Actions

Work Header

Bagaimana Cara Menjelaskan Konsep Hidup Sederhana Kepada Pewaris Akashi Corp?

Summary:

Masuk ke Fakultas Ekonomi dan Manajemen Bisnis di Universitas Tokyo adalah hal mudah bagi Akashi Seijuurou. Memimpin pergerakan pasar saham juga bukan masalah besar. Tapi, membiasakan diri dengan kehidupan mahasiswa kere dengan segala siasat untuk mengakali minimnya uang di tanggal tua? Itu baru tantangan level absolut.

Akashi mencoba turun kasta secara sukarela; mulai dari war makanan di kantin bawah tanah, pergi laundry di koin laundry, menemani kekasihnya mengerjakan tugas di kosan yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandinya ditemani gorengan, naik angkot desak-desakan sampai kepalanya mentok langit-langit, hingga memakai jas hujan plastik seharga 100 yen sambil couple-an warna pink dan biru di tengah jalan.

Karena ternyata, mencintai Kuroko Tetsuya itu artinya harus siap mental menghadapi culture shock dunia jelata setiap harinya.

SHORT DRABBLE PER CHAP!
(College!AU Todai tapi rasa indo)
(AkashI!Anak Konglomerat x Kuroko!Mahasiswa kere)

Notes:

Hai, aru kembali lagi dengan fanfik yang (kali ini) sudah diplan dalam 20 chapter dengan format drabble in each chapter. Sebenernya fanfik ini lahir dari sebuah twt yang mention tentang bottom!kaya x top!gaji umr tapi aru lagi demen ama cerita kuliah jadi aru bikin ini tentang perkuliahan hehehehe.

anggep aja ini di Todai, tapi settingnya agak indo dikit ya (soalnya aru gapernah ke jepang jd gatau klo kere disana gimana)

anyway, enjoy!

Chapter 1: Kantin Bawah Tanah Fakultas Sastra

Summary:

“Seijuurou-kun, taktik yang kuajarkan adalah tatapan sedih, bukan tatapan menagih hutang nyawa seperti bos kriminal.”

“Aku sudah berusaha memasang tampang paling memelas yang aku bisa lewat mataku, Tetsuya. Lihat sendiri, hasilnya luar biasa banyak, kan?”

Niatnya cuma kencan makan siang biasa di kampus, tapi Tetsuya malah mengajak pacar konglomeratnya, Akashi Seijuurou, menyeberang ke kantin bawah tanah Fakultas Sastra yang murah meriah dan padat.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Gedung Fakultas Ekonomi dan manajemen Bisnis Universitas Tokyo adalah sebuah manifesto modern yang angkuh. Dinding-dinding kaca setinggi langit memantulkan siraman matahari musim gugur, sementara koridornya dipenuhi oleh aroma kopi mahal, derit sepatu kulit yang dipoles mengkilap, serta gumam ambisius para mahasiswa berkemeja rapi yang sibuk mendiskusikan pergerakan saham atau peluang magang di perusahaan multinasional.

Di ujung koridor, Akashi Seijuurou berdiri dikelilingi banyak mahasiswa.

“Akashi-san, kami berencana mengadakan study group untuk membahas analisis struktur modal malam ini, di kafe dekat distrik Roppongi. Kudengar kau punya beberapa poin menarik mengenai jurnal terbaru Profesor Tanaka. Mau bergabung?” ujar salah satu mahasiswa di dekatnya. Di belakangnya, sekelompok mahasiswa lain mengekor, mengamati dengan tatapan memuja namun segan-segan.

Akashi melirik jam tangan Rolex yang melingkar sempurna di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit.

“Terima kasih atas undangannya,” jawab Akashi. Senyum tipis yang terlihat di bibirnya terasa dingin, sejenis keramahan publik figur yang sengaja dipasang untuk menjaga jarak. “Namun, siang ini aku punya urusan mendesak yang tidak bisa ditunda. Mungkin lain kali.”

“Urusan mendesak? Apakah ada pertemuan dengan seseorang yang penting dengan Akashi Corp?” tanya mahasiswa yang lain lagi, mencoba menyelidik dengan nada takjub yang disamarkan.

“Bisa dibilang begitu,” sahut Akashi pendek, tanpa minat menjelaskan.

Dengan anggukan kepala sopan sebagai tanda perpisahan, Akashi memutar tubuhnya. Ia melangkah membelah kerumunan koridor Manajemen Bisnis, meninggalkan bisik-bisik spekulatif dari rekan-rekan seangkatannya. Banyak dari mereka mengira sang pewaris tunggal konglomerat raksasa itu sedang menuju restoran privat berbintang lima untuk menandatangani kontrak triliunan rupiah.

Kenyataannya, langkah tegap Akashi justru membawanya menyeberangi area kampus, melewati batas imajiner yang memisahkan dunia angka-angka kapitalis dengan hamparan pohon ginkgo yang mulai menguning di area Fakultas Sastra.

Kontrasnya langsung terasa begitu menapakkan kaki di sana. Gedung Fakultas Sastra adalah labirin bata merah tua yang diselimuti tanaman ivy merambat, berbau debu buku-buku kuno, kelembaban kertas manuskrip, dan ketenangan yang hampir-hampir membuat frustrasi bagi orang yang terbiasa hidup dalam ritme cepat. 

Di salah satu bangku taman kayu yang catnya sudah mengelupas di bawah pohon ginkgo raksasa, Akashi menemukan objek "urusan mendesak"-nya. 

Kuroko Tetsuya duduk di sana, nyaris melebur dengan latar belakang berkat hawa keberadaannya yang setipis lembaran tisu. Punggungnya yang terbalut sweater rajut longgar berwarna biru pastel bersandar lurus pada sandaran bangku. Kedua tangannya dengan takzim memegang sebuah buku tebal kompilasi puisi kuno era Heian. Pemuda bermata biru itu tampak khusyuk dalam bacaannya.

Akashi berdiri hanya beberapa jengkal di hadapannya, sengaja tidak bersuara untuk melihat seberapa lama kekasihnya itu menyadari kehadirannya. Sejak urusan masa lalu mereka selesai di lapangan Winter Cup 3 tahun lalu, hubungan mereka bergeser ke arah yang tidak pernah diprediksi oleh siapa pun di Kiseki no Sedai dan teman-teman sekolahnya. Mereka menjalin kasih. 

Kisah kasih mereka dimulai sejak mereka mulai sering berhubungan melalui aplikasi pesan instan. Awalnya hanya sekedar membahas basket dan kelucuan rekan tim basket masing-masing, lama - lama merembet ke menye-menye seperti “Sudah makan belum, Tetsuya?” atau “Aku merindukanmu, Akashi-kun.” hingga akhirnya keduanya mengutarakan perasaannya, satu semester setelah berkuliah bersama di Universitas Tokyo.

“Kau terlambat sedikit, Seijuurou-kun.” ujar Kuroko tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

Akashi tersenyum geli. Kuroko yang sedikit ngambek terlihat menggemaskan di pandangannya. “Koridor di gedungku agak padat, Tetsuya. Maaf membuatmu menunggu.”

Kuroko akhirnya menutup buku tebal itu dengan debuman pelan, lalu menengadah menatap Akashi. Tatapan kedua bola mata berwarna laut yang terlihat datar itu selalu sanggup membuat Akashi merasa tak berkutik—sebuah anomali besar, mengingat Akashi adalah orang yang paling gemar memegang kontrol atas segala hal.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku tahu Seijuurou-kun adalah orang penting yang dikelilingi banyak pengagum rahasia di jurusan Bisnis,” ujar Kuroko, nadanya mengandung sarkasme tipis yang disembunyikan dengan rapi di balik suara datarnya.

“Jangan mulai, Tetsuya.” Akashi mendengus. Ia duduk di samping Kuroko dan mencium pipi kekasihnya. “Jadi, ada rencana apa untuk makan siang kali ini, sayangku? Aku bilang begitu, tapi sebenarnya aku sudah menyuruh sekretarisku memesankan meja di sebuah restoran privat di kawasan Ginza. Sup tofu di sana kabarnya sangat enak.”

Kuroko memandang Akashi seolah pemuda rambut merah itu baru saja menyarankan agar mereka naik roket ke Mars hanya untuk membeli camilan sore.

“Ginza terlalu jauh, Seijuurou-kun. Kelas selanjutnya akan dimulai dalam empat puluh lima menit,” Kuroko menolak dengan tegas. “Lagipula, sisa saldo di rekeningku sebagai mahasiswa biasa tidak akan sanggup membayar bahkan untuk selembar tisu di restoran Ginza pilihanmu.”

“Aku yang bayar, Tetsuya. Seperti biasanya.” ujar Akashi mantap, menganggap memanjakan pacarnya dengan kekayaan tujuh turunan seperti hal yang normal.

“Dan aku sudah berulang kali bilang kalau aku tidak mau membiarkan Akashi-kun membiayai seluruh expense di hubungan kita seolah aku adalah sugar baby milik keluarga konglomerat.” balas Kuroko lempeng, seolah membaca isi pikiran Akashi yang mengatakan ‘Tapi Tetsuya memang sugar babyku, jadi apa salahnya?’.

“Hari ini kita makan di kampus, dan itu final.”

Akashi hanya bisa menghela napas, menyandarkan punggungnya seraya bersilang kaki. “Baiklah. Kantin Fakultas Ekonomi punya menu filet mignon yang lumayan untuk standar universitas—”

“Tidak. Aku tidak mau yang mewah-mewah. Kita ke kantin Fakultas Sastra.” Kuroko berdiri dan menaruh totebagnya di pundak. “Kantin bawah tanah punya menu teishoku yang sangat terkenal dan enak.”

Dahi Akashi berkerut halus. “Kantin bawah tanah?”

“Iya. Murah, porsi banyak, dan yang paling penting, tidak membuatku merasa out of place saat sedang mengunyah.” Kuroko memutar tubuh dan mengulurkan tangan. “Ayo, Sei-kun. Kalau kita terlambat sedikit saja, kita akan kehabisan tiket.”

Akashi terpaksa berdiri. Kuroko kalau sudah begini, tidak ada celah untuk berdebat. Ia hanya bisa mengekor di belakang pemuda biru mungil yang menuntunnya.


Istilah “kantin bawah tanah” di Fakultas Sastra ternyata bukan sekadar kiasan. Akashi harus mengikuti Kuroko menuruni tangga menuju basement yang agak remang dan pengap, namun ia bisa mencium aroma berbagai makanan bahkan dari kejauhan. 

Begitu pintu kayu ganda di ujung tangga didorong terbuka, Akashi merasa seolah-olah ia baru saja dilempar masuk ke dalam dimensi lain.

Suasananya adalah definisi dari kekacauan massal.

Puluhan–tidak, mungkin ratusan mahasiswa berjejalan dalam ruangan beratap rendah dengan pipa-pipa besi yang melintang di langit-langit. Bunyi dentang alat makan yang beradu dengan piring plastik bergema di mana-mana, bercampur baur dengan teriakan para staf kantin dan obrolan berisik anak-anak kuliahan yang kelaparan.

Udara di dalam sana cenderung terasa panas, namun tidak terlalu lembab karena ada ventilasi yang cukup, ditambah dengan basement ini terhubung dengan area outdoor terbuka (walau masih di bawah tanah). Uap tebal dari dapur kantin membawa aroma menyengat dari minyak goreng curah, kuah miso pekat, dan tumisan daging murahan.

Akashi Seijuurou berdiri mematung di dekat pintu masuk. Penampilannya yang necis—kemeja Burberry premium, sepatu kulit mengkilap, dan aura absolut nan elegan yang melekat kuat di tubuhnya—membuatnya terlihat seperti makhluk asing yang salah mendarat di tengah koloni masyarakat jelata. Beberapa mahasiswa yang sedang makan sempat tersedak saat menyadari presensi sang pangeran bisnis di wilayah kekuasaan mereka.

“Tetsuya,” Akashi berbisik, suaranya sedikit tegang. “Tempat ini… apakah memang sirkulasi udaranya sengaja tidak dinyalakan? Panas sekali.”

“Ini namanya kehangatan dunia mahasiswa, Seijuurou-kun,” sahut Kuroko tanpa dosa, menoleh sedikit demi memastikan kekasihnya tidak pingsan karena shock. “Jangan berdiri di tengah jalan. Ayo kita mengantri tiket di sana.”

Kuroko menunjuk ke sebuah sudut di mana belasan mahasiswa sedang berkerumun di depan sebuah kotak raksasa berwarna krem pudar. Akashi melangkah mendekat dan dahinya semakin berkerut ketika sampai di depan benda itu.

Di hadapannya berdiri sebuah mesin tiket makanan otomatis (shokkenki) yang tampaknya sudah beroperasi sejak era Showa. Cat-nya terkelupas di sudut-sudut tajamnya, tombolnya juga sudah menguning dan buram, serta layarnya yang berupa tabung kaca kecil hanya menampilkan angka-angka harga menu dengan lampu neon merah yang berkedip-kedip sekarat.

Akashi hanya bisa terdiam melihat relik tersebut. ‘Kampus ternama kok masih memelihara fasilitas historis seperti ini,’ pikirnya.

Pemuda berambut merah tersebut menarik keluar dompet kulit buaya custom berwarna hitam miliknya dari saku celana. Dengan gerakan jemari yang terampil, ia membuka dompet tersebut, memindai isinya yang penuh dengan deretan kartu kredit premium berlogo platinum dan emas, termasuk sebuah kartu debit eksklusif tanpa limit transaksi. 

Mata rubi menyusur, mencari sekat tak kasatmata yang biasanya berfungsi sebagai sensor Apple Pay, lubang pembaca chip visa, atau setidaknya slot tipis untuk menggesek kartu AMEX miliknya.

Nihil.

Yang ada hanyalah sebuah lubang besi berkarat dengan tulisan timbul manual yang hampir terkikis: Masukkan Koin Di Sini

Kuroko berdiri di sebelah Akashi, bersedekap, memperhatikan kekasih miliardernya yang mulai kelihatan frustrasi menghadapi teknologi dari abad lalu.

“Cari apa, Sei-kun?”

“Tidak, aku hanya mencari tempat untuk transaksi non-tunai.” Intonasinya luar biasa serius.

Kuroko menghela nafas panjang, sebuah gestur nelangsa yang biasa ia tunjukkan jika Akashi mulai menunjukkan perilaku anak orang kaya. “Mesin tua begini hanya menerima uang tunai.”

“Uang tunai…?” Akashi mengulangi kata itu dengan nada asing. “Aku tidak salah dengar?”

“Iya, uang tunai. Lembaran kertas yang ada gambar wajah pemuka sejarah Jepang, atau koin logam bulat yang bunyinya gemerincing kalau jatuh," Kuroko menjelaskan dengan tingkat kesabaran setara guru sekolah dasar yang sedang mengajari anak balita. "Jangan katakan padaku kalau di dalam dompet mewahmu itu tidak ada uang tunai sama sekali." 

Akashi membuka dompetnya lagi, jemarinya memilah bagian kompartemen dalam.

Kosong.

Hanya ada barisan kartu plastik mengkilap dan kartu nama pejabat penting.

Akashi menggeleng kepala. “Aku sudah lama tidak memegang cash, Tetsuya. Jaman sekarang sudah serba kartu atau QR scan, untuk apa aku memegang cash?” ujarnya membela diri. “Lagipula, uang fisik adalah sarana penyebaran bakteri yang sangat efektif. Logistik rantai pasoknya juga tidak efisien.”

Kuroko hanya bisa face palm

“Luar biasa.” Kuroko menyindir datar, kemudian merogoh saku celana jins longgarnya. Ia mengeluarkan selembar uang seribu yen yang kondisinya sangat mengenaskan—lecek, agak tertekuk di sudutnya, dan tampak seperti habis lolos dari mesin cuci.

Akashi menatap dalam diam, melihat Kuroko meratakan sudut-sudut uang kertas itu menggunakan ibu jarinya, lalu memasukkannya ke dalam slot mekanis mesin tiket yang berbunyi brrrrr dengan lambat sebelum menelan uang tersebut.

Kuroko membungkuk, mengambil tiket dan uang koin kembaliannya, lalu menyerahkan selembar tiket tipis itu ke tangan pemuda merah yang terlihat kebingungan.

“Ini tiket makan siangmu, Sei-kun. Jaga baik-baik, jangan sampai hilang atau jatuh. Aku tidak ada cash lagi saat ini,” ujar Kuroko mengingatkan.

Akashi menerima lembaran kertas kecil itu dengan dua ujung jarinya, menatapnya dengan pandangan takjub sekaligus sangsi. "Hanya dengan selembar kertas berukuran tiga sentimeter ini aku bisa mendapatkan makanan? Menarik sekali."

"Tolong hentikan tatapan seolah kau baru saja menemukan artefak purbakala itu, Akashi-kun. Antrean di belakang kita sudah mulai mengular dan orang-orang menatapmu seperti mau menggigit," bisik Kuroko sambil menarik ujung kemeja Akashi agar pemuda itu segera bergeser menuju konter pengambilan makanan.

Konter pengambilan makanan terletak di sisi dalam kantin, dipisahkan oleh sebuah meja panjang berbahan stainless steel yang permukaannya basah oleh cipratan kuah miso. Di balik meja tersebut, kepulan uap putih membubung tinggi dari panci-panci raksasa, menyamarkan sosok para staf kantin yang bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk meracik pesanan.

Akashi dan Kuroko bergabung dalam barisan antrian yang panjang dan padat. Di depan mereka, para mahasiswa bergerak maju selangkah demi selangkah sambil membawa nampan plastik berwarna hijau tua yang permukaannya sudah penuh dengan goresan kasar.

Akashi memperhatikan porsi makanan yang diterima oleh mahasiswa di depan mereka. Semangkuk sup, sepiring kecil lauk, dan semangkuk nasi berukuran medium yang menurut standar Akashi, takarannya terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan kalori seorang atlet yang aktif.

"Tetsuya," Akashi berbisik, matanya tetap fokus mengawasi pergerakan di depan. "Porsi nasi yang mereka berikan sangat tidak konsisten. Lihat, mahasiswa berbadan besar tadi mendapatkan takaran yang berbeda dengan mahasiswi di depannya. Timbangan mereka pasti ngawur. Ini bisa dibilang ketidakadilan distribusi komoditas pangan." 

Kuroko melirik Akashi dari samping, ekspresinya datar. "Itu karena takaran standar di kantin ini memang segitu, Seijuurou-kun. Ibunya tidak punya timbangan digital untuk mengukur gramasi nasi per porsi." 

“Sangat tidak profesional,” Akashi menilai.

Kuroko kembali menghela nafas, namun sebuah ide jenaka tiba-tiba melintas di otaknya yang beberapa bulan ini hanya dipenuhi analisis puisi kuno.

“Sebenarnya, ada trik rahasia untuk menyiasati hal itu, Seijuurou-kun.” ujar Kuroko dengan volume kecil.

Kepala Akashi langsung menoleh, matanya berkilat penasaran. Bagi seorang Akashi, kata ‘rahasia’ dan ‘trik untuk menang’ adalah salah satu stimulus terbaik yang membangkitkan insting dasarnya. “Trik apa?”

Kuroko memasang wajah paling polos dan datar yang ia miliki, memastikan tidak ada satu celah pun nada candaan yang lolos dari suaranya. "Ibunya—staf kantin yang bertugas mengambilkan nasi di depan itu—sangat sensitif terhadap kondisi emosional mahasiswa. Jadi, kalau nanti giliranmu maju dan Ibunya bertanya 'mau nasi ukuran apa', kau tidak boleh menjawab dengan kata-kata." 

"Lalu?" Akashi menuntut penjelasan, dahinya kembali berkerut serius.

"Kau harus menatap matanya dalam-dalam dengan ekspresi paling sedih yang bisa kau buat. Bayangkan kau adalah mahasiswa miskin dari desa terpencil yang kehabisan uang kiriman di akhir bulan, yang belum makan selama tiga hari, dan hanya punya selembar tiket ini sebagai harapan hidup terakhirmu," Kuroko membeberkan instruksinya dengan narasi yang luar biasa dramatis.

"Kalau kau berhasil menyampaikan rasa sedih itu lewat matamu, Ibunya akan merasa iba. Secara otomatis, porsi medium yang tertera di tiketmu akan ditambah menjadi porsi super besar secara gratis. Itu aturan tidak tertulis di Kantin Sastra."

Akashi terdiam sesaat, memproses informasi yang baru saja ia terima. Logika bisnisnya berteriak bahwa sistem ini sangat tidak masuk akal dan berbasis pada variabel emosi yang subjektif. Namun, dorongan kompetitif yang melarang dirinya untuk kurang dalam hal apa pun—termasuk dalam perkara mendapatkan porsi nasi kantin—langsung mengambil alih kendali.

"Begitu rupanya," Akashi menggumam, matanya menyipit tajam menatap sosok Ibu staf kantin di depan yang sedang sibuk mengayunkan centong nasi raksasa. "Taktik psikologis yang memanfaatkan rasa iba sebagai argumen negosiasi? Menarik.”

Kuroko mengangguk pelan, tangannya sengaja merapatkan dekapan pada tas kainnya untuk menyembunyikan getaran kecil di bahunya karena menahan tawa yang hampir pecah. "Bagus. Giliranmu setelah ini, Seijuurou-kun. Tunjukkan kemampuan terbaikmu." 

“Aku tidak pernah setengah-setengah, sayang.” jawab Akashi mantap.


“Selanjutnya! Tiketnya taruh di keranjang, ya!”

Suara nyaring dari Ibu staf kantin—seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan handuk kecil yang terikat di dahi dan celemek putih yang penuh noda kecap—menggema membelah kebisingan. Beliau sudah bekerja di kantin Fakultas Sastra selama dua dekade; sudah kenyang menghadapi ribuan tingkah pola mahasiswa aneh setiap harinya.

Namun, ia belum pernah mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi apa yang berdiri di depannya siang ini.

Akashi Seijuurou melangkah maju, meletakkan nampan plastiknya di atas meja stainless steel dengan bunyi ketukan yang tegas dan presisi. Jemarinya menjatuhkan tiket kertas kecilnya tepat di tengah keranjang plastik dengan akurasi yang menakutkan. 

Ibu staf kantin mengambil tiket tersebut, melirik menu yang tertera, lalu meraih centong plastik raksasanya dengan gerakan mekanis hasil muscle memory terlatih. “Ya, teishoku daging cincang satu. Nasi ukuran apa? Medium, kan?”

Sesuai instruksi Kuroko, Akashi tidak menjawab dengan kata-kata.

Pria rambut merah itu menegakkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan langsung memusatkan seluruh konsentrasi energinya menuju kedua matanya. . Tatapan matanya yang tajam dan biasa ia gunakan untuk meruntuhkan mental lawan di lapangan basket atau untuk mengintimidasi para direksi perusahaan dalam rapat pleno Akashi Corp langsung diaktifkan dalam kapasitas penuh.

Mungkin ibu kantin salah lihat, namun mata Akashi sekilas berubah menjadi heterokrom merah-emas—memancarkan kilat merah tajam penuh dominasi mutlak—menatap lurus dan mengunci pandangan menuju ibu staf kantin yang malang.

Bagi Akashi, ia sedang mencoba memproyeksikan intensitas kesedihan seperti yang disampaikan oleh Kuroko. Namun bagi orang lain, khususnya bagi ibu yang malang tersebut, ekspresi Akashi saat itu tidak terlihat menyedihkan, malah menakutkan.

Wajah Akashi berubah menjadi sangat dingin dan kaku, dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang begitu menusuk seolah ia sedang menatap musuh bebuyutan yang baru saja membantai satu keluarganya. Sudut bibirnya yang datar tidak menyiratkan emosi apa pun kecuali ancaman pembunuhan terselubung.

Atmosfer di sekitar konter makanan langsung turun drastis hingga mencapai titik beku; kebisingan kantin di sekitar mereka seolah-olah lenyap, digantikan oleh tensi berat yang mencekik udara.

Ibu staf kantin yang malang, lagi, baru saja hendak menyendok nasi dari penanak raksasa hingga ia mendadak membeku di tempat. Centong plastik berwarna putih bergetar pelan di dalam genggamannya.

Ketika matanya beradu dengan tatapan mata Akashi yang mengerikan, seluruh bulu kuduk di tubuh wanita paruh baya itu meremang hebat. Di pikirannya, insting bertahan hidup langsung mengirimkan sinyal bahaya dengan sirine menyala. 

Wanita itu tidak melihat seorang mahasiswa kelaparan; ia melihat seorang pewaris yakuza tingkat tinggi, atau mungkin seorang psikopat jenius bertangan dingin yang siap menggorok lehernya dengan pisau dapur jika ia berani memberikan takaran nasi yang salah. 

“N-nasi…” ujarnya gagap, suaranya mencicit ketakutan, kontras dengan kelantangannya beberapa menit lalu. Keringat dingin mulai merembes dari balik handuk di dahinya. “K-kau… mau nasi ukuran apa, T-tuan?”

Akashi tidak berkedip sedikit pun. Tatapan matanya justru kian menajam, memberikan tekanan psikologis yang lebih berat karena ia mengira Ibunya sedang menguji keteguhan "ekspresi sedih"-nya. 

Di belakangnya, Kuroko mati-matian menahan tawa sekuat yang ia bisa.

Aura dominasi Akashi bergejolak, menuntut kepatuhan mutlak atas takdir porsi makan siangnya. 

Ibu staf kantin hampir saja menjatuhkan centongnya karena lututnya mendadak lemas. Panik dan ketakutan setengah mati bahwa nyawanya sedang berada di ujung tanduk, pikiran wanita itu langsung berputar liar. Dia tidak mau nasi medium! Dia menginginkan semuanya! Jika aku tidak memberikan apa yang dia mau, tempat ini mungkin akan dibakar habis besok pagi! 

“B-baik! M-mohon tunggu sebentar!” ujar wanita paruh baya tersebut dengan nada histeris.

Bukannya meraih mangkuk keramik standar berukuran medium, ia justru berputar dengan gerakan panik, mengabaikan prosedur operasional kantin. Ia meraih sebuah baskom besar—wadah plastik berdiameter tiga puluh sentimeter yang biasanya digunakan oleh staf dapur untuk mencampur adonan sayur atau menampung pasokan nasi curah dari mesin penanak utama. 

Dengan kecepatan yang didorong oleh rasa takut, ibu itu menyendok nasi putih panas dari penanak raksasa bukan dengan centong, melainkan langsung menyekopnya menggunakan wadah penampung hingga baskom plastik itu penuh memuncak menyerupai gunung. 

Ia kemudian meletakkan baskom berisi gunungan nasi putih itu di atas nampan hijau Akashi dengan tangan gemetar, diiringi sepotong lauk daging cincang yang terlihat menyedihkan dan tenggelam di sudut nampan akibat kalah ukuran.

"I- Ini porsi untuk Anda! Silakan diambil! Semuanya gratis, tidak perlu bayar tambahan! M-m-maafkan saya!” ujar sang ibu staf kantin dengan suara bergetar, meminta pengampunan.

Akashi mengerjapkan matanya sekali, aura intimidasi-nya langsung luntur seketika, digantikan oleh kebingungan murni saat menatap objek raksasa yang kini memenuhi seluruh permukaan nampannya. Ia melirik baskom tersebut, lalu melirik wajah wanita paruh baya yang wajahnya sudah pucat pasi seperti kertas.

"Terima kasih," Akashi berucap, suaranya kembali ke intonasi bariton yang tenang dan sopan.

Mendengar suara itu, sang ibu langsung mundur tiga langkah ke belakang, menyembunyikan diri di balik punggung rekan kerjanya yang juga ikut ketakutan menonton drama penyanderaan mental tersebut.

Akashi Seijuurou mengangkat nampannya yang kini bobotnya naik drastis menjadi sekitar tiga kilogram. Dengan langkah tegap, penuh wibawa, dan dagu yang terangkat angkuh seolah ia baru saja memenangkan trofi kejuaraan nasional, Akashi berjalan menjauhi konter makanan, membelah kerumunan mahasiswa yang menatapnya dengan pandangan horor kolektif.

Di belakangnya, Kuroko Tetsuya berjalan mengekor dengan nampan berisi sepiring nasi ukuran medium yang normal. Tangan kanan Kuroko kembali mendekap mulutnya, sementara seluruh tubuh mungilnya bergetar hebat karena menahan tawa sampai rasanya perutnya mau kiamat.

Mereka menemukan meja kosong di sudut paling terpencil di dekat dinding beton kantin bawah tanah di daerah outdoor. Akashi meletakkan nampannya dengan hati-hati, lalu duduk di kursi plastik murah dengan anggun.

Di tengah meja, baskom plastik berisi gunungan nasi putih itu berdiri tegak, mengeluarkan kepulan asap tipis. Mahasiswa di sekitarnya hanya bisa melihat dengan takjub ke arah meja makan kedua insan merah biru tersebut.

Kuroko duduk di seberangnya, meletakkan nampannya sendiri dengan tenang, lalu meraih segelas air putih dingin dan menyesapnya sedikit untuk meredakan tenggorokannya yang kaku karena menahan tawa sejak tadi.

“Bagaimana menurutmu, Tetsuya?” Akashi bertanya puas, nadanya terdengar seperti seseorang yang berhasil mengeksekusi strategi dengan sempurna. “Taktik yang kau ajarkan ternyata sangat efisien, luar biasa. Takaran yang kuterima bahkan melebihi perkiraanku.”

Kuroko meletakkan gelas plastiknya, lalu memandang gunungan nasi tersebut, kemudian beralih memandang wajah Akashi yang tampak begitu bangga akan kebodohan komikalnya sendiri.

"Seijuurou-kun," Kuroko berucap, suaranya dibuat sedatar mungkin (yang ia bisa). "Taktik yang kuajarkan adalah tatapan sedih, bukan tatapan menagih hutang nyawa milik bos sindikat kriminal."

Akashi menaikkan sebelah alisnya. “Aku sudah memproyeksikan intensitas emosi sedih paling mendalam yang aku bisa lewat mataku, Tetsuya. Lihat hasil negosiasiku, buktinya aku mendapat hasil yang—bisa kubilang—maksimal, bukan?”

Kuroko hanya bisa tertawa. “Kau tidak bernegosiasi, Sei-jun. Kau melakukan penodongan mental, lebih tepatnya.” tawanya kembali pecah seiring Kuroko menyumpal sepotong daging cincang ke dalam mulutnya sendiri dan mengunyahnya.

“Tapi setidaknya, targetmu untuk mendapatkan porsi lebih banyak sudah tercapai. Selamat atas kemenanganmu dalam perang tiket kantin murah ini.”

Akashi memandangi gunungan nasi di hadapannya dengan ekspresi yang perlahan berubah menjadi campur aduk antara dongkol, gengsi, dan pening. "Tetsuya, volume nasi ini... setara dengan kebutuhan konsumsi karbohidrat Rakuzan selama tiga hari….”

"Aku tahu. Dan aturan utama di kantin Fakultas Sastra adalah: apa pun yang sudah ditaruh di nampanmu, harus dihabiskan tanpa sisa. Jika tidak, kau akan dilarang masuk ke kantin ini seumur hidup," Kuroko menambahkan informasi fiktif lainnya dengan wajah paling meyakinkan yang bisa ia buat.

Akashi mengambil sumpit kayunya, menatap nasi putih sewadah penuh itu dengan pandangan menantang. “Begitu? Baiklah. Aku adalah seorang Akashi, sesuatu seperti menghabiskan makanan tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Aku akan menghabiskannya.”

Kuroko panik melihat kepolosan pacarnya yang tertipu. “Jangan memaksakan diri, Sei-kun. Bagaimana kalau perutmu meledak?”

Akashi hanya diam, dan mulai menyendok nasinya.

Lima menit berlalu dalam keheningan yang tegang. Akashi bergerak dengan ritme yang konsisten, namun volume nasi di dalam baskom besi itu tampaknya hampir tidak berkurang sama sekali karena ukurannya yang kelewat masal. Perlahan, peluh tipis mulai merembes di pelipis sang mantan kapten Generasi Keajaiban. Rahangnya mulai terasa pegal, dan perutnya mulai mengirimkan sinyal kapasitas penuh.

Kuroko memperhatikan pemandangan itu dari seberang meja sambil mengulas senyum.

Sependek apa pun waktu yang mereka miliki di antara padatnya jadwal kuliah di Todai, dan seberapa jauh pun perbedaan dunia tempat mereka tumbuh, momen-momen konyol seperti inilah yang membuat Kuroko menyadari bahwa keputusannya untuk menerima uluran tangan Akashi pasca-Winter Cup adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil.

Akashi Seijuurou mungkin adalah seorang anak konglomerat yang jarang sekali napak tanah dan juga sedikit arogan, namun di depan Kuroko, pria itu selalu siap menurunkan seluruh harga dirinya hanya untuk ikut andil dalam permainan-permainan kecil yang konyol yang seringkali berawal dari keisengan Kuroko.

Kuroko menggeser posisi piring mediumnya yang sudah kosong. Ia mengambil sebagian nasi putih panas dari dalam baskom milik Akashi, lalu memindahkannya ke atas piringnya sendiri.

Akashi menghentikan suapannya, menatap Kuroko dengan pandangan bertanya. "Tetsuya? Apa yang kau lakukan? Ini porsiku."

"Aku tahu Seijuurou-kun adalah orang yang absolut dan tidak pernah kalah," Kuroko menjawab dengan suara datarnya yang khas, menyendok nasi pindahan itu ke dalam mulutnya. "Namun, esensi dari sebuah hubungan adalah membagi beban bersama, bukan? Termasuk beban makan dari baskom besar milikmu."

Akashi terpaku selama beberapa detik mendengar kalimat itu. Perlahan, ketegangan di bahunya luntur, digantikan oleh senyuman samar yang kali ini terasa hangat, meruntuhkan seluruh sekat formalitas dingin yang biasanya ia pasang di depan publik. 

“Terima kasih, sayang.” ujar Akashi pelan.

“Sama-sama, Sei-kun. Sekarang cepat kunyah nasimu sebelum kelas sastra klasikku dimulai,” sahut Kuroko tanpa dosa, padahal dia yang iseng membuat kejadian ini.

Di bawah temaram lampu LED kantin bawah tanah yang remang, dikelilingi oleh kebisingan ratusan mahasiswa dan aroma makanan murah, sepasang kekasih dari dua fakultas yang bertolak belakang itu melanjutkan makan siang mereka—berbagi isi sebuah baskom nasi besar milik mereka berdua. 




Notes:

1) Teishoku: menu set atau paket makanan tradisional Jepang yang disajikan lengkap dalam satu nampan. Biasanya terdiri dari hidangan utama (seperti daging atau ikan), nasi, sup miso, acar, dan lauk pelengkap, yang disusun agar nutrisinya seimbang.

2) Todai adalah singkatan dari Tokyo Daigaku atau lebih dikenal secara internasional sebagai Universitas Tokyo.

Author's note:
sebenernya kantin bawah tanah itu terinspirasi dari kantin Kansas di FIB UGM KWKWKWKWKWKW memorable banget soalnya kantin itu