Actions

Work Header

Stay

Summary:

Dew texted, Sky got jealous, Nani got quiet, and Noah took up half of the couch. In the end, Sky learns that love was never about competing with the past.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Waktu malam telah tiba di apartemen milik Sky dan Nani, membawa hujan tipis yang menempel di jendela seperti embun. Lampu ruang tamu tidak dinyalakan sepenuhnya, hanya lampu sudut berwarna hangat di dekat rak buku yang membiarkan ruangan dipenuhi cahaya lembut kekuningan.

TV menyala pelan menampilkan film yang bahkan mungkin sudah lewat setengah cerita, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus menontonnya.

Karena malam itu bukan tentang filmnya, melainkan tentang Sky dan Nani serta kucing berusia tiga bulan yang baru saja diadopsi bernama Noah. Nani terjebak setengah tenggelam di pelukan Sky di sofa dengan selimut abu-abu besar menutupi tubuh mereka sampai kaki, kusut karena terlalu sering ditarik ke sana-sini.

Posisi mereka bahkan sudah tidak jelas lagi siapa memeluk siapa. Nani duduk di antara kedua kaki Sky, punggungnya menempel penuh di dada lelaki itu, sementara tangan Sky melingkar santai di pinggangnya. Lebih tepatnya tidak santai karena tangannya tidak berhenti bergerak. Mereka berdua selalu menikmati quality time berdua, saling bermanja dan tidak ada yang pernah keberatan.

Noah si kucing ragdoll milik Nani meringkuk di pangkuan mereka, ekornya bergerak malas sesekali. Kucing itu tampak sangat puas berada di tengah-tengah kehangatan dua manusia favoritnya.

Nani pun terlihat kecil malam itu.

Sebenarnya tubuhnya tidak sekecil itu, tapi ada hari-hari tertentu saat dirinya tampak mengecil dengan sendirinya. Bahunya turun, gerakannya pelan, dan ia lebih banyak diam. Sky sudah mengenal tanda-tanda itu. Menurut Sky itu adalah hari di mana Nani lebih mudah tenggelam dalam pikirannya sendiri dan hari di mana ia akan otomatis menjadi lebih lembut dari biasanya.

Film di TV berganti adegan. Cahaya dari layar memantul ke wajah Nani yang setengah bersandar dengan mata mengantuk. Rambutnya sedikit berantakan karena tadi selesai mandi dan belum benar-benar kering.

Sky menunduk pelan, menempelkan dagunya di pundak Nani. Tubuh di pelukannya hangat, terlalu hangat dan nyaman. Entah kenapa rasanya seperti rumah. Nani mengangkat tangan pelan lalu menyentuh lengan Sky yang melingkari pinggangnya, mengusapnya tanpa sadar. Kebiasaan kecil hingga Sky tersenyum sendiri.

Lalu ponsel Nani yang ada di meja berbunyi, suara notifikasi pendek.

Nani menoleh sekilas.

Sky ikut melihat, nama yang muncul di layar membuat senyumnya menghilang sedikit.

Dew.

Hanya satu nama, tidak ada emoji, tidak ada hal aneh. Tapi tetap saja karena Dew adalah mantan pacar Nani.

Nani bahkan tidak langsung mengambil ponselnya. Ia hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajah lagi ke TV. Namun tangan yang melingkar di pinggangnya mendadak mengencang sedikit.

Sky bukan tipe yang akan marah besar atau menunjukkan wajah kesal berlebihan. Meskipun terkadang Ia tidak bisa mengontrol alisnya yang naik ke atas tanpa sadar. Sebenarnya jika sedang berdua dan Sky lagi cemburu, reaksinya justru semakin menempel padanya. Sekarang lengan kekar itu semakin mengikat tubuhnya seperti takut Nani menghilang.

Nani memiringkan kepala pelan ke belakang dan mata mereka bertemu. Sky tersenyum kecil, senyum yang terlalu manis. Sangat mencurigakan. 

Nani menatap beberapa detik, lalu pelan-pelan sudut bibirnya naik.

Sky cemburu, lagi.

Tangan Nani naik menyentuh pipi Sky sebentar, "Cemburu ya." pelan sekali. Sky mengusap hidungnya ke rambut Nani, pura-pura tidak tahu. 

Tawa kecil yang membuat dada Sky terasa hangat karena beberapa jam sebelumnya Nani nyaris tidak bicara apa-apa.

Hari ini memang berat untuk Nani. Pagi tadi ia tanpa sengaja ia bertemu Dew saat keluar membeli beberapa barang. Tidak lama. Tidak terjadi apa-apa. Tapi beberapa hal tidak harus besar untuk meninggalkan bekas.

Ada hubungan yang selesai tanpa pertengkaran besar, tanpa kebencian, tanpa teriakan. Tapi justru meninggalkan luka paling aneh. Luka yang tidak berdarah, tapi kadang masih terasa dan Nani termasuk orang yang terlalu memikirkan segalanya.

Sore tadi saat pulang, Sky menemukan Nani hanya duduk diam di tempat tidur sambil memeluk Noah, melamun. Sky langsung mengerti, Ia tidak memaksa penjelasan. Ia hanya mendekat, membuka kedua tangannya, dan menunggu. Nani kemudian masuk ke pelukannya dalam beberapa detik. Sejak saat itu Sky hampir tidak melepaskannya. Sekarang pun sama.

"Lagi mikirin?" Ucap Sky sambil menggeser wajahnya lalu menempelkan pipi kanannya di kepala kekasihnya itu. Nani terdiam cukup lama. 

"Aku cuma..." suara Nani kecil sekali, "kadang takut."

Sky tidak menyela.

Nani selalu lebih mudah bicara kalau tidak dipotong, "Bukan takut soal Dew." lalu terdiam sebentar sebelum menambahkan, "Aku takut kalau aku capek begini terus." Jari-jari Nani mulai memainkan ujung selimut.

Takut kalau Sky merasa dirinya terlalu sensitif, terlalu rapuh, banyak berpikir, dan susah untuk dicintai.

Sky melihat wajah sampingnya, lalu melihat tangan kecil yang mulai gelisah memainkan kain. Perlahan Sky menyelipkan jemarinya di sela jari Nani dan menghentikan gerakan itu. Membiarkan tangan mereka bertaut, lalu Ia mencium pelipis Nani pelan beberapa kali. 

Tanpa terburu-buru, seolah sedang menenangkan sesuatu yang tidak terlihat.

"Aku suka semuanya." Pelan sekali.

"Aku suka waktu kamu cerewet." Sky memberikan ciuman kecil di rambut.

"Aku suka waktu kamu manja." Ciuman lagi.

"Aku suka waktu kamu ketawa." Ciuman lagi.

Dan kali ini Sky memeluknya semakin erat, "Aku juga suka waktu kamu sedih atau ngeluarin semua emosi kamu."

Nani menunduk pelan dan matanya mulai panas.

Kadang hal paling menyakitkan bukan saat seseorang pergi.Tapi saat terbiasa merasa kalau bagian paling berantakan dari diri sendiri tidak layak dilihat. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang memeluk bagian itu tanpa ragu.

Sky tidak pernah mencoba memperbaiki dan mengubah hanya memegang dan memeluk Nani erat. Sekaligus memberikan pengertian dan menemani. 

Nani berbalik perlahan di pelukan Sky sampai sekarang wajah mereka berhadapan. Noah protes kecil karena posisinya terganggu lalu pindah ke samping sambil meringkuk lagi.

Mata Nani sedikit merah. Sky langsung mengusap bawah matanya pelan menggunakan ibu jari. Tidak ada air mata yang jatuh. Tapi Sky tetap mengusapnya. Tetap memperlakukan perasaannya seperti sesuatu yang harus dijaga hati-hati.

Nani lalu mendekat sampai wajahnya tenggelam di leher Sky.

Dan untuk beberapa menit setelahnya mereka tidak bicara. Tidak ada yang perlu dikatakan. Sky hanya terus mengusap punggungnya pelan. Membiarkan tubuh di pelukannya tahu kalau dia ada di sana.

Noah pun tertidur dengan perut naik turun pelan.

Dan di bawah selimut kusut itu, Sky masih memeluk Nani seolah takut dunia diam-diam mengambilnya saat ia lengah.

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin yang lebih takut kehilangan malam itu bukan Nani, tapi Sky. 

Notes:

Hope you like it! edisi kangen SkyNani (like always) dan DewNani (a little).