Work Text:
Hari terakhir bulan ketiga terasa aneh bagi seluruh shift pagi 'The Pitt', sebab tidak ada seorang pun benar-benar yakin Dr. Michael “Robby” Robinavitch akan kembali bekerja setelah spiritual riding gilanya selesai akhirnya. Dana bahkan mulai bertaruh dua puluh dolar dengan Princess mengenai kemungkinan Robby memilih menetap di kota kecil pegunungan lalu membuka bengkel motor murahan daripada kembali menghadapi UGD penuh kekacauan setiap hari.
“Aku serius,” ujar Dana sambil menggulung lengan bajunya, “orang itu kelihatan seperti tipe manusia yang bakal menemukan pencerahan spiritual terus lupa kita semua pernah ada.”
Perlah hanya mendecakkan lidah kecil sambil mengetik laporan pasien, namun bahkan dirinya terlihat beberapa kali menatap pintu masuk rumah sakit seperti diam-diam berharap dokter senior tersebut muncul tiba-tiba malam itu.
Whitaker tidak ikut percakapan mereka terlalu banyak sepanjang hari karena dirinya sedang menjalani shift panjang penuh pasien trauma kecelakaan motor sejak sore tadi tanpa jeda dan makan layak sedikit pun. Namun jauh di dalam pikirannya sendiri, ada ketakutan kecil yang terus tumbuh diam-diam setiap hari selama tiga bulan terakhir tentang kemungkinan Robby memang tidak akan kembali lagi sekarang.
Kadang ketika pulang ke rumah Robby, Whitaker berdiri terlalu lama di depan rak vinyl jazz milik Robby sambil membayangkan bagaimana sunyinya tempat itu jika pemilik aslinya benar-benar memutuskan pergi selamanya. Santos pernah beberapa kali menemukan Whitaker tertidur di sofa sambil memegang jaket navy milik Robby, lalu menggeleng pasrah karena roommate-nya—bukan roommate selama 3 bulan terakhir ini—itu terlihat semakin menyedihkan setiap minggu berlalu.
Malam itu pukul sembilan lewat sedikit ketika Whitaker akhirnya membuka pintu rumah Robby setelah menyelesaikan shift paling melelahkan sepanjang minggu berjalan di instalasi gawat darurat rumah sakit mereka. Bahunya terasa nyeri, kepalanya pening akibat suara monitor pasien seharian, sementara baju nya cukup basah karena terkena gerimis tadi.
“Aku kayaknya bakal mati kalau besok masih dapat pasien jatuh dari motor tiga orang sekaligus,” gumam Whitaker sendiri sambil menjatuhkan tas kerjanya dekat sofa ruang tamu tanpa memperhatikan keadaan sekitar apartemen tersebut malam itu.
Lampu dapur menyala redup, namun Whitaker terlalu lelah untuk menyadari ada sepatu boots asing dekat pintu masuk yang jelas bukan miliknya sekarang.
Whitaker berjalan malas menuju ruang laundry kecil dekat dapur sambil mulai melepaskan pakaian kotornya satu per satu tanpa banyak berpikir panjang lagi malam tersebut. Kaosnya masuk mesin cuci lebih dulu, disusul celana, kaus kaki, lalu boxer yang dilempar.
Karena terlalu lelah dan merasa tinggal sendirian seperti biasanya selama tiga bulan terakhir, Whitaker akhirnya hanya menyisakan underwear hitamnya sendiri sambil berdiri depan mesin cuci dengan rambut masih sedikit basah oleh gerimis di luar tadi. “Kalau hidupku makin buruk setelah ini, aku bakal pindah jadi petugas perpustakaan aja,” keluhnya pelan sambil menekan tombol mesin cuci tanpa sadar ada seseorang memperhatikannya dari arah dapur sekarang.
Tiba-tiba sepasang tangan hangat melingkar kuat di pinggang Whitaker dari belakang, membuat dokter muda tersebut langsung tersentak kaget sampai hampir menabrak mesin cuci di depannya malam itu. Sebelum otaknya benar-benar memproses situasi tersebut, tubuhnya sudah diangkat ringan ke atas meja makan dapur oleh sosok tinggi familiar dengan aroma kopi pahit serta parfum kayu yang sangat dikenalnya sekarang.
“Hati-hati kalau berpakaian,” bisik suara rendah Robby dekat telinganya sambil tertawa kecil geli, “siapa tahu disini ada hewan buas. Gimana?” Dunia Whitaker seperti berhenti total beberapa detik karena otaknya terlalu sibuk mencoba menerima kenyataan bahwa Robby benar-benar sudah kembali dan sekarang berdiri sangat dekat dengannya.
Muka Whitaker langsung berubah merah padam sampai ke telinga ketika akhirnya dirinya sadar sedang duduk setengah telanjang di atas meja makan sambil pinggangnya dirangkul Robby dengan santai seperti ini sekarang.
“ROBBY!” serunya panik sambil buru-buru turun dari meja terlalu cepat sampai hampir terpeleset sendiri karena gugup luar biasa mendadak menyerang seluruh tubuhnya malam itu.
Robby hanya terkekeh pelan sambil bersandar santai ke meja dapur, matanya memperhatikan Whitaker yang sekarang sibuk menutupi wajah sendiri menggunakan kedua tangan karena malu setengah mati.
“Astaga, aku hampir kena serangan jantung,” gerutu Whitaker tanpa berani menatap langsung, sementara Robby justru terlihat semakin terhibur melihat reaksi kacau tersebut.
“Kamu harus lihat muka kamu tadi,” kata Robby sambil masih tertawa kecil, lalu mengambil gelas dari dapur seolah dirinya tidak baru saja membuat seseorang hampir mati karena malu beberapa detik lalu.
Whitaker akhirnya memberanikan diri melirik sedikit ke arah Robby, dan dadanya langsung terasa aneh lagi ketika melihat dokter senior tersebut benar-benar berdiri disana setelah tiga bulan penuh hanya hadir melalui pesan singkat serta foto jalanan senja. Rambut Robby terlihat sedikit lebih panjang dibanding sebelumnya, kulitnya lebih gelap terkena matahari perjalanan panjang, sementara matanya tampak jauh lebih tenang sekarang dibanding malam terakhir sebelum dirinya pergi dulu.
“Kamu pulang...” gumam Whitaker pelan, dan tiba-tiba semua rasa rindu yang selama ini ditekan keras kembali memenuhi dadanya sekaligus malam itu.
Robby berhenti tertawa beberapa saat setelah mendengar nada suara Whitaker berubah selembut itu sekarang, lalu memandang dokter muda tersebut dengan ekspresi yang perlahan ikut melembut tanpa sadar.
“Ya, Aku pulang,” jawabnya tenang sambil melangkah mendekat lagi, kali ini jauh lebih pelan dibanding sebelumnya ketika dirinya menarik Whitaker ke atas meja makan tadi.
Beberapa detik berlalu tanpa suara selain dengungan mesin cuci serta hujan kecil di luar jendela, sementara Whitaker merasa jantungnya berdetak terlalu keras untuk jarak sesempit ini sekarang.
Lalu Robby tersenyum kecil sambil berkata pelan, “Dan ternyata rumahku dijaga dokter setengah telanjang yang gampang panik sekarang.”
Whitaker langsung mendorong dada Robby setelah mendengar komentar terakhir itu, walaupun gerakannya lemah karena rasa malu masih memenuhi seluruh tubuhnya sekarang.
“Diam, serius,” gerutunya sambil buru-buru mengambil celana training dari keranjang laundry bersih dekat mesin cuci, namun Robby justru bergerak lebih cepat lalu menarik kain tersebut menjauh dengan ekspresi santai menyebalkan.
“Hei!” protes Whitaker spontan sambil mencoba merebut kembali celana itu, sementara Robby hanya mengangkat alis kecil penuh kemenangan seperti anak kecil yang baru berhasil mencuri permen temannya sendiri.
“Aku baru pergi tiga bulan,” ujar Robby santai sambil memandang Whitaker dari atas sampai bawah perlahan, “kenapa sekarang kamu malah jadi...”
Whitaker langsung menegang mendengar nada suara Robby berubah lebih rendah dibanding biasanya, membuat jantungnya mulai berdetak tidak karuan lagi di dalam dada sejak beberapa detik lalu.
“Jadi apa?” tanyanya pelan tanpa sadar, lalu langsung menyesal karena pertanyaan tersebut terdengar jauh lebih gugup dibanding yang diharapkannya.
Mata Robby bergerak perlahan memperhatikan tubuh Whitaker yang hanya tertutup underwear hitam sederhana, memperlihatkan bahu lebih lebar, lengan lebih terbentuk, serta garis pinggang ramping hasil tiga bulan penuh kerja tanpa henti di UGD.
“Sexy,” jawab Robby akhirnya sambil tertawa kecil setelah melihat wajah Whitaker langsung berubah merah terang sekali lagi malam itu.
Whitaker benar-benar membeku mendengar kata tersebut keluar begitu santai dari mulut Robby, seolah dokter senior itu tidak sadar efeknya terhadap seseorang yang sudah tiga bulan merindukan dirinya setengah mati sekarang.
“Apa?” ulang Whitaker lirih dengan suara nyaris pecah karena malu sekaligus tidak percaya terhadap situasi absurd yang sedang terjadi di dapur apartemen tersebut malam ini.
Robby mendekat beberapa langkah lagi sambil masih memegang celana training tadi di tangannya, lalu berkata pelan, “Aku cuma bilang badanmu sekarang kelihatan bagus, Dennis.” Suara rendahnya membuat tengkuk Whitaker merinding pelan, terutama ketika tatapan Robby turun lagi ke arah dadanya beberapa detik terlalu lama sekarang.
“Aku...” Whitaker berhenti bicara karena otaknya mendadak kosong total, sementara Robby justru tampak semakin terhibur melihat dokter muda itu kehilangan kemampuan berpikir hanya karena satu pujian sederhana tadi malam.
“Santai,” gumam Robby sambil tersenyum kecil,
“aku gak bakal makan kamu.”
Whitaker langsung menatapnya cepat sebelum bergumam pelan, “Tadi kamu bilang ada hewan buas di rumah ini, kan hewan buasnya itu kamu.”
Kalimat itu membuat Robby tertawa lebih keras sekarang, suara tawanya memenuhi dapur dengan hangat yang selama ini terlalu dirindukan Whitaker diam-diam setiap malam.
Namun setelah tawanya perlahan mereda, Robby tetap berdiri dekat sekali tanpa benar-benar menjauh sedikit pun dari tempat Whitaker sekarang berdiri sambil menahan napas pelan. Ada sesuatu berbeda dalam cara Robby memandangnya malam itu, cukup membuat perut Whitaker terasa dipenuhi kupu-kupu gila yang tidak terkendali sekarang.
“Mungkin aku emang lagi dipenuhi hawa nafsu habis keliling negara bagian sendirian tiga bulan,” ujar Robby bercanda rendah sambil menyandarkan pinggul ke meja dapur dekat Whitaker.
“Robby!” Whitaker langsung menutup wajahnya sendiri menggunakan kedua tangan, sementara dokter senior tersebut cuma terkekeh puas melihat reaksinya lagi.
“Kenapa sih kamu gampang banget malu?” tanya Robby lembut setelah beberapa detik berlalu, lalu perlahan menarik tangan Whitaker dari wajahnya supaya dirinya bisa melihat ekspresi dokter muda tersebut sekarang.
Whitaker menelan ludah kecil ketika jari-jari Robby masih menggenggam pergelangan tangannya santai, hangat, dan terasa terlalu nyaman untuk ukuran hubungan pembimbing serta residen biasa.
“Karena kamu ngomong aneh-aneh,” jawab Whitaker pelan sambil menghindari kontak mata langsung yang justru membuat Robby tersenyum makin lebar sekarang.
“Aneh?” ulang Robby pelan, “Dennis, aku baru masuk rumah lalu menemukan dokter favoritku berdiri setengah telanjang depan mesin cuci, menurutmu aku harus bereaksi bagaimana?”
Whitaker membuka mulut ingin membalas, namun tidak ada satu pun kalimat pintar berhasil keluar karena Robby terus menatapnya menggunakan ekspresi lembut bercampur geli seperti itu sekarang. Akhirnya Whitaker hanya mendesah pasrah sebelum merebut kembali celana trainingnya dengan cepat lalu buru-buru memakainya sambil membelakangi Robby demi menyembunyikan wajah panasnya sendiri.
Dari belakang, Robby kembali tertawa kecil sambil berkata santai, “Yah, sayang sekali.”
“Diam,” gerutu Whitaker malu, tetapi senyum kecil yang muncul diam-diam di wajahnya gagal benar-benar disembunyikan dari perhatian tajam Robby malam itu.
