah sih kalau aku mau kerja,” sanggah Arjuna. Yudistira terkekeh mendengarnya.

“Ya kalau gak kerja, mau makan apa, Bim,” kata Yudis. Dia mendudukkan dirinya di salah satu kursi bar yang agak jauh dari Bima dan Arjuna.

“Tuh kan, dia aja ngerti lo,” bela Arjuna. Yudistira terkekeh pelan.

Arjuna menyendokkan pasta ke mulutnya.

“Eh, Yudistira,” panggil Arjuna.

“Hmm?”

“Aku mau bilang makasih,” kata Arjuna.

“Buat?” tanya Yudistira.

“Katanya kau yang panggil ambulans. Makasih.”

“Yaelah, gitu doang, biasa aja kali, orang kecelakaan ya manggil ambulans, masa manggil tukang bakso,” kata Yudistira.

Bima dan Sadewa tertawa mendengar kata-kata Yudistira. Arjuna sendiri agak kaget mendengar respon dari Yudistira.

Sadewa kemudian menaruh gelas di depan Yudistira.

“Thanks,” kata Yudistira.

Arjuna diam-diam memperhatikan Yudistira. Aneh. Beneran aneh. Kok bisa cuma ingatan tentang Yudistira saja yang dia lupakan? Kok bisa. Memikirkan itu membuat kepala Arjuna semakin berat. Dia memijat pelipisnya.

“Kau kenapa?” tanya Sadewa.

Arjuna menggeleng.

“Mungkin Mas Juna pas liat muka Yudis jadi balik ingatannya. Kayak di tv tv itu lo mas,” kata Bima.

“Kamu tuh kebanyakan nonton siaran gak bermutu, Bima. Mana ada orang amnesia ingatnya begitu.”

“Emang mas pernah amnesia?”

“Ya gak gitu juga, Bima.”

Di antara semua itu, Yudistira menatap Arjuna yang masih memijat pelipisnya.

“Gak usah diinget juga gak papa. Gak ada yang istimewa kok,” kata Yudistira. Dia lalu beranjak dari duduknya.

“Thank, kasbon dulu ya Dew.”

Yudistira keluar dari bar itu tanpa melihat ke belakang lagi.

“Keras kepala sekali adekmu itu, Bim,” kata Sadewa.

“Memang mas, gak ngerti lagi aku,” sahut Bima.

Sadewa mengembalikan pandangannya ke Arjuna. Menatapnya sebentar. “Habisin dulu makanannya, nanti Bima antar kamu pulang.”

 

*

Di Rumah Arjuna.

Setelah Bima mengantarnya pulang, tak lama dia pun pergi karena ada pekerjaan. Arjuna sendiri, bukannya beristirahat, malah berkutat lagi dengan pekerjaannya.

“Uhnnnnn…”

Dokumen-dokumen kembali memenuhi meja. Lampu ruang tamu menjadi satu-satunya penerangan di tengah apartemennya yang gelap.

Arjuna menopang dagunya sambil membalik halaman berikutnya.

“Pinter banget sih…”

Pulpen di tangannya mengetuk meja. Nama-nama itu lagi.

Dia mengambil lembaran lain. Mencoret lagi.

“Enggak masuk akal kocak.”

Keningnya mengkerut. Semakin dia membacanya, semakin banyak bagian yang terasa janggal. Arjuna menghembuskan napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

Sial, benar-benar sial.

Kepalanya mulai sakit lagi. Tanpa sadar, pikirannya justru melayang ke seseorang.

Dia…

“Gak usah diinget juga gak papa. Gak ada yang istimewa kok.”

Arjuna langsung mengernyit.

“Kenapa malah mikirin dia kocak?”

Arjuna berdiri. Detak jantungnya berderu tak nyaman. Dia memijat pangkal hidungnya sebelum akhirnya berjalan ke dapur mengambil air. Sepertinya dia kurang minum. Atau kurang tidur. Atau kepalanya memang belum benar-benar pulih dari kecelakaan itu.

Tapi bohong kalau dibilang Yudistira itu tidak mengganggunya. Kalau mereka adalah teman dekat, kenapa reaksi Yudistira terkesan bodo amat dengan Arjuna yang melupakannya, itu sedikit membuatnya kesal.

Okeh.

Sangat kesal.

Bagaimana mungkin orang yang sudah berteman baik sangat lama, ketika salah satunya melupakannya, dia hanya bercanda begitu saja? Tidak seperti sinetron-sinetron yang dulu sering dia tonton bersama adiknya, yang mana harusnya orang itu akan sangat ngotot supaya orang itu bisa mengingatnya.

Aneh kan?

Apa Yudistira sakit hati soalnya gak ingat dia? Apalagi waktu di rumah sakit kemaren?

Arjuna bersandar di meja dapur sambil meneguk air dingin perlahan.

Bisa jadi.

Kalau semisal Yudistira yang hilang ingatan, khususnya soal Arjuna, mungkin Arjuna akan marah. Atau tidak. Tapi Arjuna tahu kalau dia akan ada di sisi Yudistira dan membantunya mengingat soal dirinya lagi.

“Akh ngga! Kalau dia bodo amat ya gw juga bodo amat anjir!”

Arjuna membanting botol minumnya. Kakinya bergerak tergesa keluar rumah. Lari. Dia akan lari untuk menjernihkan pikirannya. Persetan dengan badannya yang masih belum pulih.

Dia lari mengelilingi kompleks rumahnya. Cukup lama, sampai akhirnya dia lelah dan memutuskan untuk ke Ind*m*ret.

Lampu minimarket itu masih terang seperti biasa saat Arjuna mending pintu kacanya.

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut badan Arjuna yang basah oleh keringat. Napasnya belum sepenuhnya teratur setelah berlari cukup lama.

Sial. Kepalanya semakin sakit.

Di saat itu juga, mata Arjuna menangkap siluet seseorang yang sedang berdiri di depan rak minuman.

Yudistira.

Arjuna mendekati Yudistira.

“Yudistira!!”

Yudistira yang sedang memegang botol kopi menoleh ke samping untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Kau habis lari?” tanya Yudistira.

“Kocak, masih sakit padahal. Mau jadi atlet lari kah?”

Arjuna membuka mulutnya, ingin menjawab Yudistira. Tapi dia menutupnya lagi. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Masa dia bilang kalau dia lari itu biar tidak kepikiran Yudistira terus.

Tatapan Arjuna jatuh ke keranjang belanja di tangan Yudistira. Mi instant, roti, kopi. Kening Arjuna langsung mengerut.

“Kau makan beginian?”

Yudistira melihat isi keranjang dan tidak merasa aneh. “Penting kenyang gak sih.”

Arjuna mendecak. Dia menarik keranjang itu dari tangan Yudistira.

“Weh, ngapain kau? Jajan ku.”

Satu per satu makanan instan itu ditaruh kembali ke rak.

“Jajan gak sehat,” kata Arjuna. Dia mengambil cup ramen terakhir dari keranjang Yudistira lalu meletakkannya kembali di rak dengan wajah tidak suka.

“Kau tuh liat badanmu, udah sekecil itu, tapi makannya instan instan begini, kek mana lah.”

Yudistira menatap Arjuna dengan bingung.

“Minimal sayur kek, buah, telur, ayam. Gituh, yang sehat, warteg tuh banyak.”

Yudistira tertawa.

“Kau kenapa ketawa? Apa yang lucu?”

Yudistira masih tertawa.

“Ngak. Gak papa,” kata Yudistira.

Arjuna sedikit tersenyum.

Tersenyum?

Tak lama terdengar suara gemuruh perut yang berasal dari Yudistira. Yudistira cengengesan, "Hehe."

Arjuna menaruh keranjang belanja itu di tumpukannya dan menggandeng tangan Yudistira.

“Kau belum makan kan? Ayo,” ajak Arjuna.

Arjuna membawa Yudistira ke rumahnya. Dia mendudukkan Yudistira di meja makan dan mulai mengeluarkan makanan yang ada di kulkasnya, menghangatkannya untuk Yudistira.

“Kau gak makan?" tanya Yudistira saat Arjuna hanya mengambil sepiring nasi yang ditaruh di depannya.

“Udah tadi.”

Bohong.

“Pas di 'Antara'? Kalau mau bohong ya minimal meyakinkan dikit, Arjuna,” protes Yudistira.

“Yaudah nih gw makan.”

Arjuna mengambil piring lain dan mengambil nasi untuk dirinya. Dia lalu duduk di samping Yudistira dan mengambil beberapa lauk di depannya. Yudistira sendiri sudah menyendokkan nasi ke mulutnya.

Arjuna menatap Yudistira yang sedang makan.

Awalnya biasa saja. Hanya sekadar memperhatikan laki-laki di depannya makan. Cara Yudistira menyendok nasi perlahan. Ekspresinya yang santai. Dia yang sesekali menghembuskan napas kecil karena makanannya masih panas.

Tubuh Yudistira memang tidak besar. Cenderung kurus malah.

Wajahnya juga…kecil.

Pipinya samar bersemu merah muda alami. Bulu mata lentiknya.

Dan bibirnya.

Tipis.

Pink.

“Kenapa?” tanya Yudistira yang sadar sedang ditatap.

Arjuna tersentak kecil.

“Hah? Ng-nggak. Gak kenapa-kenapa.”

“Enak gak?” tanya Arjuna.

“Enak lah, Sadewa yang masak.”

Arjuna mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang langsung ditenggak semuanya.

Arjuna bingung. Kenapa dia gugup? Lebih lagi, kenapa dia sempat mikirin bibir Yudistira? Kayaknya bener kata Bima. Dia masih sakit.

Hening. Arjuna masih dengan pikirannya, sedangkan Yudistira melanjutkan makannya.

“Gimana lukamu?” tanya Yudistira.

“Ha? Oh. Aman kok, beneran gak sakit lagi.”

Yudistira menaruh sendok di tangannya.

“Okeh.”

Yudistira lalu berdiri dari duduknya. “Makasih makanannya. Aku harus pergi dulu.”

Arjuna mengernyit. Masih banyak sisa makanan di piring Yudistira. "Masih banyak itu."

"Udah kenyang."

Arjuna ingin protes, tapi Yudistira sudah pergi duluan, Arjuna menghela napas. Dia menyusul Yudistira untuk mengantarnya keluar.

“Hati-hati,” pesan Arjuna.

Yudistira mengangguk dan berjalan pergi.

“Oh, Yudistira!” panggil Arjuna tiba-tiba. Yudistira menoleh ke arahnya.

“Sorry,” kata Arjuna. Yudistira tersenyum.

Tapi... sedih.

Sedih? Yudistira sedih?

“Hmm,” jawab Yudistira. Lalu dia berbalik pergi.

 

*

Pintu rumahnya ditutup pelan. Arjuna mengunci pintunya dan berdiri diam di sana, menatap kosong ke arah pintu di depannya.

“Kenapa dia?”

Senyum Yudistira kembali terlintas di kepalanya.

Sedih.

Apa memang dia sakit hati karena dilupain sama Arjuna? Apakah dia ada berbuat salah? Arjuna bingung.

“Ah, persetan.”

 

*

Tak jauh dari rumah Arjuna, langkah Yudistira mulai melambat. Napasnya berderu kencang. Yudistira menundukkan kepalanya cepat sambil menutup mulutnya dengan tangan.

“Hh…”

Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun, gagal. Yudistira terduduk di pinggir jalan yang sepi, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengannya. Bahu kecilnya bergetar pelan.

Sesenggukan kecil lolos meski dia sudah berusaha untuk menahannya.

Notes:

Thank you, gra*marly. Tanpa bantuanmu, tulisan ini akan penuh typo dan titik koma yang tidak sesuai tempat.
Mas/abang. Can’t decide. I think Bima had called Juna either abang or mas, it depends, I guess.
Benci kali aku sama auto correct ms.word ini. Parkir, aku mau nulis parkir, masa auto correct jadi parker coba. Aneh. Tapi malas juga nyettingannya anjir.

Pas bikin vibes ‘Antara’ disini tuh kek entah kenapa langsung kepikiran vibes bar nya Dazai Osamu waktu masih di Port Mafia itu, yang mereka bertiga, Dazai, Odasaku, sama Ango nongkrong tuh kek, anjay masuk brooo. Mantep banget dah pokoknya. Jadinya aku pake itu.

The fuck is wrong with the auto correct, nulis merajuk jadi merujuk. SAPE YANG MAU RUJUK? KAGAK ADA YANG CERAI.
MAKAN. MAKANNYA. KENAPA JADI MAKNANYA ANJ