Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-23
Updated:
2026-07-21
Words:
39,973
Chapters:
27/?
Comments:
2
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
185

CODE NAME: SPADE

Summary:

Main genre : Thriller, Romance
Subgenre/tag : Slow Burn, Crime, Action, Secret Identity, Queer Romance (BL)

Bulan Agustus tahun 2014, di sebuah desa kecil di Singosari, Malang, hidup Joko Prayoga—seorang pemuda desa yang dikenal sopan dan kerja keras meskipun berpenampilan layaknnya seorang preman. Tak ada yang tahu bahwa di balik hidup sederhananya, Joko sebenarnya adalah seorang sleeper agent dari organisasi rahasia internasional bernama Norvak.

Kehidupan Joko mulai berubah saat Raden Yudhistira, komikus muda asal Surabaya, pindah sementara ke rumah kosong sebelah rumahnya demi mencari inspirasi untuk komiknya. Berbeda jauh dari Joko, Raden adalah sosok ceria, cerewet, dan terlalu mudah peduli pada orang lain.

Awalnya mereka hanyalah dua tetangga asing yang canggung. Namun perhatian kecil dan kesepian yang diam-diam mereka miliki perlahan mendekatkan keduanya. Sampai suatu malam, Raden menemukan sisi lain dari Joko—darah, luka, pistol, dan rahasia yang selama ini disembunyikan.

Notes:

Maaf untuk bahasa Jawa & bahasa Inggris tidak aku terjemahkan ke bahasa Indonesia. Semoga kalian tetap paham.

Karya ini sepenuhnya merupakan fiksi. Seluruh tokoh, organisasi, peristiwa, tempat, maupun kejadian yang terdapat di dalam cerita hanyalah hasil imajinasi penulis. Apabila terdapat kesamaan nama, latar tempat, profesi, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, maka hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.

Cerita ini dibuat untuk tujuan hiburan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau mewakili individu, kelompok, organisasi, maupun peristiwa nyata tertentu.

Chapter 1: PROLOG

Chapter Text

Di sebuah rumah mewah di Gresik, seorang pria paruh baya bersandar di kursi kamarnya, menikmati udara malam yang masuk dari pintu beranda yang terbuka lebar. Hujan turun tipis di luar—rapat, halus, seperti kabut yang jatuh pelan ke tanah. Lampu gantung di atasnya memantulkan cahaya hangat ke dinding ruangan yang tenang. Di sudut kamar itu, udara seperti bergeser. Seorang pemuda muncul begitu saja—pakaian serba hitam, wajahnya tertutup masker. Tidak ada suara langkah. Tidak ada tanda kedatangan.

Sebelum pria itu sempat memproses apa yang dilihatnya, jarak di antara mereka sudah hilang. Lengan pemuda itu melingkar dengan cepat di lehernya. Sebuah tekanan singkat mendarat di leher itu. Ruangan tetap hening, hanya ada suara napas yang terputus di tengah jalan. Tubuh pria itu melemah tanpa perlawanan berarti.

Pemuda itu tidak terburu-buru. Ia mengatur ulang posisi tubuh itu, lalu mengarahkan skenario yang tersisa dengan rapi—seolah ruangan ini memang sejak awal dirancang untuk adegan seperti ini. Sebuah tali kini menggantung di lampu gantung mewah di kamar itu, menopang tubuh yang perlahan berayun pelan. Ia berhenti sejenak. Mata pemuda itu menyapu seluruh ruangan. Sudut-sudut gelap. Refleksi kaca. Semua diperiksa dalam diam. Tidak ada yang tertinggal.

Saat ia berbalik menuju pintu, sesuatu bergetar di sakunya. Sebuah ponsel jadul. Layar kecilnya menyala. Hanya satu huruf: “G”. Ia menatapnya sebentar, lalu mengangkatnya ke telinga.

Status.” Suara di seberang terdengar datar, dengan aksen asing, tanpa tekanan emosi apa pun.

Clear,” jawabnya singkat.

Ada jeda kecil—nyaris tidak terasa.

“Get back.”

Sambungan terputus.

Pemuda itu tidak menunggu lebih lama. Ia keluar, langkahnya ringan seperti tidak meninggalkan jejak sama sekali. Di luar, tak jauh dari sana, motor CB hitamnya sudah menunggu dalam gelap. Mesin menyala. Dan menghilang di tengah gelapnya malam.