Chapter Text
Di sebuah rumah mewah di Gresik, seorang pria paruh baya bersandar di kursi kamarnya, menikmati udara malam yang masuk dari pintu beranda yang terbuka lebar. Hujan turun tipis di luar—rapat, halus, seperti kabut yang jatuh pelan ke tanah. Lampu gantung di atasnya memantulkan cahaya hangat ke dinding ruangan yang tenang. Di sudut kamar itu, udara seperti bergeser. Seorang pemuda muncul begitu saja—pakaian serba hitam, wajahnya tertutup masker. Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda kedatangan.
Sebelum pria itu sempat memproses apa yang dilihatnya, jarak di antara mereka sudah hilang. Lengan pemuda itu melingkar dengan cepat di lehernya. Sebuah tekanan singkat mendarat di leher itu. Ruangan tetap hening, hanya ada suara napas yang terputus di tengah jalan. Tubuh pria itu melemah tanpa perlawanan berarti.
Pemuda itu tidak terburu-buru. Ia mengatur ulang posisi tubuh itu, lalu mengarahkan skenario yang tersisa dengan rapi—seolah ruangan ini memang sejak awal dirancang untuk adegan seperti ini. Sebuah tali kini menggantung di lampu gantung mewah di kamar itu, menopang tubuh yang perlahan berayun pelan. Ia berhenti sejenak. Mata pemuda itu menyapu seluruh ruangan. Sudut-sudut gelap. Refleksi kaca. Semua diperiksa dalam diam. Tidak ada yang tertinggal.
Saat ia berbalik menuju pintu, sesuatu bergetar di sakunya. Sebuah ponsel jadul. Layar kecilnya menyala. Hanya satu huruf: “G”. Ia menatapnya sebentar, lalu mengangkatnya ke telinga.
“Status.” Suara di seberang terdengar datar, dengan aksen asing, tanpa tekanan emosi apa pun.
“Clear,” jawabnya singkat.
Ada jeda kecil—nyaris tidak terasa.
“Get back.”
Sambungan terputus.
Pemuda itu tidak menunggu lebih lama. Ia keluar, langkahnya ringan seperti tidak meninggalkan jejak sama sekali. Di luar, tak jauh dari sana, motor CB hitamnya sudah menunggu dalam gelap. Mesin menyala. Dan menghilang di tengah gelapnya malam.
